bc

Accident

book_age16+
53
IKUTI
1K
BACA
revenge
drama
tragedy
mystery
genius
realistic earth
friendship
whodunnit
dystopian
like
intro-logo
Uraian

Pada tahun 2000 ini, sebuah kekacauan besar bernama virus Exitium-zero (Ex-0) menyerang dunia. Rafael Zohan yang berstatus sebagai mahasiswa mikrobiologi mendapatkan tugas dari universitasnya untuk melakukan penelitian terkait virus ini.

Di lain sisi, negara tempatnya tinggal, Iranjia yang merupakan negara berkembang langsung menjadi pusat perhatian dunia sejak Perdana Menteri Negara Edelton menyiarkan berita bahwa pencipta virus yang menggegerkan dunia ini tinggal di sana. Bersama Alexa dan Dika, Rafa terus berusaha mencari tahu siapa pencipta virus ini.

Mampukah ia dan temannya menemukan orang itu? Atau mereka justru terjebak dalam maut dan tidak bisa bertahan dari virus ini?

chap-preview
Pratinjau gratis
Chapter 1 - Parade
Awan di langit pertengahan musim hujan kali ini tampak bergerak pelan tertiup angin. Suasana sore ibu kota yang biasanya hiruk-pikuk ditemani ratusan kendaraan dan penduduk yang berlalu-lalang kini terlihat sepi.  Dari atas gedung rumah sakit yang tinggi, seorang gadis bersurai panjang tengah memperhatikan suasana itu dari jendela sambil menyesap kopi. Matanya mengarah ke taman besar di seberang jalan. "Yah, tidak ada yang pernah mengira 10 bulan yang lalu terjadi perayaan tahun baru besar-besaran di sana," komentarnya. Taman bernama Adiyasa yang kini sepi tak ada kunjungan itu pantas menjadi wahana rumah hantu menurutnya. Bagaimana tidak? Rumput liar dibiarkan tumbuh, lampu sebagian besar mati, dan beberapa wahana terlihat berkarat. Sungguh menyedihkan. Dunia ini terasa berubah begitu drastis. Atmosfer kebahagiaan lenyap. Semuanya tergantikan dengan suasana sendu. Gadis itu mengerti akan situasi ini karena posisinya sebagai garda terdepan sekarang. Ia adalah Alexa Liezel, seorang dokter koas yang kini berperan sangat penting di negara ini. Dulu, ia hanya berpikir jika koas hanyalah pekerjaan menyebalkan sebelum menjadi dokter. Tapi kenapa sekarang dirinya yang hanya koas ini begitu dipuja? Jawabannya begitu sederhana baginya. Negara ini, bahkan seluruh dunia tengah menghadapi krisis. Relawan kesehatan saat ini adalah pekerjaan termulia yang ada. Tak salah jika dokter koas yang biasanya dibenci pasien karena dikira tak kompeten itu kini begitu disanjung. Ini adalah tahun 2000, dimana bumi dikatakan sekarat. Banyak manusia jatuh tak berdaya dari ketinggian bak sampah. Bau anyir darah yang menyengat di jalan ataupun rel kereta. Tak ketinggalan pula, badan pucat tak berdaya yang mengambang di air. Semua orang bak berlomba-lomba ingin cepat meninggalkan dunia dengan segala cara. Ini adalah tahun dimana kegilaan dimulai. Alexa termenung. Bertanya-tanya, suatu hari nanti atau bahkan esok, mungkinkah ia akan berpartisipasi seperti mereka dalam lomba bunuh diri ini? Sebuah tepukan keras mengenai bahu kanannya. "Oi Alexa! Apa yang kau lakukan?!" Hawa keterkejutan terlihat jelas dari Alexa. Ia sontak mengalihkan pandangan ke arah si pemanggil. Gadis di depannya ini adalah Ais Sofhie, seorang dokter koas yang sama dengan dirinya. Ia tampak berpikir sebelum menunjukkan seringai penuh hinaan pada teman berperawakan kecil di depannya. "Apa matamu itu kurang banyak? Aku menikmati pemandangan sambil minum kopi di sore hari. Kau tahu, ini indie sekali." Dipanggil 'matamu kurang banyak' begitu, gadis berkacamata dengan nama Ais ini merasakan denyutan hebat di kepalanya. Ia tahu ini bukan saatnya untuk marah tapi gadis berkucir di depan matanya ini sungguh membuat ia kesal. Geraman sangar terdengar dibalik masker yang ia kenakan. "Ayolah, Alexa! Ini bukan saatnya bersantai. Kita tengah mengalami krisis! K-r-i-s-i-s! Dunia ini sedang krisis! Ini bukan saatnya untuk minum kopi di sore hari seperti anak senja begitu!" Alexa memutar mata, ia sedikit malas untuk menghadapi temannya yang satu ini. Kopi itu diteguk sampai habis dan tangan gadis tersebut langsung meremas wadahnya. Ia dengan santai membuang bekasnya ke tempat sampah. Matanya kini mengarah pada Ais. "Jadi, ada apa memangnya Ais? Apa kita kedatangan pasien rujukan lagi?" tanya Alexa sembari memasang maskernya kembali. Kini kedua gadis itu berjalan beriringan, menjauh dari tempat Alexa berdiri beberapa saat yang lalu. Cukup beruntung, koridor kali ini agak sepi. "Sebenarnya tidak apa-apa juga. Hari sudah menjelang malam dan biasanya kita selalu bertambah repot. Jadi, aku harap kau jangan bersantai begitu. Aku tidak mau nilaiku hancur. Ingat itu!" Lagi dan lagi, Alexa yang dijawab seperti itu hanya bisa memutar mata jengah. Dasar kaum pemuja nilai di sampingnya ini benar-benar terlalu. "Sebenarnya siapa yang peduli soal nilai sekarang? Bisa jadi saat lulus nanti dunia ini sudah mengalami kepunahan manusia, 'kan?" Alexa menjawabnya santai. Langkah Ais sontak saja terhenti ketika mendengar penuturan gadis berusia 22 tahun di sampingnya ini. "K-kau! Jangan bilang kau mengalami gejala virus Ex-0? Kenapa kau bisa pesimis seperti itu?" Satu kepalan yang dilontarkan Alexa ke kepala Ais langsung membuat gadis berperawakan pendek itu menghentikan racauannya. Ia mengelus-elus kepalanya yang berdenyut sakit. Memang apa salahnya? Ia 'kan hanya berkata jujur. Di masa pandemi seperti ini, dimana pesimis merupakan salah satu gejala terinfeksi tentu saja membuat Ais waspada. Alexa mendengus ke arah Ais, "Aku tidak terinfeksi virus gila itu, ya! Aku ini hanya realistis saja!" Ais yang mendengar itu tentu saja hendak menjawab pernyataan Alexa. Namun, niatnya terhenti tatkala seorang pria paruh baya berteriak ke arah dua gadis itu dari kejauhan. Sontak, mereka pun menoleh ke arah pria dengan jas putih di ujung koridor. Mereka tahu pria itu, ia adalah salah seorang dokter senior di sini. "Hei, kalian berdua! Tolong bersiap, 30 menit lagi kita akan kedatangan rujukan pasien dari Rumah Sakit Utara!" Tanpa bertanya apa pun lagi, keduanya yang mendengar itu langsung menganggukkan kepala siap. Dokter yang melihat itu tampak mengangguk dan menyerahkan tugas itu pada mereka. Ais dan Alexa pun bertemu pandang. Sepertinya aksi adu mulut yang  mereka lakukan tadi harus terjeda dikarenakan rumah sakit kedatangan jatah makan sore, sebutan khusus yang mereka buat untuk pasien rujukan. Pasien rujukan adalah makanan sehari-hari bagi mahasiswa koas seperti mereka berdua. Terhitung sejak awal tahun 2000, tepatnya sekitar 10 bulan yang lalu semenjak mereka memulai koasnya, sudah ribuan pasien yang keduanya hadapi.  Di tempat ini, Rumah Sakit Hetalia yang merupakan rumah sakit pusat di Negara Iranjia telah terjadi peningkatan pasien secara besar-besaran. Mereka yang melakukan praktik koas tahun ini pun harus bekerja secara ekstra karena lonjakan pasien akibat pandemi di seluruh dunia. Tahun 2000, tahun dimana manusia mengira masih mampu mempertahankan eksistensinya selama 2 milenium ini justru terjadi serangan wabah virus yang luar biasa. Telah dipastikan oleh organisasi kesehatan dunia bahwa kemunculan virus yang bernama Exitium Zero ini terjadi setelah perayaan tahun baru 2000 yang disambut secara besar-besaran oleh masyarakat dunia.  Berbeda dengan wabah black death atau wabah lain yang pernah menyerang manusia, virus ini menyerang sistem kerja otak sehingga menyebabkan peningkatan hormon kortisol yang memicu depresi. Belum dapat dipastikan dengan pasti virus yang kerap disebut Ex-0 (eks-zero) ini berasal dari mana. Dugaan yang paling banyak adalah virus ini berasal dari daging sapi di Negara Seraporl, sebuah negara maju dengan wilayah kecil yang terletak di barat negeri ini. “Perhatian semuanya, seperti yang kalian tahu, saya adalah Dokter Deva Reksa. Saya akan bertugas sebagai ketua penyambutan pasien kali ini.” Seorang pria tampak memberikan kata sambutan di depan para staf lainnya yang berbaris. Seperti ritual yang biasa mereka lakukan ketika ada pasien rujukan yang datang, kali ini semua staf rumah sakit yang bertugas sebagai regu penanganan Ex-0 telah berbaris rapi di pintu masuk sebelah barat.  Pasien rujukan yang akan datang sekarang tampaknya memiliki jumlah paling banyak di antara pasien yang datang hari ini. Jadi tak heran kenapa ada 3 regu yang berkumpul sekarang  di pintu masuk barat. Setiap regu berjumlah 8 orang yang terdiri dari 1 dokter ahli, 2 dokter residen, 1 orang koas, dan 4 orang suster. Beberapa orang yang melihat para staf Rumah Sakit Hetalia berbaris di luar gedung langsung memperhatikan mereka. Hal ini terjadi karena regu dari tim penanganan virus Ex-0 memiliki seragam yang keren dan terlihat mencolok.  Berbeda dengan dokter dan suster yang merawat pasien di dalam mengenakan jas putih, regu penanganan ini mengenakan setelan serba hitam. Set pakaian hazmat itu terdiri dari celana, jas, mantel bertudung, sarung tangan, masker, hingga kacamata. Semuanya berwarna hitam dengan tambahan aksen biru neon pada mantelnya. Dokter bernama Deva tadi berdehem dibalik masker hitam yang ia kenakan. “Perlu kalian ingat jika penerimaan pasien rujukan kali ini adalah rujukan ke-309 sejak virus memasuki negara kita. Sore ini kita akan kedatangan 68 pasien rujukan.” Seorang dokter ahli di barisan depan mengangkat tangan, ada inisiatif bertanya. “Kali ini prosedur penerimaan pasien seperti biasa kan, Dok?” Dokter Deva yang berusia 37 tahun itu mengangguk. “Aku tahu kalian sudah paham bagaimana prosedurnya. Sebelum  kita membawanya masuk, cek dulu tekanan darah, daftar riwayat sakit, serta level keparahan dari Ex-0. Regu 1 akan menangani pasien level 1, regu 2 dengan pasien level 2, dan regu 3 dengan pasien level 3. Selanjutnya bawa mereka ke bangsal jiwa terlebih dahulu seperti biasa, kecuali pasien dalam keadaan kritis.” Ratusan pasien  Ex-0 yang pernah datang ke rumah sakit ini rata-rata memiliki 3 ciri utama yang berbeda. Ciri pertama ialah tidak adanya cahaya di mata mereka. Sebuah cahaya yang mengindikasikan mereka hidup dan memiliki emosi. Namun, di sisi lain ada ciri kedua dimana orang itu memiliki banyak cahaya di matanya sehingga emosinya sangat sulit dikendalikan. Ciri terakhir adalah pasien sekarat atau kritis yang dirujuk ke sini.  Pada kenyataannya, masih ada banyak ciri-ciri lain dan Rumah Sakit Hetalia menampung itu semua. Hal ini dikarenakan rumah sakit itu adalah rumah sakit pusat di negara ini. Dokter Deva melirik jam tangan yang melingkar di lengan kirinya. Ia bergumam tanpa sadar, “Sudah hampir jam 5 rupanya.” Mata hitam tajam dari dokter muda itu menatap lurus ke arah 24 orang di depannya ini. Sepertinya ia bisa menyerahkan tanggung jawab ini pada mereka semua. Bagaimana pun juga, pengiriman pasien sebanyak 68 orang dari Rumah Sakit Distrik Utara ini mengundang banyak reporter untuk meliput ke sini. Ia harus mengikuti acara konferensi pers karena diperintah oleh direktur rumah sakit.  Mata hitamnya bergulir ke halaman utama yang kini tampak dihiasi oleh lampu jepretan kamera para jurnalis. Sepertinya acara itu sudah dimulai. “Baiklah, karena tidak ada lagi yang harus kusampaikan maka aku akan undur diri untuk mengikuti konferensi pers di halaman utama. Aku akan menyusul kembali nanti untuk memantau proses pertolongan,” ujar Dokter Deva dengan sedikit membenarkan letak maskernya. Para staf rumah sakit yang sedari tadi melakukan sikap istirahat ini langsung bersiap dan mengarahkan hormat pada Dokter Deva. “Siap laksanakan, Pak!” Pria berusia 37 tahun yang melihat sikap pasukannya itu langsung melayangkan hormat juga. Ia yakin penerimaan pasien rujukan kali ini pasti akan berjalan sukses seperti biasanya. Itu makanan sehari-hari orang di sini, bukan? “Pasien akan datang dalam waktu 10 menit lagi. Bersiap di area parkir ambulans sekarang!” “Siap! Laksanakan, Pak!” Dan di detik itu juga, ritual pengarahan yang sudah dilakukan ke-309 kali ini diakhiri. Para staf langsung menuju tempat parkir ambulans yang akan datang, sedangkan Dokter Deva pergi menuju tempat konferensi pers di sebelah selatan pintu masuk utama Rumah Sakit Hetalia. Tanpa disadari oleh siapa pun, ada seorang laki-laki yang terus memperhatikan gerakan Regu Penanganan Ex-0 dengan decakan penuh rasa kagum. Alexa Liezel kali ini bertugas dalam penyambutan pasien rujukan. Ia berada di tim 1 dan ada juga Ais yang berada di tim 2. Saat ini dirinya dan para staf lain sudah berada di area parkir ambulans. Atensi Alexa teralihkan oleh seorang laki-laki di sampingnya. Ia menguap begitu keras. Laki-laki itu patut bersyukur karena masker yang dikenakan saat ini mampu meredam sebagian suaranya agar tidak sampai terdengar oleh para dokter ahli.  Mata hitam Alexa tentu saja meliriknya, dapat ia lihat jika kantong mata laki-laki tersebut berwarna hitam. Gadis berkucir ini tahu siapa dia, dia adalah Beni Herinson. Ketua dokter koas di sini, sekaligus temannya juga. “Kau kenapa?” Tidak, suara itu bukan dari Alexa. Itu dari Ais. Ia yang tengah bosan menunggu langsung menghampiri Alexa dan menanyakan hal tadi kepada Beni yang kebetulan berdiri di sampingnya. Laki-laki dengan warna rambut coklat kehitaman itu langsung memandang Ais dengan matanya yang sedikit berair. “Aku semalam berjaga di ruang  karantina sampai pukul 8 pagi. Selepas pulang, adikku merengek dan memintaku untuk menemaninya menonton film. Gila, rasanya aku tidak sanggup berdiri karena mengantuk.” Alexa dan Ais memandang Beni dengan tatapan heran. Kalau sudah tahu kondisinya begitu kenapa justru datang ke sini? Lagi pula Beni biasanya mendapat jatah jam malam yakni mulai pukul 9. Tidak seharusnya ia datang saat sore begini, bukan? Merasa ditatap seperti itu, Beni seolah paham apa maksud dua orang di depannya ini. Wajah Beni tiba-tiba tertekuk masam. “Aku tahu apa yang jadi pertanyaan bagi kalian. Sebenarnya aku juga tidak mau datang ke sini sekarang. Ini semua karena Dika yang meneleponku, dia menyuruhku untuk menggantikan tugasnya di regu 3 hari ini.” Ais tampak menganalisis apa yang terjadi. Tahun ini jumlah teman koasnya di Rumah Sakit Hetalia hanyalah 5 orang. Seharian ini ia hanya melihat Alexa saja dan baru bertemu Beni sekarang. Lalu ke mana perginya Dika dan satu temannya yang bernama Maria?  Pikiran gadis kecil berkacamata itu melalang buana. Namun, ia tersadarkan oleh tepukan Alexa di bahu kanannya. “Ada apa, Alexa?” tanya Ais. Tangan gadis itu menunjuk ke arah halaman utama yang kini tengah diadakan konferensi pers. Mata Alexa menyipit, berusaha mempertajam penglihatannya. “Itu Dika dan Maria, bukan? Lagi bersama siapa mereka? Jasnya seperti tak asing.” Beni dan Ais pun sontak mengikuti arah telunjuk Alexa. Dan benar saja, di sana terlihat dua orang teman koas mereka, Dika dan Maria yang tampak menggiring 4 orang laki-laki dengan jas almamater berwarna biru gelap. Sedang apa dua orang itu di sana dan siapa mereka? “Itu... jas dari Universitas Tenggara, bukan?” Beni menyeletuk. Alexa yang mendengar penuturan Beni langsung memandangnya tak percaya. Benar juga, pantas saja jas itu terlihat tak asing. Rupanya itu adalah almamater dari universitas ternama yang paling populer dan elit di Iranjia. Siapa yang tak mengenal Universitas Tenggara di negara ini coba? Ais pun memandang heran. “Apa yang dilakukan empat orang itu di sini? Mereka sepertinya dibawa ke ruang pers. Seperti ... akan ada sesuatu saja.” Alexa dan Beni yang mendengar penuturan itu saling bertukar pandang. Mata mereka menginformasikan keingintahuan juga. Tapi apa boleh buat, sekarang mereka harus fokus dengan pasien yang sebentar lagi datang. Tepat sebelum Alexa mengalihkan pandangannya, ia bertemu pandang dengan salah satu mahasiswa Universitas Tenggara. Laki-laki itu sepertinya tengah mengobservasi kumpulan staf dokter yang bersiap di tempat parkir ambulans. Gadis itu melirik dari sudut matanya, ia mengernyit heran. ‘Anak itu kenapa menatap ke sini terus? Matanya hijau dan rambutnya coklat terang? Seperti bukan orang pribumi saja. Apa dia bule?’ Ketika suara sirene ambulans yang memasuki wilayah rumah sakit mulai terdengar, Alexa pun membuang pikirannya jauh-jauh. Prioritasnya sekarang adalah membantu dokter dalam menangani pasien. Dirinya segera berbaris dalam peleton barisan regu 1. Dengan catatan yang dipegangnya, gadis itu menarik nafas dalam-dalam dibalik maskernya. Alisnya menukik tajam, tanda memfokuskan diri. “Tiga ambulans pertama telah datang! Dokter residen dan koas bersiap melakukan pemeriksaan awal!” teriak seorang dokter spesialis dari regu 1. Alexa yang tadi sedikit melirik ke tempat konferensi langsung mengikuti arahan dokter residen di depannya. Ia pun tergesa mengikuti dokter residen yang sudah memasuki ambulans untuk memeriksa pasien. Di dalam sana, gadis itu segera melakukan pengecekan tekanan darah pasien. “Bagaimana tekanan darahnya?” Alexa yang berinteraksi langsung dengan pasien menjawab, “Tekanan darahnya 170/90, Dok. Termasuk ke dalam golongan tinggi untuk usia 50 tahun.” “Riwayat penyakitnya?” “Berdasarkan data, ibu ini punya riwayat GERD yang masih sering kumat hingga sekarang.” Dokter residen itu mengernyitkan mata di balik baju hazmat yang ia kenakan. Jika ibu ini memiliki riwayat GERD, maka dapat dipastikan jika 50% pasien ini juga mengalami anxiety atau gangguan kecemasan. Dokter itu maju di samping Alexa. Ia menatap sang ibu yang kini hanya menatap kosong ke arah langit-langit ambulans. “Ibu, apakah saat ini Anda takut?” tanya pria berusia 28 tahun itu. Ibu dengan rambut bergelombang itu menatap sekeliling dengan hampa. Netra hitamnya pun bertemu pandang dengan kedua staf medis di depannya. Ia menatap lekat ke arah Alexa dan  mulai bicara dengan nada melantur. “Aku juga punya anak gadis seusiamu, Nak. Dia sudah menikah. Ketika mendengar kabar aku terkena virus ini, anakku tidak mau berkunjung menemuiku. Aku merasa ...,” Ibu itu memegang jantungnya dengan mata terkatup. “Di sini rasanya seperti ditikam. Aku tidak bisa bernafas. Mataku tampak menggelap dan semuanya yang ada di dunia ini tampak berat.” Alexa dan dokter residen itu bertemu pandang. Mereka terus memperhatikan d**a ibu yang mengenakan selang oksigen itu tampak naik turun. Wanita ini kesulitan bernafas. Bagaikan terdengar alarm darurat yang berbunyi nyaring, kedua staf medis itu membelalakkan mata horor. Dokter residen segera berlari keluar memanggil suster untuk segera membawa pasien pertama ini ke ruang UGD khusus Ex-0. “PERTOLONGAN PERTAMA! DI SINI PASIEN LEVEL 3 DALAM KONDISI DARURAT!” Di lain sisi, Alexa tak bisa bergerak banyak karena pergelangan tangannya terus dipegang oleh sang ibu. Keringat terus bercucuran deras dibalik baju hazmatnya. “Jawab aku, Nak. Kenapa ini semua harus terjadi padaku? Pada kita? Aku hanyalah seorang janda miskin dengan anak gadis semata wayang. Apa dosaku sehingga putriku pun tak mau menatap wajah ibunya yang sedang dalam perjalanan menjemput Tuhan ini?” Mata gadis itu bergetar ketakutan karena ekspresi horor sang pasien yang menatap lurus dan begitu dalam ke matanya. Tatapan mata kosong ini begitu mengerikan. Lidahnya kelu, ia tak tahu harus menjawab apa dengan pertanyaan terkait takdir jenaka yang sedang mendera mereka kali ini. Seorang dokter spesialis datang bersama beberapa suster dari regu 3, bagaimanapun juga kondisi ibu ini adalah kasus level 3 sehingga merekalah yang menanganinya. Tangannya dan tangan ibu itu terlepas. Ia ikut keluar mobil dan menatap ibu itu kosong.  Andaikan Alexa mampu memberikan jawaban yang tepat tadi, mungkin ibu itu dapat sedikit terhibur dan kondisinya membaik. Jelas sekali, mental ibu itu kacau. Alexa pun segera mengikuti dokter residennya untuk memeriksa pasien lain. Dalam hatinya gadis itu sangat berharap agar ibu tadi bisa segera sembuh dan tak perlu mengikuti parade kematian yang menakutkan ini. Bagaimana pun juga, virus Ex-0 diberi nama demikian bukan tanpa alasan. Ex adalah kepanjangan dari Exitium yang bermakna kehancuran dalam bahasa latin, sedangkan 0 (zero) sendiri memiliki makna kompleks. Selain virus ini yang berbentuk lingkaran seperti angka nol, nama zero itu sering diartikan oleh banyak orang sebagai pembawa titik balik kehidupan dimana bumi ini kosong. Dengan kata lain, virus ini tak ubahnya seperti program reset dunia dimana manusia akan mengalami kepunahan. Para ilmuwan seakan memberikan pesan tersirat bahwa virus ini tak akan berhenti menyebar sampai jumlah manusia di dunia benar-benar 0. Sungguh, apakah Tuhan tengah bercanda dengan takdir manusia? Tepat satu jam, Alexa dan regunya telah selesai melakukan penanganan pada pasien rujukan yang datang. Jadwalnya kali ini terbilang mudah karena hanya menangani pasien level 1 dimana gejala yang ditujukan tidak berat. Kini, mendung di atas Rumah Sakit Hetalia tampak semakin menggelap.  Memang sudah bukan menjadi rahasia umum lagi jika hujan sering datang waktu Bulan Oktober. Alexa kini membantu suster merapikan beberapa peralatan yang dibawa pasien. Ia tampak terganggu oleh suara-suara gaduh dari mobil ambulans yang datang terakhir. “Apa kau mendengar suara gaduh dari mobil ambulans paling akhir, Sus?” tanya gadis itu sembari mengintip melalui kaca mobil ambulans. “Ya, aku juga mendengarnya. Terdengar sangat kacau sepertinya di luar.” Salah seorang suster lain menimbali dengan raut cemas dibalik pakaian hazmatnya, “Kira-kira apa yang sedang terjadi?” Alexa dengan sigap membuka pintu ambulans dan meletakkan tas pasien yang sedang ia kemas. “Ayo kita periksa untuk mengeceknya!” saran gadis itu. Kedua suster yang bersamanya sontak mengangguk dan berjalan keluar. Mereka bertiga pun mendekat. Dapat dilihat jika di sana sudah banyak staf medis lainnya yang berkumpul. Ia dapat melihat Beni yang sepertinya kewalahan dengan tingkah anak kecil dalam dekapannya. Jadi kegaduhan ini dari regu 3 ya? Apa yang sebenarnya terjadi? Alexa pun bertanya-tanya dalam hati. “ARGHHH!!!” Ada wanita merintih kesakitan di sana. Para staf medis berusaha membantunnya namun selalu di tolak oleh dia. Sementara anak kecil yang ada dalam dekapan Beni terus meronta ingin berjalan mendekati sosok wanita itu. Mungkinkah mereka kakak beradik? “Kumohon tenang, Nak.  Bilang pada kami apa yang membuatmu begitu kesakitan?” Dokter ahli dari regu 3 tampak bertanya dengan lembut. Pria berusia 48 tahun itu berjalan mendekat. Wanita berambut panjang itu terus menekan kepalanya yang tampak begitu kesakitan. “A-aku pun tak mengerti! Kepalaku terasa begitu sakit begitu melihat bangunan rumah sakit yang tinggi! D-dadaku seolah ditikam!” Orang itu tampak semakin menjadi ketika para staf medis semakin banyak yang mengerubunginya. Ia bahkan terus menekan kepalanya hingga bersujud dikarenakan rasa sakit tersebut. Ia merintih, “K-kumohon pergi dari sini! Jangan mendekat!” “Nak, kami berusaha membantumu. Kami tidak akan menyakitimu. Jangan takut, percayalah kau pasti bisa sembuh.” Begitu mendengar penuturan dokter ahli berusia lanjut itu, sang wanita pun langsung menengadahkan wajahnya dan menatap seluruh orang yang mengerubunginya. Para staf medis Hetalia ini langsung menahan napas begitu melihat wajah wanita itu. Matanya menatap tajam ke arah staf medis dengan bagian putihnya berwarna merah menyala. Pupil hitam wanita itu tampak bergetar hebat menahan rasa sakit dan amarah. “KAKAK!!” Tentu saja, anak dalam dekapan Beni semakin meronta begitu melihat penampakan kakaknya yang berbeda dari biasa tersebut. Anak laki-laki dengan usia kisaran 9 tahun itu meraung dalam tangisannya. Para staf medis rumah sakit masih diam tak berkutik dengan wajah ketakutan di balik baju hazmat mereka. Mereka begitu ketakutan karena wanita itu, bahkan rasanya ingin bernapas pun tak berani. Kenapa wanita itu skleranya berwarna merah terang secara tiba-tiba? Dokter Hutson, dokter ahli regu 3 yang berhadap-hadapan langsung dengan wanita itu tersentak beberapa saat. Kemudian ia tersadarkan, “Mata merah itu ... mungkinkah pendarahan subkonjungtiva?” Para staf medis lain yang mengetahui makna istilah itu langsung tersadarkan dari pikiran negatif mereka. Jika memang apa yang diduga Dokter Hutson benar, maka itu wajar. Perdarahan subkonjungtiva terjadi saat pembuluh darah kecil pecah tepat di bawah permukaan bening mata (konjungtiva). Konjungtiva tak mampu menyerap darah dengan cepat, sehingga darah terperangkap. Wanita itu tampak tertekan dan kesakitan sejak tadi, kemungkinan ia mengalami trauma pada bangunan tinggi. Memang penyebab pendarahan subkonjungtiva tak selali diketahui, namun sepertinya tekanan yang dialami wanita itu membuat adanya pendarahan di matanya. Alhasil, begitulah kondisi wanita tersebut saat ini. Ia masih menatap tajam ke sekitar. “Bukankah sudah kubilang pada kalian untuk menjauh?!” Wanita itu mulai berdiri dengan wajah menahan kesakitan. Matanya yang merah masih menyiratkan kemarahan. Para staf medis tampak berjalan sepelan mungkin untuk menangkap wanita itu. Mereka berusaha agar dia tidak menyadarinya agar tak berlari menjauh. Jika perlakuan halus tak dapat dilakukan, maka apa boleh buat, para staf Hetalia harus segera memaksanya masuk ke rumah sakit sebelum virus dari tubuhnya menyebar ke orang lain. Tangan wanita itu memegang kepalanya. Ia berjalan mundur pelan dengan badan sempoyongan. Dokter Hutson memberikan isyarat pada para staf medis untuk menangkapnya sebelum ia berjalan ke jalan raya. Namun, suara jeritan wanita itu membuat semua orang menahan nafas untuk kedua kalinya. Wanita itu menggosok wajahnya dengan tangan. Rasa frustrasi jelas terlihat di wajahnya. “Arghhhhhhh, kenapa ini harus terjadi? Kenapa adikku yang masih kecil pun terkena imbas virus ini? Kenapa ayah membawa petaka seperti ini ke Iranjia? Jawab aku, Ayah!” Seorang dokter ahli dari regu 2 menunjukkan wajah yang semakin ketakutan. Keringat meluncur deras dari balik baju hazmat dokter wanita itu. “Dokter Hutson! Dia meracau! Kondisi mentalnya kacau! Kita harus segera menangkapnya sekarang!” “Semuanya! Segera bawa wanita itu ke gedung isolasi kompleks Eks-0!” Bersamaan dengan suara Dokter Hutson yang menyuruh semua staf medis untuk menangkapnya, wanita itu bergegas berlari mundur. Ia tidak ingin ditangkap oleh mereka semua. Alexa dan Ais pun yang mendengar perintah tadi langsung berlari mengejar wanita itu. Namun, sebuah kejadian tak terduga telah terjadi dengan begitu cepat. Suara gesekan rem dan tabrakan yang begitu keras langsung membuat suasana Rumah Sakit Hetalia mendadak hening. Mata semua orang melebar terkejut ketika memandang pemandangan di depannya tadi.  Hari sudah berganti malam. Awan mendung yang semakin menggelap di atas Rumah Sakit Hetalia perlahan mulai menurunkan air hujan. Mereka mematung di sana dalam keadaan basah. Semuanya berusaha mencerna apa yang telah terjadi. “TIDAK!!!! KAKAKKKK!!!” Dan suara teriakan itu menyadarkan Alexa. Ia menoleh patah-patah ke arah anak kecil dalam dekapan Beni. Anak laki-laki itu meronta hebat. “T-tidak!” “W-wanita itu tewas?” Jauh di depan matanya, tepat di tengah jalan raya itu, wanita yang menjerit histeris tadi berpulang pada Tuhan dalam kondisi tragis. Darah menggenang dari kepalanya. Tubuh lemah tak berdaya itu terbasahi oleh air tangisan dari langit.  Alexa berusaha memahami ini semua, parade kematian ini sekali lagi menimbulkan korban jiwa dengan cara kematian yang begitu kejam. Kenapa? Kenapa semua ini harus terjadi pada dunia? Pada bangsanya?  Alexa tak pernah mengira jika masa koasnya akan menjadi sekelam ini. Ia menatap hampa tangannya. Ia merasa hina karena tangannya yang merupakan calon dokter ini tak bisa menolong banyak orang. Andai saja ia mampu berbuat banyak hal maka apa pun itu pasti ia lakukan demi mengakhiri rantai virus ini. Dan di depan sana, wanita jelita tadi terbaring tak berdaya dengan darah menggenang di balik kepalanya. Pasien nomor 11.890 atas nama Diana Melia telah berpulang dengan memilih jalan tragisnya. 

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Patah Hati Terindah

read
83.0K
bc

Marriage Aggreement

read
87.0K
bc

Scandal Para Ipar

read
708.0K
bc

Pulau Bertatahkan Hasrat

read
640.1K
bc

Life of An (Completed)

read
1.1M
bc

JANUARI

read
49.0K
bc

Life of Mi (Completed)

read
1.0M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook