BAB 22

1121 Kata

Tante Veny memoleskan kembali bedak di wajahku. Dalam hati, aku menghitung dengan cemas karena kurang dari tiga puluh menit lagi ijab qabul itu akan dimulai. "Wah, kamu cantik banget Sya." puji Tante Veny ketika ia telah selesai mendadaniku. "Ngaca ya, tan?" pintaku padanya dan langsung tante Veny menggelengkan kepala. Dikeluargaku mempunyai tradisi bahwa mempelai perempuan tidak boleh berkaca sampai acara ijab qabul itu selesai katanya nanti wajahnya tidak pangling. "Kak Syani~" teriak Denya, si perempuan yang baru beranjak dewasa itu kini terlihat cantik di hadapanku dengan dress selutut berwarna abu-abu dengan kombinasi merah mudah itu. "Ada apa?" kataku padanya. "Ngga ada apa-apa, kakak kok cantik banget sih nanti ya kalau Denya nikah Denya mau kaya kak Syani gini aja, simple tapi

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN