Beberapa saat sebelum kecelakaan terjadi.
"Pemirsa, saat ini saya tengah berada di halaman Rumah Sakit Hetalia yang merupakan rumah sakit pusat dari negara kita. Peningkatan kasus pasien Ex-0 yang terus melonjak di Iranjia membuat penduduk dari seluruh distrik negara ini semakin dilanda cemas. Seperti yang kita tahu, seluruh dunia tengah dilanda pandemi besar yang menyebabkan bunuh diri masal terjadi dimana-mana.”
Belasan reporter yang membawa kamera dan mikrofon tampak berjubel di pintu rumah sakit. Mereka menghadang seorang wanita cantik beserta beberapa kru rumah sakit yang mengenakan alat perlindungan diri berupa pelindung wajah, masker, jas, dan lainnya.
“Tampak di belakang saya, Dokter Liliana Seran yang merupakan direktur utama dari Rumah Sakit Hetalia tengah berupaya melewati hadangan para media."
Reporter-reporter itu tak henti menyorot gerak-gerik dari para petinggi rumah sakit yang berjalan keluar.
Kedatangan para reporter ini tampaknya ingin menguak informasi dari petinggi Rumah Sakit Hetalia secara langsung mengenai lonjakan pasien Ex-0 yang semakin pesat.
"Saya mendengar kabar bahwa beberapa saat lagi sejumlah pasien rujukan dari Distrik Utara Iranjia tepatnya dari Rumah Sakit Utara akan tiba. Apakah itu benar?"
"Bagaimana tindakan rumah sakit pusat untuk mengatasi lonjakan yang tiada henti ini?" tanya reporter lain.
"Apakah Pemerintah Iranjia sama sekali tidak becus dan membiarkan rumah sakit memegang hak otonomi untuk bertindak sendiri?" sahut reporter lain
"Mengapa tetap tidak ada kemajuan obat dan vaksin, Dok? Kita tahu bahwa dua minggu yang lalu telah ditemukan mayat membusuk. Bagaimana jika ditemukan wabah penyakit baru dari tubuh mayat yang terlambat ditemukan itu? Kita tidak tahu ada berapa banyak mayat lain di luar sana yang belum ditemukan!" ujar seorang reporter lain.
Ucapan dari reporter berkacamata bulat itu entah kenapa membuat ekspresi di wajah dr. Liliana sedikit berubah. Wanita cantik yang menjabat sebagai direktur rumah sakit ini pun akhirnya menghentikan langkah kakinya sebentar.
Beberapa petinggi rumah sakit termasuk dua orang mahasiswa koas yang berjejer rapi di belakang sang direktur hanya bisa pasrah karena akses keluar mereka terhambat.
Suasana sore menjelang malam kali ini tampak sedikit gaduh. Jika seperti ini terus, persiapan mereka untuk konferensi pers bisa terhambat. Lebih gawat lagi kalau sampai ambulans sudah berdatangan.
Dari balik maskernya, dr. Liliana berujar, "Sebelumnya saya ingin berpesan pada rekan jurnalis semua, harap menjaga jarak satu sama lain. Saya akan menyampaikan informasi apa adanya di tempat pers. Mari kita berpindah tempat dan jangan berdesakan di pintu masuk karena pasien rujukan akan tiba sebentar lagi."
Mendengar penuturan dari sang direktur yang seperti itu, para jurnalis yang sudah seperti singa hendak menerkam mangsa pun langsung sadar diri. Mereka mempersilahkan jajaran petinggi rumah sakit itu memasuki tempat pers yang sudah disediakan di halaman utama.
Tampak beberapa petinggi rumah sakit termasuk Liliana duduk di meja pers, selain itu sisanya berdiri rapi di belakang kursi.
“Kenapa pula aku harus di sini?”
Seorang laki-laki bersurai hitam menggerutu dengan suara tertahan. Tatapan mata mahasiswa koas itu begitu garang. Hal ini membuat seseorang laki-laki lain yang beralmamater biru di sampingnya memandang ngeri ke arah dokter koas tersebut.
Mahasiswa koas ini adalah Dika Anderald. Beberapa saat yang lalu sebelum adanya pengumuman pasien rujukan, Dika dan teman koasnya yang bernama Maria dipanggil oleh salah satu dokter ahli untuk menemani para mahasiswa dari Universitas Tenggara.
Ia masih ingat jika tadi dirinya dan Maria hanya diberi tugas untuk mendampingi empat mahasiswa itu tanpa alasan. Ia berdiri di pojok kanan sementara Maria berada di pojok kiri. Kedua dokter koas ini mengapit empat orang mahasiswa dengan almamater biru tua itu di belakang tempat duduk para petinggi rumah sakit.
Mungkin setelah pers ini diadakan, Dika akan sedikit paham alasan kenapa keempat orang itu berada di sini. Dalam hatinya laki-laki bermata tajam itu menggerutu, ia tak suka dengan para mahasiswa ini. Entah kenapa aura mereka semua terasa begitu angkuh. Atau itu hanya perasaannya saja?
Dokter Liliana Seran yang merupakan direktur utama rumah sakit tampak mengetes mikrofonnya untuk mulai berbicara. Dengan satu tarikan nafas, ia mengucapkan salam dan terima kasih pada para reporter yang telah mau diajak kerja sama dalam wawancara kali ini.
Tampak dari mata wanita itu, para reporter telah duduk tenang di kursi jurnalis yang telah diberi jarak 2 meter dan mulai mengutarakan pertanyaannya satu-satu.
"Baik, untuk pertanyaan mengenai rujukan pasien memang benar. Rumah Sakit Distrik Utara telah mengirim sekitar 70 orang pasien untuk dirujuk ke sini. Ambulans mereka sebentar lagi akan datang, jadi saya mohon maaf apabila pers kali ini singkat," sahut Liliana.
"Bagaimana tindakan rumah sakit pusat untuk mengatasi lonjakan ini, Dok?"
Liliana yang mendengar itu langsung mengarahkan pandangannya ke arah reporter yang bertanya. Ia menorehkan sedikit senyum.
"Untuk pertanyaan itu kebetulan sekali, beberapa saat yang lalu kita telah kedatangan perwakilan dari Perusahaan Sepkai Farmasi. Silakan kepada Tuan Adam Hillary, saya persilahkan untuk mengutarakan apa yang telah kita bicarakan dan lakukan."
Mendengar penuturan tadi, semua pasang mata sontak memandang ke arah sosok laki-laki dengan rambut klimis di sebelah kanan dr. Liliana. Ia tampak mencoba mengetes mikrofon sebelum berbicara. Sambil membenarkan posisi kacamatanya, laki-laki berkacamata itu memulai berbicara pada seluruh anggota jurnalis.
“Selamat sore semuanya, mohon maaf sekali bila saya tidak bisa menjelaskan secara rinci karena seperti penuturan dr. Liliana tadi, ambulans dari Distrik Utara akan segera tiba. Tapi secara garis besarnya, Rumah Sakit Hetalia telah membangun kerja sama dengan Sepkai Farmasi dan juga Universitas Tenggara untuk mengkaji dan membuat vaksin untuk menangani virus ini. Bersama dengan saya, seperti yang kalian lihat di belakang, tepatnya di barisan ada 4 orang mahasiswa terpilih dari Universitas Tenggara yang telah kami ajak kerja sama kali ini,” tutur Adam.
Universitas Tenggara merupakan universitas ternama di Iranjia, negara ini. Lokasi kampus yang berada di kedua wilayah distrik yakni Distrik Timur dan Distrik Selatan membuatnya dinamai Universitas Tenggara. Banyak orang di negara ini yang tahu bahwa lulusan dan mahasiswa di sana merupakan mahasiswa elite yang terkenal jenius.
Mendengar penuturan dari Ketua Sepkai Farmasi tadi, sontak semua perhatian tertuju pada barisan di belakang meja para petinggi tersebut. Mereka yang menjadi pusat sorotan pun hanya bisa tersenyum canggung.
Anggota kru rumah sakit yang berada di tempat konferensi pers saat ini ialah 10 orang. Meja pers diisi oleh empat orang petinggi rumah sakit termasuk Kepala Sepkai Farmasi sedangkan di belakangnya terdapat 2 mahasiswa koas dan 4 orang mahasiswa Universitas Tenggara.
Adam tampak menjelaskan panjang lebar mengenai program vaksinasi yang telah dirancang oleh Sepkai Farmasi dan Universitas Tenggara. Ia juga sesekali meminta para petinggi lainnya untuk menjelaskan sebagian teknis yang lain.
Pria itu menerangkan bahwa penelitian yang dilaksanakan di laboratorium Hetalia ini telah dimulai secara rahasia sejak bulan Mei lalu. Dan baru kali inilah, untuk pertama kalinya program pembuatan vaksin ini diumumkan kepada publik termasuk pihak pemerintah. Adam memohon kepada seluruh masyarakat Iranjia untuk mendukung program pengembangan vaksin kali ini.
Secara tidak langsung, pembicaraan mengenai vaksin ini telah menggiring topik para jurnalis yang semula ingin meliput kedatangan pasien dari Distrik Utara menjadi fokus ke rencana vaksinasi.
Bagaimanapun juga, program vital yang digagas oleh pihak swasta ini begitu menggegerkan para jurnalis dan publik. Mereka seakan tak percaya tatkala menyaksikan tayangan pers ini. Bahkan proyek vaksin ini ternyata sudah berjalan hampir 50%.
Sebenarnya mengapa mereka merahasiakan hal ini? Adam terlihat menarik nafas dalam-dalam, mata hitamnya menampilkan aura serius.
“Perlu diingat untuk kita semua, kita harus berusaha sendiri! Dunia saat ini sedang krisis dan masing-masing negara tengah dilanda kebingungan. Kita tidak boleh diam pasrah sambil mengharapkan bantuan dari negara lain karena mereka sama susahnya. Saya harap pemerintah akan segera sadar mengenai hal ini!”
Pria berambut klimis itu mengambil napas dalam, ia melanjutkan, “Jangan hanya menunggu negara lain, kita harus membuat sendiri vaksinnya! Sampai kapan kita akan dipandang sebelah mata sebagai negara berkembang? Tunjukkan kalau Iranjia juga negara hebat dengan penemuan vaksin ini! Jadi saya harap ini menjadi perhatian bersama!”
Penuturan Adam yang dijadikan penutup dari konferensi pers kali ini langsung membuat para jurnalis tersentak. Bagaimana tidak? Ia dengan terang-terangan menghina pemerintah secara tidak langsung.
Namun meskipun begitu, semua jurnalis di sini setuju akan penuturannya dan suara riuh tepukan tangan langsung menghujani pria paruh baya tersebut. Mereka bangga dengan sikap berani Kepala Sepkai Farmasi itu.
“Jadi karena ambulans akan tiba 1 menit lagi, saya harap rekan media di sini segera undur diri—“
“TUNGGU!”
Kalimat dari wakil direktur Rumah Sakit bernama Edgar tadi dipotong oleh salah satu reporter pria yang memakai kacamata bulat. Dokter berusia lanjut yang kini tengah memasuki usia 55 tahun itu langsung memandang ke arahnya.
Edgar merasa bahwa reporter itu benar-benar sudah kelewatan. Ambulans akan segera tiba, apabila masih banyak kerumunan di sini maka risiko penularan virus bisa saja meningkat. Dari gerbang utama Rumah Sakit, suara sirene mobil ambulans pertama sudah terdengar. Apakah Edgar harus memanggil pihak keamanan?
Pria tua itu pun membalas dengan tatapan tajam, “Apakah Anda tidak dengar suara sirene ambulans pertama? Harap untuk seluruh rekan media meninggalkan halaman utama karena bisa meningkatkan penularan virus! Acara pers selesai!”
“Apakah Anda sebagai pihak rumah sakit merasa tidak bersalah dengan kasus penemuan mayat yang tinggal tulang di tepi hutan?!”
Mata hitam Edgar membelalak kaget mendengar penuturan reporter pria tadi. “A-apa?”
“Bukankah itu semua terjadi karena pasien tak mampu membayar biaya rumah sakit lalu ia diusir?! Saya dengar petinggi Hetalia telah melakukan korupsi atas dana yang dianggarkan pemerintah!”
“K-kau ... omong kosong apa ini? Tidak ada bukti jelas!” sanggah Edgar.
Para reporter lain pun sontak mengurungkan niat mereka untuk beranjak pergi karena adanya adu argumen antara wakil direktur dengan reporter tadi. Mereka langsung menyorotkan kamera ke arah sang jurnalis yang menantang wakil direktur itu. Siapa dia sebenarnya?
Sementara dari sisi Liliana, wanita anggun itu tetap memasang wajah tenang. Namun dari sorot matanya, ia menatap sekeliling dengan pandangan selidik. Ambulans yang datang pun semakin banyak dan ia masih tidak bisa pergi dari sini karena atensi media yang ditayangkan live di TV ini sedang memuncak.
Reporter berkacamata bulat dengan badan kurus itu tatapannya semakin tajam, “Berita mengenai mayat yang baru ditemukan beberapa minggu lalu dalam keadaan membusuk itu adalah buktinya! Tak lama sebelum ia tewas, ia adalah pasien yang dirawat di sini!”
Para reporter lainnya terperangah kaget. Mereka baru mengetahui fakta tadi karena mayat tersebut tidak dapat diidentifikasi dan tidak ada keluarga yang melaporkan kehilangan ke kantor polisi. Apakah ini adalah fakta atau hanya tuduhan semata?
Liliana merasakan suasana semakin tak kondusif. Ia melirik ke tempat parkir ambulans yang semakin banyak diisi oleh mobil datang. Matanya pun beralih ke arah Dokter Deva yang tampak duduk tegang di sebelah kanannya. Ketika ia menepuk pundak dokter itu, pria tersebut tampak terenyak kaget sampai mengelus dadanya.
“Dokter, kerahkan mahasiswa koas untuk mengajak mahasiswa dari Universitas Tenggara kembali masuk ke dalam gedung. Kau bisa pergi setelah ini untuk memantau penanganan pasien yang sudah datang,” bisik Liliana yang langsung diberi anggukan sang dokter. Ia pun bergegas menyuruh anak koas untuk membawa masuk empat pemuda itu ke dalam gedung.
“Dika dan Maria, setelah kalian membawa mereka masuk, tolong segera bantu regu penanganan di tempat parkir ambulans!”
Titah dari Dokter Deva itu langsung dibalas anggukan oleh kedua orang yang dimaksud. Kini di aula utama hanya tersisa 2 petinggi Rumah Sakit Hetalia yakni Dokter Liliana dan Dokter Edgar, bersama Adam Hillary selaku Ketua Sepkai Farmasi.
Dokter Deva pun telah pergi buru-buru meninggalkan meja pers untuk memantau pasien rujukan yang datang. Cahaya dari lensa kamera terus menghujani ketiga orang petinggi yang masih duduk di tempat pers itu. Di lain sisi, sang reporter berkacamata bulat tadi pun tak kalah menjadi pusat perhatian.
Ada teka-teki di sini dan para wartawan berusaha menguak hal tersebut.
“Para rekan media harap tenang ya! Kita akan berusaha menjelaskan hal ini,” tutur Liliana dengan halus.
“KALIAN INI SEBENARNYA ADALAH IBLIS YANG SOK MENJADI PAHLAWAN! APAKAH KALIAN YAKIN KALIAN LEBIH BAIK DARI PEMERINTAH?!”
Liliana benar-benar kehilangan kesabaran dengan wartawan kurus di depannya tersebut. Ia ingat pria itu. Pria itu yang beberapa saat lalu mewawancarainya di pintu masuk utama tadi. Ia adalah orang yang berhasil mencuri sedikit perhatiannya.
Akan tetapi, tuduhan tanpa alasan ini maksudnya apa? Bahkan mayat yang menggegerkan media kemarin saja sudah tidak dapat diidentifikasi karena semuanya sudah membusuk meninggalkan tulang saja.
Dari mana tuduhan ini berasal? Siapa sebenarnya orang ini?
“Ini adalah tuduhan tanpa bukti. Ahli forensik saja menyatakan mayat ini anonim. Tidak ada laporan kehilangan keluarga dan ia tidak dapat diidentifikasi. Bagaimana mungkin Anda menuduhkan hal seperti ini pada pihak Hetalia?” tanya Liliana menahan kesabaran.
Dr. Edgar yang mendengar itu pun langsung mengiyakan. “Anda tidak boleh memecah belah situasi yang sudah kacau. Siapa Anda ini? Dengan tuduhan tanpa bukti dan disiarkan secara langsung seperti ini, Anda bisa dijebloskan ke kantor polisi!”
Adam sedari tadi hanya diam memperhatikan suasana. Ia tidak bisa berbicara banyak karena dirinya bukanlah bagian resmi dari Hetalia. Pria paruh baya tersebut hanya bisa menunjukkan wajah dukungan pada pihak rumah sakit.
Pria berkacamata bulat tadi merasa disudutkan oleh situasi saat ini. Tangan jurnalis itu terkepal erat dan mata hitamnya tak bisa untuk berhenti memandang tajam ke arah sekitar. Ia menarik nafas dalam-dalam sambil mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
“Saya membawa buktinya!”
Nafas semua orang yang berada di sini seolah tercekat melihat tumpukan dokumen di genggaman pria itu.
Ada pas foto berukuran kecil di sudut kanan dokumen yang menyatu dengan kertas-kertas lain. Para wartawan pun langsung berusaha menyorot pas foto yang diduga mayat tersebut. Siapa mayat itu sebenarnya? Sosoknya seperti seorang wanita.
“Bisa Anda jelaskan, apa itu?” tanya Liliana masih dengan ekspresi yang berusaha tenang di wajahnya.
Dengan jantung berdebar, reporter tadi pun menjelaskan benda apa yang ia pegang sekarang. “Ini adalah—“
“TIDAKKKKKK!!!”
Suara dentuman yang beriringan dengan teriakan tadi sontak membuat nafas semua orang seolah terhenti untuk ke sekian kalinya. Orang-orang di halaman utama Rumah Sakit Hetalia langsung menoleh ke arah gerbang utama. Apa yang terjadi?
Dengan panik, semua orang berlari ke arah gerbang termasuk para petinggi rumah sakit tadi. Mereka berlari meninggalkan pria reporter tersebut. Ia yang dilanda kebingungan pun akhirnya turut berlari melihat apa yang terjadi di gerbang utama.
Dan kini, di hadapan semua media dan kru rumah sakit, salah satu pasien rujukan dari Rumah Sakit Utara terkapar tak berdaya dengan darah yang bersimbah di jalan raya. Mereka semua memandang horor ke arah truk yang melindas wanita itu. Truk itu tampak ringsek di bagian depan menabrak pagar dinding rumah sakit. Sepertinya sang sopir mencoba untuk mengerem dan banting setir.
Mata Liliana melotot tak bisa berkedip dengan jantung yang terus berdegap kencang. “A-apa? Apa yang sebenarnya terjadi di sini?”
Kejadian ini tidak bisa dibiarkan menjadi tontonan publik. Degup jantung Liliana semakin berpacu ketika melihat banyak lampu kamera yang menyoroti mayat yang mengenaskan tersebut.
Hentikan, Liliana ingin sekali menghentikan cahaya lensa itu. Akan tetapi, lidahnya terlalu kelu. Suaranya seakan tercekat. Ia tak tahu harus berbicara seperti apa.
“Wanita itu terus saja berontak tidak mau dirawat di sini. Sepertinya virus Ex-0 yang menginvasinya sudah sedikit parah, ia lalu berlari keluar ketika kami berusaha mengejarnya,” sahut Dokter Deva yang masih syok dengan apa yang baru saja terjadi di hadapannya.
Satu per satu orang dari dalam gedung rumah sakit pun berhamburan keluar untuk melihat dari mana asal teriakan dan dentuman tadi.
“TIDAKKK!!! KAKAK, KUMOHON JANGAN TINGGALKAN AKU!!”
Teriakan histeris seorang anak kecil laki-laki berusia 9 tahun sontak membuat orang-orang menoleh ke arahnya. Apa anak itu merupakan pasien rujukan juga? Mungkinkah korban itu ialah saudaranya?
Beni, mahasiswa koas yang memegangi anak itu, tampak kewalahan dengan perilakunya. Anak itu terus berusaha menghampiri kakaknya yang terkapar di jalan bersama kubangan darah. Ia berteriak histeris dengan air mata yang terus mengalir.
Seolah baru sadar dengan situasi, Liliana pun meneguk ludahnya kasar. Ia berteriak, “Apa yang kalian lakukan?! Cepat bawa ke dalam dan cek keadaan orang tersebut! Lakukan penanganan pertama!”
“Dokter,” sahut salah seorang wartawan yang langsung mengalihkan perhatian Liliana.
Wartawan wanita itu terus menatap horor ke arah jalan dengan truk besar yang ringsek di depan mayat tersebut. Jari tangannya yang bergetar berusaha sekuat tenaga untuk menunjuk ke sana.
“A-apakah Anda tidak bisa lihat? D-dengan keadaan seperti itu, bagaimana mungkin dia selamat?”
Mata Liliana membulat penuh, ia tak bisa berpikir jernih sekarang. Sedangkan di sisi lain, kamera dari para jurnalis tetap menyorot apa yang telah terjadi saat ini.
“A-APA?! OMONG KOSONG APA ITU?!” Anak laki-laki tadi berteriak dengan histeris.
Ia tak bisa lagi diam di sini. Ia tidak terima kakaknya dikatakan tewas dalam keadaan seperti itu. Ini seperti dugaannya dari awal, pergi ke rumah sakit di Distrik Pusat malah bagaikan neraka baginya.
Anak bersurai coklat gelap itu pun segera berlari menuju ke tengah jalan ketika Beni kewalahan. Akan tetapi, tangannya langsung ditarik oleh dokter koas yang lain. Ia berusaha untuk memberontak lagi, namun hatinya seakan luluh ketika pria itu memeluknya dengan tulus.
Dengan pasrah, anak itu menangis sejadi-jadinya dalam pelukan dokter koas yang tak lain adalah Dika tersebut. Dika sendiri tak bisa berbuat banyak, ia hanya ingin menjinakkan anak beringas di pelukannya ini. Pandangan matanya yang tajam hanya bisa menatap datar ke sekitar. Di belakangnya, ada Alexa, Beni, Ais, dan Maria yang hanya bisa diam menatap.
“Kau pasti seumuran dengan kakakku kan?! Apa kau tidak lihat kakakku di sana? Lepaskan aku! Kumohon lepaskan aku!”
“Buka matamu baik-baik, Bocah! Apa kau tidak lihat? Kakakmu di sana terbaring tak berdaya. Untuk apa kau ke sana?” bantah Dika.
Jenazah itu akhirnya dibawa masuk ke rumah sakit melalui pintu belakang. Adik dari sang korban itu mencengkeram tubuh Dika dengan kuat. Matanya terpejam, kepalanya tenggelam dalam pelukan Dika ketika tubuh kakaknya dibawa masuk. Ia tidak sanggup melihat semua ini. Anak itu terlalu takut.
Kenapa ia yang masih kecil harus merasakan neraka ini? Sebenarnya apa yang salah dengan dunia?
***
Berbeda dengan kondisi halaman rumah sakit yang kacau, lantai dua dari Rumah Sakit Hetalia justru begitu tenang. Rumah sakit ini terdiri dari 7 lantai. Di lantai dua ini, terdapat salah satu kantin dimana sebagian besar orang tengah sibuk menyantap hidangan. Jadi, tentu saja mereka semua yang berada di lantai ini tidak menyadari apa yang telah terjadi di bawah sana.
Akan tetapi, kondisi ini adalah pengecualian bagi salah seorang laki-laki bersurai coklat yang mengenakan jas almamater biru tua. Dirinya adalah Rafael Zohan, salah satu mahasiswa dari Universitas Tenggara.
Rafael dan ketiga temannya kini tengah duduk santai sembari menyesap kopi di kafetaria rumah sakit. Mereka adalah mahasiswa dari Universitas Tenggara yang ditunjuk oleh pihak kampus untuk program pembuatan vaksin Ex-0, si virus penyebab depresi yang menyebabkan dunia dilanda oleh bunuh diri masal.
Sebuah tepukan di pundak pemuda itu membuatnya tersadar dari lamunan. Entah kenapa, sejak tadi mahasiswa yang kerap disapa Rafa ini terus menatap ke arah orang di bawah sana. Pikirannya melalang buana. Ia tetap fokus pada objek yang diamatinya.
“Hei Rafa, apa yang sebenarnya kau lihat sejak tadi?” tanya orang yang menepuk pundak Rafa tersebut. Ia adalah Rino Falderon. Wajahnya mengindikasikan ekspresi heran.
“Apa itu? Terjadi kecelakaan?” sahut mahasiswa lain dengan name tag Ardius Leon ketika ikut melihat ke arah pandang Rafa.
Di samping Rafa, salah seorang mahasiswa lain dengan name tag Hendra Joseph hanya sibuk bermain game di ponselnya. Ia tampak tidak tertarik dengan apa yang dilihat oleh ketiga temannya yang lain.
“Alah, paling juga kecelakaan biasa. Kalian ini seperti orang yang tidak pernah melihat kecelakaan saja. Hal seperti itu tidak baik dilihat tahu,” komentar laki-laki yang kerap disapa Hendra ini.
Rino dan Ardi sontak bertemu pandang. Mereka tersenyum bodoh ketika mendengar komentar pedas dari Hendra. Memang benar apa yang dikatakan teman gila game di depannya ini, buat apa juga kecelakaan ditonton? Andaikan mereka berempat turun untuk membantu pun sepertinya juga tidak perlu karena di sana sudah ada banyak orang.
Mata Hendra pun secara tak sengaja melirik ke arah Rafa yang duduk di sampingnya. Anak itu masih melihat ke arah jendela sambil memangku wajah. Ia tak habis pikir, kenapa orang ini tak lelah melihat ke arah kerumunan di bawah sana?
Dengan kesal, Hendra meletakkan ponselnya lalu memukul bahu Rafa. “Apa yang sebenarnya kau perhatikan seserius itu? Kecelakaan tidak baik jadi bahan tontonan!”
Mendengar ucapan Hendra, mahasiswa bernama Rafael Zohan tadi pun mengalihkan pandangan ke arah kopi hitam yang ada di meja depannya. Mata hijau laki-laki itu entah kenapa terlihat menerawang jauh.
“Entahlah.” Ia berujar dengan nada menggantung.
Laki-laki berambut coklat ini lalu menyesap kopi yang masih mengeluarkan uap panas itu sedikit demi sedikit. Ia memandang kopi hitam itu dengan tatapan kosong yang terlihat begitu serius. Tak butuh waktu lama, Rafa akhirnya bertemu pandang dengan tiga temannya tersebut.
“Virus gila ini sungguh mengerikan.”