"Tera?" panggil seseorang dan begitu Tera menoleh ia mendapati Sehun berdiri didepannya dalam radius 4 meter.
"SEHUN!!"
Bukan, itu bukanlah suara Tera, gadis itu memang berniat menyapa balik laki-laki didepannya ini, tapi suara dari gadis yang berdiri tidak jauh dibelakangnya itu terlebih dulu menyelanya sehingga membuat Tera bungkam karena heran.
Dan dalam hitungan detik wanita itu tiba-tiba berlari menabrak Sehun dengan sebuah pelukan erat, yang tentu saja membuat Tera kaget dengan pemandangan itu sampai tanpa sadar ia memundurkan langkahnya sebanyak tiga langkah.
Tera tidak tahu harus bereaksi seperti apa, tapi yang jelas d**a bagian kirinya tiba-tiba berdenyut ngilu membuat air matanya mendesak ingin keluar yang harus ia tahan sekuat mungkin. Apa Sehun mengenal wanita cantik itu? Pertanyaan bodoh, tentu saja mereka saling kenal, untuk apa mereka saling peluk jika mereka tidak mengenal satu sama lain.
"aku minta maaf, harusnya aku gak ninggalin kamu demi Kai"
-----------------
"harusnya aku gak ninggalin kamu demi Kai.... Kayanya mereka pernah pacaran" gumam Tera dibalik selimutnya.
Sudah tiga hari berlalu sejak pertemuan tak terduga waktu itu tapi Tera benar-benar tidak bisa melupakan bagaimana rincian kejadian yang mampu menghancur leburkan hatinya saat itu.
Memang dirinya dengan Sehun tidaklah dalam hubungan spesial yang membuatnya boleh sakit hati karena insiden pelukan itu, tapi bukankah Tera sudah pernah mendeklarasikan bahwa ia sudah jatuh cinta pada Sehun, harusnya itu sudah cukup untuk menjadi alasan.
"kayanya mereka terlibat cinta segitiga" gumam Tera lagi setelah menyingkap selimut yang sebelumnya menutupi seluruh tubuhnya.
"terus cewek itu nyesel karena ninggalin Sehun demi Mas Kai?" gunsn Tera menebak-nebak.
"yah, emang bener sih, siapa juga yang gak nyesel ninggalin orang seganteng Sehun" gumam Tera untuk kesekian kalinya menyuarakan spekulasi-spekulasinya.
"kayanya gue emang harus sadar diri" kata Tera dengan hembusan nafas lelahnya.
"udah gila lo ngomong sendirian?" kalimat yang mengudara dari mulut Yuta itu sangat mampu membuat Tera jengkel setengah mati.
"eh b**o, udah gue bilang berapa kali, kalo mau namu dirumah orang itu lewat pintu bukan jendela kamar gue!!!" marah Tera murka.
"salah sendiri, udah gue ketuk sampe gue gedor-gedor lo gak keluar-keluar, kan gue takut kalo lo mati" balas Yuta dengan nada sengaknya.
"ngapain lo kesini?" tanya Tera kemudian yang masih tersisa rasa kesalnya.
"Mamah nyuruh nganter ini buat lo" kata Yuta kemudian meloncat dari atas jendela sehingga menimbulkan bunyi 'bug' yang luar biasa.
"apaan?" tanya Tera penasaran.
"soto ayam" jawab Yuta lalu menaruh soto ayam tersebut diatas meja lusuh Tera yang dulunya adalah meja belajarnya.
"bilangin makasih ya sama budhe" senang Tera.
"bilang aja sendiri, kaya besok gak bakalan ketemu aja" seperti biasa Yuta selalu sengak.
"lo kenapa ngoceh sendiri tadi?" kini Yuta yang bertanya.
"gak papa, gue cuma gila kok" jawab Tera asal.
"ngakuin juga lo" sindir Yuta
"resek lo, udah sana pulang!!" usir Tera geram.
"iya iya gue pulang" cetus Yuta dan bersiap untuk meloncat ke jendela lagi, tapi Tera malah kembali menghentikan niatan pulangnya.
"Yut..."
"apaaan?"
"gak jadi" jawab Tera
"lo gak ngomong gue jahit mulut lo sekarang" ancam Yuta yang bar bar.
"gue kayanya suka sama Sehun" ucap Tera kemudian dengan catatan bukan karena takut dengan ancaman Yuta yang tidak bermutu.
"gue udah tahu, terus kenapa?" cuek Yuta
"lo tahu dari mana?" heran Tera dengan kerutan kening yang kentara.
"gimana gue bisa gak tahu kalo lo aja suka senyum-senyum sendiri setiap chatingan sama Sehun Sehun itu, lo udah kaya orang gila di lampu merah asal lo tahu" jelas Yuta yang membuat Tera naik pitam.
"resek banget sih lo!!" geram Tera
"jadi cerita nggak?"
"udahlah jadi males cerita kan gue" kesal Tera
"biar gue tebak, Sehun ketemu mantan pacarnya yang seribu kali lebih cantik kan daripada lo yang buluq banget" itu tebakan atau sindirian sebenarnya.
"lo tahu dari mana?" bingung Tera untuk kesekian kalinya.
"lo pikir kuping gue b***k? Dari tadi gue denger tahu ocehan lo"
Lagi-lagi Tera hanya mampu menghembuskan nafas kesal menanggapi perkataan Yuta.
"nih ya, sebagai kakak lo yang baik gue kasih tahu--"
"kakak apanya beda cuma dua hari aja belagu" sela Tera yang sudah sangat kesal.
"diem dulu kenapa sih. Gini, sebagai cowok gue juga gak akan milih lo yang bau oli, gue pasti lebih suka sama cewek yang feminim dan peduli sama dirinya. Apalagi Sehun yang notabenenya orang tajir + ganteng, sangat mustahil untuk dia suka sama lo" penjelasan Yuta sangat sukses menampar Tera hingga sadar betul akan posisinya.
"jangan salah paham dulu sama Sehun yang deketin lo, dia cuma penasaran sama lo gak lebih, dan setelah dia tahu gimana lo kemungkinan besar dia bakalan ninggalin lo dengan harapan besar, jadi mulai sekarang sebelum lo terlanjur sakit hati mending lo mulai kontrol perasaan lo sebelum semakin membesar, akan rumit jadinya kalo perasaan lo udah terlanjur dalam" terang Yuta lagi
"gue bilang kaya gini bukan karena gua gak sayang sama lo, tapi ini demi kebaikan diri lo sendiri yang belum pernah ngerasain jatuh cinta" tutup Yuta atas penjelasaanya yang sangat berarti bagi kelangsungan hidup Tera.
"makasih udah nyadarin gue" ucap Tera yang sangat jarang sekali diucapakan untuk Yuta.
"udah sana tidur udah malem, jendelanya dikunci yang rapet, kalo gue aja bisa masuk kemungkinan besar penjahat yang lain juga bisa masuk" tutur Yuta lagi, begini saja dia baru terlihat sosok kakaknya.
"iya iya"
Yuta benar, dunianya dengan Sehun itu sangat berbeda, dan tidak seharusnya ia menaruh rasa suka pada Sehun, jadi demi kebaikan hatinya dan untuk kelangsungan hidupnya dengan ikhlas Tera memilih untuk membuang semua rasa sukanya pada Sehun, seperti yang ia ketahui selama ini suka sendirian itu tidak enak, itu hanya akan menyiksa diri sendiri dengan cara yang i***t dan Tera tidak mau itu terjadi padanya.
...
Pagi kembali menyapa, dengan senyuman cerah dan pikiran yang plong akhirnya Tera mungkin bisa menghabiskan hari minggunya dengan menyenangkan. Setelah berjoging ria dua jam yang lalu Tera sangat terkejut dengan cuciannya yang sangat menumpuk, dan berakhirlah sekarang ia sibuk menjemur pakaiannya dihalaman rumah.
Untunglah cuaca tengah bersahabat saat ini, tidak seperti hari-hari kemarin yang terus-terusan kelabu, mungkin alam juga ikut tersambar oleh kebahagiaannya.
Tiba-tiba suara deru mesin motor terdengar mendekat yang membuat Tera menyingkap selimut garis-garisnya untuk melihat siapa gerangan yang mendatangi kediamannya. Tapi ternyata yang bertamu adalah sosok yang akan ia lupakan sejak semalam.
"ngapain kesini?" tanya Tera yang masih terkejut dengan kehadiran Sehun.
"ngajak lo jalan" jawab Sehun enteng.
"kok gak bilang-bilang?" tidak suka Tera
"kan biar surprise, kenapa? Lo ada janji?" tanya Sehun.
"gue harus ke rumah sakit habis ini" jawab Tera
"lo sakit?" khawatir Sehun dan mendekat kearah Tera berusaha mengecek suhu tubuh gadis itu, tapi tanpa diduga Tera malah menampis tangan Sehun yang hendak mampir dikeningnya.
"enggak kok, gue sehat" jawab Tera kikuk.
"terus kenapa lo kerumah sakit?" tanya Sehun.
"cuma ada urusan aja" jawab Tera sekenanya.
"kalau gitu nanti malem lo bisa?" tanya Sehun lagi mencoba mencari kemungkinan.
"kayanya gak bisa, gue udah ada janji sama Yuta" jawab Tera
"besok? Kita makan siang ditempat yang waktu itu lagi gimana?"
"maaf kayanya gue juga gak bisa, bengkel lagi rame-ramenya sekarang dan banyak banget mobil sama motor yang perlu diperbaiki"
"ooohhh..." hanya respon seperti itu yang Sehun bisa itupun sangat terdengar hampa.
"maaf ya, mungkin lain kali" ucap Tera.
"lo.... Nggak lagi jauhin gue kan?"