MTM (11) : Jangan Pergi

1605 Kata
Nabila menepati janjinya untuk menginap di rumah Rere. Kedua gadis itu nampak heboh dengan serial drama korea yang mereka tonton. Kamar Rere sudah persis dengan kamar kapal pecah karena ulah keduanya. "Gila gak sih? Gimana kalau mereka ketahuan?" ucap Nabila mengomentari film yang sedang mereka tonton. "Gak lah. Kan udah di atur skenarionya," sahut Rere. Rere beranjak dari tempat tidur. Dan mengambil cemilan ke bawah. Saat ia melewati meja belajarnya. Ia melihat sebuah note yang tertempel di mading kecil buatannya. "Kuis?" gumam Rere. Ia pun segera melihat jadwal untuk jam kuliah besok, dan alangkah terkejutnya dia. Bahwa besok akan ada kuis. "Bil," teriak Rere. Nabila hanya bergumam karena masih fokus dengan film yang ia tonton. "Bil, gawat!" "Apaan sih Re? Lagi seru juga," sahut Nabila yang benar-benar tidak bisa di ganggu. "Heh! Lo gak ingat? Besok tuh ada kuis. Kuis bu Dina? Lo lupa?!" ucap Rere dengan hebohnya. Seketika Nabila terpenjat kaget. "Ha? Anjir! Gue lupa lagi. Pasti duduknya di acak kayak tempo lalu." "Belajar yuk! Mata pelajaran Bu Dina kan sangat penting. Gue gak mau ngulangin kelas tahun depan," ucap Rere segera mencari buku-bukunya. "Emang lo pikir gue mau ngulangin kelas? Gue juga mau lulus cepet, kerja terus nikah tahu gak!" Rere tidak menggubris kalimat Nabila. Ia kemudian fokus untuk belajar. Di kampusnya Bu Dina terkenal dengan dosen yang pelit dengan nilai. Jadi mereka harus berkerja keras agar tidak mengulangi kelas tahun depan. **** Di lain kamar, Reyhan yang sedang bersin-bersin mencoba fokus dengan buku-buku yang ada di depannya. Ia menyiapkan diri untuk kuis yang akan di lakukan esok hari. Tok.... tok... tok.... Pintu kamar Reyhan terketuk. "Masuk!" ucap Reyhan tanpa melihat ke arah ambang pintu. "Sayang, ini mama buatin jahe hangat buat kamu," ucap Flora meletakkan segelas wedang jahe di atas meja belajar Reyhan. Flora tahu kalau kondisi kesehatan Reyhan sedang memburuk. "Jangan terlalu diporsir ya, Mama gak mau kamu sakit loh," ucap Flora. "Istirahat, jangan begadang!" "Iya Ma. Tenang aja, bentar lagi Reyhan istirahat kok," jawab Reyhan. Flora mengangguk, kedua tangannya di gunakan untuk mengusap bahu anaknya. "Kalau gitu Mama ke kamar dulu, ya," ucap Flora. Reyhan mengangguk, namun Flora mengingat sesuatu. "Eh sayang, Rere sudah menerima bekal yang Mama buatin tadi pagi?" ucap Flora tiba-tiba. Reyhan mendongak menatap Mamanya dengan ekspresi wajah yang sulit di jelaskan. "Kok bengong? Udah kan?" "Eum, iya udah kok Ma," jawab Reyhan berbohong. Flora sangat senang jawaban Reyhan. Wanita itu pun memeluk tubuh anak lelakinya. "Gimana? Gimana kata Rere? Suka gak sama bakal buatan Mama? Enak gak masakan Mama?" Flora langsung memborong pertanyaan untuk Reyhan. Reyhan bingung harus menjawab apa. Karena bekal tadi pagi ia berikan kepada Daniel, bukan Rere. "Rey! Jawab Mama dong!" "Eum, kata... kata Rere dia sangat suka sama masakan Mama. Masakan Mama, enak soalnya, " jawab Reyhan lagi. Flora bertambah senang. "Oke makasih ya. Besok Mama kasih bekal lagi buat Rere," ucap Flora langsung pergi dari kamar Reyhan. Reyhan menepuk kepalanya. Ia salah berbicara. Hal itu malah membuat Flora memberikan lagi bekal kepada Rere. "Duh Mama ada-ada aja. Bikin nambah pusing!" ucap Reyhan kesal. Ia memilih melanjutkan belajarnya. **** "Duh gue deg-degan banget nih! Semoga soal yang Bu Dina kasih gak aneh-aneh deh, " gumam Nabila. Namun Rere masih bisa mendengarnya. "Udah bismilah aja Bil, semuanya bakalan baik-baik aja kok, " jawab Rere. Keduanya dengan yakin masuk kedalam kelas. Kelas masih sepi. Dan mereka memanfaatkan itu semua untuk mengasah kembali kemampuan mereka. Beberapa menit kemudian, kelas sudah kembali ramai. Rere menutup bukunya dengan yakin. Begitu juga dengan Nabila. Karena percuma jika merek belajar lagi konsentrasi mereka akan terganggu, mengingat, kelas yang semakin ramai. Rere mengedarkan pandangannya ke penjuru kelas. Hingga ia melihat Reyhan yang duduk sembari meletakkan kepalanya di atas meja. Dalam hati, Rere berkata. "Tumben banget Reyhan diem gitu." Namun ia sadar, iyu bukan menjadi urusannya lagi. Gadis itu memilih melirik jam dinding. Sebentar lagi, kurang 5 menit lagi, Bu Dina akan masuk kedalam kelas. Dan benar saja, ketika kelas sudah mulai sepi. Langkah kaki Bu Dina terdengar. Dosen berusia 35 tahun itu masuk kedalam kelas. Dengan kaca mata tebal yang membingkai kedua matanya. "Selamat Pagi.... " ucap Bu Dina menatap mahasiswanya satu persatu. "Pagi... " jawab mahasiswa yang ada di dalam kelas. Namun, Rere bukan Mahasiswa yang menjawab salam. Karena pandangannya menatap sesuatu. Gadis itu tengah menatap wajah Reyhan yang begitu pucat. "Apa jangan-jangan Reyhan sakit, ya?" gumam Rere. "Oke baiklah. Kuis ini akan berjalan 60 menit, dengan 15 soal yang sudah di siapkan. Saya akan mulai mengacak tempat duduk kalian." Bu Dina menatap selembar kertas yang berisikan daftar nama mahasiswanya. "Malik Ahmad, duduk di sebelah Rindi puspita." Malik mendesah kesal. Karena tadi ia sudah membooking Danu duluan. Danu adalah mahasiswa terpandai di kelasnya. Bu Dina terus mengacak tempat duduk mahasiswanya. "Reyhan Dewa Shaka duduk di belakang Regina Sintya," ucap Bu Dina akhirnya. Mau tidak mau, Reyhan segera berjalan menuju kursi di berkalang Rere. Kepalanya benar-benar pusing sekarang. Sebenarnya, tadi Flora sudah melarang Reyhan untuk ke kampus. Tapi karena gen tuan Dewa menyatu dalam tubuh Reyhan jadi Reyhan mempunyai sifat keras kepala seperti Papanya. Reyhan tahu, mata pelajaran Bu Dina sangat penting, dan ia tidak mau mengulangi kelas tahun depan. Rere memutar tubuhnya guna menatap Reyhan. "Rey, lo gak pa-pa?" Reyhan menatap Rere dengan mata sayu-nya. Bibirnya hanya bungkam. Tidak membalas ucapan Rere. Rere yang merasa tidak di dengar hanya diam. Gadis itu memilih untuk fokus pada mata pelajaran. Bu Dina mulai membagikan kertas soal. Sembari menelisik mahasiswanya, agar ia tahu tidak ada yang curang. "Oke, silahkan mulai mengerjakan kuis. Ingat kerjakan kuis dengan baik, dan jangan pernah curang!" "Baik Bu. .." 60 menit yang sangat horor bagi setiap mahasiswa di sana. Rere mulai mengisi nama dan biodatanya. Lalu ia mulai mengerjakan soal yang paling gampang. Gadis itu begitu tenang melihat semua yang ia pelajari semalam ada. Dan soalnya cukup logis. Tidak seperti apa yang di ucapakan oleh Nabila tadi. Sementara itu, kertas yang ada di hadapan Reyhan masih berwarna putih bersih. Sama sekali belum ia coret-coret. Kepalanya cukup pusing hanya untuk membaca soal. Dengan hati-hati Reyhan mulai menulis biodatanya. Tidak sampai 30 menit, Rere sudah selsai mengerjakan soalnya. Gadis itu tersenyum. Ia melihat Bu Dina yang tengah fokus menatap layar laptopnya. Rere sedikit memutar tubuhnya, dan melihat Reyhan yang tertunduk lesu. Rere kaget, karena kertas jawab Reyhan masih putih bersih. Rere tahu Reyhan tidak baik-baik saja. Rere juga tahu, kemampuan Reyhan di atas rata-rata. Lelaki itu pintar. Dan sekarang ia masih kurang sehat. Membuatnya belum mengerjakan apa pun. Rere menghela nafas. Dengan cepat, Rere mengambil kertas jawab Reyhan dan menukarnya dengan kertas jawabannya. Gadis itu kasihan melihat Reyhan jadi ia berinisiatif untuk membantu Reyhan. Ia mulai menulis untuk menjawab pertanyaan kuis tersebut. Reyhan sendiri bingung, sayup-sayup ia melihat kertas jawabannya sudah penuh. Meskipun pandangannya sedikit kabur, ia dapat melihat ada nama Regina Sintya di situ. Reyhan terdiam, kedua bibirnya tersenyum. "Oke, baiklah, waktu tinggal 10 menit lagi," ucap Bu Dina setelah 50 menit berlalu. Rere telah sampai di nomor terakhir. Setelah itu ia mengamati sekitar. Semua nampak menatap kertas mereka masing-masing. Lagi, dengan cepat, Rere menukar lembar jawaban Reyhan dengan lembar jawabannya. Ia bernafas lega. Karena aksinya tidak di ketahui oleh Bu Dina. "5 menit lagi, koreksi semua nomor. Pastikan semua nomor sudah terisi." Reyhan sudah tidak mampu mengangkat kepalanya yang benar-benar pusing. Tapi syukurnya, lembar jawabannya sudah terisi dengan jawaban. Walaupun Reyhan tidak yakin dengan hasilnya nantinya. "Oke! Waktu selsai. Silakan kumpul satu persatu ke depan, si mulai dari Daniel Saputra," ucap Bu Dina. *** "Duh jawaban gue nomor 7 salah lagi!" ucap Nabila setelah mencocokkan dengan buku yang ia punya. Rere tidak menanggapi ucapan Nabila. Ia hanya menatap Reyhan yang segera tumbang. Benar, Reyhan sudah tumbang. Terlihat lelaki itu tengah tidur dan tak sadarkan diri. "Reyhan!" teriak Rere. Nabila pun menatap Rere yang sudah berlari menuju meja Reyhan. "Malik, Daniel, kalian bantuin gue bawa Reyhan," ucap Rere begitu panik. Malik dan Daniel segera membawa Reyhan. Sementara Nabila hanya diam, karena ia tidak tahu apa-apa. Malik membawa Reyhan masuk kedalam mobilnya. Rere mengikuti mereka. Karena ia yang membawa tas milik Reyhan. "Re! Lo ikut ya lo di belakang jagain Reyhan." Rere mengangguk. "Niel, lo bawa mobilnya Reyhan!" ucap Malik. Daniel pun mengangguk. Rere memangku kepala Reyhan. Rere dapat merasakan tubuh Reyhan yang panas. "Lik kita bawa pulang aja. Kayaknya Reyhan cuma demam." "Iya Re, gue tahu," jawab Malik. Setelah beberapa menit, mobil Malik memasuki pekarangan rumah Reyhan. Ia pun membantu Rere untuk membawa Reyhan yang masih tak sadarkan diri. "Assalamualaikum Tante Flora... " ucap Rere. "Wa'alaikumsalam, loh Re.... Reyhan kenapa Re?" tanya Flora panik. "Reyhan pingsan Tante, dia sakit," jawab Rere. Flora langsung menyuruh Malik untuk membawa Reyhan masuk. Reyhan di baringkan di atas kasur tempat tidurnya. Rere pun ikut masuk bersama Flora dan Malik. Ia mengamati keadaan sekitar kamarnya. Lalu ia melihat sebuah bingkai foto. Foto Reyhan dengan seorang wanita yang sangat cantik. Rere yakin wanita tersebut pacar Reyhan. "Re, kamu tungguin Reyhan dulu ya. Tante mau nelpon Dokter Andi," ucap Flora panik. "Iya Tante," jawab Rere. Ia duduk di kursi belajar Reyhan. Kamar Reyhan benar-benar beda. Tidak seperti dulu. "Re gue ke depan dulu ya. Nunggu Daniel datang," ucap Malik. Rere mengangguk lagi. Malik pergi, Rere pun berjalan mendekat kearah Reyhan. Lelaki itu masih menutup kedua matanya. Reyhan bergumam, tidak jelas. Rere pun memilih mengusap-usap kepala Reyhan agar lelaki itu lebih tenang. Reyhan sudah tertidur. Ia pun mengangkat tangannya, namun Reyhan menahannya. "Jangan pergi lagi... " ucap Reyhan terbata. Rere terdiam, ketika tangannya di genggam dengan erat oleh Reyhan. Bahkan Rere sudah menegaskan berulang-ulang setiap melihat wajah Reyhan penyesalannya bertambah. "Maafin gue Rey. ...." *****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN