14. Bad Day

1186 Kata
Entah sudah berapa jam Tera tertidur dengan nyenyaknya disamping sang Ibu, yang jelas matahari sudah tidak terlihat lagi, hanya ada awan hitam dengan suara petir yang bergemuruh. Mengedarkan pandangannya, Tera berusaha mencari jam dinding diruang rawat tersebut, dan ternyata jam baru saja menunjuk pukul 3 lebih 10 menit sore hari, itu artinya ia sudah terlelap 2 jam lamanya. Langit begitu gelap membuat perasaan Tera tidak enak sendiri, entah kenapa ia merasa akan ada suatu hal yang tidak beres, hatinya mulai gamang. Kemudian Tera mulai mendekat kearah jendela, dan sesuai tebakannya memang ada yang tidak beres saat ini. Diluar sana awan hitam sudah bergulung-gulung dan siap menurunkan cairannya kapan saja tapi seolah tak peduli semua orang malah lari keluar berkumpul menjadi satu, kemudian mereka dengan kompaknya mendongakkan kepala mereka keatas sembari berteriak histeris. Kerutan di alis Tera semakin kentara, hanya ada satu cara untuk menghilangkan rasa penasarannya, yaitu ikut keluar dan menyaksikan sendiri apa yang tengah terjadi. Baru saja Tera keluar dari ruang rawat dan ia sudah menemukan banyak orang tengah tunggang langgang dengan berbagai ocehan yang samar-samar. Semakin penasaran Tera berusaha menghentikan salah seorang Ibu-ibu dan mulai menanyainya, "ada apa Bu? Kok pada lari semua?" "ada yang mau bunuh diri" jawab sang Ibu-ibu tadi kemudian melanjutkan larinya. Mendengar itu tanpa Tera sadari ia sudah berlari sekencangnya ikut berkumpul dihalaman rumah sakit yang luas. Dan benar saja, diatas sana sudah ada seorang pemuda mengenakan baju pasien yang sepertinya hendak mengakhiri hidupnya. Tera tidak tahu apa masalahnya sampai pemuda itu bertindak bodoh hingga menimbulkan keributan disana sini, tapi yang jelas Tera tidak bisa diam saja, semua orang disini hanya berteriak histeris dan meminta untuk menghentikan pemuda itu tapi tidak ada yang bertindak satupun. Mendekati salah seorang perawat, Tera bertanya "apa sudah menghubungi pihak berwajib?" "sudah, mereka masih dalam perjalanan" jawab sang perawat cantik tersebut. Lagi-lagi kaki Tera bergerak sendiri, berlari menelusuri seluk beluk rumah sakit hingga ia sampai dilantai atas, begitu Tera keluar dari lift ia sudah menemukan sekitar 5 orang laki-laki sudah berusaha mendobrak pintu yang menghubungkan pada atap rumah sakit ini. "masih belum bisa dibuka?" tanya Tera "belum, kayanya dia pake sesuatu buat menjagal handle pintunya" jawab seorang petugas keamanan dirumah sakit ini. "rusakin handle nya!" ujarnya yang membuat kelima laki-laki dihadapannya geming. Merasa tak mendapat respon Tera segera menendang handle pintu tersebut dengan teknik bela diri yang pernah Yuta ajarkan padanya. Sakit? Tentu saja. Tapi dibalik pintu ini masih ada seseorang yang perlu disadarkan. Dan untuk tendangan ke-3 handle tersebut sukses rusak. Dengan sedikit dobrakan pintu tersebut berhasil terbuka. Gerimis ternyata sudah mulai mengguyur, dan dihadapannya saat ini sudah ada seorang pemuda yang dengan percaya dirinya menaiki pembatas atap tersebut, perlahan Tera mendekat sepelan mungkin, rencananya ia ingin menarik pemuda tersebut secara mendadak agar tidak ada pemberontakan darinya. Tapi sayangnya sepertinya Tera gagal. "jangan mendekat" ujar sang pemuda lirih, tapi masih bisa tertangkap oleh indra pendengaran Tera. "kalau gitu kenapa gak loncat dari tadi? Kalau mau bunuh diri ya bunuh diri aja jangan bikin ribut sana sini" provokasi Tera. "KAI!!!" Menoleh kearah sumber suara, Tera menatap laki-laki tampan dibelakangnya dengan pandangan bertanya. Kai? Apa dia Kai yang Tera kenal? Berbalik, pemuda yang sudah basah kuyup itu menatap Tera dengan pandangan sendunya, "lo bener harusnya gue loncat dari tadi" "jangan gila! Turun sekarang juga!" bentak laki-laki yang memanggil Kai tadi. "iya, ini gue mau turun" kata Kai lagi dengan senyuman getirnya sebelum ia kembali berbalik menghadap udara didepannya. "cuacanya bagus buat mati. Kalau gue mati gue gak bakalan ngerasa sakit lagi kan? Ya pasti gitu" Kai mulai merentangkan tangannya, kemudian mendongakkan kepalanya menikmati tetesan air hujan di hari menyedihkan ini, ada rasa takut yang membuatnya ragu tapi menurutnya ini akan segera berakhir jika dia segera melompat dan mengakhiri semuanya. "jangan bodoh!!" teriak Tera yang sama sekali tidak didengar oleh Kai. Tubuhnya mulai condong, menjadikan kakinya sebagai tumpuan berat badannya. Sedikit demi sedikit badannya mulai condong kedepan hendak jatuh, sampai sepersekian detik kemudian suara debuman menggema yang diredam oleh suara gemuruh petir. .... Malam mulai menjelang tapi hujan tak kunjung reda juga. Kejadian beberapa jam tadi memang benar-benar mendebarkan untungnya ia berhasil menyelamatkan Kai tepat waktu. Kini Tera sudah berganti pakaian, Yuta tadi yang membawakannya baju ganti dan saat ini pemuda keturunan jepang itu sedang mencari makanan untuk mereka berdua konsumsi malam ini. Tera mulai menggenggam tangan kanan Ibunya dengan erat, tubuhnya masih saja bergetar mengingat kejadian tadi, kalau saja misalnya ia terlambat menarik Kai bisa-bisa laki-laki itu bernasib sama dengan Ibunya, terbaring lemah tak berdaya seperti ini. Tok~tok~tok~ Tera menoleh kearah pintu dan menemukan seorang Ibu-ibu yang kemungkinan seumuran dengan Ibunya ini. Dengan wajah yang masih pucat pasi beliau mendekat kearah Tera. "kamu yang nyelametin anak saya tadikan?" tanyanya dengan nada suara bergetar, matanya bahkan sudah basah dan siap meneteskan cairannya. "gimana keadaan Mas Kai?" "dia masih tidur setelah disuntik obat penenang" jawab Ibu-ibu tersebut "makasih banyak, kalau gak ada kamu saya gak tahu gimana anak saya jadinya" tangisan tersebut mulai pecah sampai Tera bingung sendiri harus bertindak seperti apa. "jujur saya juga masih takut setiap inget kejadian tadi, saya takut kalau misal saya gak bisa nolong Mas Kai, tapi kejadian tadi udah berlalu dan Mas Kai juga selamat jadi mari kita melupakan kejadian tadi" ujar Tera berusaha menenangkan Ibu dari Kai ini. "maaf saya malah nangis didepan kamu kaya gini. Kamu sendiri ngapain dirumah sakit?" Menghela nafas lelah Tera memandang Ibunya yang terbaring lemah, "Ibu saya koma, sudah 2 tahun Ibu saya belum bangun juga" jawab Tera dengan senyuman getirnya. Tera pikir begitu ia menjawab pertanyaan tersebut ia akan mendapat tatapan iba seperti biasanya, tapi apa yang ia lihat sekarang malah menjadi tanya besar dikepalanya. Ibu dari Kai ini menatap Ibunya dengan mata bergetar seolah terkejut dengan kehadiran Ibunya yang baru saja beliau sadari. "tante kenal Ibu saya?" tanya Tera yang mulai heran. "di-dia Ibu kamu?" gagunya yang semakin memperbesara tanda tanya dikepala Tera. "iya dia Ibu saya, tente kenal?" tanya Tera lagi "ngga-nggak saya nggak kenal. Iya saya nggak kenal Ibu kamu" jawabnya dengan tangan yang lebih bergetar dari pada tadi saat pertama kali masuk ke ruang rawat ini. "kalau begitu saya permisi dulu, saya harus periksa keadaan Kai" pamitnya dan buru-buru. Tindakannya terlalu aneh untuk tidak dicurigai. Drtt~~~drtt~~~ Ponsel Tera bergetar menampilkan panggilan dari Oh Sehun. "halo" sapa Tera begitu mengangkat panggilan tersebut. "halo, Tera! Lo nggak papa?" tanya Sehun memburu dari seberang sana. "gue nggak papa kok" jawab Tera "Kai bodoh itu emang bikin susah aja!" geram Sehun. "dia kan sepupu lo, kenapa lo ngomong kaya gitu?" tegur Tera yang tidak suka mendengar nada bicara Sehun. "lo nggak tahu aja gimana ngeselinnya dia, nggak pacarnya nggak dianya bikin orang susah aja" "maksut lo?" "nggak, nggak papa kok, lo jaga diri baik-baik besok gue pulang" "tapi ini baru dua minggu kenapa mau pulang? Bukannya proyek lo sebulan?" "lo pikir gue bisa tenang gitu saat denger lo hampir aja ikut terjun bebas sama Kai?!" "udahlah, pokoknya besok gue bakalan pulang, pekerjaan gue disini juga udah selesai gue tinggal pantau perkembangannya aja" "yaudah kalau gitu terserah lo" "see you..." "gue gak ngerti bahasa inggris, gue tutup" Dan begitulah akhir dari pembicaraan mereka yang tidak romantis.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN