Aku mengamati wajah Biru yang begitu tenang dan damai saat tertidur. Aku menutup buku agenda itu setelah menuliskan entah surat cinta atau apa yang sudah pasti tertuju pada Biru. Jangan tanyakan apa perasaanku sekarang, kalau ada kata selain bahagia yang bisa menunjukkan perasaanku sekarang mungkin akan aku katakan. Perlahan-lahan tanganku mengintari wajahnya, ke mata bulat yang sedang mengatup, lalu ke alis tebalnya yang sangat memesona itu, kemudian hidung bahkan bibirnya sekalipun. Sudah aku katakan, jika wajah Biru memanglah lukisan Tuhan yang paling sempurna, tak ada sekalipun cacatnya. "Syani~" ucapnya dengan suara berat khas orang baru bangun tidur. Aku menaruh buku agendaku di nakas yang berada di sampingku. Membenarkan posisi bantalku lalu menyamai posisi Biru. "Kamu ngga tidur

