SKENARIO

1430 Kata
Suara deru AC sentral adalah satu-satunya pengisi kesunyian di dalam apartemen mewah Savanah. Sanji masih duduk terpaku di sofa putih yang lembut, jarinya memutar-mutar cincin berlian yang terasa begitu asing dan berat. Pikirannya adalah pusaran yang kacau, berusaha mencerna setiap detik yang telah mengubah hidupnya secara drastis dalam hitungan jam. Savanah, yang berdiri di dekat jendela panoramik dengan ponselnya menempel di telinga, adalah sosok yang berlawanan. Dingin, terkendali, dan penuh perhitungan. Dia mengakhiri panggilan dengan suara tegas, "iya itu keputusan terakhirnya, terimakasih" Dia menutup ponselnya dan menatap Sanji yang masih terlihat linglung. "Sudah selesai." Sanji mengangkat kepalanya, matanya berkaca-kaca karena kebingungan dan kelelahan. "Apa yang sudah selesai, Neng?" "Pekerjaanmu sebagai kurir. Aku sudah menghubungi HRD perusahaanmu. Mereka menerima pengunduran dirimu dengan pesangon yang cukup besar. Kau tidak perlu lagi datang ke sana." Suara Savanah datar, tanpa nada menyesal atau bangga. Itu adalah sebuah pernyataan fakta. Sanji terdiam sejenak, mencerna kata-kata itu. Lalu, seperti tersambar petir, dia melompat dari sofa. "Neng, tidak bisa seperti itu! Itu pekerjaanku! Aku harus mengantar paket besok pagi! Ada jadwal—" "Jadwalmu sekarang adalah aku," potong Savanah dengan tajam. Matanya yang hitam menatapnya tanpa berkedip. "Kau pikir peran sebagai tunanganku adalah pekerjaan sambilan? Ini akan menyita seluruh waktumu, tenagamu, dan perhatianmu. Mulai malam ini juga, kau pindah ke sini." "Pindah?!" Sanji hampir tercekik. "Tapi... kontrakan saya... barang-barang..." "Semuanya akan diambil dan dibawa ke sini malam ini," ujar Savanah, sudah memegang ponselnya lagi, siap memberikan perintah berikutnya. "Kau tidak punya pilihan, Sanji. Kau sudah menandatangani kontrak. Ingat mahar 100 juta? Itu bukan hadiah cuma-cuma. Itu adalah pembayaran di muka untuk ketaatanmu." Sanji kembali terduduk lemas. Rasanya seperti tanah di bawah kakinya dihilangkan paksa. Dia kehilangan kendali atas hidupnya sendiri dengan begitu cepat. Kemandirian yang diperjuangkannya dengan susah payah selama merantau, lenyap dalam sekejap oleh wanita di depannya. "Untuk malam ini," lanjut Savanah, memecah keheningan yang kembali menyergap, "kau tidur di sofa. Kamar tidur guest sudah dipakai Monika." Sebelum Sanji bisa protes atau mengeluarkan uneg-egannya, bel apartemen berbunyi nyaring. Savanah berjalan cepat untuk membukanya. Yang muncul di pintu membuat Sanji terbelalak. Bukan satu atau dua orang, tetapi sebuah tim kecil yang terdiri dari empat orang, semua berpakaian seragam kemeja dan celana hitam necis, sarung tangan putih, dan ekspresi profesional yang tanpa cela. Mereka terlihat lebih seperti agen khusus yang akan memindahkan benda seni berharga daripada pengangkut barang pribadi. "Ms. Baskoro," sapa salah satunya dengan anggukan singkat. "Kamar guest.Namun hati-hati, ada... penghuni sementara di dalamnya," ucap Savanah, memberikan kode. Mereka mengangguk kompak dan mulai masuk dengan membawa peralatan khusus—kardus-kardus kotak bergelombang yang masih rata, selotip, dan bubble wrap. Mereka berjalan dengan efisiensi yang mengagumkan menuju kamar guest. Beberapa detik kemudian, seperti yang diperkirakan, ledakan amarah terdengar dari balik pintu kamar. "APA INI?!! KELUAR! KELUARIN SEMUA BARANG KOTOR ITU DARI KAMARKU!" Monika menyembul dari balik pintu, wajahnya merah padam. Dia hanya mengenakan tank top sutra dan celana pendek, rambut ungunya yang ikal acak-acakan seperti sarang burung. "SAVANAH! JELASIN! APA ARTINYA ORANG-ORANG ANEH INI MASUK KAMAR GUE DAN BONGKAR SEMUA BARANG?!" Savanah tidak bergeming. "Kamar itu bukan 'kamar tamu' lagi. Pindah ke kamarku. Sekarang." "TAPI—" "MONIKA. NOW." Suara Savanah tidak meninggi, tapi memiliki daya paksa yang membuat bahkan Monika yang centil sekalipun menghentikan rengekannya. Monika mendengus keras, matanya melirik tajam ke arah Sanji yang sedang mencoba menjadi tidak terlihat di sofa. "Ini semua salah si kurir ireng ini!" gerutnya, sebelum akhirnya melengos dan berjalan dengan geram menuju kamar utama Savanah, membanting pintunya—tapi tidak menutupnya sepenuhnya. Dari ruang tamu, Sanji bisa mendengar suara bisikan-bisikan sengit dari dalam kamar. Suara Savanah yang rendah dan tegas, diselingi suara Monika yang lebih tinggi dan emosional. Dia tidak bisa menangkap kata per kata, tetapi beberapa frasa sempat terdengar jelas: "...orang tua pasti marah...", "...skenario yang meyakinkan...", "...Xaverio sudah bocorkan semuanya...", dan "...kita harus kompak...". Mereka merencanakan sesuatu, pikir Sanji dengan perasaan tidak enak. Dan aku hanya pion di dalamnya. Tim berpakaian hitam itu keluar dari kamar guest, yang sekarang dipenuhi dengan kardus-kardus berisi seluruh kehidupan Sanji. Mereka memberi hormat pada Savanah dan pergi dengan senyap, meninggalkan aroma disinfektan dan suasana yang semakin mencekam. Savanah keluar dari kamar utamanya, wajahnya sedikit tegang. Dia mendekati Sanji yang masih terduduk di sofa. Melihatnya mendekat, Sanji cepat-cepat memejamkan matanya dan mengatur napasnya agar terdengar teratur dan dalam. Dia pura-pura tertidur. Dia tidak sanggup untuk diajak berbicara atau diberi perintah lagi malam ini. Pikirannya sudah penuh. Savanah berdiri di depannya, diam untuk beberapa saat. Dia ingin membangunkannya dan menyuruhnya pindah ke kamar guest yang sekarang sudah kosong. Namun, tatapannya tertahan pada sosok Sanji yang terlihat lebih muda dan rapuh dalam "tidurnya". Lalu, matanya menangkap sesuatu. Kaos oblong Sanji yang sederhana dan tipis telah bergeser sedikit, menyibak sebagian dadanya yang rata. Dan di sana, terpampang jelas sebuah bekas luka. Bukan luka gores kecil, tapi sebuah garis panjang, tebal, dan sudah memutih, membentang dari bawah tulang selangkanya hingga hampir ke ulu hatinya. Bekas luka itu bercerita tentang trauma yang dalam, sebuah kekerasan atau kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya. Itu adalah sebuah peninggalan dari sebuah kehidupan yang keras, sangat kontras dengan senyum konyol dan sikap santainya selama ini. Jari-jari Savanah hampir-hampir terulur, sebuah dorongan aneh untuk menyentuh, untuk memahami rasa sakit apa yang bisa meninggalkan jejak seperti itu. Tapi dia menghentikan dirinya. Dia menarik napas dalam, memutuskan untuk membiarkan Sanji "tertidur" di sofa. Mungkin ini adalah satu-satunya kebaikan yang bisa dia berikan malam ini. Dia berbalik dan kembali ke kamarnya, menutup pintu dengan perlahan. Di dalam kamar, Monika sudah berbaring di sisi tempat tidur, asyik memainkan ponselnya. "Dia tidur di sofa?" tanyanya tanpa menengok. "Biarkan," jawab Savanah singkat, duduk di tepi tempat tidur. "Kita harus bikin skenario yang sangat meyakinkan besok, Sav," ucap Monika, tiba-tiba serius. Dia meletakkan ponselnya. "Orang tuamu, terutama bokap lo, nggak akan terima begitu aja. Mereka pasti udah dikontak Xaverio. Dia pasti sudah memutar cerita dan menjadikan kita—terutama aku—sebagai biang kerok. Mereka butuh cerita yang solid, bukan sekadar ‘kami jatuh cinta dalam sekejap’.” Savanah mengangguk pelan, mengusik kelelahan di pelipisnya. Dia tahu betul ayahnya, seorang yang perfeksionis, keras, dan sangat menjaga reputasi keluarga. Menerima Sanji—dengan latar belakang, penampilan, dan segala kekurangannya—mustahil terjadi tanpa sebuah narasi yang sangat hebat. Tiba-tiba, ponsel di atas meja sampingnya bergetar. Sebuah pesan singkat masuk. Savanah mengambilnya, dan begitu membacanya, darah seakan berhenti mengalir di nadinya. Wajahnya yang sudah pucat menjadi semakin tidak berwarna. “Wheels up from Beijing. ETA Jakarta 10:00 tomorrow.” Pesan dari ibunya. Mereka sudah terbang dari Beijing dan akan mendarat besok pagi. Sangat cepat. Lebih cepat dari perkiraannya. Berita memalukan di lobby kantornya pasti sudah menyebar bagai kebakaran hutan, melintasi benua, dan sampai ke orang tuanya yang sedang urusan bisnis. Dia bahkan tidak perlu membuka internet atau televisi; dia bisa membayangkan wajahnya, Xaverio, Monika, dan terutama Sanji yang tercengang, menjadi headline di setiap portal gosip dan berita ekonomi. “They’re coming,” bisiknya lirih, suaranya serak. Dia melemparkan ponselnya ke atas kasur seolah benda itu membakar tangannya. Monika mengambil ponselnya sendiri dan menyodorkannya pada Savanah. “Lihat ini. Xaverio udah kirim seratus pesan. Dia nyuruh gue untuk mengaku bahwa gue yang merayu dan menjebaknya, bahwa dia cuma korban godaan gue. Dia mau jadikan gue kambing hitam biar dia keliatan bersih di depan orang tuamu.” Monika menggeleng, tapi di matanya tidak ada air mata, hanya kejijikan. “Dia ancam bakal bocorin foto-foto lama gue kalau gue nggak nurut.” Savanah melihat sekilas rentetan pesan caci maki dan ancaman dari Xaverio. Perutnya mual. Rasa jijik yang mendalam menyergapnya. “Semua pria memang sama saja,” ucapnya dengan suara dingin, dipenuhi kekecewaan yang pahit. “Mereka hanya peduli pada ego, gengsi, dan keselamatan diri mereka sendiri. Tidak ada harga diri.” Hal ini sebenarnya sudah sering Savanah lakukan, ia akan mengumpan Monika untuk menggoda tiap pria yang dijodohkan dengannya. Dan seperti yang sudah diduga mereka jatuh dalam rayuan maut Monika, ini membuat Savanah 100% yakin tidak ada cinta sejati dan memilih menikah kontrak dengan Sanji. Dia berbaring di samping Monika, menatap langit-langit kamar yang tinggi. Pertempuran sesungguhnya akan segera dimulai. Besok pagi, bukan hanya tentang mempertahankan kebohongan, tapi tentang menyelamatkan diri dari amukan seorang ayah yang perkasa dan seorang mantan tunangan yang dendam. Dan di ruang tamu, seorang lelaki dengan bekas luka di dadanya tertidur tidak nyenyak di sofa, tidak menyadari bahwa badai yang jauh lebih besar, yang melibatkan kekuasaan, uang, dan harga diri keluarga, sedang bergerak cepat menuju mereka. Cincin berlian di jarinya berkilau lemah dalam kegelapan, sebuah simbol dari perjanjian yang akan membawanya ke dalam pusaran kehidupan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN