Flora datang bersama Dokter Andi. Dokter Andi adalah Dokter keluarga Dewa Shaka. Dokter Andi langsung memeriksa keadaan Reyhan.
"Bagaimana keadaan Reyhan, Dok?" tanya Flora khawatir.
"Reyhan hanya perlu istirahat. Ia hanya demam biasa. Sebaiknya biarkan dia istirahat, dan kompres keningnya agar menurunkan suhu tubuhnya," ucap Dokter Andi. Flora mengangguk paham. "Saya akan menuliskan resep obat sekaligus, vitamin untuk Reyhan. Biarkan dia istirahat dua sampai tiga hari. Agar keadaanya membaik."
"Baik Dok," ucap Flora. Dokter Andi pamit, Flora mengantarkan Dokter Andi sampai depan rumahnya. Rere ikut keluar dari kamar Reyhan.
"Tante, Rere pu...."
"Re, Tante boleh minta tolong?" ucap Flora memotong ucapannya Rere.
"A... apa Tante?"
"Jadi suami Tante pulang ke Indonesia. Kamu mau kan bantuin Tante jagain Reyhan soalnya Tante mau jemput ke Bandara. Dan juga Callista belum pulang. Tante takut Reyhan kenapa-napa."
Rere diam, ia sudah terlanjur absen di mata pelajarnya. Tidak mungkin jika, dia kembali ke kampus.
"Bagaimana? Kamu bisa bantu Tante, kan?" Rere benar-benar merasa tidak enak kepada Flora.
"I... iya Tante, Rere mau," ucap Rere akhirnya.
"Alhamdulillah, duh maaf ya ngerepotin kamu. Pembantu sama supir Tante tuh pada pulang kampung, jadi Reyhan bener-bener sendiri di rumah," ucap Flora sembari mengambil air es dari dalam kulkas.
"Kamu kompres Reyhan ya. Tante berangkat dulu," ucap Flora memberikan kompres yang telah ia siapkan.
Rere membawa baskom berisikan air es kedalam kamar Reyhan. Lelaki itu masih tepar. Tak sadarkan diri. Dengan telaten, Rere mengompres kening Reyhan. Tiba-tiba Reyhan memegang tangan Rere yang sedang mengompres keningnya.
Rere hanya diam, membiarkan Reyhan menggenggam tangannya. Beberapa menit kemudian, Rere mengecek suhu badan Reyhan. Dan suhunya mulai menurun.
Rere pun mengompres lagi kepala Reyhan. Namun...
"Lo.... Lo ngapain ke sini? Eh gak mungkin deh, kayaknya hanya halusinasi," ucap Reyhan sembari terkekeh.
"Apaan sih Rey, ini gue kali," ucap Rere. Reyhan terkejut, lelaki itu memegangi kepalanya yang masih pusing.
"Lo ngapain di kamar gue? Lo beneran Regina?"
"Menurut lo? Gue ngapain di kamar lo? Numpang tidur? Ya iyalah gue Regina!" seru Rere.
Reyhan memijat keningnya yang pusing. "Keluar! " usir Reyhan.
"Apaan sih Rey, gue di suruh jagain lo," ucap Rere.
"Gue bilang keluar!"
Rere berdiri, tapi...
"Argh.... sakit," ucap Reyhan. Dengan sigap Rere berbalik dan membantu Reyhan.
"Makannya di omongin tuh jangan ngeyel!" ucap Rere membantu Reyhan ke posisi semula.
Tiba-tiba Rere mendengar suara dari perut Reyhan. "Lo laper?"
Reyhan diam.
Rere pun pergi dari kamar Reyhan. Membuat Reyhan bertanya-tanya mau kemana gadis dia itu.
***
Di dapur, Rere berkutat dengan alat masaknya. Ia tengah membuatkan Reyhan bubur agar ia bisa makan. Setelah selesai, ia kembali membawa bubur buatannya ke kamar Reyhan.
Reyhan kaget ketika seseorang masuk kedalam kamarnya. Ia melihat Rere membawa nampan berisikan gelas air, obat-obatan, dan mangkuk.
"Lo makan dulu, setelah itu lo minum obat, " ucap Rere meletakkan nampan di meja.
"Gak lo kasih racun, kan?" ucap Reyhan menatap menyelidik kearah Rere.
"Kalau gue mau, gue kasih racun. Tapi lihat kondisi lo yang sekarang. Buat gue kasihan, " ucap Rere asal. Sementara Reyhan menatap Rere kesal.
Reyhan mengambil mangkok bubur, namun ia sedikit melirik Rere.
"Kenapa?" tanya Rere menyadari tatapan Reyhan.
"Gak pa-pa," jawab Reyhan.
"Ck.... Ngomong aja minta di suapin," ucap Rere mengambil alih mangkuk yang ada di tangan Reyhan. Reyhan akan protes, tapi kalah cepat dengan suapan yang masuk kedalam mulutnya.
Hening. Tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Reyhan menghabiskan bubur buatan Rere. Lelaki itu, langsung minta minum kepada Rere.
"Lo istirahat gih," ucap Rere.
"Lo mau kemana?" tanya Reyhan.
"Mau naro ini," ucap Rere.
"Nanti kesini lagi ya, temenin gue," ucap Reyhan.
"Tadi ngusir!" sahut Rere judes. Seterusnya tidak di jawab oleh Reyhan.
Akhirnya Rere kembali. Gadis itu duduk di kursi yang tadi ia duduki. Keduanya hanya hening.
"Lo mau di kompres lagi?" tanya Rere memecah keheningan.
"Gak usah gue udah baik-baik aja," jawab Reyhan menatap lurus ke depan. Rere hanya mengangguk. Keduanya saat benci karena terjebak dalam kehabisan topik seperti ini.
"By the way, makasih ya. Lo udah bantuin gue buat ngerjain kuis tadi," ucap Reyhan setelah beberapa menit diam.
"Eum, sama-sama. Gue kasihan aja liat lo kayak gitu," jawab Rere apa adanya. Keduanya kembali diam. Lalu tiba-tiba kedua mata mereka menangkap sosok figuran foto yang sebelumnya sudah menarik perhatian Rere.
"Dia Devi, pacar gue," ucap Reyhan tiba-tiba. Rere diam, benar dugaannya. "Dia baik orangnya, dia orang yang udah menyembuhkan luka di hati gue."
"Sejak kapan lo ngerokok?" ucap Rere mengalihkan pembicaraan. Ia melihat sebungkus rokok dan pemantik api di laci yang tidak tertutup rapat.
"Sejak, dunia gue hancur."
Deg!
Rere terdiam membeku, ingatannya kembali ke beberapa tahun yang lalu.
"Waktu lo habis! Lo harus putusin dia!" ucap seorang gadis bersurai cokelat.
Rere hanya diam, tidak mampu mengucapakan sepatah kata pun. Perintah dari Zoya harus di lakukan. Guna melindungi Ayahnya.
"Ayolah Regina Sintya, lo pasti gak mau jatuh miskin kan? Lo gak mau keluarga lo kesulitan ekonomi? Iya kan?"
"Gu.... gue.... "
"Gue tunggu sampai besok siang. Lo harus udah putusin Reyhan."
"Gue emang salah.... "
"Gue udah gak mau bahas lagi," potong Reyhan dengan cepat. Keduanya saling pandang. Entah siapa dulu yang memulai. Keduanya saling memeluk. Pelukan yang selalu mereka rindukan. Larut dalam kenyamanan membuat mereka tertidur. Dengan posisi saling memeluk.
****
Pukul 6 sore. Rere terbangun karena mendengar suara adzan maghrib. Gadis itu mengkondisikan penglihatannya. Ia menatap sebuah ruangan yang begitu asing untuknya. Lalu ia merasakan sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya.
Ia menatap kesamping, melihat wajah Reyhan di depannya. "Gue ketiduran dalam pelukan Reyhan? Kok bisa?"
Kesadarannya sudah pulih. Ia pun mencoba melepaskan tangan Reyhan dan duduk kembali di ranjang. Sebelum beranjak, ia mengusap kepala Reyhan dengan lembut. Rere dapat merasakan, suhu badan Reyhan yang berangsur-angsur stabil.
Rere masuk kedalam kamar mandi Reyhan untuk sekedar membasuh wajah. setelah itu, gadis itu membenarkan rambutnya yang kusut.
"Lo masih di sini?" ucap Reyhan yang baru bangun.
"Iya gue mau pulang. Lo juga udah baik-baik aja, kan?" ucap Rere menatap wajahnya di cermin.
Reyhan mengangguk, meskipun Rere tidak melihat kearahnya. "Makasih, ya,"
"Iya. Lo makasih mulu, kayak kasih indoapril."
Rere mengambil tasnya. Lalu berjalan keluar kamar Reyhan. Namun, bersamaan dengan Rere yang keluar kamar. Flora pulang, bersama dengan Calista dan Tuan Dewa.
"Kak Rere.... " panggil Calista berlari menuju Rere. Calista langsung memeluk tubuh Rere. Flora dan Dewa hanya tersenyum.
"Maaf ya Re, lama. Tadi ada urusan sebentar," ucap Flora.
"Iya gak pa-pa Tante," ucap Rere. Reyhan keluar kamar karena mendengar suara bising.
"Kak Rere udah mau pulang, ya? Yah Calista telat!" ucap Calista.
"Iya, udah mau malam jadi Kakak pulang dulu, ya."
"Yah.... " ucap Calista putus asa.
"Kok rame banget sih, " ucap Reyhan. Dan semua menatap ke arah Reyhan.
"Wah, kamu udah sembuh Rey?" ucap Flora meledek Reyhan.
Reyhan tahu Mamanya pasti mau meledekinya.
"Pa.... ini berkas dokumennya ketinggalan," ucap seorang lelaki masuk kedalam rumah. Rere kaget, begitu juga dengan lelaki tesebut.
"Sayang.... kamu ngapain di sini?" ucap lelaki itu kaget ketika melihat Rere.
"Bang Raka ngapain ke sini juga?" ucap Rere balik tanya. Bukan hanya mereka yang bingung, tapi juga semua orang yang berada di ruangan ini.
"Loh, Kak Rere kenal sama Bang Raka?" ucap Calista.
"Ma... Pa.... Rere pacar aku," ucap Raka kepada Flora dan Dewa.
"Mama? Papa? " ucap Rere kebingungan. Sementara itu, Reyhan langsung masuk kedalam kamarnya. Dan hal itu menyita perhatian mereka semua.
"Loh, kalian pacaran?" ucap Flora kaget.
"Iya. Dulu kita ketemu waktu Rere tinggal di Singapore," ucap Raka. "Sayang, kamu belum jawab pertanyaan aku. Kamu kok di sini? Padahal aku mau buat kejutan buat kamu."
"Eum, itu Reyhan teman kampus aku sakit. Dan tadi ikut nganterin Reyhan," ucap Rere. Raka mengangguk paham.
"Kamu mau pulang? Yuk aku anterin," ajak Raka. Rere tersenyum, menerima uluran tangan Raka.
"Om, Tante, Calista, Rere pulang dulu. Assalamualaikum... "
"Wa'alaikumsalam.... hati-hati Re... "
"Gak nyangka ya, Kak Rere pacaran sama Bang Raka," ucap Calista. "Ini kalau di buat FTV pasti judulnya, 'mantanku ternyata Kakak iparku' lucu Ma."
Flora dan Dewa tertawa. "Kamu ini lucu loh Lis!"
***
"Jadi kamu satu kampus sama Reyhan?" ucap Raka memulai percakapan.
"Iya. Aku gak tahu, kalah Reyhan adik kamu. Kamu gak pernah cerita, dan kenapa bisa? Bukannya Mami kamu Mami Sandrina bukan Tante Flora?" ucap Rere mengungkapkan kebingungannya.
Rere kenal betul dengan Tante Sandrina yang ia panggil Mami. Karena Raka sudah mengenalkan Sandrina kepada Rere.
"Iya. Mami kandung aku ya Mami Sandrina. Mama Flora itu, Mama tiri aku. Papa sama Mami menikah karena di jodohkan. Aku lahir mereka cerai. Dan Papa menikah dengan Tante Flora."
Rere mengangguk paham. Ia mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Raka. "Terus Abang pulang gak ngabarin Rere," ucap Rere menuntut kejelasan.
"Hahaha.... maaf sayang. Aku emang lagi liburan ke Indonesia. Papa yang ngajak ke pulang. Dan sekalian mau buat kejutan eh malah gagal."
Raka menarik Rere kedalam pelukannya. Ia mencium kening dan Puncak kepala Rere dengan sayang. Tentu saja dengan tangan yang satunya masih menyetir.
Rere tidak pernah tahu bahwa dunia sesempit ini. Raka adalah lelaki dewasa yang sungguh membuat Rere kagum dengan kedewasaannya. Tapi Rere juga tidak tahu jika Raka adalah Kaka dari Reyhan. Mantan kekasihnya semasa SMA.
***
"Kenapa sih gue jadi kesel!" ucap Reyhan di dalam kamarnya. Lelaki itu menutupi wajahnya dengan selimut.
"Sialan! Kenapa d**a gue panas!" gerutunya lagi.
"Kenapa harus Rere? Kenapa Rere harus pacaran sama Abang gue sendiri? Kenapa? "
"Arghhh... " Reyhan sedikit berteriak. Membuat Flora berlari terbirit-b***t ke kamar Reyhan.
"Reyhan? Kamu kenapa? Teriak gitu? Ada yang sakit? " tanya Flora khawatir.
"E.... enggak kon Ma. Reyhan gak pa-pa, " jawab Reyhan. Flora mengecek suhu tubuh Reyhan.
"Kamu udah sembuh? Manjur juha obatnya," sindir Flora.
"Apaan sih Ma," ucap Reyhan kesal.
"Kamu cemburu ya? Lihat Rere sama Raka? " ucap Flora. Reyhan diam.
Flora mengusap bahu Reyhan. "Kamu ngaku kamu gak dosa kok."
"Ma, Reyhan udah punya pacar. Ngapain mikirin Rere," bantah Reyhan. Flora mengangguk. Lalu ia pergi dari kamar Reyhan.
"Apa iya? Gue cemburu?"