Nabila memasuki kelas. Dia hanya sendiri, karena tadi ia mengikuti Reyhan dan Rere yang tiba-tiba aneh. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas. Guna mencari keberadaan sahabatnya. Dan tidak butuh waktu lama, ia menemukan gadis berbaju navy sedang duduk di salah satu kursi.
Dengan langkah tergesa. Nabila berjalan kearah Rere.
"Astaga! Kaget gue!" seru Rere tersentak kaget.
"Eh maaf-maaf. Gue gak sengaja," ucap Nabila sembari menyengir menatap Rere.
"Haduh, Bil, lo ngagetin gue aja deh!" ucap Rere mengambil nafas lega.
"Iye, gue minta maaf," ucap Nabila lagi. "By the way, lo gak kenapa-napa kan? Reyhan gak nyakitin lo kan?"
"Enggak kok. Gue gak kenapa-napa," jawab Rere sembari menggelengkan kepalanya.
"Lo jadian sama Reyhan? Sejak kapan? Kok gak cerita sama gue," ucap Nabila.
"Gue gak jadian sama Reyhan. Ngadi-ngadi lo."
"Ta... tapi tadi kalian di.... kantin?"
"Oh itu, jadi Reyhan cuma mau Alexa gak ganggu dia. Makanya dia berakting begitu," jawab Rere.
"What? Segitunya Reyhan ngelakuin semua itu?"
Rere mengangguk. "Dahlah, bukan urusan gue juga."
"Gue kira lo sama Reyhan beneran jadian. Oh iya, by the way, soal perkataan Daniel tadi maksudnya apa?" tanya Nabila menatap Rere serius.
Rere terdiam, mencermati ucapan Nabila. Apa ia harus menceritakan semuanya kepada Nabila? Tapi jika tidak....
"Re.... lo gak mau cerita sama gue? Atau lo udah gak anggap gue sahabat lo?" ucap Nabila menatap Rere sendu. Rere tidak tega dengan Nabila. Tapi haruskah ia menceritakan semuanya? Ia takut setelah mengetahui hal itu, Rere akan menjauh kepadanya. Dan ia akan pergi dari kehidupannya. Sementara, satu orang sahabat yang di punya Rere hanyalah Nabila.
"Se.... sebenarnya.... "
"Woy! Pak Dadang mau masuk." Ucapan seseorang teman kelas Rere menarik perhatian Nabila dan Rere.
"Eh gue ke kursi gue dulu ya. Takutnya kena marah pak Dadang, " ucap Nabila. Gadis itu langsung duduk di kursinya. Rere bernafas lega. Setidaknya untuk saat ini, Nabila belum tahu mengenai masa lalunya.
****
"Kelas hari ini selsai. Silahkan meninggalkan kelas." Dosen berkaca mata tebal itu berjalan keluar kelas. Rere segera mengemasi alat tulisnya. Nabila berjalan mendekat kearah Rere.
"Duh, jangan-jangan Nabila mau lanjutin soal tadi," ucap Rere dalam hati.
"Re lo pulang sama siapa? Kan gak mungkin Bunda lo izinin lo pake motor lagi," ucap Nabila. Rere menghela nafas lega mendengar ucapan Nabila.
"Eum, gue di jemput supir. Ia nih, Bunda udah ngasih surat larangan buat gue naik motor lagi." Nada ucapan Rere terdengar kesal.
"Nah kan bener tebakan gue. Tadinya gue mau nawarin tebengan sih, lo mau? Jadi orang yang pertama gue bonceng?" ucap Nabila sembari menunjukkan kunci motornya.
"Ha? Maksudnya? Lo udah bisa naik motor?"ucap Rere begitu senang. Nabila mengangguk antusias.
"Wah..... selamat Bil. Gak nyangka lo bisa naik motor. Naik sepeda aja lo gak bisa," ucap Rere sembari meledek.
"Hehe, seenaknya aja lo ngatain gue. Jadi lo mau gue bonceng?"
Rere menggelengkan kepalanya. "Jangan jadiin gue kelinci percobaan ya."
Nabila tertawa mendengar ucapan Rere. "Bisa aja lo."
"Eh ke parkiran yuk. Tapi janji ya, kalau supir lo belum datang, lo harus mau gue anterin pulang."
"Iya-iya, udah ayo," ajak Rere. Mereka keluar kelas bersama, di iringi dengan canda dan tawa.
Sampai di parkiran Nabila kesal. Karena ternyata supir Rere sudah stay di parkiran kampus. "Nah kan alhamdulillah gue gak jadi kelinci percobaan lo."
"Tapi kapan-kapan lo harus janji mau gue bonceng," ucap Nabila memakai helmnya.
"Iya-iya. Santai aja, nunggu luka gue kering dulu. Baru nanti gue mau."
"Gue duluan ya. By... " ucap Nabila yang sudah duduk di atas motor.
"Iya hati-hati Bil, ngeri gue liat lo naik motor," ucap Rere. Nabila tersenyum.
"Udah tenang aja. Rossi aja kalah kalau balapan sama gue," ucap Nabila dengan tingkat percaya diri yang tinggi.
Rere hanya tersenyum, setelah melihat tubuh bongsor Nabila yang sudah tidak terlihat gadis itu masuk kedalam mobilnya.
"Mau langsung pulang, Non?" tanya Supir Rere.
"Iya pak," jawab Rere. Karena gadis itu ingin segera merebahkan tubuhnya di kasur kesayangannya. Ia mengambil ponsel dari tasnya. Sebuah pesan masuk. Dan itu dari Bunda tercintanya.
Bunda tercintah!
Re, Bunda lupa bilang. Nanti pulang kampus kamu belanja bulanan ya. Bunda kemarin belum sempat belanja.
Membaca pesan singkat dari Bundanya membuat kedua bahu Rere merosot. Impiannya bisa tiduran di kasur empunya sirna begitu saja.
"Pak, kita ke supermarket dulu ya," ucap Rere kepada supirnya.
"Baik, Non."
****
Seperti halnya ibu rumah tangga, gadis berusia 20 tahun itu mondar-mandir mencari barang yang di perlukan. Mulai dari makanan pokok, cemilan, hingga ke produk skincare incarannya.
Sebenarnya Rere tidak perlu pusing-pusing memikirkan apa saja yang harus ia beli. Karena Bunda tercintanya itu sudah mengirimkan list belanjaan kepadanya. Tidak jarang juga Rere berbelanja bulanan bersama Bundanya.
"Sabun mandi, yang gede apa yang kecil ya?" gumamnya. Tangan kanannya mengambil sabun kemasan besar. Karena pikirnya akan lebih hemat.
Ia juga memasukkan pembalut kedalam keranjang belanjaannya. Saking asyiknya berbelanja. Rere tidak sadar ada orang di depannya. Membuat gadis itu menabrak seseorang di depannya.
Brak......
"Maaf. Maaf Tante saya gak sengaja," ucap Rere membantu wanita paruh baya tersebut.
"Tidak pa-pa. Saya tadi juga meleng jalannya, " ucapnya begitu lembut. Keduanya saling pandang, Rere sangat mengenali wanita paruh baya didepannya ini.
"Tante Flora?"
"Loh, kamu Regina, kan?"
"Iya Tante, aku Rere... " jawab Rere. Wanita di depannya langsung memeluk Rere. Tidak memperdulikan belanjaannya.
"Ya ampun Re, udah lama banget loh kita gak ketemu. Kamu makin cantik aja," ucap Flora melepaskan pelukannya. Rere tersenyum menanggapinya.
"Tante juga masih awet muda aja," ucap Rere. Flora tersenyum, ia mengusap kepala Rere.
"Sejak kamu putus sama Reyhan. Kita gak pernah ketemu, kan?" ucap Flora menatap sendu kearah Rere. Rere terdiam, apakah Flora tidak tahu mengenai dirinya dengan Reyhan?
Yap, Flora adalah Mama dari Reyhan.
"Mama.... Aku cariin ternyata di... "
Reyhan tidak melanjutkan ucapannya. Karena lelaki itu masih kaget, atas keberadaan Rere.
"Oh iya Re, kamu belanja sendiri?" Pertanyaan Flora membuat Reyhan tersadar dari lamunannya.
"Iya Tan, kebetulan Bunda lagi keluar kota. Jadi aku belanja sendiri deh, " jawab Rere.
"Oh gitu. Nanti selsai belanja makan yuk di depan supermarket ini ada cafe enak loh, mau ya..."
Rere menatap Reyhan. Ekspresi wajah Reyhan seakan mengatakan jangan. 'Eum, tapi Tan... "
'Ayolah, kita udah lama gak ngobrol-ngobrol lo. Tante kangen banget sama kamu," ucap Flora memohon. Baik Rere maupun Reyhan tidak tega untuk menolaknya.
Akhirnya Rere mengangguk. Flora tersenyum senang. Ia langsung bersemangat untuk menyelesaikan belanjanya. Rere terdiam, sembari menatap Flora. Hal itu membuat dirinya terbawa ke masa lalu.
"Lo yakin mau ngenalin gue ke nyokap lo?" ucap Rere menatap Reyhan dengan ragu.
"Yakin banget lah. Kenapa? Lo takut? " balas Reyhan. Rere mengangguk. Reyhan tersenyum sembari memegang tangan Rere.
"Gak usah takut. Nyokap gue orangnya baik. Kalau lo kenal dia, pasti kalian nyambung banget. "
"Tapi Rey.... gue... "
"Sttt.... Lo harus kenalan sama calon mertua lo, " ucap Reyhan menaruh jari telunjuknya di atas bibir Rere.
Rere tersenyum mendengar hal itu. Keduanya saling pandang. Lalu Reyhan menarik tangan Rere mengajaknya intuk masuk kedalam rumah Reyhan. Tidak dapat di pungkiri kalau di dalam hati Rere benar-benar gugup. Ia sungguh takut jika Mamanya Reyhan tidak menerima keberadaannya.
Flora, Mama Reyhan sedang memasak di dapur. Oh tidak, lebih tepatnya membuat kue di dapurnya. Di bantu oleh Mbok Yem, asisten rumah tangga di rumah Reyhan.
"Mama cantik..... Lihat dong, aku bawa siapa, " ucap Reyhan. Flora berbalik dan menatap Reyhan dan Rere di belakangnya.
"Loh, kamu bawa anak gadis orang Rey?" ucap Flora kaget. Reyhan hanya tersenyum sembari bersiul. Rere pun segera mencium punggung tangan Flora.
"Saya Regina Tante, temannya Reyhan."
"Wah, teman atau teman nih... " ledek Flora sembari terus senyum menggoda. Rere tersenyum kikuk.
"Ah Mama pura-pura gak tahu," ungkap Reyhan. Flora tertawa mendengar ucapan Reyhan.
Hari itu, Rere di sambut dengan baik oleh Flora. Bahkan hari-hari selanjutnya ketika ia berkunjung ke rumah Reyhan pun sama halnya begitu. Reyhan dan keluarganya orang baik. Sangat baik, bahkan ia sangat menyesal pernah menyakiti orang sebaik Reyhan.
***
"Kamu masih suka bikin kue, Re?" tanya Flora membuka pembicaraan.
"Kadang cuma bantuin Bunda aja kok Tan. Jarang buat sendiri," jawab Rere seadanya.
"Wah, seru pasti kalau kita buat kue lagi. Apalagi, Tante udah beli buki resep kue terbaru," ucap Flora antusias.
"Wah bener Tan? Kayaknya seru juga," ucap Rere menanggapi ucapan Flora.
"Iya. Makannya kapan-kapan kamu main ke rumah. Biar bisa buat kue bareng lagi."
"Iya deh Tan," jawab Rere. Lalu mereka tertawa. Satu makhluk adam di situ hanya diam. Ia merasa tidak nyambung dengan percakapan kedua wanita di depannya.
"Kamu kuliah di mana?" tanya Flora.
"Satu kampus, dan satu jurusan sama Reyhan," jawab Rere sembari meminum pesanannya.
"Wah, kok Reyhan gak pernah cerita sama Mama? Kalau sekampus sama Regina? Bahkan sejurusan loh Regina."
"Mama gak pernah nanya," jawab Reyhan yah mulai bosan.
"Enak aja! Kamu yang gak pernah kasih tahu Mama," ucap Flora.
"Gak penting juga kali Ma," ucap Reyhan. Rere tersenyum kecut, entah kenapa mendengar hal itu langsung dari mulut Reyhan membuat hatinya nyeri.
"Hust! Kalau ngomong!"
Reyhan memutar bola matanya kesal. Ia memilih untuk bermain dengan ponselnya. Flora dan Rere melanjutkan mengobrol mereka. Keduanya seperti tidak kehabisan topik. Ada saja yang mereka bicarakan.
Sesekali Rere melirik Reyhan yang sedang bermain ponsel. Kadang lelaki itu tersenyum. Membuat Rere penasaran dengan siapa Reyhan chating sampai seperti itu.
"Kamu ya Re, kalau tahu kebun Mawar Tante sekarang tumbuh subur. Ya gara-gara rekomendasi pupuk kompos dari kamu itu," celoteh Flora.
"Oh iya Tante? Rere jadi pengen liat deh, " ucap Rere menanggapi dengan antusias.
"Pokoknya nanti kamu harus main ke rumah Tante."
"Iya deh Tan, nanti kita buat kue, berkebun juga deh," jawab Rere.
"Nah gitu kan Tante seneng. Soalnya orang di rumah tuh gak mau kalau di ajak berkebun. Ada aja alasannya pasti."
Rere tahu Reyhan memang tidak menyukai tanaman. Beda dengan dirinya yang sangat menyukai tanaman.
"Reyhan, Regina," panggil Flora. Keduanya mendongak menatap Flora.
"Kalian balikan, ya... "