Jam sudah menunjukkan lewat pukul 9 malam dan mereka berdua masih saja asik berwisata kuliner, bahkan sekarang mereka tengah asik menikmati es puter sembari menggelar tikar dipinggir danau buatan yang akhir-akhir ini sangat populer dikalangan para muda-mudi.
"udah mau jam 10 malem, mau pulang sekarang?" tawar Sehun
"iya, kalau es puternya udah abis kita pulang, Yuta juga pasti udah marah-marah ini gue gak pulang-pulang" jawab Tera setelah menelan es puter yang baru saja ia suapkan kedalam mulutnya.
"ada hubungan apa sih lo sama Yuta? Lo kan punya kehidupan sendiri dia gak ada hak buat ngatur-ngatur lo" kesal Sehun begitu mendengar nama laki-laki Jepang itu terucap.
"dia temen gue dari kecil, kita tumbuh bareng udah kaya anak kembar jadi wajarlah kalau dia khawatir sama gue" terang Tera agar tidak menimbulkan kesalah pahaman, pasalnya orang-orang diluaran sana juga sering kali salah paham antara kedekatannya dengan Yuta.
"tapi apa harus kalian sama-sama terus? Setiap kali gue ketemu lo pasti dia ada!!" kekesalan Sehun masih berlanjut.
"kalau itu Pakdhe sama Budhenya Yuta sih yang nyuruh, katanya buat jagain gue" jelas Tera lagi
"lo udah gede, udah 25 tahun gak perlu dijagain lagi. Atau kalau perlu gue siap 24 jam buat jagain lo, bilang itu ke Pakdhe Budhenya Yuta!!" jengkel Sehun yang semakin menjadi-jadi.
"udahlah, kenapa lo malah marah-marah kaya gin---"
"gue cemburu!" sela Sehun dengan lantangnya, bahkan Tera hanya mampu terbengong mendengar pernyataan mendadak dari laki-laki didepannya ini.
"es puter gue udah abis, ayo pulang" kata Tera mengalihkan pembicaraan dan segera berdiri dari bersimpuhnya.
Sehun yang sudah kepalang cemburu plus jengkel hanya mampu bercemberut ria sembari mengikatkan kembali jaket kulitnya pada pinggul Tera agar dress yang dikenakan Tera tidak terbang sewaktu-waktu akibat terkena hembusan angin kala ia mengendarai motornya.
"tunggu disini jangan kemana-mana gue ambil motor dulu" pesan Sehun masih dengan nada sebalnya kemudian berlalu pergi.
Jujur saja Tera saat ini sudah menarik nafasnya kuat-kuat, meraup semua pasokan udara yang ada, dadanya benar-benar terasa sesak akibat pernyataan tidak terduga dari Sehun tadi. Bahkan mukanya juga sudah sangat memerah saat ini.
"ini kenapa muka gue gatel banget dari tadi" rutuk Tera sembari menggaruki wajahnya yang sudah gatal sejak satu jam yang lalu.
Tadi saat ia bersama Sehun rasa gatal yang menyerang wajahnya itu tidak terlalu begitu terasa makanya ia bisa menahannya, lagi pula dia juga harus jaga image didepan Sehun. Tapi kali ini rasa gatal tersebut benar-benar menyerbu wajahnya secara bertubi-tubi bahkan rasanya sampai sedikit perih, mungkinkah ada bagian yang lecet akibat garukan brutalnya?
"muka lo kenapa?" tanya Sehun yang tentunya kaget karena saat ia tiba Tera sudah menggaruki wajahnya dengan tidak manusiawi.
"gak tahu, gatel banget" jawab Tera yang masih serius menggaruki wajahnya yang kian menggatal.
Sehun yang khawatir pun segera turun dari motornya dan menghampiri Tera, menghentikan tangan gadis itu yang terus-terusan menggaruki wajah imutnya. " lo alergi make up?" tanya Sehun serius.
"kayanya enggak. Waktu gue wisuda dulu juga gak kenapa-kenapa muka gue waktu di make up" jelas Tera sembari menahan kuat-kuat rasa gatal yang menyiksa itu.
"sejak kapan lo ngerasain gatel-gatelnya?" khawatir Sehun
"sejam yang lalu mungkin" jawab Tera yang juga ragu.
"kenapa lo gak bilang?!" omel Sehun.
"maaf" cicit Tera yang tiba-tiba takut dengan amukan Sehun.
"yaudah kita ke rumah sakit sekarang" putus Sehun yang berusaha tenang.
"masa iya gue dilariin ke UGD cuma gara-gara gatel" gumam Tera yang sepertinya tidak menyetujui ide dari Sehun
"ya terus lo mau gimana? Gue gak bisa biarin lo garukin wajah lo terus" cecar Sehun yang berusaha menekan amarahnya.
"lo ingetkan dokter yang waktu itu nolongin lo? Kita ke kliniknya aja sekarang" bujuk Tera yang mau tidak mau harus Sehun turuti.
....
"ini muka kamu kenapa bisa jadi gini? Kamu alergi make up?" tanya Dokter Wendy yang masih mengobati wajah Tera.
"enggak kok, Mbak gak inget apa waktu aku wisuda dulu Mbak yang make up-in Tera, waktu itu aku gak gimana-gimana lho Mbak" terang Tera sesekali mengaduh kesakitam karena luka lecetnya yang diolesi salep oleh dokter Wendy.
"kamu cuci mukanya gak bersih ya?" cecar dokter Wendy yang masih menemukan sisa bedak pada alis Tera.
"bersih kok" elak Tera
"bersih apanya ini masih ada sisa bedak gini kok" omel Dokter Wendy lagi.
"Teranya gak kenapa-kenapa kan?" tanya Sehun yang sedari tadi terdiam diantara dua wanit itu.
"gak papa kok" jawab Dokter Wendy ramah.
"terus kira-kira penyebabnya apa? Kenapa wajahnya sampai gatal-gatal seperti itu?" tanya Sehun lagi yang tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
"itu yang masih saya perlu selidiki. Tera, kamu dapet alat make up ini dari mana?"
"dari mana lagi, punyanya Ibu lah" jawab Tera sekenanya
Mendengar jawaban Tera perasaan dokter Wendy mendadak tidak enak. "terus belinya kapan?"
"emmmm.... Kayanya 3 tahun yang lalu barengan beli baju ini" jawab Tera sedikit berpikir sembari menunjuk pada dress yang ia kenakan.
Mendengar itu dokter Wendy seketika langsung menoyor kepala Tera yang menurutnya sangat bodoh itu. "kalau belinya 3 tahun yang lalu kemungkinan make up yang kamu pakai itu udah kadaluwarsa, jadi cewek jangan b**o-b**o banget dong" ome Dokter Wendy yang amat sangat kesal.
"ya mana aku tahu, aku kan cuma pake yang ada aja" jawab Tera dengan wajah kesalnya.
"ya dilihat dong tanggal expirednya!!" omel dokter Wendy lagi.
"lagian tumben banget sih kamu sok sokan make up-an segala" lanjut Dokter Wendy.
"ya kan Tera juga cewek masa gak boleh dandan" balas Tera.
"ya bukannya gitu, tapi kan ya dilihat-lihat dulu, toh juga gak semua make up itu cocok sama kulit kamu. Make up itu gak segampang yang kamu pikir, kamu harus pinter-pinter milihnya kalau nggak kejadian kaya gini bakalan keulang lagi bahkan mungkin lebih parah" terang Dokter Wendy.
"iya iya Tera ngerti"
"yaudah kalau gitu, ini salepnya olesin setiap mau tidur malem aja, dan juga karena wajah kamu udah mulai membengkak mulai besok kamu kerjanya harus pake masker biar kulit kamu yang lecet gak infeksi gara-gara kena oli" jelas Dokter Wendy.
"cuma itu aja kan?" tanya Tera kemudian.
"masih ada lagi, besok jam 9 kamu harus ikut Mbak ke dokter kulit bagaimanapun muka kamu itu harus ditangani sama yang lebih ahli"
"kalau begitu saya anterin Tera pulang dulu, permisi" sela Sehun begitu percakapan dua wanita itu selesai.
"tunggu! Kalian ini sebenernya punya hubungan apa? Kenapa akhir-akhir ini kalian nempel terus?" tanya Dokter Wendy penasaran.
"kepo banget sih. Udah ya Tera pulang" sahut Tera dan segera menyeret Sehun untuk keluar dari klinik.
"bukannya gak sopan ya gak jawab pertanyaan orang?" kata Sehun begitu mereka sudah berada diluar.
"ini pertama kalinya gue deket sama cowok lain selain Yuta, dokter Wendy gak bakalan percaya kalau gue jawab kita cuma temen, dia pasti bakalan interogasi kita dan yang ada kita gak pulang-pulang gara-gara disekap sama dia" jelas Tera.
"kenapa gak jelasin aja, kan kita deket juga menuju kearah pacaran kan? Gue gak masalah kok kalau ada yang salah paham sama hubungan kita" balas Sehun.
"terus yang ada gue pasti dibilang pake pelet, susuk dan sebagainya buat ngerayu lo" cecar Tera yang sedikit kesal karena menahan rasa nyeri oada wajahnya. Sedangkana Sehun yang mendengarnya hanya mampu terkekeh geli.
"lucu banget sih calon pacar gue" gemas Sehun menangkup kedua pipi gembil Tera, untunglah wajahnya sudah memerah sedari tadi karena bengkakan tersebut jadi Sehun tidak akan menyadari 'kan kalau ia tengah salah tingkah sekarang?