17. A Gift

1201 Kata
Sejak pagi Tera sudah izin kepada Yuta untuk sedikit terlambat berangkat ke bengkel karena harus kerumah sakit untuk memeriksakan wajahnya yang membengkak bersama Dokter Wendy. Pukul 10 tepat akhirnya ia bisa pulang dan bekerja seperti biasa, kata dokter tadi wajah Tera tidak terlalu serius jadi ia hanya diresepkan beberapa obat yang mengandung antibiotik agar bakteri dari make up yang ia gunakan semalam tidak menyebabkan infeksi pada wajahnya. Memasuki halaman depan bengkel Dokter Wendy pun menghentikan laju mobilnya kemudian keluar yang juga diikuti oleh Tera. "gimana wajah lo?" tanya Yuta begitu melihat kehadiran Tera. "nggak papa kok" jawab Tera dari balik masker motif hello kittynya. "nggak papa apanya?!! Yut pokoknya jangan biarin dia megang yang kotor-kotor nanti kalau kena mukanya bisa bahaya" sahut Dokter Wendy. "nyusahin lo! Ngapain sih pake dandan segala?! Biasanya juga muka lo cemong gara-gara oli sekarang mau sok sokan pake bedak" omel Yuta. "Yuta... Namanya juga perempuan ya wajarlah pake bedak" sela sang Budhe yang entah sejak kapan datangnya. "Ra, sementara gausah ke bengkel dulu, libur aja dulu nanti kalau muka kamu udah sembuh kamu bisa kerja lagi" imbuh sang Budhe kepada Tera. "Mamah, nanti dia manja" protes Yuta. "apanya yang manja? Udah kamu balik kerja sana lagi, Tera kamu pulang aja ya tadi ada kurir yang dateng kerumah kamu ngirim paket, Budhe udah taruh paketnya dimeja ruang tamu kamu" kata beliau sekali lagi. "Tera gak pesen apa-apa lho padahal, salah alamat 'kah?" bingung Tera. "udah sana pulang terus cek aja dulu" suruh si Budhe dan tentu saja Tera langsung berlari menuju rumahnya yang tidak terlalu jauh dari bengkel, dia sudah terlalu penasaran. Sesampainya dirumah dengan nafas tersengal-sengal Tera segera memasuki rumahnya dan betul saja dimeja ruang tamunya sudah ada paket berukuran sedang teronggok disana, tak sabar Tera pun langsung membuka paket tersebut. "apaan nih?" bingung Tera begitu menemukan berbagai alat make up didalamnya, dan yang semakin membingungkan adalah tidak ada tanda-tanda alamat sipengirim tersebut. "beneran salah alamat 'kah?" tanya Tera entah pada siapa. "apa gue bungkus lagi aja ya? Siapa tahu kurirnya balik lagi ngambil barangnya" gumam Tera dan benar-benar membungkus kembali alat-alat make up tersebut seperti semula. .... Tepat pukul 12.00 siang Sehun menikmati makan siangnya didalam ruang kerjanya, sedari tadi pandangannya tak lepas dari benda pipih berwarna hitam yang tergeletak dimeja kerjanya, harusnya paket yang ia kirim sudah sampai tapi kenapa Tera tidak menghubunginya sama sekali? "permisi Pak, Bapak memanggil saya?" kata Victoria yang baru saja muncul dari balik pintu kebesaran milik Sehun. "iya. Apa paketnya sudah sampai?" tanya Sehun to the point. "sudah Pak, mungkin sekitar 2 jam yang lalu, tadi saya sudah dapat konfirmasi dari pihak pengiriman barangnya" jawab Victoria sembari mengecek arlojinya. "kenapa kamu baru bilang sekarang!!!" marah Sehun seketika. "ma-maaf Pak" gagu Victoria. "udah sana keluar!" usir Sehun yang masih murka. Setelah Victoria keluar Sehun segera mengambil ponselnya dan mendial nomor kontak milik Tera. Harap-harap cemas Sehun benar-benar berharap agar Tera segera mengangkatnya. "halo" sapa Tera dari seberang sana yang tentu saja langsung merubah mood Sehun. "gimana? Suka nggak?" tanya Sehun yang tidak bisa menyembunyikan senyuman noraknya. "apanya?" bingung Tera. "make up 'nya" jawab Sehun. "Ooooohhh ternyata elo yang ngirim, gue pikir salah alamat, dua jam gue nunggu kurirnya gak balik-balik" Tertawa keras, Tera benar-benar sukses membuat seorang Oh Sehun tertawa sampai seperti ini, bahkan sudut mata dari laki-laki tampan ini sampai berair karena ocehan Tera yang tidak terduga. "kok lo ketawa? Lo lagi nonton acara komedi sampai ketawa kaya gitu?" "iya, elo pelawaknya" "apasih gak jelas banget lo, kalo mabok jangan siang bolong kaya gini" "udahlah pokoknya kalau muka lo udah sembuh jangan lupa pakai make up 'nya, walaupun lo kerjanya dibengkel lo tetep cewek yang butuh dandan" kata Sehun kemudian setelah tawanya mereda. "gue jadi gaenak ngerepotin lo kaya gini" "makanya sebagai gantinya lo harus dandan yang cantik buat gue" Hening. Tidak ada sahutan atau jawaban dari seberang sana sampai akhirnya panggilan tersebut terputus secara tiba-tiba. "apasih kenapa ditutup, dia malu kali ya?" monolog Sehun dengan senyuman menggelikannya. ... "tumben lo masak?" seru Yuta yang berdiri di belakang Tera sejak 10 menit yang lalu. "coba deh icipin" kata Tera yang tidak menanggapi ocehan Yuta sama sekali. "lo masak apaan?" tanya Yuta. "sayur sop. Gue udah lama gak masak coba icipin dong" pinta Tera dan menyuapkan sesendok kuah sop tersebut kedalam mulut Yuta. "enak sih... Tapi tumben lo masak" heran Yuta. "gak papa iseng doang, udah sana lo pulang" usir Tera kemudian. "lo nyuruh gue kesini cuma buat nyicipin masakan lo?" "iya, kalau lo mau lagi nanti lo bisa kesini lagi" kata Tera "nyebelin lo" dumal Yuta dan berjalan pulang. Jam sudah menunjukkan pukul 18.20 Tera harus segera bergegas berangkat sebelum masakannya dingin, bagaimanapun Sehun harus merasakan masakannya dalam kondisi hangat. Setelah semuanya siap Tera pun segera memanuver motor beatnya menuju kediaman Sehun. 20 menit berlalu dan sampailah Tera dihalaman gedung apartemen mewah yang ditinggali Sehun, sejujurnya Tera sangat malu jika ia harus memberikannya secara langsung pada Sehun maka dari itu sekarang ia sudah berdiri didekat pos satpam. "ada yang bisa saya bantu Mbak?" tanya salah satu satpam tersebut. "permisi Pak, Bapak kenal Oh Sehun 'kan? Dia juga tinggal disini tapi saya gak tahu dia tinggal diunit berapa" kata Tera kikuk. "ohhh yang ganteng itu 'kan, ya pasti saya tahu lah Mbak orang gantengnya aja kaya saya waktu muda" gurau sang satpam. "saya lagi buru-buru nih Pak, bisa tolong titip ini nggak Pak?" "boleh banget Mbak, Mbaknya sendiri namanya siapa biar nanti saya sampaiin ke Mas Sehunnya" "bilangin aja Pak dari Tera. Kalau gitu saya permisi dulu ya Pak, terimakasih banyak" ucap Tera dan segera undur diri. Semoga saja Sehun menyukai hadiah darinya. Tera kembali berkendara, membelah padatnya jalanan Ibu kota dengan senyuman bahagianya menuju rumah sakit untuk mengunjungi Ibunya. Ia benar-benar tidak sabar untuk menceritakan semuanya pada sang Ibu. Sesampainya dirumah sakit dengan menghabiskan 15 menit perjalanan Tera langsung mendapatkan beberapa notifikasi pesan dari Sehun dan dua panggilan tidak terjawab sontak itu membuat Tera tanpa sadar menelfon balik Sehun. "kok nggak diangkat tadi?" tanya Sehun begitu telfon tersambung. Jangan ditanya bagaimana keadaan Tera sekarang, tentunya dia sangat senang sampai-sampai ia mengurungkan niatnya untuk memasuki ruang rawat Ibunya. "di perjalanan tadi" jawab Tera "ini lo sendiri yang masak?" tanya Sehun antusias "ya emang siapa lagi kalau bukan gue" sahut Tera menyembunyikan rasa senangnya. "enak" satu kata pujian dari Sehun yang mampu membuat Tera berteriak kencang dalam hati. "syukur deh kalau enak, kata Yuta tadi sih juga enak tapi gue takut kalau gak sesuai sama lidah lo" "Yuta tadi juga makan masakan lo?" tanya Sehun dengan nada tidak sukanya. "iya, tadi gue nyuruh dia buat nyicipin. Kenapa?" "nggak kok" jawab Sehun sedikit kesal. "yaudah kalau gitu habisin ya" "pasti gue abisin kok, oiya dasinya juga gue suka, makasih ya" "gue gak tahu sih warna apa yang lo suka, tapi sekali-sekali mungkin bisa lo pakai" "gue suka banget kok dan bakalan gue pakai setiap hari" "iya terserah lo, gue tutup ya" kata Tera dan menekan tombol merah pada layar ponselnya. Dia benar-benwr bahagia hari ini. Setelah obrolannya dengan Sehun usai Tera memutuskan untuk segera memasuki ruang rawat Ibunya dan berniat untuk menceritakan semuanya, tapi sepertinya niatannya itu harus ia urungkan. Senyuman Tera luntur berganti dengan keterkejutan, "Mas Kai" gumam Tera. "hai..."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN