PRAANGG!!!
Suara itu bukanlah alarm pagi elektronik nan lembut milik Savanah, melainkan ledakan keras yang memecah kesunyian pagi. Suara kaca marmer jendela apartemennya pecah berantakan, dan sebuah bongkahan batu berukuran cukup besar terlempar masuk, mendarat dengan kasar di atas karpet putih permadani Persia. Batu itu dibungkus rapat dengan kertas putih yang diikat dengan tali kasar.
Savanah menjerit kaget, tubuhnya mendadak duduk tegak di ranjang. Serpihan-serpihan kaca kecil berhamburan, dan beberapa di antaranya mengenai lututnya yang terbuka, meninggalkan goresan tipis yang segera meneteskan darah.
"MON! WAKE UP!! Ada yang mecahin kaca jendela!" sergah Savanah, tangannya mengguncang-guncang tubuh Monika yang masih terlelap di sebelahnya.
Monika mengerang, mengucek matanya yang berat. "Apaan sih, Van? Masih pagi banget nih. mata gue masih lima watt," keluhnya dengan suara serak.
"Jendela, Mon! Seseorang ngelempar jendelaku!" teriak Savanah, suaranya mengandung panik dan kemarahan.
Mendengar itu, Monika langsung terduduk tegak, sisa kantuknya hilang seketika. Matanya membelalak melihat pecahan kaca dan batu di lantai. Dia panik ketika melihat garis merah di lutut Savanah. "Astaga, Van! Lo berdarah!"
Dia bergegas melompat dari tempat tidur, dengan hati-hati menghindari pecahan kaca, dan menuju meja rias Savanah. Dengan gerakan terlatih, dia mengambil kotak P3K dan kembali ke ranjang. "Diam, jangan banyak gerak. Sampai berdarah gini, kamu gak papa?" tanyanya sambil membuka perban dan antiseptik segera ia balut luka Savanah.
Fokus Savanah tertuju pada bongkahan batu. Dengan hati-hati, dia melangkahi pecahan kaca dan mengambil batu itu. Jarinya yang gemetar membuka ikatan tali dan membentangkan kertas yang terlipat.
Monika, yang sibuk mengembalikan kotak P3K, menengok penasaran. "Apa isinya?"
Wajah Savanah berkerut. Monika menutup laci meja rias dan merebut kertas itu dari tangan Savanah. Kedua alis mereka kini sama-sama mengerut setelah membaca pesan singkat dan tajam yang tertulis:
"Kalian berdua ingin bermain drama denganku?! Baiklah, kita lihat siapa yang memenangkan Piala Oscar tahun ini. Aku atau kalian?!"
"Xaverio," desis Monika, suaranya penuh keyakinan dan ketakutan. "Pasti dia. Gila, sampai segitunya?"
Savanah mengangguk pelan, wajahnya pucat tapi matanya menyala kemarahan. "Harusnya dia. Tapi..." Dia mengalihkan pandangannya ke jendela yang pecah. "Kita di lantai 5. Mustahil dia melempar dari bawah."
Dia berjalan hati-hati mendekati jendela yang rusak, menghindari serpihan kaca yang bertebaran. Dari balik kaca yang retak, dia melihat ke luar. Pandangannya tertuju pada sebuah gedung pencakar langit yang berdiri megah tidak jauh dari apartemennya, Royal Jakarta. Gedung itu bahkan beberapa lantai lebih tinggi.
"Agromyza," bisik Savanah, nadanya datar namun berisi ancaman.
"Agromyza? Perusahaan pangan saingan lo itu?" tanya Monika, mendekat.
"Mereka baru saja meresmikan menara kantor barunya bulan lalu. Lebih tinggi dari sini," jelas Savanah, matanya menyipit. "Dan CEO-nya, Yuri Lafleur, adalah teman golf setia Xaverio." Keyakinannya bulat. Xaverio pasti menggunakan akses ke gedung Agromyza untuk melempari jendelanya. Ini bukan sekadar ancaman, tapi demonstrasi kekuatan dan akses.
Dia mengambil ponselnya dan menelepon house keeping untuk segera membersihkan kekacauan di kamarnya.
Monika menengok jam digital mewah di pergelangan tangannya. Matanya melotot. "Gawat, Van! Sekarang udah jam 7! Tiga jam lagi bokap nyokap lo dateng! Skenarionya gimana? Kita belum latihan, belum bagi peran, belum—"
"Tenang aja, gak usah panik," potong Savanah dengan tenang yang mengejutkan. Sebuah senyum tipis menguar di bibirnya. "Udah gue serahin ke ahlinya semalam. Ayo keluar dan kita lihat kejutannya."
Monika memandangnya dengan heran. "Kejutan? Kejutan apa?"
Dengan langkah penuh penasaran, Monika mengikuti Savanah keluar dari kamar tidur menuju ruang tamu. Begitu sampai, mulut Monika terbuka lebar, nyaris menjerit karena kaget.
Dinding ruang tamu yang sebelumnya polos dan minimalis, kini dihiasi oleh sebuah figura foto berukuran sangat besar, hampir seluas setengah dinding. Foto itu menunjukkan Savanah dengan stunning, mengenakan mini dress hitam yang sederhana namun elegan, tersenyum manis. Dia dipeluk dari belakang oleh Sanji, yang mengenakan kemeja putih lengan pendek yang terbuka dan celana pendek hitam. Latar belakangnya adalah pantai Kuta yang eksotis, dengan sunset yang memerah. Mereka terlihat seperti pasangan yang sangat mesra dan bahagia.
"Wha— What?!" Monika tidak bisa berkata-kata.
Matanya lalu beralih ke meja sofa. Di sana, berdiri sebuah figura foto yang lebih kecil. Isinya foto Savanah dan Sanji sedang duduk di restoran McDonald's. Sanji, dengan wajah berbinar, sedang menyuapi Savanah sebuah hot dog, sementara Savanah tertawa lepas, matanya berbinar bahagia. Cahaya natural seolah menyinari momen candid itu.
"Gila... Kapan lo nyiapin semua ini?" ucap Monika, masih tidak percaya. Dia mengambil figura kecil itu dan memeriksanya dengan teliti, mencari tanda-tanda editan. "Ini kelihatan... sangat asli. Lo dan si kurir ireng di McDonald's? Ini mustahil. Wait..." Tiba-tiba sesuatu terlintas di benaknya. Dia menatap Savanah. "Jangan bilang ini kerjaan Koji?"
Savanah hanya tersenyum lebar, untuk pertama kalinya pagi itu terlihat riang. "Yup. Emang siapa lagi yang jago ngedit foto dan hacking database publik untuk cari background pantai yang pas, kalau bukan sepupu lo itu?"
Koji, sepupu Monika, adalah seorang genius digital yang sering mengerjakan proyek-proyek "tidak konvensional" untuk mereka.
"Eh, tapi si kurir ireng itu ke mana sih?" tanya Monika, matanya celingak-celinguk mencari Sanji. Sofa tempatnya tidur semalam sudah rapi, selimut dilipat.
"Masuk kali ke kamar guest. Di luar kan dingin ada AC," jawab Savanah sambil menyalakan coffee maker.
"Ah, yakin lo? Jangan-jangan dia kabur lagi, ngambil cincinnya dan menghilang," ucap Monika dengan nada sinis. Tanpa menunggu jawaban, dia berjalan menuju kamar guest.
Dia mendorong pintu yang tidak dikunci, dan sekali lagi, napasnya tersangkut. Kamar yang semalam hanya berisi kardus-kardus Sanji, sekarang telah berubah total.
Dindingnya dicat ulang dengan warna cream yang hangat. Tempat tidur single yang sempol diganti dengan king size yang megah, lengkap dengan headboard berukir. Di atasnya, terbentang bedcover sutra dengan motif merah marun dan emas yang... sangat menggoda, hampir vulgar, dengan pola-pola yang seolah berkata "I want to make love right now, babe". Ada beberapa lilin aromaterapi di sudut ruangan dan sebuah karpet bulu domba yang lembut.
"Van...!" teriak Monika. "Lo harus liat ini! Koji bukan cuma ngedit foto!"
Savanah berjalan menghampiri, dan dia pun terdiam melihat perubahan drastis itu. "Dia memang berlebih-lebihan," gumamnya, tapi ada sedikit decak kagum.
Tiba-tiba, suara gagang pintu toilet bergerak dari dalam. Sebelum mereka bereaksi, pintu terbuka dan munculah Sanji, hanya dengan handuk mandi melilit di pinggangnya. Tubuhnya yang kurus tinggi basah kuyup, rambut brondongnya meneteskan air. Bekas luka di dadanya terlihat sangat jelas dan terasa lebih personal dalam jarak dekat.
"WOI! KALO NGINTIP DI TOILET ORANG NGOMONG DONG! BUGIL NIH GUE!" bentaknya, wajahnya memerah campuran malu dan marah. Tanpa peduli bahwa ini bukan rumahnya, dia mendorong kedua wanita itu keluar dengan kasar dan membanting pintu kamarnya.
BRAK!
Savanah dan Monika terdiam di depan pintu yang tertutup, sama-sama melongo.
Setelah beberapa detik, Monika akhirnya mencibir. "Uhh, dasar ireng... Sok-sokan jaga harga diri. Liat aja nanti pas orang tua lo dateng, dia pasti cuma bisa bengong."
Dia lalu berbalik dan berjalan ke dapur, mengambil sepotong croissant dan menyeruput espresso yang sudah dibuat oleh house keeping yang dengan sigap sudah membersihkan pecahan kaca di kamar Savanah.
Savanah tetap berdiri di depan pintu kamar Sanji, mendengar suara geraman dari dalam. Sebuah pemikiran muncul di benaknya. Mungkin "si kurir ireng" ini tidak akan semudah itu diatur. Dan pertunjukan mereka untuk menyambut orang tuanya sebentar lagi akan dimulai, dengan seorang pemain utama yang tidak terduga dan sangat tidak kooperatif.