MTM (13 ) : Sikap yang Berubah

1667 Kata
Raka mengantarkan Rere samapi di depan rumah. Sementara itu, dari dalam rumah Loren mengintip adiknya dari jendela ruang tamu. "Aku pulang dulu ya, besok kita jalan lagi. Aku masih kangen banget sama kamu." Rere tersenyum sembari mengangguk menanggapi ucapan Raka. "Hati-hati Bang," ucap Rere. Raka mengangguk, ia membunyikan klakson dan melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah Rere. Rere menghela nafas. Kejutan yang benar-benar tidak terduga hari ini. Rere masih tidak percaya Jika Reyhan dan Raka adalah kakak beradik. Gadis itu memegangi kepalanya yang pusing. Ia memilih masuk kedalam kamar. Ia membuka pintu. "Lo jalan sama Raka?" ucap Loren. Bahkan Rere tidak menyadari keberadaan Loren. "Lo ngintip?" tanya Rere kebingungan. "Jawab pertanyaan gue Re!" ucap Loren tidak menjawab pertanyaan Rere. "Apaan sih Bang! Kalau gue jalan sama Raka kenapa emang!" ucap Rere bersingut kesal. "Gue gak suka sama Raka!" ucap Loren menatap adiknya. "Bang, yang jalanin hubungan itu gue sama Raka. Bukan jadi bukan urusan gue kalau lo gak suka sama Raka!" bantah Rere. Loren diam, Rere memang keras kepala. Gadis itu tidak bisa di bilangin. "Dah ah! Capek, gue mau istirahat di kamar," ucap Rere lalu berjalan masuk menuju kamarnya. **** Matahari terlihat begitu terik. Gadis itu sudah siap dengan outfit hari. Rere sedikit merapihkan dandanannya. Tadi Raka sudah mengirimkan pesan. Bahwa dirinya akan segera menjemput Rere. Hari ini hari spesial untuk Rere karena ia akan di antar oleh Raka ke kampus. Hari sabtu, pelajaran hanya ada satu kelas. Jadi nanti dia dan Raka akan jalan-jalan. Rere bersiap, ia mengambil tas dan berjalan keluar kamar. Di meja makan, ia melihat Loren yang sedang sarapan. "Lo kuliah?" tanya Loren melihat adiknya yang sudah rapih. "Iyalah. Cuma satu jam aja sih," jawab Rere. Rere mengambil roti yang sudah di siapkan. Kemudian ia mulai makan. "Maaf Non, di depan sudah ada temannya, " ucap Bi Marni. "Siap Bi? Nabila?" ucap Rere. "Bukan, itu cowok kok Non," jawab Bibi Marni lagi. Rere sudah menebak pasti Raka sudah di depan. "Iya Bi, makasih ya," ucap Rere tergesa-gesa. "Lo di jemput sama Raka?" tanya Loren. Rere mengangguk sembari meminum segelas s**u. "Gu.... " "Bang, gue gak mau berantem pagi-pagi, apalagi ada Raka. Gue berangkat dulu. Nanti di omongin kalau gue udah pulang," ucap Rere memotong ucapan Loren. Rere pergi, sementara Loren hanya mampu menghela nafas beratnya. Lelaki itu pun hanya diam. Padahal ada sesuatu hal yang harus ia bicarakan kepada adiknya. Rere keluar rumah, dan mendapati Raka di depan rumahnya. Lelaki itu tersenyum manis melihat kekasihnya. "Maaf ya Bang, lama, aku tadi sarapan dulu. " "Iya gak pa-pa sayang, mau langsung jalan aja?" ucap Raka. Rere mengangguk. Keduanya masuk kedalam mobil Raka. Mobil itu melaju menunju kampus. **** Sampai di kampus, mobil Raka berada di parkiran kampus. "Bang, aku kuliah dulu ya. Paling cuma 1 jam. Soalnya kan cuma satu mata pelajaran. " "Iya sayang, semangat ya kuliahnya!" ucap Raka tersenyum dan mengacak-acak Puncak kepala Rere. Rere turun dari mobil. Ia pun masuk kedalam kampus. Di tengah koridor, ia melihat Nabila. Nabila melambaikan tangan kepadanya. "Bil, hari ini cuma 1 mata pelajaran, kan?" tanya Rere. "Iya Re! Eh, gue mau nanya sesuatu sama lo. Sini-sini," ucap Nabila menarik Rere agar duduk di kursi di pinggir koridor. "Kenapa?" tanya Rere heran. "Lo kemarin kemana? Nganterin Reyhan? Dia kenapa?" tanya Nabila membuat Rere menghela nafas. Dan menatap kearahnya Rere kira ada sesuatu yang lebih penting dari pertanyaan itu. "Iya Reyhan sakit, demam," ucap Rere. "Oh gitu, gue kira dia kenapa," jawab Nabila. "Tau gak? Tadi gue lihat wajah Reyhan lempeng-lempeng aja. Dia kek gak orang sakit sih. Cuma kayak orang yang punya beban banyak gitu," ucap Nabila. "Serius lo?" tanya Rere, kemarin keadaan Reyhan sudah membaik. Harusnya ia sudah biasa-biasa saja dong? "Iya, kayak gini nih." Nabila meniru ekspresi wajah Reyhan. Sontak hal itu membuat Rere tertawa keras. Mereka terlihat seperti heboh sendiri di koridor kampus. Byur.... Tiada angin, tiada hujan. Alexa datang dan menyiram Rere dengan air dari botol minumannya. Alexa dan kedua temannya tertawa melihat hal itu. Rambut, dan wajah Rere basah kuyup. "Apa-apan sih lo!" ucap Nabila tidak terima. "Hama kan wajib di musnahkan!" ucap Alexa dengan entengnya. "Sialan! Lo ya!" emosi Nabila memuncak. Ia pun mengambil botol dari tangan teman Alexa dan menyiramkannya ke wajah Alexa. Nabila tertawa puas. "Hahaha.... mampus, kan lo!" seru Nabila. "Sialan!" teriak Alexa tidak terima. Alexa akan menampar Nabila namun di cegahnya oleh Rere. "Urusan lo sama gue! Jangan sakiti sahabat gue!" ucap Rere menatap Alexa dengan tajam. Melihat tatapan tajam dari Alexa, membuat nyali ketiganya ciut. "Gue.... gue cuma gak mau lo dekatin Reyhan!" ucap Alexa. Gadis itu menutupi ekspresi ketakutannya. "Gue gak ada hubungan apapun sama Reyhan! Jangan sesekali ganggu gue! Karena gue gak ada apa-apa sama Reyhan." Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Rere menarik tangan Nabila pergi meninggalkan koridor kampus. "Jadi Rere gak pacaran sama Reyhan?" ucap salah satu teman Alexa. Alexa terdiam, ia pun segera pergi meninggalkan kedua temannya. **** Reyhan berangsur mundur, dari kerumunan keramaian di koridor. Ia tadi di beri kabar oleh Malik, bahwa Alexa dan teman-temannya membuat ulah lagi. Awalnya Reyhan malas ke sini. Tetapi ia ingat, jika Rere merasakan semua ini juga karena ulahnya. Tapi rasa kecewa melanda Reyhan. Entah kenapa ia sedikit kecewa ketika Rere membantah berhubungan dengannya. Padahal memang begitu kenyataannya. Belum lagi, ia masih belum terima jika Raka dan Rere menjadi hubungan. "Rey, gimana nih? Rere udah publikasi semuanya. Lo di ganggu lagi dong sama Alexa," ucap Malik merangkul bahu Reyhan. "Udahlah bodo amat, gue juga udah punya Devi." Malik terdiam, meskipun begitu ia tahu ada sesuatu yang menganggu pikiran Reyhan. Daniel datang, dengan gaya coolnya. "Eh gue denger bebeb Alexa berantem lagi sama Rere?" ucap Daniel. "Halah! Telat lo!" ucap Malik. Daniel mengerut kesal. Reyhan memilih untuk meninggalkan Malik dan Daniel. **** "Bener-bener nenek sihir itu tuh," ucap Nabila membantu membersihkan wajah Rere. "Kalau dia bukan anaknya dekan. Udah gue garuk wajahnya yang sok cantik itu." Emosi Nabila masih mengebu-gebu. "Ini semua gara-gara Reyhan. Dia tuh ya, nyeret lo dalam masalahnya. Dianya sendiri diam aja waktu lo di perlakukan kayak gitu. Emang sialan tuh bocah." "Reyhan tahu masalah tadi?" tanya Rere setelah mencerna ucapan Nabila. "Iya tadi gue liat dia. Tapi dia juga biasa aja waktu lo disiram sama Alexa," ucap Nabila. Rere selsai membasuh wajahnya. Dalam otaknya banyak hal yang berpikiran. Apa Reyhan marah kepadanya? Tapi kenapa bisa Reyhan marah kepadanya? Bukan kah benar apa yang di katakan oleh dirinya mengenai hubungan mereka. "Eh Re, yuk balik kelas. Kayaknya dosen udah masuk," ucap Nabila. Mereka pun memutuskan untuk pergi ke kelas. Dan benar saja kelas sudah ada dosen. Untung saja, dosen kali ini tidak begitu galak. Rere menatap sekitar. Ternyata, kursi yang biasanya ia gunakan telah di gunakan oleh mahasiswa lain. Dan salah satunya kursi yang kosong ada di depan Reyhan. Mau tidak mau, Rere harus duduk di kursi tersebut. "Tenang Re, jam pelajaran kan cuma satu," batin Rere. Gadis itu melangkah, dan duduk di depan Reyhan. "Baiklah, saya akan membagikan contohnya. Dan kalian harus menganalisis terlebih, silahkan bagikan. Kamu yang tadi telat," ucap Pak Dosen menunjuk Rere. Rere bangkit dan menerima kertas yang berikan oleh Rere. Kemudian, ia mulai membaginya kepada setiap penghuni kelas. Dan meja terakhir, meja Reyhan. Rere hanya mampu membisu, ketika tidak sadar pandangan mata mereka kembali bertemu. Pandangan mata Reyhan bak silet yang menyayat hatinya. Rere kembali ke tempat duduk. Entah kenapa Rere merasakan kalau sikap Reyhan berubah. Sikapnya tidak seperti akhir-akhir ini. Semua yang di tunjukkan oleh Reyhan sama seperti waktu pertama kali mereka ketemu lagi. Tepatnya beberapa bulan lalu. Rere menghela nafas, lalu mulai menganalisis kertas di depannya. **** Jam pelajaran sudah selsai. Dosen sudah pergi lebih dulu. Rere juga sudah mengirimkan pesan kepada Raka. Dan ternyata, Raka sudah ada di parkiran kampus. "Re, malam ini nongkrong yuk. Ada cafe baru punya temen gue. Ada live musiknya juga loh, yuk lo mau kan?" ajak Nabila. "Aduh Bil, gak bisa. Gue ada janji sama pacar gue," ucap Rere. "Ha? Pacar? Lo punya pacar?" tanya Nabila bingung. "Iya pacar gue waktu di Singapore. Dan sekarang dia lagi di Indonesia. Makanya mau quality time bareng dia," ucap Rere menjelaskan. Nabila mengangguk paham. "Yuk, gue kenalin sama pacar gue. Dia udah ada di parkiran kampus," ucap Rere lagi. "Ya udah yuk," ucap Nabila. Keduanya berjalan menuju parkir. *** Raka keluar dari mobil begitu mengetahui Rere. Rere berjalan beriringan dengan Nabila. Dan akhirnya mereka sampai di depan Raka. "Hai sayang, kenalin ini sahabat aku, namanya Nabila." Rere mengenalkan Nabila kepada Raka. "Hai, gue Raka," ucap Raka membalas jabatan tangan Nabila. "Nabila," ucap Nabila. "Oh iya Re, kalau gitu, gue pulang duluan ya. Have fun kalian," ucap Nabila langsung melenggang pergi. "Ya udah yuk jalan," ucap Raka menggenggam tangan Rere. Rere tersenyum dan mereka masuk kedalam mobil Raka. Di sisi lain,Malik mengamati Rere dan Raka dari jauh. Bahkan ia sangat menerka-nerka, siapa lelaki yang bersama Rere itu? Ia merasa sangat kenal dengan lelaki tersebut tetapi siapa? "Rey, bukannya itu Raka Abang tiri lo, kan? Kok dia bisa sama Rere?" ucap Malik heran. Reyhan dan Daniel langsung melihat ke objek yang di ucapkan oleh Daniel. "Lah iya Bang Raka itu," sambung Daniel mulai menyadarinya. "Iya. Bang Raka emang pacaran sama Rere," jawab Reyhan langsung masuk kedalam mobil. Daniel dan Malik saling pandang. "Apa?" keduanya sangat kaget dengan apa yang di ucapakan oleh Reyhan. *** Hari sudah malam, tapi Rere juga belum pulang. Hal itu membuat Loren benar-benar kepikiran. Apalagi Loren tahu jika Rere pergi bersama lelaki yang sangat ia benci. Sudah puluhan kali Loren menelpon Rere tetapi hasilnya nihil. Karena Rere tak kunjung mengangkat telponnya. "Ya Allah, kenapa Rere belum juga pulang." Ponsel Loren berbunyi, Loren kira Rere yang menelponnya tatapi ia salah. Ternyata Bundanya. Pasti menanyakan Rere. Tapi Loren tidak bisa menjawab telpon dari Bundanya. Karena pasti ia akan di omeli melihat anak kesayangannya belum juga pulang. "Andai lo tahu siapa Raka, gue cuma gak mau lo kenapa-napa," gumam Loren. Ia hanya bisa berdoa dalam hati semoga ia tidak kehilangan adiknya (lagi).
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN