LAMARAN

1196 Kata
Suasana di dalam apartemen Savanah bagai berada di dalam gelembung yang terisolasi dari gemerlap Jakarta di balik jendela kaca. Sanji masih duduk kaku di sofa putih mewah yang begitu lembut sampai-sampai dia merasa akan tenggelam. Tangannya, yang biasanya memegang gagang motor dan kardus paket, sekarang memutar-mutar cincin berlian yang terasa asing. “Minum,” ucap Savanah meletakkan segelas air mineral di hadapannya. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah kejadian dramatis di kantornya tadi hanyalah rapat biasa. “Makasih, Neng,” gumam Sanji, masih belum sepenuhnya percaya dengan situasi ini. Matanya menatap sekeliling ruangan. “Ini apartemen atau museum, sih? Bersih banget, takut aku najisin.” Savanah tidak menjawab. Dia duduk di ujung sofa lain, menjaga jarak, sambil menatap layar ponselnya. Ketegangan masih terasa, tapi sekarang berubah menjadi keheningan yang canggung. “Jadi… gimana ceritanya—” Sanji mencoba memecah kebisuan. Biiip-boop-biiip. Suara tombol password ditekan dari balik pintu utama yang kokoh. Sanji melompat kaget. “Ada yang punya kode?” tanyanya panik, bayangan Xaverio yang marah dan membawa preman langsung menghantui pikirannya. Perang bakal mulai nih! Savanah justru tidak bergeming. Hanya alisnya yang sedikit terangkat, seolah sudah menduga. Pintu didorong terbuka. Dan yang muncul bukanlah Xaverio dengan amarahnya, melainkan Monika. Wanita berambut ungu itu melangkah masuk dengan gontai, wajahnya lesu, seolah dia baru saja dari salon, bukan dari sebuah peristiwa memalukan. Tanpa basa-basi, dia melepas sepatu high heels-nya dan melemparnya sembarangan ke sudut ruangan. Sanji hanya bisa melongo, mulutnya terbuka. Pikirannya berputar kencang. Ini apa? Rekonsiliasi? Atau mau babak belur di sini? Monika lalu berjalan ke arah sofa. Alih-alih menghampiri Savanah untuk meminta maaf atau marah, dia justru duduk di sebelah kiri Sanji. Sekarang posisinya adalah: Monika di kiri, Sanji di tengah, dan Savanah di kanan. Sebuah formasi segitiga yang paling aneh dalam hidup Sanji. “Udah gue bilangin, Sav,” ucap Monika tiba-tiba, suaranya serak, sambil menguap lebar. “Xaverio itu kuman m***m. Nah, kan? Sekali lagi orang tua lo ngasal jodohin lo.” Ucapan itu begitu santai dan familiar, seolah pertengkaran dan pengkhianatan tadi hanyalah adegan dalam sinetron yang sudah direncanakan. Dia kemudian berdiri lagi, mengucek-ucek matanya. “Gue tidur di kamar guest ya. Capek banget jadi pemain utama dalam drama lo.” Tanpa menunggu jawaban, Monika berjalan menyusuri koridor dan masuk ke salah satu kamar, menutup pintunya dengan perlahan. Sanji terdiam selama beberapa detik, memproses apa yang barusan terjadi. Dia menoleh kepada Savanah dengan wajah yang sangat bingung. “Apa… apa tadi itu cuma prank, Neng? Kamera tersembunyi? Atau gue lagi mimpi? Kalau mimpi, tolong bangunin, soalnya aneh banget.” Savanah menghela napas pendek, matanya masih tertuju pada ponsel. “Itu bukan urusanmu. Fokus saja pada peranmu sekarang.” Dia membungkuk dan mengambil sebuah map dokumen dari bawah meja. “Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah menandatangani perjanjian kontrak ini.” Dia menyodorkan selembar kertas yang penuh dengan klausul kepada Sanji. Sanji menerimanya dengan tangan gemetar. Matanya membaca sekilas judulnya: PERJANJIAN KERJASAMA KONTRAK TUNANGAN. “Neng… kita baru aja sampai. Bahkan belum lima menit. Ini… ini lo siapin dari kapan?” tanya Sanji, rasa tidak enaknya mulai membesar. Ini bukan lagi soal kebetulan atau emosi sesaat. Tampaknya Savanah sudah punya rencana. Savanah tidak langsung menjawab. Dia melihat raut kebingungan dan kecurigaan di wajah Sanji. CEO itu lalu mengambil sebuah remote kecil dan menekan sebuah tombol. Secara tiba-tiba, sebuah layar monitor super besar, yang sebelumnya tersamar di balik panel dinding karena ruangan yang minim cahaya, menyala terang. Yang terpampang di layar adalah wajah Sanji Wahyudi, lengkap dengan foto-foto dan informasi detail. “Sanji Wahyudi,” ucap Savanah, suaranya seperti presenter berita. “Lahir di Banyuwangi, 28 tahun. Pekerjaan: kurir lepas untuk beberapa jasa pengiriman. Alamat kos: Jalan Mangga Besar 1 No. 17, Jakarta Pusat. Pendidikan terakhir: SMA. Riwayat pekerjaan: kuli bangunan, pelayan resto, dan sekarang kurir.” Sanji membeku. Darahnya seakan berhenti mengalir. “Mbak… ini… siapa? Kok bisa…” Savanah mengabaikannya dan terus membacakan fakta-fakta yang bahkan Sanji sendiri hampir lupa. Hingga akhirnya, sampailah pada bagian yang paling pribadi. “Dua tahun lalu,” lanjut Savanah dengan suara yang tetap datar namun menusuk, “melamar seorang perempuan desa bernama Lestari. Ditolak mentah-mentah oleh orang tua Lestari dengan alasan status ekonomi dan pendidikanmu yang hanya lulusan SMP—eh, maaf, ternyata SMA—dan hanya bekerja sebagai kuli bangunan. Tiga bulan kemudian, Lestari dinikahkan dengan seorang pemuda yang baru saja lulus dan menjadi TNI.” Seketika itu pula, semua kenangan pahit datang menghantam Sanji. Rasa malu, sakit hati, dan kegagalan yang coba dia kubur dalam-dalam dengan menjadi orang yang selalu terlihat konyol dan gokil. Matanya berkaca-kaca. Dia menunduk, mencoba menyembunyikan lukanya yang terbuka lebar. “Bahkan,” sambung Savanah, tanpa ampun, “ibu kamu di kampung masih punya hutang pada rentenir sebesar 27 juta rupiah untuk biaya kemoterapi adikmu tahun lalu. Hutang yang masih belum lunas sampai sekarang.” Sanji tidak bisa lagi berkata-kata. Rasanya seluruh hidupnya, semua rahasia dan aibnya, terbaca begitu saja oleh wanita di depannya. Savanah mematikan layar. Kembali ke kondisi ruangan yang remang-remang. Dia mengambil kertas kontrak itu lagi dan menyodorkannya kepada Sanji, bersama sebuah pulpen mewah. “Aku akan melunasi semua hutang ibumu. Dan bukan hanya itu,” ucap Savanah. Lalu, sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh Sanji terjadi. Savanah Baskoro, CEO yang dingin dan angkuh, turun dari sofanya. Dengan langkah tegas, dia berlutut di depan Sanji. Tatapan matanya yang hitam menatap lurus ke dalam mata Sanji. “Saya, Savanah Baskoro,” ucapnya dengan jelas dan penuh keyakinan, “ingin melamar kamu, Sanji Wahyudi, untuk menjadi suami kontrak saya.” Dia berhenti sejenak, memastikan setiap kata didengar. “Dengan mahar… 100 juta rupiah.” Lamaran. Bukan lamaran biasa. Lamaran kontrak. Dengan mahar yang bagi Sanji adalah jumlah yang tidak masuk akal. Pikiran Sanji melayang kepada Lestari. Gadis desa yang manis itu. Betapa dia juga berlutut di depan orang tua Lestari, membawa rempah-rempah dan sebungkus rokok juga uang tunai lima juta rupiah sebagai lamaran, hanya untuk diusir dan dihina karena kemiskinannya. Rasa pahit itu, rasa tidak berharganya diri itu, datang menyergap. "Kau pikir ini jaman Majapahit? Seenaknya ngasih lamaran ngasal!! " kata-kata Ayah Lestari terngiang. Dan sekarang, seorang wanita cantik, kaya, dan berkuasa, justru berlutut di hadapannya, melamarnya dengan mahar yang sangat besar. Tanpa pikir panjang lagi, didorong oleh luka lama dan kebutuhan akan pengakuan—juga tentu saja, uang yang bisa menyelamatkan keluarganya—Sanji menjawab dengan lantang. “YA!” Suaranya menggema di ruangan apartemen yang hening itu, penuh dengan emosi yang tertahan selama bertahun-tahun. Savanah berdiri, wajahnya tetap profesional. “Nice. Sekarang, tanda tangani.” Dia menyodorkan kertas dan pulpen. Sanji mengambilnya, tangannya masih sedikit gemetar. Dia bahkan tidak membaca satu pun klausul dalam perjanjian itu. Baginya, ini adalah jalan keluar. Ini adalah jawaban dari semua doanya, meski dalam bentuk yang paling tidak terduga. Ini jacpot, pikirnya. Dengan goresan cepat, dia menorehkan namanya di bagian bawah kontrak. Tanda tangan yang mengikatnya dalam sebuah perjanjian yang akan mengubah hidupnya selamanya. Savanah mengambil kembali kertas yang telah ditandatangani, wajahnya puas. “Selamat datang dalam hidup barumu, Sanji.” Dia lalu menatapnya dalam-dalam, dan untuk pertama kalinya, ada bayangan lain di balik dinginnya matanya. Sebuah rencana yang lebih besar. “Besok, kita akan menghadapi media. Dan percayalah, ini baru awal.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN