BUKAN pacaran namanya kalau menjerumuskan pasangannya ke dalam kubangan masalah. Di dalam kamarnya, di balik selimut tebal yang menutupi seluruh tubuhnya, Rezel berusaha meredam tangisnya. Mulutnya ia bekam bermaksud agar tidak menimbulkan isak tangis. Penjelasan satpam sekolah tadi sore masih belum bisa disingkirkan dari dalam memori otaknya. Membayangkan itu membuat Rezel semakin dilema dan perasaan bersalah semakin menganga lebar. Jika Bara tidak menggertak satpam sekolah tersebut, mungkin saja si pak tua itu tidak akan menjelaskan. Sampai detik ini pun, Rezel belum kunjung menemukan titik terang mengapa Vigo bisa berbuat jahat seperti itu. Dengan Rezel pula yang notabenenya adalah pasangannya sendiri. Aneh, dan seperti ada yang ditutup-tutupi. Namun, saat ini yang paling Rezel in

