Dunia dinyatakan krisis karena sebuah pandemi. Sebuah virus bernama Exitium-Zero atau kerap disapa Ex-0 menyerang peradaban manusia. Virus ini menyebabkan otak memproduksi hormon kortisol secara berlebih sehingga pengidapnya mengalami depresi.
Orang yang mengidap virus ini memiliki gejala stres dan mood turun dalam kurun waktu 1-5 hari. Gejala berlanjut dengan kesusahan bernafas, mual, dan detak jantung tak beraturan. Gejala berkelanjutan ini oleh pihak medis disebut mirip dengan penyakit anxiety tingkat kronis.
Pada tahap akhirnya, apabila pasien masih mampu bertahan maka gejala depresinya sangat parah dan berhalusinasi sampai membuat seseorang terpuruk lalu bunuh diri.
Selain itu, Ex-0 ini bisa menimbulkan komplikasi karena faktor stres yang berlebih. Masih tidak diketahui dari mana zat patogen pembawa virus ini berasal. Organisasi kesehatan dunia menetapkan status virus ini berbahaya karena dapat mematikan, namun bisa disembuhkan dengan terapi dan obat-obatan.
Jumlah pasien Ex-0 per 12 Oktober di seluruh dunia adalah 11.000.107 jiwa dengan 50% dinyatakan meninggal dunia.
“Hei, Kau.”
Saat itu, langkah tegap seorang pemuda koas berjas dokter langsung terhenti. Dinding koridor rumah sakit yang berlapis kaca menampilkan suasana kota dengan langit malam yang dipenuhi bintang. Pemuda yang merasa dipanggil tadi langsung menoleh ke belakang. Ia bisa melihat empat orang pemuda mengenakan jas almamater biru.
Dokter koas bernama Dika tersebut mengernyitkan alis heran. Ya, dia ingat mereka. Mereka adalah mahasiswa dari Universitas Tenggara yang dikawalnya tadi bersama Maria. Tapi, kenapa mereka memanggilnya? Dia tidak punya urusan lagi dengan mereka berempat.
Salah seorang di antara empat pemuda itu melangkah maju mendekatinya. Pemuda bersurai hitam yang memiliki badan paling tinggi di antara keempat mahasiswa itu menatap Dika dengan serius. Ia adalah Ardius Leon.
“Dimana letak ruang auditorium?” tanyanya.
Dika hanya menatap datar ke arah mahasiswa tinggi di depannya. “Kau ini tak punya otak atau bagaimana? Gunakan otakmu! Lihat denah di koridor utama dan temukan ruangan itu sendiri!”
Ardius Leon yang kerap disapa Ardi ini langsung menyipitkan mata tak suka ketika mendengar jawaban Dika yang kasar. Pemuda yang memakai gaya busana bermerek terkenal ini sontak menggertakkan gigi sembari mendesis kesal.
Hendra, teman Ardi yang juga merupakan mahasiswa dari Universitas Tenggara langsung saja melangkah ke depan dan berdiri di sampingnya. Ia tahu siapa Ardi. Dia adalah anak fakultas kedokteran yang dicap paling berandal seuniversitas. Bisa bahaya kalau anak pemilik bos rokok terbesar di negara ini mengamuk dan meninju dokter koas di depan mereka tersebut.
Hendra pun menepuk-nepuk pundak Ardi. “Hei, tenanglah. Tahan emosi!”
Dua orang mahasiswa lain yang hanya berdiri di belakang Ardi dan Hendra tampak saling bertukar pandang. Keduanya pun melangkah maju mendekati Ardi yang seperti ingin meninju si dokter koas itu.
Mahasiswa paling pendek dengan mata berkantung hitam tampak tersenyum remeh ke arah Dika dibalik maskernya. Ia adalah Rino Falderon.
Yang ditatap pun merasa tak terima. “Apa maksud tatapan remehmu itu? Apakah ini perilaku yang harus ditunjukkan oleh mahasiswa dari universitas yang katanya paling elite dan wow itu?”
Rino hanya bisa mengendikan bahu tatkala mendengar hinaan dari dokter koas itu. Tatapan matanya masih begitu meremehkan. Sementara itu, mahasiswa lain yakni Rafael Zohan hanya diam memperhatikan perilaku temannya.
“Dan apakah ini adalah sikap yang harus ditunjukkan seorang calon dokter? Kau pikir siapa dirimu? Mentang-mentang tenaga medis begitu, bukan berarti sekarang kau jadi bisa bersikap angkuh padahal kami hanya bertanya.”
Dika Anderald, sang dokter koas hanya bisa menukikkan alis tak suka. Rino yang masih tersenyum remeh tampak berjalan mendekati Dika.
“Tidak ada api tanpa asap, Bung. Kaulah yang telah mencari gara-gara. Aku bisa saja melaporkanmu ke dosen pembimbi—“
“Hei, Kalian! Kenapa justru ribut di sana? Rapat mengenai vaksin akan dimulai 20 menit lagi!”
Suara seorang wanita yang menggelegar di koridor belakang rumah sakit ini langsung menarik perhatian Dika dan empat mahasiswa yang tengah berselisih tadi. Mereka bisa melihat gadis bersurai sebahu yang menatap garang ke arah kelimanya.
Gadis itu adalah Maria, dokter koas yang juga mengawal para mahasiswa Tenggara itu tadi. Di belakang Maria sendiri juga terlihat Alexa, Ais, dan Beni yang tengah menuju ke arah lima orang tersebut.
Alexa terdengar menghela nafas di balik maskernya. “Kalian ini apa-apaan? Seperti anak kecil saja. Ingatlah situasi saat ini, kita mendapat masalah besar.”
Maria, dokter koas yang hobi memakai lensa mata biru itu menatap ke arah 4 mahasiswa tadi, “Kalian mencari letak auditorium bukan? Kami juga akan ke sana. Ayo ikuti aku!”
Tanpa mengucap apa pun, Rino, Ardi, dan Hendra sontak mengikuti gerombolan dokter koas yang sudah berjalan terlebih dahulu di depan mereka. Ketika melewati Dika, Ardi tampak tak segan untuk membuka sedikit maskernya. Ia menjulurkan lidah pada anak koas itu sebagai tanda ejekan. Dika yang dicap ketus itu pun hanya bisa menahan emosi ketika melihatnya.
“Maafkan mereka, ketiganya memang seperti itu.”
Interupsi dari seorang mahasiswa yang masih berdiri di belakang Dika langsung membuat atensinya berpindah ke mahasiswa bersurai coklat terang tersebut. Benar juga, anak ini sejak tadi hanya diam saat tiga mahasiswa lain cari ribut dengannya. Dika pun langsung bersikap tak peduli ketika mahasiswa dengan mata hijau ini berjalan mendekatinya.
“Tapi, bukan berarti aku bilang bahwa kami mengaku salah. Denah di depan koridor telah dipindahkan entah ke mana. Jadi kami pun bertanya,” Rafa, si mahasiswa bersurai coklat ini melirik Dika dengan tatapan tajamnya. “Oh iya, bukan seperti itu harusnya sikap dokter ketika dimintai tolong. Kau sepertinya juga tak suka dengan kami sejak tadi.”
Dika yang mendengar itu langsung menatap dingin ke arah Rafa. Ia sibuk dan tidak ada waktu untuk mengurusi keempat orang ini berkeliaran di rumah sakit. Baginya empat orang pemuda ini hanyalah mahasiswa yang tengah main-main. Mereka tidak tahu apa yang tengah mereka hadapi di Rumah Sakit Hetalia. Entah kenapa dirinya berpikir bahwa memanggil mereka justru menambah beban.
Memangnya apa yang bisa diharapkan dari seseorang yang berstatus mahasiswa? Kenapa tidak profesor dan dosennya saja yang diajak kerja sama membuat vaksin?
“Cih, dikira ini tempat bermain apa? Anak-anak elite seperti kalian tidak harus ada di sini. Kalian bahkan tidak tahu apa-apa soal virus ini. Pergi pulang jalan-jalan ke mal atau kafe sana! Mengganggu saja!”
Rafa masih tak bergeming dengan ucapan Dika tersebut. “Meskipun kau mengatakan apa pun untuk menghina kami, proses pembuatan vaksin ini nyatanya sudah dijalankan sejak Mei kemarin dan progresnya telah mencapai 50%. Tak seharusnya kau menghina kami sekarang.”
Pemuda berdarah campuran Eropa itu berlalu dari hadapan Dika dan menuju ke arah tiga temannya. Mereka bertiga terlihat tengah menunggu mahasiswa pendiam tersebut. Di lain sisi, Dika sendiri yang mendengar ucapan Rafa hanya bisa berdecap kesal untuk menahan emosinya.
“Dia itu ... apa-apaan?” ujar Rino, pemuda paling pendek sekaligus termuda di antara keempatnya. Ia hanya bisa menatap prihatin ke arah Rafa yang telah berjalan di sampingnya.
Ardi menggeram dari balik maskernya. Tatapan matanya mendelik ke arah Dika yang semakin hilang di ujung lorong rumah sakit. Sepertinya ia mau pergi ke ruangan lain. Menurutnya, orang itu keterlaluan. Ia menyesal telah bertanya tadi. Dia pikir mereka di sini tanpa alasan apa?
“Apa dia pikir kita mau ada di sini? Kalau disuruh memilih, aku pasti memilih berdiam diri di kamarku, bermain game, dan ikut turnamen di server Eropa bulan ini,” sahut Hendra.
Rafa yang mendengar perdebatan mereka sedari tadi langsung menghela nafas lelah. “Sudahlah, mungkin dia frustrasi karena telah menangani banyak pasien di masa koasnya. Bukannya banyak mahasiswa kedokteran yang berpikir masa koas adalah masa indah meskipun melelahkan? Kenyataan yang terjadi saat ini mungkin membuatnya terpukul.”
Ardi menoleh ke arah Rafa dengan muka jengah. “Yah, mungkin apa yang diucapkan Rafa benar. Aku bersyukur belum lulus tahun ini, siapa yang mau koas di saat seperti ini? Untung saja dia masih hidup dan tidak terinfeksi. Apa orang sialan itu tidak bersyukur ya?”
Sepertinya mahasiswa satu ini masih jengkel dengan kejadian tadi. Rino yang ingin menyahut ucapan Ardi langsung mengurungkan niat ketika terdengar dering ponsel berbunyi. Sepertinya ada pesan masuk di HP mereka.
Hendra sendiri langsung membaca pesan di ponselnya. Benar, ada pesan masuk di grup chat. Semua orang tampak langsung memandang ke arah pemuda bercelana coklat dengan kaos strip hitam putih itu. Tatapan mereka seperti menuntutnya untuk membacakan pesan karena ketiganya terlalu malas mengambil ponsel di saku masing-masing.
“Ini dari Pak Adam tadi. Kita disuruh bersiap di ruang auditorium rumah sakit untuk memulai pertemuan.” Rafa, Ardi, dan Rino langsung saling pandang.
Ardi melirik ke arah jam tangan Greubel Forsey miliknya yang menunjukkan pukul 7 malam. “Yah, ayo kita pergi. Kita bisa tersesat nanti jika tidak bergegas menyusul para dokter koas tadi,” ujarnya.
Rafa mengangguk setuju. Pemuda bersurai coklat tersebut menorehkan seutas senyum. “Lupakan orang tidak jelas tadi, demi 100 juta kita harus segera selesaikan ini.”
Hendra, Rino, dan Ardi pun sontak menyeringai lebar. Ketiganya lalu tertawa bersama dibalik maskernya dan menuju ruang auditorium. Rafa yang melihat itu hanya bisa tersenyum simpul dengan ekspresi tak habis pikir. Ya, mereka di sini bukan tanpa sebab. Ada uang 100 juta yang menanti mereka masing-masing apabila pembuatan vaksin ini sukses.
Sebenarnya keempat mahasiswa ini masih tidak begitu paham, nama mereka tiba-tiba dipanggil oleh rektor hari itu. Tepatnya, tujuh bulan yang lalu sebelum mereka berada di sini.
“Aku memanggil kalian ke sini karena ada hal penting yang akan kutunjukkan.”
Ada empat orang pemuda tidak saling kenal yang berbagi pandang. Mereka tidak paham alasan kenapa keempatnya dipanggil. Apakah mereka membuat masalah? Tapi, kenapa di hadapan mereka disuguhkan koper dengan isi uang ratusan juta? Meminta penjelasan dari rektor berambut putih di depan mereka ini pun sama sekali tak membantu. Ia hanya terus memasang senyum sejak tadi.
“Hendra Joseph, status mahasiswa semester akhir dari jurusan farmasi. Merupakan ketua grup e-sport dan memenangkan banyak turnamen game level internasional. Sebuah keajaiban nilaimu tinggi meskipun kau di kelas sering didapati tidur dan absen, Nak.”
Seorang pemuda dengan raut muka bosan yang mengenakan kaos oblong putih itu hanya bisa tersenyum canggung. Kantung matanya yang berwarna hitam tak bisa menutupi dalihnya untuk mengelak dari fakta yang diutarakan sang rektor.
“Ardius Leon, status mahasiswa semester akhir dari jurusan kedokteran. Kau putra dari pemilik industri rokok terkenal itu ‘kan? Reputasimu yang dicap sebagai ketua berandalan di universitas ini membuat banyak orang ketakutan dan segan denganmu. Tapi, anehnya lagi nilaimu selalu jadi yang tertinggi.”
Seorang pemuda dengan perban di sebelah pipinya tampak mendecih pelan. Sebenarnya, bukan pertama kali ia dipanggil oleh rektor. Tadinya pemuda dengan baju supreme itu berpikir akan dikeluarkan atau bagaimana mengingat baru kemarin ia dipanggil ke ruangan ini dan mendapat surat peringatan.
Mau dijelaskan berapa kali pun, orang tua di depannya ini tak mengerti bahwa setiap aksi anarkis yang dia lakukan itu pasti ada sebabnya dan semuanya pasti untuk kebaikan.
“Rino Falderon, status mahasiswa semester akhir dari jurusan psikologi. Merupakan siswa akselerasi sehingga umurmu 2 tahun lebih muda dari yang lainnya. Kau memiliki akses ke beberapa bintang figur di negara ini dan sering menyebarkan informasi-informasi penting. Ini merupakan kasus yang tak bisa kutangani, mau dilogika bagaimana pun seharusnya kau sudah dikeluarkan. Tapi ya... apa boleh buat?”
“Itu bukan salahku ya?” ujar pemuda dengan hoodie abu-abu. Rambutnya yang acak-acakan dan mata abu-abunya yang sayu menunjukkan dengan jelas bahwa pemuda ini baru saja bangun tidur.
“Aku ingin mengeluarkanmu sebenarnya, tapi aku sadar kau adalah bibit unggul di jurusan psikologi karena nilaimu yang tinggi. Kau bisa mencoba peluang di bidang pemasaran saat bekerja nanti mengingat mulutmu sangat licin.”
Sindiran sang rektor langsung dihadiahi tatapan tak suka dari pemuda itu.
“Dan yang terakhir ada Rafael Zohan, status mahasiswa semester akhir dari jurusan mikrobiologi. Dari kalian berempat, Rafael ini adalah mahasiswa yang paling normal. Dia menyabet juara karya tulis ilmiah pada banyak ajang bergengsi di dalam dan luar negeri. Kau adalah blasteran Eropa, bukan? Senang ada mahasiswa berprestasi yang benar-benar tidak bermasalah seperti mereka bertiga.”
Seorang pemuda bersurai coklat dan bermata hijau langsung mengangguk dengan senyum kecil di wajahnya. Ia menghargai pujian dari sang rektor dan merasa terhormat mendengarnya langsung. Ardi, Hendra, serta Rino langsung kaget melihat pemuda yang berada di paling ujung kanan tersebut. Ada ya manusia murni berkilau seperti dia?
“Langsung pada intinya saja.” Rektor berusia setengah abad dengan tubuh sedikit gemuk tadi langsung memandang keempatnya serius.
“Kalian sudah mengenalku dengan baik karena kita sudah sering bertemu. Ada yang bertemu karena prestasi dan ada juga yang bertemu karena suka membuat onar. Aku memilih kalian untuk ke sini karena prestasi akademik kalian yang gemilang dan kita sudah saling mengenal dekat.”
Hendra mengerutkan kening. “Jadi? Kita dipilih untuk apa?”
“Sebulan ini lakukan persiapan dan penelitian mendalam terkait virus yang akhir-akhir ini menghantui kita, Exitium Zero. Aku memilih kalian karena ingin mengombinasikan jurusan kedokteran, farmasi, psikologi, dan mikrobiologi untuk menciptakan vaksin.”
“HAH?! VAKSIN?” Keempatnya memandang sang rektor kaget.
“Universitas Tenggara yang dikenal sebagai universitas terunggul di negara ini diajak kerja sama oleh Sepkai Farmasi dan Rumah Sakit Hetalia untuk mengadakan pembuatan vaksin. Ada beberapa alasan yang tidak bisa kujelaskan. Tapi, intinya seperti itu. Infonya akan datang menyusul nanti. Minggu depan kalian harus pindah ke distrik pusat. Di sana kalian harus bekerja sama melakukan penelitian. Aku akan membebaskan kalian dari segala kelas & sidang skripsi untuk kelancaran proyek ini.”
Ardi menggebrak meja dengan keras. Dari balik maskernya, ia mendesis tak terima.
“Oi oi oi, apakah ini tak terburu-buru? Kami bahkan tidak mengerti apa-apa! Apa untungnya bagi kami melakukan ini semua?! Dimana para profesor dan dosen sehingga kami yang mahasiswa harus turun tangan hah?!”
Sang rektor mengelus-elus dadanya karena kaget. Ardi si berandalan universitas ini memang selalu anarkis. Ia lalu memangkukan wajahnya di tangan kiri dengan senyum lebar di balik maskernya. Anak-anak di depannya ini sungguh menarik.
“Ini merupakan permintaan langsung dari pihak Sepkai dan Hetalia. Mereka meminta nama kalian, lebih tepatnya peringkat teratas dari jurusan psikologi, kedokteran, farmasi, dan mikrobiologi. Bukan profesor dan dosen. Bagiku tak masalah karena aku tahu kualitas dari kalian. Ngomong-ngomong soal keuntungan, apa kalian tidak lihat uang di meja ini?”
Rino tergagap mendengar hal itu. Matanya tampak berkilat penuh cahaya. “M-mungkinkah uang ini untuk kita?”
“Ya, tentu saja. Aku sudah tahu kalian akan menolak jadi aku perlihatkan ini. Ini adalah uang sejumlah empat ratus juta. Masing-masing dari kalian akan mendapatkan seratus juta jika proyek ini berhasil. Tolong pikirkan dengan baik, ini adalah misi kemanusiaan. Apabila kita berhasil, kita bisa menolong banyak saudara kita. Bukan hanya di Iranjia saja, tapi juga luar negeri dan bahkan seluruh dunia. Dengan vaksin ini, kita akan membuktikan bahwa Iranjia bukan hanya negara besar yang tengah berkembang dan bisa diremehkan oleh siapa saja. Kita adalah macan yang siap maju!”
Keempat mahasiswa yang sebelumnya tak saling mengenal itu hanya bisa saling bertukar pandang. Mata mereka bergerak ke kanan dan ke kiri, memikirkan jawaban terbaik dari masalah ini.
“Jadi, apakah kalian siap mengerjakan tugas ini?”
Mario Regardus, sang rektor dari Universitas Tenggara menatap empat pemuda itu dengan pandangan serius. Senyumnya tiba-tiba merekah ketika melihat perubahan ekspresi di wajah mereka.
“Kami siap!”
Sejak saat itu, perjuangan empat sekawan yang terdiri dari Rafa, Ardi, Hendra, dan Rino dimulai. Mereka berusaha sekuat tenaga mengembangkan vaksin ini bersama jajaran profesor hebat lain.
Di saat perjuangan keempatnya sudah sampai setengah jalan, mereka tak akan tinggal diam. Masa bodoh dengan sikap tak suka dokter koas tadi ataupun yang lainnya. Ini adalah proyek mereka. Mahakarya mereka. Tak akan ada seorang pun yang bisa menghentikan pembuatan vaksin ini.
Di saat Rafa berjalan menuju ruang auditorium bersama timnya dan beberapa dokter koas, mata hijau pemuda itu tak sengaja bertemu pandang dengan netra hitam milik Alexa.
Alexa yang statusnya di rumah sakit ini sebagai dokter koas itu hanya balas memandang ke arah Rafa. Alisnya mengernyit heran. Ia ingat pemuda aneh dengan mata hijau ini. Pikiran gadis ini pun sontak melalang buana.
'Dia yang memandangiku dari halaman konferensi pers tadi sore bukan?'