MTM (14): Raka adalah...

1615 Kata
Rere gelisah, hari sudah larut. Ia juga sempat mendengar beberapa kali deringan ponsel. Ia tahu, Loren pasti sedang mengkhawatirkannya di rumah. Rere terlihat tidak nyaman di tempat ini. Ia bahkan baru tahu, kalau Raka suka mengunjungi tempat-tempat seperti ini. Tempat yang penuh dengan lautan manusia. Banyak sekali kaum hawa yang menggunakan baju kurang bahan. Mempertontonkan tubuhnya kepada orang lain. Raka terlihat masih asyik mengobrol dengan temannya. Sesekali tertawa, bahkan sepertinya Raka tidak menyadari keberadaan Rere. "Mati gue! Udah jam 2 malam. Dan gue belum pulang. Bang Loren pasti bakalan marah banget!" batin Rere melirik jam di pergelangan tangannya. Ruangan remang-remang dengan pencahayaan minim itu semakin ramai. Rere mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Meskipun cahaya yang minim, ia dapat melihat dengan jelas, ada seseorang di pojok sana yang sepertinya ia sangat mengenal seseorang tersebut. Dia terdiam, lalu menatap lagi gerakan-gerakan lelaki di pojok club malam itu. "Yang joget yuk," ajak Raka menarik tangan Rere. "Ha? Jo.... joget?" ucap Rere kaget. "Iya yuk, joget," ajak Raka. Rere hanya diam, ketika tubuhnya tertarik menuju tengah ruangan. Musik DJ terdengar begitu bising. Lelaki mau pun perempuan ikut berjoget di ruangan ini. Meskipun Raka sudah berjoget, namun Rere masih belum mau berjoget ia hanya diam saja. Rere terlihat begitu tidak nyaman dengan pakaian yang di beli oleh Raka tadi di mall. Pakaian yang ia gunakan dress berwarna merah maroon dengan potongan lengan V di atas lutut yang sangat mini. Rere pun memutuskan untuk keluar dari kerumunan manusia tersebut. Gadis itu pun berjalan menuju toilet. Ia mengurung dirinya di toilet. "Duh, gimana caranya gue pulang?" ucap Rere. Gadis itu terus memikirkan bagaimana cara agar ia bisa pulang. Rere mengambil ponsel yang berdering. Loren, terus menghubunginya. "Duh, gue jawab apa ya? Bisa mati gue kalau gue jawab lagi di tempat haram ini!" ucapnya kebingungan. "Eh..... eh jangan keluar toilet! Ada polisi di luar!" Rere terdiam, gadis yang tengah berada di dalam bilik toilet itu mendengar sebuah suara. "Ada polisi di luar?" Rere bangkit, dan keluar dari bilik toilet. "Heh lo! Jangan keluar, ada polisi di luar!" ucap seseorang perempuan berpakaian lebih seksi dari Rere. Rere tidak mendengarkannya. Gadis itu menyelinap keluar dari toilet. Musik sudah di matikan. Dan Rere melihat dengan kedua matanya sendiri. Ia melihat beberapa orang yang sedang di periksa oleh polisi. Saat akan berjalan mendekat. Seseorang membekap mulutnya, dan menarik tubuhnya. Rere panik setengah mati. Bagaimana jika yang menarik tubuhnya adalah seseorang yang jahat? Bagaimana jika ia akan di jual kepada om-om. Dan bagaimana jika om-om itu lah yang malah akan memperkosanya. Pikiran buruk itu muncul, memacu Rere untuk memberontak. Mereka bersembunyi di tempat yang tidak ia ketahui. Rere masih benar-benar takut sekarang. Seseorang itu melepaskan tangannya pada mulut Rere. Rere mendongak, dan melihat siapa yang telah menyeretnya. "Lo.... lo siapa?" ucap Rere. Karena Rere tidak dapat melihat sekelilingnya. "Stt... nanti ada yang lihat kita," ucapnya. "Re.... Reyhan? " Lelaki yang di duga Reyhan itu tidak menjawab ucapan Rere. "Reyhan? Ini lo, kan?" bisik Rere. Gadis itu meraba wajah sosok yang ia yakini adalah Reyhan. "Lo diam. Biar kita gak ketahuan," ucap Reyhan lagi. Mendengar suara Reyhan sekali lagi, membuat Rere langsung memeluk tubuh Reyhan dengan kencang. Gadis itu sudah ketakutan. Reyhan pun hanya terdiam, membiarkan Rere memeluk tubuhnya. Beberapa menit bersembunyi di tempat ini membuat Reyhan memutuskan untuk keluar dari persembunyian. Ia sedikit mengintip, sepi, tidak ada orang yang melintas. Reyhan keluar lebih dulu. Baru, ia mengajak Rere. Rere keluar, dan tangannya di genggam oleh Reyhan. Mereka berjalan menuju belakang club malam. Ada sebuah pagar tinggi di sana. "Kita harus manjat," ucap Reyhan. Sembari mengawasi ke belakang. "Ha? Ma.... manjat?" ucap Rere kaget. Gadis itu langsung melihat dress yang ia kenakan. "Iya," ucap Reyhan. Lelaki itu menyusun beberapa kursi di atas meja. Ia naik ke meja. Lalu membantu Rere menaiki meja tersebut. Reyhan manjat hingga sampai di atas pagar. Rere melakukan hal yang sama. Ia duduk di sebelah Reyhan. Reyhan loncat lebih dulu. Sementara Rere melempar sepatu haknya. Ia bingung. Pagar ini begitu tinggi. Jadi bagaimana caranya agar bisa turun dari pagar yang tinggi ini? "Ayo cepat! Turun!" ucap Reyhan yang sudah di bawah. "Gu.... gue takut," ucap Rere gugup. "Jangan takut! Gue bakalan nangkep lo!" ucap Reyhan meyakinkan. Rere pun berani ia bersiap loncat. Dan saat loncat tubuhnya menimpah tubuh Reyhan. "Lo berat banget! Bangun," ucap Reyhan. Rere memajukan bibirnya sebal. Gadis itu segera bangkit. Dan mendapati kedua sikunya yang terluka. Reyhan berjalan lebih dulu. Meninggalkan Rere yang sedang membersihkan tubuhnya. "Rey.... tunggu dong," ucap Rere ia mengikuti langkah Reyhan. "Bisa pulang sendiri, kan?" ucap Reyhan. Rere menekuk bibirnya. "Lo tega?" ucap Rere merengek. "Kalau gue kenapa-napa gimana?" "Bukan urusan gue," jawab Reyhan singkat. Rere kesal dengan sikap Reyhan. "Rey, anterin gue pulang ya... " ucap Rere merengek lagi. "Gue gak bisa." "Rey, please, gue takut... " ucap Rere menatap Rere dengan memohon. Reyhan hanya mampu menghela nafasnya. Ia melepaskan jaket yang ia kenakan. "Lo pake ini!" ucap Reyhan menyodorkan jaket yang ia kenakan. Rere dengan senang hati memakai jaket tersebut. Mereka masuk kedalam mobil Reyhan yang ternyata sudah di parkir di belakang gedung. "By the way, kok lo bisa di tempat itu," ucap Rere ketika Reyhan menyalakan lampu mobilnya. Rere tahu, Reyhan bukan tipe orang yang suka pergi ke tempat seperti itu. Menurut Rere Reyhan adalah lelaki yang sangat tidak suka dengan area kebisingan seperti tempat ini. "Nenangin diri," jawab Reyhan singkat. Ia mulai melajukan mobilnya. Kedua mata Rere membulat mendengar ucapan Reyhan. "Sejak kapan? Gue tahu Rey, lo bukan seorang yang.... " "Gak usah sok tahu tentang hidup gue," ucap Reyhan memotong ucapan Rere. Rere pun hanya diam. Ia tersenyum masam. Mendengar perkataan Reyhan membuat hatinya sakit. Rere memilih diam, tidak lagi bertanya-tanya kepada Rere. Bahkan ia sedang menyiapkan mental agar ia bisa menghadapi Loren nantinya. Beberapa menit kemudian, mobil Reyhan berhenti di sebuah gerbang rumah Rere. Rere terdiam, karena Loren sudah menatapnya dengan tajam. Bahkan lelaki itu sudah berdiri di depan gerbang. "Gue turun dulu.... makasih... " ucap Rere. Reyhan hanya diam. Rere turun, dan menunduk berjalan kearah Loren. "Dari mana kamu?" ucap Loren dengan kalimat ketus. Di luar dugaan. Loren berjalan menuju mobil Reyhan. Ia membuka pintu mobil Reyhan dan.... Bugh.... Loren meninju Reyhan. Membuat Rere berteriak. "Abang! Cukup! " Loren kaget, yang ia lihat adalah Reyhan bukan Raka. Rere membantu Reyhan berdiri. "Arghh... " Loren berteriak, lalu masuk kedalam rumah. "Rey.... maafin Bang Loren ya," ucap Rere menatap wajah Reyhan yang sudah bonyok. Reyhan tidak menjawab. Lelaki itu langsung masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya. Rere menatap kepergian Reyhan. Ia langsung masuk kedalam rumah. Rere membuka pintu rumah, dan langsung melihat Loren yang duduk di ruang tamu. "Duduk!" perintah Loren. Rere duduk, ia tahu memang dirinya yang salah. "Ini pertama, dan terkahir kalinya kamu pulang selarut ini!" ucap Loren menekan ucapannya. Rere diam gadis itu hanya menunduk. "Kamu tahu gak sih Re! Abang khawatir sama kondisi kamu! Karena kamu adalah tanggung jawab Abang sekarang!" Rere semakin menunduk. "Apalagi Abang tahu kamu pergi sama b******n itu!" Rere mendongak menatap Loren. "Maksud Abang apa? Bang Raka bukan b******n!" "Kamu gak tahu apa-apa Re!" ucap Loren menatap Rere dengan tajam. "Abang yang tahu seperti apa b******n itu." Rere berdiri, ia sama sekali tidak terima jika Loren mengatai Raka sebagai b******n. Ia memilih berjalan meninggalkan Loren dari pada harus meluapkan emosinya. "Putri.... " Langkah Rere terhenti. "Putri salah satu korbannya." Rere tahu betul, siapa Putri yang di maksud oleh Rere. Rere menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya dengan ucapan Loren. "Gue tau ya Bang! Lo gak suka sama Raka! Tapi gak gini caranya lo fitnah dia!" seru Rere menentang ucap Loren. Loren berdiri, lalu menghadapkan Rere kearah foto keluarga yang terpampang dengan jelas di depan matanya. Kedua mata Rere menetes melihat satu gambar perempuan yang tengah senyum manis di depannya. "Raka yang udah buat Putri pergi ninggalin kita Re... " ucap Loren lagi. Sama hal dengan Rere. Loren nampak menangis menatap wajah kembarannya. Rere berjalan meninggalkan Loren. Ia tidak bisa menerima kenyataan ini. Ia tidak bisa menerimanya. Raka yang ia kenal adalah lelaki yang baik-baik. Tidak seperti apa yang di ucapkan oleh Loren. Rere menutup pintu kamarnya dengan kencang. Perempuan itu menangis. Ia memeluk lututnya dengan erat. "Enggak.... gak mungkin Bang Raka yang bunuh Kak Putri... " *** Reyhan keluar dari mobil. Lelaki itu masuk kedalam rumahnya. Lampu ruang tamu, sampai ruang keluarga di matikan. Lelaki itu berjalan mengendap-endap. Namun, Papanya menghidupkan lampu. Dan akhirnya ia ketahuan. "Dari mana kamu Reyhan?" ucap Dewa menatap putranya. "Kenapa wajah kamu seperti itu? Mau jadi jagoan kamu?" Reyhan masih diam. "Jawab Papa Reyhan!" "Maaf Pa," ucap Reyhan akhirnya. Dewa tahu Reyhan itu seperti apa. Dia juga membatasi pergaulan Reyhan. Tapi entah kenapa ia masih saja kecolongan. "Ya sudah masuk ke kamar kamu. Jangan di ulangi lagi!" Reyhan mengangguk, lalu masuk kedalam kamarnya. Lelaki itu menutup pintu, dan menatap wajahnya di cermin. Sedikit lebam, di sudut bibirnya. Lelaki itu langsung mengobati luka di sudut bibinya. "Kenapa tadi gue tiba-tiba pengen ngikutin Rere sama Bang Raka ya? Bodoh banget sih lo Rey." "Lo itu harusnya benci sama Rere. Bukan malah nolongin dia. Ingat! Lo itu harus benci sama Rere!" "Argh.... " Reyhan berteriak, dan mengacak-ngacak rambutnya dengan kasar. Lelaki itu berbaring di tempat tidur. Dan mencoba memejamkan mata. Sampai kapan pun, Reyhan tidak akan bisa membenci Rere. **** "Bro, lo cari siapa?" ucap seseorang berjaket putih. "Lo tahu kan cewek yang gue bawa tadi? Lo tahu dia ada di mana?" "Oh cewek tadi, gue gak tahu sih. Udah pergi kali," ucap seseorang tersebut. "Iya. Makasih infonya bro," ucap Raka. Ia memilih masuk kedalam mobilnya. "Raka... " ucap gadis yang berjalan menghampirinya. "Cinta?" ucap Raka kaget. Gadis bernama Cinta itu langsung memeluk Raka. "Aku kangen banget sama kamu... " "Aku gak mimpi, kan?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN