Rere melepas helm kesayangannya. Helm ini adalah kado ulang tahun dari Raka, kekasihnya. Mungkin helm ini sudah lebih dari 1 tahun menemani perjalannya selama ini.
"Bil.... " panggil Rere, karena ia sekarang berada di depan rumah Nabila. Tadi, Nabila menghubunginya ia di minta untuk menemani Nabila mencari kado untuk adik sepupunya.
Clekk...
Pintu rumah Nabil terbuka. "Duh, sorry lo nunggu lama, ya?"
"Elah, santai. Gue juga baru nyampe," jawab Rere dengan senyum mengambang di kedua sudut bibirnya.
Nabila berjalan menuju Rere. "Eh bentar, gue ambil helm dulu."
Rere mengangguk, Nabila pun masuk kedalam rumahnya untuk mengambil helm. Tidak berapa lama, sebuah mobil masuk kedalam pekarangan rumah Nabila. Rere mengerutkan keningnya, seperti tidak asing dengan mobil tersebut. Mobil itu berhenti, tidak jauh dari motornya yang terparkir.
"Zoya?"
"Regina?"
"Si anjing! Ngapain lo di sini?" ucap gadis bernama Zoya.
Rere menggaruk alisnya yang gatal. Gadis itu menaikkan satu alisnya dengan angkuh. "Gue yang harusnya nanya ngapain lo kesini?"
"Suka-suka gue lah!"
"Loh, Zoy kok lo datang gak kabarin gue dulu." Rere dan Zoya mendongak menatap kearah sumber suara.
"Lo kenal sama Nenek sihir ini Bil?" tanya Rere kaget.
"Ya kenal lah. Kan dia sepupu gue, Re.... " jawab Nabila, membuat Rere sedikit terkejut.
"Lo ngapain sih Bil, harus berteman sama manusia modelan begini?" ujar Zoya melirik Rere dengan sinis.
Rere hanya diam, dan kini Nabila menatap keduanya dengan pandangan yang bingung.
"Loh, kalian saling kenal?" tanya Nabila. Keduanya diam, enggan menjawab pertanyaan Nabila.
"Gue udah nunggu lo sejaman lebih di tempat janjian. Karena lo gak dateng-dateng jadi gue ke sini." Zoya berujar.
"Katanya mau ke mall, jadi gak?" tanya Rere yang sedari tadi diam.
"Eh, iya. Jadi kok, Zoy lo masuk aja. Di rumah ada Kak Fiona." Rere memutar motornya. Lalu Nabila duduk di boncengan motor Rere.
Keduanya melaju meninggalkan Zoya yang mengerakkan giginya kesal.
***
"Lo kenal sama Zoya?" tanya Nabila sedikit berteriak, karena suara angin membuat suaranya tidak begitu jelas.
"Iya," jawab Rere singkat.
"Wah seru dong," ucap Nabila dengan senyum mengembang.
Rere diam, Nabila tidak tahu saja bagaimana hubungannya dengan Zoya. Musuh bebuyutannya sejak SMA. Sekilas Rere menerawang jauh ke masa lalu.
"Heh murid baru! Jangan sok ya lo! Mentang-mentang Demas suka sama lo!"
Rere diam, bahkan ia tidak mengetahui apa yang sedang di ucapkan gadis di depannya ini. Kelas 10 IPA 2 mendadak ramai. Banyak yang datang untuk melihat sang gadis popular di sekolah melabrak murid baru yang baru 3 hari sekolah di SMA Brawijaya.
"Jawab! Bisu lo? " tantang Zoya mencengkram erat dagu Rere.
Rere menatap tajam Zoya. Secara perlahan, Rere memindahkan tangan Zoya yang ada di dagunya.
"Gue gak kenal siapa lo. Dan gue juga gak kenal siapa Demas. Gak usah sok, mau ngelabrak gue."
Setelah mengucapkan kalimat tersebut, Rere pergi meninggalkan kerumunan manusia tersebut.
"Huuuuu.... "
Sorak murid-murid yang menonton mereka. Saat melangkah pergi, tidak sengaja Rere menginjak tali sepatunya yang yang terlepas membuat Rere jatuh, namun....
"Eh Re! Awas!" Teriakan Nabila membuat Rere membanting stir motornya.
Brakk.....
Mereka jatuh, Rere bangkit dan duduk menatap Nabila yang tidak jauh dari dirinya. "Bil, lo gak pa-pa?"
"Gue gak pa-pa Re. Lo yang lebih parah dari gue," ucap Nabila menatap Rere. Memang benar, kecelakaan mereka mengakibatkan luka serius kepada Rere. Keningnya berdarah, bahkan siku dan lututnya pun sama.
Nabila bangkit, ia melihat kanan dan kiri, namun tidak ada seorang pun di jalan ini. Rere menabrak pembatas jalan, karena menghindar mobil sedan tadi. Jalanan ini memang sepi.kadang hanya beberapa kendaraan yang lewat saja.
"Duh gimana ya, apa gue nelpon ambulans aja?" ucap Nabila panik.
"Apaan sih Bil, orang cuma luka ringan, kok." Rere mencoba bangkit, namun ia tidak bisa. Kakinya terlalu sakit. Kemungkinan kaki Rere ikut terkilir.
"Loh, lo harus lihat kondisi lo dong Re. Ini parah, di sini gak ada orang satu pun."
Rere mengigit bibir bawahnya, sembari mendengarkan pidato singkat dari Nabila.
"Pokoknya gue harus nelpon ambulans," sambung Nabila mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Bil..... jangan.... " ucap Rere memohon. Nabila mengurungkan niatnya, karena melihat Rere dengan ekspresi ketakutan. "Gue.... gue phobia sama mobil ambulans."
Pengakuan Rere membuat Nabila terdiam. Air mata Rere sudah jatuh di pipinya. Gadis itu benar-benar ketakutan. Nabila berjongkok menyamakan tinggi badannya dengan Rere yang sedang duduk. Nabila pun mengusap air mata Rere.
"Sorry Re.... gue benar-benar gak tahu," ucap Nabila merasa bersalah. Rere mengangguk, memahami ucapan Nabila.
"Kalau gitu, gue telpon Malik aja, ya. Siapa tahu dia bisa bantu kita. Soalnya lo tahu sendiri kan, gue gak bisa naik motor," ucap Nabila. Lagi, Rere hanya mengangguk.
Nabila mencoba menghubungi Malik. Sementara Rere menatap luka-luka di sekujur tubuhnya.
"Re, Malik mau bantuin kita. Katanya kebetulan dia ada di daerah sini. Jadi dia segera ke sini, sabar ya," ucap Nabila setelah menelpon Malik.
"Makasih ya Bil. Dan maaf, gara-gara gue lo jadi celaka juga. Gue gak bermaksud buat ngelakuin semua ini," ucap Rere merasa bersalah.
"Duh malah lo sih yang minta maaf sih. Udah ya, yang penting sekarang kondisi lo harus sembuh dulu," omel Nabila.
Rere tersenyum, ia sangat senang memiliki teman seperti Nabila. Nabila bawel, Nabila perhatian, dan Nabila sangat menyayanginya. Yah, Rere tahu semua itu.
****
Tidak sampai 10 menit dari Nabila menelpon Malik. Kini, sebuah sedang pajero, berwana putih berhenti tidak jauh dari mereka.
"Bil, kamu gak pa-pa kan?" ucap Malik langsung berlari dan mengecek kondisi Nabila.
"Gak pa-pa kok. Cuma luka dikit," ucap Nabila. Sementara itu, pandangan Rere tertuju pada seorang lelaki yang berdiri di depan mobil. Lelaki itu melipat tangannya di depan d**a. Dan menyandarkan kepalanya pada pintu mobil.
"Oh iya Malik, bantuin teman gue ya. Rere yang lebih parah. Malik mau, kan?" ucap Nabila. Malik menatap Rere yang duduk di bawahnya.
"Babe, bukannya aku gak mau bantuin Rere. Tapi kan kamu juga tahu, gimana kondisi aku. Tangan aku patah, baru aja jatuh dari tangga. Tadi aja di setirin sama Reyhan."
Mendengar ucapan Malik, Nabila menatap Reyhan. Lalu gadis itu bergidik ngeri melihat wajah jutek Reyhan.
"Ihh, aku gak mau minta tolong sama dia. Kan dia galak, kayak macan," bisik Nabila kepada Malik.
Malik melirik Reyhan yang masih mempertahankan posisinya.
"Oke. Tapi gue gak mau kalau gue berhubungan sama cewek itu."
"Alhamdulillah akhirnya lo mau juga. Kan gini nih brother gue! The best dah," ucap Malik begitu senang mendengar ucapan Reyhan.
Sebenarnya Malik tidak tahu, apa yang terjadi dengan Reyhan dan Rere waktu itu. Yang Malik tahu, Reyhan sangat-sangat terpukul dengan semuanya.
"Malik mau bantuin gue, kan?" tanya Nabila. "Kasihan Rere, lukanya banyak. Dia gak bisa jalan."
Malik melirik Rere, apakah ia bisa membujuk Reyhan? Malik menghela nafas, lalu berjalan menuju Reyhan. Keduanya nampak berbincang. Dari jauh, Rere memperhatikan keduanya. Tidak sengaja pula, pandangan mata mereka saling beradu.
Beberapa menit kemudian, Malik dan Reyhan berjalan menuju Rere dan Nabila. Reyhan berjongkok, dan ingin membawa Rere kedalam gendongannya. Namun....
"Gue gak mau kalau lo gak ikhlas," cetus Rere dengan suara serak yang berasal dari tenggorokannya.
Reyhan menatap Rere dengan tajam. Kalau bukan karena PS 5 keluaran terbaru yang di janjikan oleh Malik. Reyhan tidak akan mau membantu gadis yang telah menghancurkan kehidupannya.
"Dari mata lo begitu jelas. Lo gak ikhlas iya, kan?"
Reyhan tidak menghiraukan ucapan Rere. Lelaki itu tetap membopong tubuh Rere menuju mobil. Rere memberontak.
"Lepasin! Gue gak mau!"
Karena Rere yang memberontak, membuat keseimbangan Reyhan sedikit tergoyahkan. Dan hal itu membuat mereka hampir saja jatuh. Rere meneguk sedikit air ludahnya. Ketika tatapan tajam Reyhan menghujani tatapan matanya. Semuanya masih sama. Sama sekali tidak ada yang berubah.
Brakk..
Rere terjatuh di tengah koridor. Gadis itu meringis merasakan lututnya yang ngilu dan sakit.
"Fungsi mata itu melihat. Apa jangan-jangan mata lo udah beda fungsinya?"
Rere mendongak, menatap lelaki dengan rambut lebat nan panjang yang telah melewati telinga lelaki tersebut.
"Fungsi mata gue masih sama." Rere menghela nafas, bahkan ia melayangkan tatapan tajam kepada lelaki di depannya. "Bahkan gue masih lihat cowok gak bersimpati di depan mata gue."
Lelaki itu menaikkan satu alisnya ke atas. Lelaki itu juga berjongkok, menyamakan tingginya dengan Rere yang duduk di lantai koridor. "Mau banget di tolongin sama gue?"
Seketika rasa nyeri di lututnya hilang seketika. "Gak usah kepedean! "
Baru akan melangkah, lelaki itu sudah mencegat langkah kaki Rere. "Nama gue Reyhan."
"Gak butuh nama lo." Rere melanjutkan perjalanannya.
"Gadis yang menarik."
Rere kaget, ketika merasakan tubuhnya kembali melayang. Reyhan menggendongnya lagi. Hingga akhirnya, ia masuk kedalam mobil. Sekali lagi, tatapan tajam Reyhan menghujani kedua matanya.
"Minggir-minggir...." Ucapan Nabila membuat Reyhan mundur. Nabila sudah duduk di belakang bersama Rere. Sementara Reyhan memutar langkahnya. Menuju kursi pengemudi.
"Reyhan serem banget ya, Re, " bisik Nabila di telinga Rere. Rere menghela nafas, lalu menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Kepalanya terasa pening.
"Katanya dia gay, bener gak ya?" bisik Nabila lagi. Kali ini Rere tertarik dengan topik pembicaraan dari Nabila.
"Gay?"
Nabila memejamkan matanya. Karena Rere tidak bisa menjaga ucapannya. Sampai-sampai Reyhan dan Malik melihat keduanya dari kaca spion tengah. Di sisi lain, Rere mengutuk dirinya yang telah berucap sembarangan.
"Sorry," ucap Rere lebih pelan. Nabila tersenyum, ia takut. Begitu melihat tatapan mata Reyhan yang begitu seram. Nabila memilih memejamkan matanya, sepertinya pura-pura tertidur jauh lebih baik. Dari pada melihat Reyhan dengan tatapan serigala yang sangat kelaparan.
****
Di rumah sakit, Rere hanya mampu menutup matanya. Ketika dokter menyuntikkan sesuatu di tubuhnya. Gadis itu meringis, sembari meremas sesuatu. Entah apa yang ia remas. Yang terpenting hal itu bisa menyalurkan rasa sakit yang ia rasakan.
"Sudah Mbak, duh kasihan tuh pacarnya ikut panik." Ucapan Dokter membuat Rere menatap kesamping. Kedua matanya melebar, melihat Reyhan di sampingnya.
"Saya bukan pacarnya, Dok." Rere melepaskan tangannya dari kemeja Reyhan. Ternyata tadi telah meremas kemeja Reyhan.
Dokter tersenyum, beliau meminta maaf sekaligus berpamitan. Keduanya hening dan canggung. Bahkan AC di ruangan VVIP ini tidak cukup sejuk untuk keduanya. Karena keadaan yang sudah canggung, Reyhan memutuskan untuk memutar langkah untuk pergi dari ruangan ini segera mungkin.
Satu langkah.... dua langkah.... tiga langkah....
"Reyhan.... makasih ya. Lo udah mau nolong gue."
Reyhan diam, langkahnya membeku di depan pintu ruangan Rere. Dadanya bergetar, perih itu kembali mencuat di dalam dadanya.
"Gue benci sama lo, Gin."
****