15. Coming Home

1230 Kata
Jam menunjukkan tepat pukul 8 malam, setelah menghabiskan makan malam mereka Yuta dengan sifat memaksanya mengajak Tera untuk segera pulang, tapi sayangnya mereka malah menemukan seorang dokter dengan mata bulat tampannya berdiri didepan ruang rawat Ibunya, laki-laki yang juga ikut menyelamatkan Kai sore tadi. "bisa bicara sebentar?" tanya Dokter tersebut pada Tera. "mau ngomong apa?" bukan Tera tetapi Yuta yang menjawab. "masalah Kai, bisa kan?" Karena penasaran dan terlalu sungkan untuk menolak Tera pun mengiyakan permintaan tersebut meninggalkan Yuta yang kembali masuk kedalam ruang rawat. Mereka berdua kemudian duduk dikursi tunggu yang terbuat dari besi itu, cukup canggung memang mengingat mereka hanyalah orang asing yang tidak sengaja terlibat kedalam insiden yang sama. "kenalin gue Dio, sahabatnya Kai" ujarnya mulai memperkenalkan diri. "Tera" sahut Tera sembari menjabat tangan Dio yang terulur. "kaki lo gimana? Udah baikan?" tanya Dio mencoba memecah hawa canggung tersebut. "udah kok, tadi langsung dapet pertolongan" jawab Tera seadanya. "Mas Kai gimana keadaannya sekarang?" "harusnya sih efek dari obat penenangnya udah abis tapi dia masih pura-pura tidur, kayanya dia butuh waktu sendiri" jawab Dio "gue gak tahu masalah dia seberat apa, tapi kenapa dia sampai punya niatan bodoh kaya gitu? Padahal gue pikir dia bukan orang yang berpikiran sempit" ujar Tera yang sangat menyayangkan tindakan Kai. "masalah dia banyak, mulai dari Ayahnya, keluarganya, perusahaan, bahkan sampai pacarnya" terang Dio. "pacarnya? Maksutnya si Krystal- Krystal itu?" tebak Tera "lo juga tahu Krystal?" "waktu itu pernah ketemu sekali dikantornya Mas Kai" jawab Tera seadanya. "Krystal nyusul mantannya ke luar kota, biasanya kalau Kai masuk rumah sakit kaya gini Krystal pasti bakalan stand by disamping dia, tapi kali ini enggak dan itu yang bikin Kai stres" jelas Dio. Yah, Tera tahu betul siapa si 'mantan' yang Dio maksud. "kenapa dia harus sampai kaya gitu cuma karena cewek?" cecar Tera yang masih tidak mengerti dengan alasan Kai. "bisa dibilang Krystal adalah alasan Kai hidup, dan saat Krystal lebih milih mantannya ketimbang dia, dia pasti ngerasa dunianya runtuh dan nggak ada alasan lagi buat hidup makanya dia bertindak kaya gitu" ujar Dio menjelaskan "gue gak tahu gimana caranya lo bisa kenal sama Kai, tapi yang jelas gue mau bilang makasih banyak sama lo. Terima kasih banyak karena lo udah nyelametin sahabat gue" lanjutnya tulus "setiap jam 7 malam gue selalu dateng kerumah sakit ini diruang rawat ini, jadi kalau semisal Mas Kai udah bisa ditemui bisa tolong kasih tahu gue, ada yang perlu gue bicarain sama dia" pinta Tera "oke, gue bakalan ngasih tahu lo" jawab Dio yang kemudian mengakhiri perbincangan mereka. "udah selesai?" Adalah Yuta dengan segala tingkah anehnya, bisa-bisanya dia tiba-tiba muncul begini. "lo nguping?!" tuding Tera. "sedikit. Udahlah ayo pulang udah malem ini" rengek Yuta dan segera menyeret gadis itu pergi. .... Pukul 4 subuh saat tiba-tiba pintu rumah Tera digedor dengan tidak manusiawinya. Manusia gila mana yang bertamu dijam segini? "siapa?" ujar Tera menanggapi gedoran tersebut. "ini gue Sehun, bisa lo bukain pintunya?" sahut si pelaku penggedoran tersebut. "ada apa subuh-subuh gini kesini?" tanya Tera dengan wajah kesalnya begitu membukakan pintu. "lo nggak papa?" balik tanya Sehun dengan raut khawatirnya. "lo pikir gue bakalan baik-baik aja kalau lo ganggu jam tidur gue kaya gini?" sungut Tera tidak suka. "kaki lo! Kenapa kaki lo sampe diperban kaya gitu?" kini Sehun bahkan sampai berlutut hanya untuk memeriksa tumit kanan Tera. "cuma lecet. Udahlah sana pulang gue masih ngantuk" kesal Tera memuncak pada akhirnya. Menghela nafas lega Sehun akhirnya kembali berdiri menatap lamat-lamat gadis yang ada didepannya ini, wajah bantalnya sungguh imut. "lo nggak capek?" tanya Tera setelah keheningan sejenak. "capeklah" jawab Sehun singkat. "terus kenapa malah kesini bukannya pulang?" omel Tera diselingi uapan kantuknya. "gue kangen sama lo" Sontak pernyataan mendadak itu membuat Tera membeku, semilir angin subuh yang menusuki pori-porinya itu juga tidak membantu sama sekali, hanya menambah keterbekuannya yang membuat suasana canggung semakin menjadi-jadi. "lo nggak kangen sama gue?" kini pertanyaan yang Sehun lontarkan, dan gadis didepannya ini lagi-lagi hanya bisa terdiam kaku. "pulang sana, gue mau lanjut tidur!" usir Tera dengan pipi yang mulai memerah. "bisa gue tidur disini? Gue capek banget tahu" rengek Sehun berusaha membujuk Tera. "gue gak mau digrebek warga! Udah sana cepetan pulang!!" "ada satu hal yang harus gue lakuin sebelum gue pulang" kata Sehun yang tentu saja membuat Tera terheran-heran. Tak ada suara, tak ada kata. Yang ada hanya perasaan hangat yang menjalar ditengah terpaan angin subuh yang dingin. Awalnya hanya si laki-laki saja yang memeluk begitu erat dan menopangkan dagunya pada kepala si perempuan, tapi sepertinya rasa nyaman tersebut mulai membuat si perempuan ikut membalas pelukan tersebut dan menenggelamkan kepalanya pada d**a bidang dihadapannya, meluapkan semua rasa rindu yang membuncah setelah 2 minggu lamanya. "I'm coming home" .... Hari berlalu begitu saja, setelah kepulangan Sehun rasa kantuknya lenyap entah kemana, yang ada hanya pipinya yang merona mengalahkan tomat matang di perkebunan. Bahkan seharian ini orang-orang dibengkel sudah menatapnya dengan tatapan aneh. Memang benar Tera orangnya rajin dan tidak pernah menyepelekan pekerjaan tapi seharian ini dia sangat aneh. Dia semangat sendirian dan melakukan apapun secara berlebihan, dan jangan lupakan senyumannya tidak luntur selama 8 bekerja, bahkan Yuta mengira kalau mulut sahabatnya ini sudah robek karena tersenyum seharian. "jam kerja udah selesai, sana pulang" tegur Yuta yang melihat Tera masih mengutak-atik busi motor milik aki-aki penjual asongan itu. "udah selesai ya? Wah... Hari ini gak kerasa banget ya" kata Tera yang membuat Yuta jijik mendengarnya. "sana cepetan pulang sebelum gue jahit mulut lo" kesal Yuta dan mengusir Tera dari bengkel. Menuruti kata teman semasa kecilnya itu Tera segera melepas baju montirnya dan bergegas pulang, alasan dari semangatnya itu adalah karena Sehun akan mengajaknya makan malam nanti, jadi dia harus mulai siap-siap dari sekarang untuk menghilangkan bau oli dan aki yang berbaur dengan keringatnya. Setelah 3 jam lamanya akhirnya Tera siap juga, mungkin ini akan terlihat berlebihan tapi entah kenapa kali ini Tera ingin sekali terlihat cantik dihadapan Sehun, bahkan jantungnya tidak berhenti berdebar selama ia mempersiapkan diri. Dress selutut dengan motif bunga-bunga yang Ibunya belikan 3 tahun lalu akhirnya ia pakai untuk pertama kalinya, untunglah dress tersebut masih muat ditubuhnya. Dan juga make up tipis yang ia dapat dari tutorial youtube menambahkan kesan feminim pada dirinya malam ini, tentu saja perlatan make up tersebut milik Ibunya. Tera bukanlah gadis yang akrab dengan peralatan make up jadi dia masih sangat amatir dalam menggunakan alat-alat tersebut. Bahkan hanya untuk riasan sederhana itu ia membutuhkan waktu dua jam lamanya untuk menyempurnakannya, entah sudah berapa kali ia mencuci muka hanya untuk membersihkan make up nya yang belepotan, semoga saja kulit wajahnya tidak mengelupas karena terlalu sering mencuci muka. 10 menit yang lalu Sehun bilang dia akan segera sampai dan itu sukses membuat Tera kelimpungan sendiri, dia sangat penasaran dengan reaksi Sehun nanti akan penampilan berbedanya malam ini. Deru mesin motor mendekat, menampilkan Sehun dengan jaket kulitnya yang terlihat amat sangat gagah, bahkan Tera sampai terperangah melihatnya. "lama ya nunggunya?" tanya Sehun setelah menyisir helaian rambutnya yang berantakan menggunakan tangan kekarnya. "enggak kok" jawab Tera kikuk, jantungnya tidak bisa berhenti berdebar, bahkan sekarang debarannya semakin menjadi-jadi. "yaudah kalau gitu, ayo berangkat sekarang" ajak Sehun dan memasangkan sebuah helm berwarna soft pink pada Tera. "makasih" ucap Tera setelah helm tersebut terpasang dengan apiknya melindungi kepalanya. Tanpa diduga Sehun tiba-tiba mulai melepas jaket kulit mahalnya lalu mengikatkannya pada pinggul gadis dihadapannya ini sembari berkata, "malam ini lo emang kelihatan sedikit aneh, tapi lo cantik kok" Apakah semua laki-laki pandai berkata manis?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN