13. Please, Love Me

1564 Kata
Katakanlah Krystal gila, karena begitu ia mendengar kabar bahwa Sehun tengah melakukan perjalanan ke luar kota selama sebulan dengan gesitnya ia segera menyusul Sehun. Dengan berkedok sebuah penyesalan gadis berparas cantik itu mulai mengukuhkan tekadnya untuk kembali pada Sehun, ia benar-benar berniat memperbaiki hubungannya dengan Sehun yang telah kandas 11 tahun silam. Lalu bagaimana dengan Kai? Entahlah, Krystal sudah tidak peduli lagi. Dulu alasan Krystal lebih memilih Kai dari pada Sehun karena ia merasa Kai lah yang lebih membutuhkannya, ia merasa kasihan dengan laki-laki yang sudah bersahabat dengannya sejak TK itu, tapi seiring berjalannya waktu hatinya perlahan mulai hancur. Perasaan rindu dan rasa bersalah yang amat besar pada Sehun semakin menggerogoti batinnya, ia merasa semuanya berjalan dengan salah kaprah. Hatinya sama sekali tidak bahagia, menjalani hubungan berlandaskan kasihan membuatnya kesakitan sendiri. Sudah dua hari ia menetap dikamar hotel tanpa melakukan apapun, ingin sekali ia mengetuk pintu kamar hotel sebelahnya yang merupakan tempat Sehun tinggal untuk sementara ini dan menghambur ke pelukan laki-laki itu, tapi Krystal tidak cukup berani untuk melakukan itu. Sudah cukup ia merasa malu karena tindakan implusifnya tempo hari lalu yang membuat Sehun tidak mau menemuinya lagi, jadi kali ini ia lebih memilih berhati-hati dalam setiap tindakannya mendekati Sehun. "ini udah jam 9 malem, kenapa kamu belum pulang?" gumam Krystal sembari menatap sendu pada jam ponselnya. Mengutak-atik ponsel pintarnya Krystal tengah membuka salah satu berkas file yang berisikan foto-foto dirinya dengan Sehun dimasa putih abu dulu. "aku kangen kamu, Hun" lirihnya kemudian yang disusul dengan setetes air mata yang jatuh dari mata kirinya. Malam yang mulai berangsur-angsur larut itu terdengar cukup bising karena tangisan pilu dari Krystal yang tengah meratapi kerinduannya. ... Suara kicauan burung terdengar begitu meriah pagi ini dengan ditemani sinar matahari yang begitu terik. Sehun mengerjapkan matanya perlahan saat sinar matahari tersebut perlahan mulai menyilaukan matanya, dan juga goncangan pelan pada tubuhnya membuatnya kehilangan kantuknya. Siapa yang berani menganggunya pagi-pagi begini? "Bapak kenapa tidur disini? Bapak nggak balik ke hotel?" tanya Victoria khawatir begitu menemukan atasannya itu terbaring disofa dengan kaki tertekuk. Mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih tercecer Sehun mulai mengedarkan pandangannya kesekeliling, "saya ketiduran semalem" jawabnya kemudian. "kalau begitu Bapak kembali ke hotel aja dulu, bapak harus ganti baju" saran Victoria sembari membantu Sehun untuk mendudukkan diri. "saya bawa baju ganti dimobil, tolong ambilin dan beliin saya peralatan mandi" kata Sehun dan berdiri menuju meja kerjanya. "baik Pak" patuh Victoria dan bergegas keluar dari ruang kerja sementara Sehun. Sehun kemudian melirik pada jam dinding diatasnya yang menunjukkan pukul 7.15, itu artinya Sehun sudah tertidur sekitar 2 jam-an, kepalanya sekarang benar-benar terasa pusing karena kelelahan dan kurang tidur, semoga saja dia tidak mimisan lagi seperti 6 bulan yang lalu. Yah, Sehun memang mudah mimisan jika kondisi tubuhnya kurang fit. Mengabaikan rasa peningnya Sehun kembali menyalakan komputernya dan mulai mengerjakan pekerjaan menumpuknya yang sempat tertunda. Sehun memang tipikal laki-laki bebas yang suka bergonta-ganti wanita tapi Sehun juga merupakan orang yang bertanggung jawab atas pekerjaannya, alasan Sehun datang sendiri ke cabang perusahaannya ini juga karena ia merasa bertanggung jawab untuk menormalkan kembali pemasaran yang sempat merosot drastis, dan target yang ia incar adalah menaikkan kembali angka penjualan dalam kurun waktu kurang dari sebulan, maka dari itu ia benar-benar bekerja keras selama dua hari ini. Asik dengan komputernya sampai Sehun tidak ingat waktu, tiba-tiba saja Victoria sudah kembali dari tugasnya dan menyuruhnya bergegas mandi. Kepalanya benar-benar terasa segar begitu terkena guyuran air dingin, mengingat otaknya sudah cukup lama bekerja keras semalaman ini, sudah pasti kepalanya akan terasa panas. Menuntaskan acara mandinya Sehun keluar dari kamar mandi dengan setelan abu-abunya dan jangan lupakan rambut basahnya yang acak-acakan namun terlihat begitu seksi, sampai-sampai Victoria harus menelan ludahnya karena mendapat serangan visual yang begitu mendadak. "saya sudah siapkan sarapan untuk Bapak, jadi silakan pelan-pelan saja makannya biar saya yang merampungkan pekerjaan Bapak" kata Victoria setelah menetralkan rasa gugupnya. "baiklah, mohon bantuannya" balas Sehun dengan wajah lelahnya. "kalau begitu saya pamit undur diri dulu" ucap Victoria lalu keluar menuju mejanya sendiri. Baru saja Sehun hendak memakan sandwichnya tapi tersela dengan panggilan dari nomor tidak dikenal, awalnya ia ingin mengabaikan panggilan tersebut tapi entah kenapa kini dia malah menggeser tombol hijau pada ponselnya. "halo" sapa Sehun dengan nada datar seperti biasa. "Sehun..." suara dari sebrang sana. Mendengar suara tersebut mood Sehun tiba-tiba anjlok dan berniat mematikan sambungan sebelum akhirnya sipenelpon segera berbicara. "bisa kita ketemu nanti siang?" "jangan ngelawak, gue lagi nggak di Jakarta" ketus Sehun "gue tahu kok, jadi sampai ketemu nanti siang" setelah itu sambungan terputus dengan apiknya membuat Sehun kesal bukan main. .... Jam makan siang tiba dan Sehun benar-benar menyanggupi permintaan dari si penelfon tak dikenalnya tadi. Dan disinilah dia duduk disalah satu meja sebuah restoran dengan seorang gadis cantik yang merupakan mantan kekasihnya semasa SMA dulu. Krystal-- si penelfon tersebut, duduk dihadapan Sehun dengan perasaan campur aduk. Jujur dia merasa senang dan begitu bahagia bisa bertemu dengan Sehun, tapi dia juga merasa canggung sekaligus takut untuk menatap Sehun, karena Sehun yang sekarang begitu asing untuknya, terlalu dingin dan seperti ada tembok besar yang menghalanginya untuk mendekatkan diri. "mau ngomong apa?" tanya Sehun dengan nada datarnya dan jangan lupakan tatapan dingin tak bersahabat itu. "aku mau minta maaf" ujar Krystal yang mulai berani menatap mata Sehun. "minta maaf buat apa?" "untuk kesalahanku diwaktu dulu" jawab Krystal dengan tatapan sedihnya. "kalau maksut lo tentang lo campakin gue demi Kai, gue udah gak peduli" jawab Sehun dengan nada pongahnya. "kalau gitu bisa kita kaya dulu lagi? Aku kangen sama kamu... Aku tahu mungkin aku kelihatan gak tahu diri karena berani minta kesempatan ke kamu tapi aku mohon, aku masih cinta sama kamu" pinta Krystal yang sudah tidak memerdulikan harga dirinya lagi. "kalau lo tahu lo gak tahu diri kenapa masih lo lakuin, lo malah kelihatan murahan dimata gue" geram Sehun merasa muak dengan gadis didepannya. Tak tahan dengan situasi menggelikan tersebut Sehun berdiri dari duduknya dan berniat meninggalkan Krystal tapi dilangkah ke-2nya ia harus terhenti karena cekalan dari Krystal pada tangan kirinya. "Sehun... Pleas, Love me" mohon gadis itu dengan air mata tumpah ruah membuat Sehun bergidik ngeri dan segera menghentakkan tangan Krystal. Sehun benar-benar meninggalkannya. .... Kai baru saja sadar tiga jam yang lalu setelah obat biusnya habis. Akibat pukulan yang membabi dari Ayahnya itu lagi-lagi Kai harus berbaring diruang operasi karena rusuknya yang lagi-lagi patah dan beberapa organ dalamnya yang harus mendapatkan penanganan serius. Hal pertama yang Kai cari begitu matanya terbuka adalah Krystal, sosok penguatnya yang selalu hadir disaat dia terpuruk seperti ini, tapi untuk kali ini gadis yang begitu ia cintai itu tak tampak sama sekali, yang ada hanyalah Mamahnya dan sahabatnya Dio. "Krystal mana, Mah?" tanya Kai untuk kesekian kalinya. "Krystal gak bisa kesini sayang" jawab sang Mamah menahan isak tangisnya. "Mamah udah ngasih tahu Krystal kan kalau Kai sakit?" "Mamah udah ngasih tahu Krystal, mungkin besok dia bakalan dateng jenguk kamu" kata sang Mamah yang tentu saja bohong, sejak tadi beliau dan Dio sudah berkali-kali mencoba menghububngi gadis itu tapi tak ada respon sama sekali. "tante... Tante harus makan siang biar Dio yang jaga Kai" ucap Dio yang merasa kasihan meliahat wanita paruh baya itu menangis terus semalaman. "tante gak laper" jawabnya yang membuat Dio menghela nafas lelah. "tante harus makan dan tetep sehat kalau mau jagain Kai" kata Dio lagi, kali ini ia sukses membuat Ibu dari Kim Kai ini berdiri. "kalau gitu tante titip Kai ya" pesannya dengan wajah pucat. "percayain sama Dio" Seperginya Mamah Kai, Dio mulai mendudukkan diri dikursi biru tepat disamping Kai terbaring lemah, dia benar-benar merasa iba dengan teman karibnya ini. "Krystal beneran bakalan kesini kan?" tanya Kai dengan mata berkaca-kaca. Mungkin diluaran sana Kai terlihat begitu sombong dan pongah, tapi sejatinya ia hanyalah laki-laki malang yang butuh sandaran, dia benar-benar menyedihkan. "gue coba telfon lagi" cetus Dio, kali ini ia benar-benar berharap agar Krystal mengangkat panggilannya. Satu detik. Dua detik berlalu dua laki-laki ini menunggu dengan harap-harap cemas sampai akhirnya pada detik ke-4 Krystal menjawab panggilan dari Dio. "kenapa lo nelfon gue?" hanya tanggapan sewot yang mereka dapat begitu panggilan tersambung. "Kai sakit, lo dimana?" tanya Dio kemudian. "gue lagi diluar kota jadi gabisa jenguk dia" ketus Krystal, Kai yang mendengarnya merasa ada jutaan jarum yang menusuki d**a bagian kirinya. Tak sabar akhirnya Kai langsung merebut Ponsel milik Dio, ia ingin berbicara sendiri dengan pujaan hatinya itu. "Tal.. Aku sakit, aku butuh kamu jadi cepetan kesini" rengek Kai dengan lelehan air matanya. "maaf aku nggak bisa" jawab Krystal dari sebrang sana. "kamu ngapain diluar kota? Jangan bilang kamu nyusul Sehun? Nggak kan? Nggak mungkin kan?" serbu Kai dengan pertanyaannya yang terdengar begitu pilu. "iya, aku nyusul Sehun jadi berhenti telfon- telfon aku lagi!" tegas Krystal dari sebrang sana. "kenapa harus Sehun? Apa sesusah itu buka hati kamu buat aku? Selama ini aku udah berjuang buat kamu, apa nggak ada sedikitpun ruang untuk aku?" lirih Kai dengan tenggorokan yang tercekat hebat. "maaf, tapi 11 tahun ini aku juga udah berusaha buka hati buat kamu, tapi nyatanya aku nggak bisa, jadi tolong lepasin aku biarin aku memperbaiki hubungan sama Sehun, kalau kamu bener-bener cinta sama aku, harusnya kamu bisa relain aku bahagia" "Tal.... Please, Love me" .... Krystal membanting ponselnya dengan keras setelah memutus panggilan dari Kai, tangisnya kembali pecah menembus ruang hampa pada kamar hotelnya. Kai terdengar begitu menyedihkan saat mengemis untuk mendapatkan cintanya, dan itu mengingatkannya pada dirinya sendiri. Apa dia juga semenyedihkan itu saat mengatakan kalimat yang sama pada Sehun?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN