MTM (10) : Permintaan Sulit

1649 Kata
Rere dan Reyhan hanya diam menatap Flora bingung. Mereka bingung mau menjawab apa. Rere berharap Reyhan mampu menjawab permintaan sulit dari Mamanya. "Ma, kita udah gak bisa kayak dulu," ucap Reyhan dengan lembut. Ekspresi wajah Flora nampak kesal mendengar. "Iya Tante maaf, ya. Kita sudah ada kehidupan masing-masing," ucap Rere menambahkan. "Ya sudahlah, harapan Tante punya mantu kayak Rere bakalan sempit," ucap Flora dengan keputusasaannya. "Rey, kamu cari perempuan kayak Rere, ya." Reyhan terdiam, ia melirik Rere sebentar. "Andai Mama tahu, siapa yang udah menghancurkan hidup aku." "Andai Tante Flora tahu, kalau aku gak sebaik yang ia pikirkan, " batin Rere terdiam. "Tante, kapan-kapan kita ngobrol lagi ya. Udah mau malam. Rere pulang dulu, salam untuk Calista," ucap Rere pamit. Flora mengangguk, Rere mencium tangan Flora. "Hati-hati ya Re, kmu harus main ke rumah Tante pokoknya." "Siap Tante," jawab Rere sembari tersenyum. Rere keluar dari cafe. Meninggalkan ibu dan anak itu. Flora menghela nafas setelah kepergian Rere. "Mama seneng deh kalau kamu kasih mantu kayak Rere," ucap Flora. Kini giliran Reyhan yang menghela nafasnya. Ia memilih mendengarkan ucapan Flora dari pada menanggapinya. "Kamu beneran gak mau ya balikan sama Rere? Kenapa sih? Kalian juga dulu putusnya karena apa?" tanya Flora menatap anak lelakinya. "Ya karena emang kita udah gak cocok. Mau apa lagi di pertahankan," jawab Reyhan malas. "Kamu beneran gak Cinta sama Rere? Mama liat kamu masih suka sama dia," ucap Flora. "Ma.... aku sama Rere udah gak bisa bersama kayak dulu. Aku udah punya Devi, dan aku lihat juga Rere udah punya pacar. Kita sama-sama udah punya kehidupan masing-masing. Jadi kita gak bisa lagi bersama," jawab Reyhan mengeluarkan rasa kesalnya. "Kamu masih sama Devi itu? Mama gak suka sama Devi. Dia tuh tipe wanita yang terlalu serius, terlalu berambisi, Mama gak suka," ucap Flora. Sementara Reyhan hanya memejamkan matanya, untuk meredam amarahnya. "Ayo pulang, Papa dari tadi udah nelpon suruh pulang," ajak Reyhan. Reyhan berjalan lebih dulu keluar cafe. "Hei! Reyhan! Mama belum selesai bicara..." ucap Flora sedikit berteriak. Wanita tiga anak tersebut berjalan mengikut langkah Reyhan. "Benar-benar Dewa! Anak lo sama persis sama lo! Ngeselin banget," gumam Flora yang seketika ingat dengan sikap suaminya. *** "Assalamualaikum... " Rere masuk kedalam. Rumah sembari memberi salam. "Pak, belanjaannya taro di dapur. Biar Bi Marni yang membereskan." "Iya Non." Supir Rere berjalan kearah dapur dengan belanjaan di tangannya. Gadis itu duduk sebentar di sofa ruang tamu. Rere mendengar suara langkah kaki, membuatnya mendongak dan mendapati Loren yang baru bangun tidur. "Baru pulang lo? Jam berapa ini? " ucap Loren mulai protektif. "Jam 7 aja belum ada. Gimana mau dugem kalau gini ceritanya," ucap Rere. "Apa dugem? Lo mau gue seret kayak karung goni? Berani dugem?" ancam Loren. Rere memajukan bibirnya kesal. "Bercanda doang bang! Baperan amat sih!" "Ingat ya Re, lo cewek harus jaga diri. Apalagi Bunda sama Ayah udah nitipin lo sama gue. Lo harus nurut sama gue," omel Loren. Rere tahu kalau bahwasannya Bundanya menurunkan sikap bawelnya kepada Loren. "Iya-iya. Dah ah, Rere mau mandi. Istirahat capek!" ucap Rere berjalan masuk kedalam kamarnya. Sebelum mendengar omelan-omelan lain dari Loren. **** Reyhan sudah bersiap untuk ke kampus. Lelaki itu menyemprotkan sedikit parfum pada bajunya. Setelah itu, ia berjalan keluar kamar. Hari ini ada kuliah pagi. Mengharuskan ia segera ke kampus. Di ruang makan sudah ada Calista, adiknya yang masih kelas 2 SMA. Dan sang Mama, Flora yang tengah sibuk. Entah apa yang sedang di kerjakan oleh Flora. "Bang! Gue nebeng ya!" ucap Calista begitu Reyhan duduk. "Apa? Males ah. Gue aja bentar lagi telat," jawab Reyhan mengunyah roti yang sudah di siapkan. "Ya Abang... kan pengen di anterin Abang. Biar teman-teman Calista tuh tau, kalau Calista punya Abang ganteng," ucap Calista. Reyhan hanya berdecak kesal. "Besok aja deh. Kalau sekarang gak bisa, gue ada kuliah pagi," ucap Reyhan setelah selesai makannya. sebagai penutup akhir, Reyhan menyeruput segelas s**u buatan sang Mama. "Ma, Reyhan jalam dulu, ya, " ucap Reyhan lalu berjalan. Namun, langkahnya terhenti, ketika Flora berteriak memanggil namanya. "Reyhan! Tunggu dulu," ucap Flora. "Apa sih Ma? Reyhan nanti telat," ucap Reyhan. Meskipun begitu, Reyhan tetap menghentikan langkah kakinya. Flora tersenyum, lalu menyerahkan kotak bekal berwarna pink kepada Reyhan. "Bekal? Tumben Mama kasih Reyhan bekal," ucap Reyhan kebingungan. "Heh! Ini bukan buat kamu, ini buat Rere. Mama nitip ya, kasih ke dia, jangan sampai enggak," ucap Flora. "Ha? Kak Rere udah pulang?" sahut Calista. Reyhan menggaruk tengkuknya lehernya yang tidak gatal. "Iya sayang. Kemarin, Mama ketemu dan ngobrol banyak sama Rere," ucap Flora antusias. "Ha? Bener Ma... Ya ampun. Calista pengen ketemu sama Kak Rere... " ucap Calista yang juga berantusias. Reyhan pun malas mendengar ucapan kedua wanita tersebut. lelaki itu memilih untuk pergi meninggalkan kehebohan mereka. **** "Pak jalannya cepet ya. Soalnya saya kuliah pagi. Takut telat," ucap Rere setelah masuk kedalam mobil. "Siap Non." Percakapan hening, Rere memilih makan sarapan yang di buat oleh Bi Marni. Ia meminta Bi Marni untuk membungkusnya saja. Karena ia yang mau sarapan di mobil. 20 menit kemudian, mereka sampai. Jalanan yang tidak begitu macet membuat mereka lebih cepat. "Pak, nanti jemput saya jam 12-an ya." "Baik Non," jawab Supir Rere. Rere pergi berjalan menuju kelasnya. Saat tengah asik berjalan di koridor kampus dengan sengaja seseorang menabrak bahunya kasar. Rere sedikit tersentak. Karena tabrakan tersebut begitu keras. "Sakit, ya?" ucapnya tersenyum sinis. "Gue peringatin sama lo, Reyhan punya gue! Gak udah kegatelan jadi cewek." Alexa ya, gadis itu adalah Alexa dan teman-temannya. "Bukannya lo yang gatel? Oh bentar, lo gatel apa murah ya? Gak bisa bedain gue," balas Rere dengan santainya. "Sialan lo ya!" seru Alexa tidak terima. Koridor kampus menjadi ramai karena keduanya. "Gue gak ada waktu buat ladenin lo," ucap Rere saat akan pergi. Alexa menarik rambutnya. Tidak terima, Rere pun juga menarik rambut Alexa. Suasana menjadi riuh melihat keduanya tengah berduel. Ada yang menyoraki nama Alexa, namun tidak sedikit juga yang menyoraki nama Rere. Dari ujung koridor, Reyhan menatap bingung kearah keramaian. Ia merasa heran, ada apa dengan keributan di sana. "Eh, seru tuh Alexa ribut sama anak baru." Reyhan mendengar suara tersebut. Anak baru? Siapa yang di sebut oleh mereka? Tanpa pikir panjang, Reyhan berjalan mendekat. Dan melihat ada Daniel dan Malik di sana. "Ada apaan sih? Kok ribut-ribut gitu?" tanya Reyhan menghampiri keduanya. "Nah cakep! Lo datang, itu Alexa lagi ngeroyok Rere! Buruan bantuin, kasihan tuh anak orang," ucap Malik dengan hebohnya. "Ha? Alexa ribut sama Rere?" ucap Reyhan. Malik mengangguk, tidak memperdulikan kedua sahabatnya, Reyhan langsung menolong Rere. Reyhan berada di tengah-tengah untuk melerai pertengkaran di antara keduanya. "Stop!" teriak Reyhan. Tanpa sadar, Reyhan sudah menggenggam tangan Rere. "Alexa lo tuh kenapa sih? Gue bilang jangan ganggu Rere, kalau gak mau berurusan sama gue!" ucap Reyhan. Alexa terdiam, oa menatap tajam kearah Reyhan dan Rere. Karena keduanya telah mempermalukan sang diva kampus di depan mahasiswa/mahasiswi lainnya. "Gue gak akan tinggal diam. Kalau sekali lagi gue liat lo ganggu Rere," ancam Reyhan lagi. Alexa kesal sendiri, gadis itu menghentak-hentakkan kakinya kesal. Lalu ia berjalan pergi meninggalkan kerumunan di koridor. Semua orang bubar. Mereka kecewa, karena merasa pertandingan belum usai. "Rere... " teriak Nabila di tengah koridor. Gadis bongsor itu berlari menuju Rere. "Re, lo gak pa-pa kan? Gue denger lo di keroyok sama Alexa and the genk, bener?" ucap Nabila dengan kekhawatiran yang tinggi. "Iya. Gue, gak pa-pa kok. Cuma rambut gue jadi berantakan dan sedikit perih," jawab Rere merapihkan rambutnya. "Duh, bener-bener tuh anak ya. Liat aja kalau ketemu sama gue!" ucap Nabila berapi-api. "Udah lah, gue gak pa-pa. Ke kelas yuk," ajak Rere. Mereka masih belum menyadari jika ada Reyhan dan dua sahabatnya di sana. Mereka berjalan menuju kelas. Malik merangkul Daniel dan Reyhan. Karena ia berada di tengah-tengah. "Anjir! Kita kayak gak di anggap gak sih?" Reyhan dan Daniel kompak mendongak menatap Malik. "Kalian kenapa sih natap gue begitu? Terpesona sama ketampanan gue, ya?" Keduanya diam, Daniel dan Reyhan melepaskan tangan Malik yang merangkul mereka. Lalu mereka berjalan pergi meninggalkan Malik sendirian. "Woy! Kenapa gue yang di tinggal," teriak Malik. Malik menatap sekitar yang sudah memperhatikan dirinya. Karena malu, Malik berlari menyusul Reyhan dan Daniel. **** "Arghh.... sialan! Gimana pun caranya, gue harus dapatin Reyhan," ucap Alexa meluapkan emosinya. "Gue bingung deh Lex, obsesi lo buat dapatin Reyhan tuh apa sih?" cetus salah satu teman Alexa. Alexa melirik temannya. "Pokoknya! Gue harus dapatkan Reyhan." Kedua sahabat Alexa hanya saling menatap. Mereka tahu, jika Alexa sudah berkeinginan, keinginannya harus di penuhi. "Tenang aja Lex, kita bakalan bantuin lo," ucap salah satu di antara mereka. Alexa tersenyum, ia sangat yakin Reyhan akan jatuh dalam pelukannya. *** "Gue rasa tujuan Alexa ngelakuin hal kayak tadi, karena hal kemarin siang di kantin, gak sih?" ucap Nabila. Mereka sedang membereskan alat tulis. Karena jam kelas sudah selsai. "Tau ah Bil! Males gue mikirinnya." Rere sudah lelah. Sebenarnya ia tidak mau berurusan dengan orang seperti Alexa lagi. Ia hanya ingin menikmati masa-masa kuliahnya dengan baik. Dengan penuh kedamaian tentunya. "Eh Re, gue nginep di rumah lo boleh, ya!" ucap Nabila antusias. "Boleh kok. Lagian gue di rumah sendiri. Bang Loren kerja. Katanya pulangnya malam." "Wah, serius? Bisa ngedrakor sampai pagi, dong!" ucap Nabila antusias. "Bisa banget tuh. Makannya lo nginep di rumah gue, ya," ucap Rere merayu Nabila. "Tenang-tenang, gue bakalan nginep di rumah lo," jawab Nabila tersenyum senang. "Kantin yuk!" ajak Rere. Nabila mau di ajak ke kantin, keduanya berjalan menuju kantin. Sementara itu, Reyhan hanya diam memperhatikan keduanya. Ia sudah mengeluarkan kotak bekal yang sudah di siapkan Mamanya tadi pagi. "Kalau gue kasih ke Rere, pasti dia akan kepedean," batin Reyhan menatap kepergian Rere. "Wah, tumben lo bawa bekal, " ucap Daniel menatap berbinar kearah kotak bekal yang di bawa oleh Reyhan. "Lo mau?" ucap Reyhan. Sontak Daniel mengangguk. "Nih makan aja." Daniel dengan senang hati menerima makanan tersebut. "Lebih baik gak usah gue kasih deh," batin Reyhan melihat Daniel memakan bakal yang harusnya untuk Rere. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN