12. Tahta

1289 Kata
Ketegangan di selasa malam mulai memuncak pada pukul 20.23 waktu setempat. Setelah berbagai pembahasan mengenai saham dan peringkat bulanan yang mereka raih masing-masing kini sang Kakek hendak mengumumkan siapakah yang berhak mendapatkan saham darinya setelah pertimbangan yang cukup matang. Menarik nafasnya dalam-dalam, laki-laki renta berusia 75 tahun itu mulai membuka mulutnya, "Sehun.. Siapkan dokumen-dokumennya, Kakek akan memberikan saham Kakek ke kamu" Tersenyum sombong, Sehun benar-benar sangat puas mendengar ucapan Kakeknya, dan juga ekspresi Kai dan Omnya yang sangat menyedihkan membuat Sehun merasa diatas awan. "tapi untuk penjualan minggu ini Kai berhasil menaikkannya sampai 20%, harusnya Ayah bisa jadikan itu sebagai pertimbangan" protes Kibum tak terima. "Kai memang berhasil menaikkan penjualan dengan cukup pesat pada produk barunya, tapi Kai juga melakukan tindakan kecurangan! Dia mencuri semua ide milik Sehun. Desain laptop yang diluncurkan Kai itu hasil curian harusnya kamu tidak perlu ngotot untuk membanggakannya!!" bentak si Ayah mertua membuat Kibum bungkam tak berkutik. "dan Sehun, ingat! Saham yang kakek berikan padamu itu bukan permanen, kalau dalam peringkat bulanan bulan depan kamu turun lagi Kakek akan mencabut lagi saham Kakek dan memberikannya pada Kai" imbuh sang Kakek. "baik Kek, Sehun mengerti" jawab Sehun dengan senyuman liciknya yang senantiasa ia tujukan pada Kai. "dan untuk Kai, berusahalah sendiri jangan mencuri ide orang lain lagi, Kakek nggak akan segan-segan untuk mencabut jabatan kamu dan mengalihkan ST. Corp kepada Sehun kalau kejadian ini terulang lagi, paham?!!" "paham Kek, sekali lagi Kai minta maaf, dan kejadian ini tidak akan terulang lagi" jawab Kai dengan perasaan malu. "sekarang kalian bisa pulang" kata Sang Kakek kemudian sebagai penutup pertemuan keluarga malam ini lalu meninggalkan meja makan terlebih dahulu dengan didampingi sang Istri. Setelah hilangnya sang Kakek dari pandangan, Kibum dengan perasaan kesalnya terlebih dulu meninggalkan meja makan sehingga menyisakan tiga orang laki-laki yang masih terdiam dikursi masing-masing. "ayo nak pulang" ajak Kyuhyun pada sang anak. "Ayah duluan aja, Sehun masih ada urusan nanti" jawab Sehun lembut. "jangan pulang malem-malem besok kamu harus ke luar kota kan" pesan Kyuhyun sembari mengelus lembut rambut tebal Sehun. "iya, Ayah pulang aja duluan, hati-hati dijalan" balas Sehun "Kai, Om pamit dulu ya" tak lupa Kyuhyun juga berpamitan pada keponakannya yang masih termenung diseberang meja. "iya Om, hati-hati dijalan" sahut Kai merasa kikuk, hubungan kekeluargaan mereka tidak sedekat itu untuk saling mengucapkan selamat tinggal seperti ini. Seperginya Kyuhyun tinggalah kedua laki-laki muda dengan ketegangan yang kembali memuncak seperti beberapa menit yang lalu, dengan seringai angkuhnya Sehun berucap "gue jadi ngerasa gak enak sama lo, harusnya gue ngalah dikit sama elo biar elo bisa sekali aja unggul dari gue" Tak memedulikan kesombongan Sehun, Kai hanya menatap tajam kearah sepupunya itu dan mulai membuka mulutnya hendak menanyakan suatu hal yang membuatnya penasaran selama 10 hari terakhir. "waktu itu kenapa lo dateng ke kantor gue?" "waktu itu? Ah... Awalnya gue mau diskusi tentang desain produk baru lo yang sama persis sama punya gue tapi karena pacar sialan lo itu semuanya jadi runyam, makanya mau gak mau gue harus ngadu deh ke Kakek kalo lo nyontek desain gue" jawab Sehun dengan penuh sindiran. "JAGA MULUT LO!" marah Kai dengan gebrakan meja yang memekakan telinga. "lo yang harusnya jaga pacar lo, setelah lo rebut dia dari gue harusnya lo bisa jaga dia sebaik mungkin bukannya asal lari kesembarang cowok" desis Sehun tak kalah marah. "lo sendiri apa hubungan lo sama Tera? Sejak kapan kalian deket?" cetus Kai dengan sorot marahnya. "bukan urusan lo, urus aja pacar lo" balas Sehun lalu berdiri berniat meninggalkan tempat. "cowok kaya lo nggak pantes buat Tera, kalo lo sampe nyakitin dia gue gak akan tinggal diam" tukas Kai "emang lo apanya Tera? Apa jangan-jangan lo mau rebut Tera dari gue juga? Kaya waktu lo ngerebut Krystal dari gue?" geram Sehun yang sudah mengepalkan tinjuannya itu. Mencoba menekan amarahnya, Sehun membuang nafas kasar "denger ya, 11 tahun yang lalu mungkin gue bakalan diem aja waktu lo rebut Krystal dari gue, tapi untuk sekarang gue gak akan tinggal diam. Baik itu tentang Lentera ataupun tahta sekalipun, jangan pernah berharap lo bisa dapet kepercayaan dari Kakek" lanjut Sehun sebelum benar-benar pergi dari ruang makan meninggalkan Kai yang tengah mengerang frustasi. .... Tepat pukul 9 malam Sehun berdiri dihadapan pintu coklat reot dengan bekas gigitan rayap disana-sini, kemudian dengan perlahan mengetuknya sebanyak tiga kali. Sebenarnya Sehun lumayan ragu untuk menghadapinya kembali setelah perbincangan mereka terakhir kali. Setelah percakapan yang lumayan sensitif itu, layaknya seorang pengecut yang tidak bisa memberi pernyataan tegas Sehun malah sibuk merenung dengan dalih pekerjaan. Dan sekarang Sehun sudah memantapkan kembali niatannya, setidaknya ia harus memberikan ketegasan pada Tera sebelum ia pergi jauh. Jantungnya berdegup tak karuan, bahkan tangannya sedikit gemetar saking groginya, Sehun merasa terlalu hening setelah 3 menit ketukannya terabaikan dan ia berniat untuk mengetuk kembali pintu dihadapannya ini, tapi baru sampai ketukan ke-2 pintu tersebut sudah terbuka dengan sempurna menampilkan gadis yang sudah ia nanti-nanti. "malam" sapa Sehun dengan begitu kikuknya. "ngapain kesini?" tanya Tera "gue ganggu ya?" alih-alih to the point Sehun malah basa-basi membahas yang tidak-tidak. Hening. Tidak ada sahutan dari gadis didepannya dan itu semakin membuat Sehun gugup tak karuan. "kalau nggak ada yang mau diomongin mending lo pulang, ini udah malem" kata Tera dan hendak menutup kembali pintunya, tapi refleks tangan Sehun sepertinya lebih cepat. "tunggu... ada yang perlu gue omongin" Tak ada jawaban, Tera hanya kembali membuka lebar pintunya dan menanti lontaran kalimat yang hendak Sehun sampaikan. "untuk satu bulan kedepan kayanya gue gak bisa nemuin lo lagi, jadi gue kesini mau pamit karena besok gue harus berangkat pagi-pagi banget" terang Sehun sebagai awalan. Tak ada respon apapun sepertinya Tera lebih memilih menjadi pendengar yang baik. "dan juga... Gue udah nggak ada rasa lagi sama Krystal, sedikit pun udah gak ada..." menggantung suara Sehun terdengar bergetar bahkan di temaramnya lampu teras rumah Tera, gadis itu bisa melihat dengan jelas bagaimana kepayahannya Sehun menelan ludahnya sendiri. "dan lagi... Perasaan gue ke elo itu bukan sekedar penasaran, emang awalnya mungkin kaya gitu tapi sekarang gue yakin kalau gue udah bener-bener suka sama lo" "terus?" seperti tidak ada yang spesial Tera merespon Sehun dengan begitu datarnya. Sedangkan Sehun sudah mulai gelagapan sendiri ditempatnya, ia tidak berpikir kalau respon Tera akan sedatar ini dan juga sekarang dia bingung jawaban seperti apa yang harus ia berikan, Sehun benar-benar kebingungan. "terus.... Terus... Lo bisakan tunggu gue sampai bulan depan?" Merasa gagal Sehun hanya bisa merutuki dirinya sendiri. Ia benar-benar merasa malu. "kayanya gue harus pergi" putus Sehun secepat mungkin dan secepat mungkin melarikan diri. Sampai dilangkah ke-5 suara Tera menghentikannya. "hati-hati... Sampai jumpa satu bulan lagi" Dan kini Sehun bisa pulang dengan senyuman. .... Entah sudah berapa lama erangan kesakitan itu menggema, tapi sipelaku sepertinya sudah menulikan telinganya dan terus saja mengayunkan tongkat golfnya sampai menghantam sebuah punggung hingga berlumuran darah. Sorot matanya menggelap layaknya seekor serigala yang menerkam mangsanya, ia benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti. "kenapa aku harus punya anak gak berguna kaya kamu!!! Ayah udah bilangkan hancurkan NeoZ Group tapi sekarang kamu malah menghancurkan diri sendiri" Tak bisa berkutik si korban yang tidak lain dan tidak bukan adalah anaknya sendiri hanya bisa menahan rasa sakit pada tulang iganya. "sekali lagi kamu bikin kesalahan Ayah akan lebih kejam dari ini" katanya setelah puas melampiaskan amarahnya kemudian melenggang pergi meninggalkan sang anak yang terkulai lemas berlumuran darah. Pandangannya mulai berkabut, rasa sakit yang memuakkan itu membuat air matanya berlinang berjatuhan bercampur dengan darah segar, kenapa tidak sekalian saja dia dibunuh toh hidupnya sudah sangat membosankan. "Kai...." panggil wanita paruh baya yang berlarian menghampiri anaknya. "Mamah..." lirih Kai dengan senyuman menyedihkannya. "iya sayang Mamah disini, kita kerumah sakit ya" kata sang Mamah dengan isakannya. "Kai ngantuk Mah, Kai tidur dulu ya" ucapnya dengan sekuat tenaga. Matanya mulai kabur, pendengarannya sedikit demi sedikit juga mulai terasa samar. Kai mulai tak sadarkan diri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN