MTM (8) : Siang itu, Kantin Kampus

1607 Kata
Rere membuka kedua matanya. Pandangan matanya begitu tidak jelas. Namun setelah beberapa saat menjadi jelas. Setelah itu, tercium bau khas obat-obatan. Kepalanya sedikit berdenyut. Gadis itu bangkit. Dan duduk di atas ranjang. Tidak ada siapa-siapa di sini. Hanya ada dirinya saja. Namun,ternyata Rere salah. Seorang keluar dari toilet. "Reyhan? Ngapain lo di sini?" ucap Rere menatap menyelidik. "Menurut lo?" ucap Reyhan terkesan dingin. Reyhan melangkahkan kaki berjalan menuju Rere. Rere diam, wajahnya sangat ketakutan. "Lo.... lo mau macem-macem, ya?" ucap Rere menatap Reyhan takut-takut. Reyhan menarik ujung bibirnya. Menimbulkan smirk khasnya. "Gue bukan orang jahat seperti lo," ucap Reyhan dengan datar. Rere terdiam, penyesalan itu datang kembali. Gadis itu oun mencoba menenangkan dirinya sendiri. Sementara Reyhan duduk dan masih menatapnya. "Lo tadi pingsan, ingat?" ucap Reyhan. Rere mencoba mengingat-ingatnya. Dan akhirnya gadis itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau belum sehat banget, jangan ngampus dulu, ngerepotin orang tahu gak." Setelah mengucapkan kalimat tersebut. Reyhan pergi meninggalkan Rere sendiri di ruang kesehatan. "Rere bego! Kenapa gue malah nuduh-nuduh Reyhan gak jelas sih!" gumam Rere setelah Reyhan pergi. Gadis itu kembali merebahkan tubuhnya. Sembari memejamkan kedua matanya. Nafasnya mulai teratur. Itu pertanda dirinya sudah lega. Tidak seperti tadi. Clek..... Pintu terbuka, sontak Rere menatap kearah pintu. Sosok lelaki tampan di depan pintu tersenyum kearah Rere. "Hei, gue periksa dulu, ya," ucap lelaki itu begitu sopan. Rere mengangguk. "Gue saranin, lo istirahat di sini dulu. Soalnya keadaan lo belum stabil," ucap lelaki itu setelah memeriksa tubuh Rere. "Iya. Makasih, ya," ucap Rere. Lelaki itu mengangguk. "Oh iya, gue Farhan. Salah satu petugas kesehatan di sini," ucap lelaki tersebut mengulurkan tangannya kearah Rere. "Gue, Regina, panggil aja Rere," jawab Farhan. "Salah kenal ya Re, gue permisi," ucap Farhan lalu pergi meninggalkan Rere. Rere hanya diam, wajah lelaki itu nampak begitu tidak asing dalam ingatan Rere. "Gue kayak kenal sama orang itu. Tapi siapa? Mukanya kayak gak familiar, " ucap Rere bergumam sendiri. Kepalanya kembali pusing, Rere memilih untuk beristirahat. **** "Wah.... gila! Lo udah gak pa-pa?" ucap Nabila begitu melihat Rere yang tengah merapikan rambutnya. Bahkan terlihat jelas jika wajah Rere begitu segar akibat air yang baru saja menyegarkan wajahnya. "Alhamdulillah sih, gue udah baik-baik aja. Kenapa emang?" tanya Rere dengan wajah tanpa berdosa-nya. "Eh! Gue panik setengah mati tahu gak! Mana gue susah izin lagi. Tahu sendiri kan gimana Bu Nindia kalau di kelas. Belum lagi si Reyhan bilang lo sekarat! Buat gue bener-bener khawatir dengan keadaan lo," omel Nabila panjang kali lebar di depan Rere. "Tapi lo benar-benar gak pa-pa? Gak sekarat?" pertanyaan macam apa ini? "Menurut lo? Kalau gue sekarat gue bisa bangun, gue bisa berdiri? Dan gue bisa ngobrol sama lo, gitu?" ucap Rere, sontak Nabila menggelengkan kepalanya. "Berarti Reyhan bohongin gue dong?" ucap Nabila sembari mengedipkan matanya beberapa kali. Sementara Rere hanya menanggapi ucapan Nabila dengan mengangkat bahunya tidak tahu. "Sialan! Awas aja Reyhan! Kalau sampai kita ketemu! Gue bejek-bejek lo!" ungkap Nabila begitu kesal. "Emang berani sama Reyhan?" tanya Rere masih fokus menatap wajahnya di depan cermin. Nabila diam, diam-diam gadis itu membayangkan wajah sangar, dan tatapan wajah Reyhan yang sangat mengerikan. Hal itu membuat dirinya bergidik ngeri. "Gak berani kan, lo?" sahut Rere yang sedari tadi mengamati wajah Nabila dari balik cermin. Nabila menggelengkan kepalanya. "Dah ah yuk! Kantin, laper gue," ajak Rere. Nabila hanya mengekor, dia hanya pasrah ketika tangannya di ditarik oleh Rere. Mereka berjalan ke kantin, koridor siang itu begitu ramai. Apalagi kantin kampus, pasti jauh lebih ramai. Tidak butuh waktu lama, keduanya sudah sampai di kantin. Benar dugaan mereka, kantin begitu ramai. "Kita makan dimana? Gak ada meja kosong deh kayaknya," ucap Rere kepada Nabila. Keduanya saling mengedarkan pandangan. Berharap ada meja kosong yang bisa mereka tempati. Hingga, sepasang mata Nabila melihat Malik melambaikan tangan kearahnya. Nabila tersenyum, sepertinya ada tempat kosong untuk keduanya. "Yuk ikut gue Re... " ajak Nabila menarik tangan Rere. "Apaan sih Lik? Gue gak mau semeja sama 'dia', ungkap Reyhan dengan raut wajah kesalnya. "Ya elah, gue gak bisa cegah. Kasihan mereka berdua. Lagian beneran padat nih kantin," ucap Malik. "Iya betul! Sesama mantan eh teman maksudnya! Harus saling berbagi, iya gak Lik?" sahut Daniel menatap Malik. "Iya bener. Tumben otak lo encer," ejek Malik. "Iya dong. By the way, boleh nambah nasi goreng, kan?" ucap Daniel dengan mata yang dikedipkan. "Ya dasar lo ada maunya aja!" seru Malik. Hingga akhirnya Nabila dan Rere sampai di meja mereka. "Ayang Nabila, sini duduk sama Abang Malik," ucap Malik sembari memberi tempat untuk duduk Nabila. "Boleh kita gabung? Gue sama Rere, tapi," ucap Nabila. "Boleh dong. Apa yang enggak buat ayang Nabila," balas Malik sembari tersenyum lebar. "Ih, makasih Malik!" ucap Nabila. Gadis itu duduk di antara Daniel dan Malik. "Re, lo duduk di sebelah Reyhan ya." Mau tidak mau, Rere harus duduk di sebelah Reyhan. Reyhan hanya diam, sembari menikmati makanannya. Lelaki itu nampak enggan berkomentar. Rere pun akhirnya duduk di sebelah Reyhan. Mereka mulai makan dengan candaan-candaan yang receh dari kedua teman Reyhan. "Oh iya, Re lo udah gak kenapa-kenapa? Reyhan gak ngapa-ngapain lo di ruang kesehatan tadi, kan?" ucap Daniel membuat Rere menatap kebingungan kearah Daniel. "Gue udah sehat. Maksudnya, gimana?" ucap Rere masih kebingungan. "Hahaha, lo gak tahu aja Re, gimana kan kalau orang masih dendam. Pasti ada ajalah pikirannya." Ucapan Malik begitu ambigu di telinga Rere. Sementara Reyhan yang sedang di bicarakan hanya memutar bola matanya malas. "Bentar dulu deh, maksudnya, Reyhan punya dendam sama Rere?" sela Nabila menatap kebingungan kepada mereka semua. Sontak mereka semua terdiam, hanya terdengar suara kunyahan kerupuk dari mulut Daniel. "Woy, jawab pertanyaan gue," ucap Nabila merasa tidak ada yang meresponnya. "Wanjay, Alexa cantik banget... " ucap Daniel, mengeluarkan ekspresi mupengnya. Nabila melirik Daniel kesal. Gadis itu pun menarik telinga Daniel. "Alexa terus dalam pikiran lo Niel!" "A.... aduh, sakit Bil... " Daniel nampak kesakitan. Bahkan ia sampai meringis-meringis begitu. Namun siapa sangka, jika Alexa berjalan kearah meja mereka. Gadis itu berjalan bersama dengan dua temannya. Tanpa meminta, gadis itu langsung duduk di sebelah Reyhan. Ia mengelus bahu Reyhan sembari tersenyum menggoda. "Reyhan, nanti ke mall bareng gue yuk. Temenin gue shoping," ucap Alexa tersenyum menggoda. Reyhan melepaskan tangan Alexa dari bahunya. "Gak usah pegang-pegang!" ucap Reyhan seakan jijik dengan Alexa. Namun, Alexa tetap Alexa, gadis itu tidak mendengarkan ucapan Reyhan. Tangannya kini bertengger di lengan Reyhan. "Tapi, lo mau kan, nemenin gue belanja?" Tidak bosan-bosan Reyhan melepaskan tangan Alexa dari tubuhnya. "Gak usah mimpi! Gue gak mau!" "Yah... kok gitu sih. Kan pasti seru kalau kita nge-mall bareng." Kini Alexa memeluk tubuh Reyhan. Bener-benar wanita tidak tahu malu. Sejak kejadian itu terjadi. Rere yang duduk di sebelah Reyhan masih santai saja. Bahkan gadis itu nampak tidak perduli dengan Alexa dan Reyhan. Ia nampak menikmati makannya. Hingga akhirnya gadis itu mengakhiri, makannya dengan meminum es teh pesanannya. Reyhan mendongak menatap Rere. "Sayang, udah makannya?" Pertanyaan Reyhan mampu membuat orang-orang di mejanya menatap kearah Reyhan dan Rere. "Ha?" Bahkan Rere terbengongkan dengan ucapan Reyhan. "Udah kan, makannya?" ucap Reyhan. Lelaki itu mengusap sudut bibir Rere yang masih meninggalkan jejak air. "Kamu tuh makannya belepotan loh." Rere semakin bingung dengan perilaku yang di berikan oleh Reyhan. Bukannya hanya Rere Malik, Daniel, bahkan Nabila pun sama bingungnya dengan Rere. "Ya udah yuk, ke kelas. Masih ada jam pelajaran satu kali lagi, kan?" ucap Reyhan seraya berdiri. Rere masih bingung, apalagi melihat tangannya yang di tarik oleh Reyhan. "Reyhan! Ihh gue kan belum selsai ngomong! " teriak Alexa. Membuat beberapa orang di sekelilingnya menatap kearah Alexa. Reyhan tetap diam, ia menarik tangan Rere untuk keluar dari kerumunan kantin siang, itu. **** "Lepasin tangan gue! Maksud lo apa sih?!" ucap Rere mencoba melepaskan tangannya dengan tangan Reyhan. Reyhan melepaskan tangannya. Ia menatap Rere datar. Setelah itu, lelaki itu hanya diam dan memutar tubuhnya untuk melanjutkan jalannya. Rere kesal, bukannya memberi penjelasan. Reyhan malah pergi meninggalkannya. Gadis itu pun melangkah mengejar Reyhan. "Woy! Gak sopan banget sih lo!" seru Rere sembari menyamakan langkah kakinya dengan Reyhan. Saat itu Rere menarik tangan Reyhan. Namun tanpa di ketahui oleh Rere tali sepatu yang ia kenakan terlepas. Dan dengan cerobohnya, gadis itu menginjak tali tersebut. Membuatnya jatuh bersama Reyhan. Dengan posisi Reyhan di bawah, dan menimpa Rere. Rere hanya mampu menatap Reyhan di bawahnya dengan ekspresi wajah terkejutnya. Begitu juga dengan Reyhan. Lelaki itu menatap lekat wajah Rere yang sangat dekat dengan wajahnya. Setelah beberapa detik kemudian mereka sadar. Rere segera bangkit, dan membenarkan tali sepatunya. Sementara Reyhan menatap Rere tidak suka. Koridor siang itu tidak begitu ramai. Hanya beberapa orang yang melihat adegan dewasa tersebut. "He! Jangan kepedean ya. Gue gak sengaja ngelakuin itu. Gue cuma gak mau Alexa deketin gue," ucap Reyhan dengan penekanan di setiap katanya. Rere yang masih berjongkok membetulkan yali sepatunya pun berdecak kesal. Gadis itu berdiri, dan menatap ke atas untuk menatap Reyhan. "Enak aja! Siapa juga yang kepedean." Karena kesal, Rere pun menginjak kaki Reyhan lalu berjalan meninggalkan Reyhan. "Arghh.... sialan! Sakit," teriak Reyhan. Lelaki itu duduk di kursi yang ada di koridor kampus. "Kenapa juga ide gila itu terbesit dalam otak gue!" gumamnya. "Tapi kalau di ingat-ingat lucu juga ya." Tanpa sadar, senyuman di wajah Reyhan terbit. "Argh! Mikirin apa sih lo Rey! Ingat! Rere adalah orang yang udah menghancurkan lo." **** Rere melempar tasnya di atas meja. Gadis itu duduk dengan wajah di tekuk. Bisa-bisanya, Reyhan memperlakukan itu kepada dirinya. Rere mengambil buku, lalu menulis nama Reyhan. Setelah itu gadis itu mencoret-coret kertas tersebut. Sampai rasa kekesalannya hilang. "Kalau di pikir-pikir kenapa gue jadi kesel gini sih!" gumam Rere menyadari sesuatu. "Wah gak bener nih otak gue."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN