Chapter 4 - Koalisi

3230 Kata
Auditorium Rumah Sakit Hetalia ini begitu besar. Kursi-kursi yang berjejer rapi cukup untuk menampung seratus orang ketika rapat diadakan. Ruangan yang berada di lantai dua ini berwarna serba putih. Pada bagian kanan, dindingnya berupa kaca sehingga gedung-gedung pencakar langit terlihat jelas dari sini. Di depan ruangan sendiri ada meja yang terdiri dari 8 kursi yang biasanya diisi oleh para petinggi rumah sakit ketika rapat. Di belakangnya, tepatnya pada bagian atas dinding, terdapat pula layar proyektor besar. Rapat di auditorium kali ini hanya diisi oleh segelintir orang saja, alhasil banyak tempat duduk yang masih kosong. Terlihat di meja para petinggi sudah duduk dr. Liliana, dr. Deva, dr. Edgar, serta Tuan Adam Hillary. Keempatnya merupakan petinggi rumah sakit yang mengisi acara konferensi pers di halaman sore tadi. Di samping Adam, ada seorang wanita memakai alat perlindungan diri (APD) lengkap bernama Intanius Stefani. Ia adalah ketua apoteker di rumah sakit ini. Wajahnya tidak terlalu jelas karena terhalang oleh helm pelindung medis yang ia kenakan, sepertinya wanita itu dipanggil ketika jam kerja. Ada 20 orang dari pihak Sepkai Farmasi yang hadir, mereka mengenakan seragam karyawan berwarna hijau. Sepuluh dokter ahli Rumah Sakit Hetalia juga tampak duduk di barisan depan. Puluhan profesor dari seluruh distrik Iranjia yang terlibat dalam proses pembuatan vaksin pun turut menghadiri rapat resmi ini. Sisa anggota rapat yang lain merupakan empat mahasiswa dari Universitas Tenggara dan lima mahasiswa koas yang sudah bekerja di rumah sakit ini sejak 10 bulan yang lalu. Dengan demikian, total ada 54 orang yang hadir dalam rapat yang sudah berlangsung semenjak 4 jam yang lalu ini. Seorang gadis berambut hitam sebahu melirik jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 11 malam. Matanya menatap jengah ke sekitar. Kapan rapat ini akan selesai? “Ada apa, Maria?” bisik gadis dengan rambut hitam panjang yang diikat. Ia adalah Alexa Liezel. Maria yang ditanya pun hanya bisa menghela nafas. Gadis itu balas berbisik ke arah Alexa yang duduk di sampingnya. “Kapan rapat ini akan selesai? Aku sudah tidak kuat. Padahal besok aku dapat jadwal jaga pagi.” Alexa yang ditanyai seperti itu hanya bisa tersenyum kaku. Ia sendiri belum tahu kapan rapat ini akan selesai. Pada awalnya, dia dan mahasiswa koas lain memang paham bahwa rumah sakit ini tengah mengembangkan vaksin. Namun, anak koas seperti mereka tidak pernah terlibat dalam urusan tersebut. Biasanya bila ada rapat seperti ini, mereka hanya membantu mempersiapkan materi dan presentasi. Namun, kali ini berbeda. Atas usulan Dokter Deva, mereka berlima akan terlibat dalam pengujian praklinis vaksin dan membantu memperkenalkannya pada masyarakat. Entah apa gagasan dasarnya, tapi sepertinya mulai hari ini dan seterusnya para mahasiswa koas harus siap terlibat dengan vaksin ini. Mata Alexa mengarah ke depan. Tampak dr. Deva masih menjelaskan banyak hal terkait proses pembuatan vaksin lanjutan, pengamanan rumah sakit, cara menghadapi media, bagaimana menyikapi pemerintah, dan masih banyak lagi. Jujur, awalnya ia mengira rapat kali ini hanya berisi penjelasan singkat tentang pembuatan vaksinnya saja. Namun nyatanya, ada banyak hal yang dibahas di sini, mulai dari isu terkini sampai isu politik yang melibatkan rumah sakit pun dibahas. Apa ini ada hubungannya dengan reporter tadi? Atau justru karena insiden kecelakaan? Alexa tak tahu, yang pasti media dan pemerintah pasti saat ini tengah membicarakan rumah sakit ini tanpa henti. Mengingat apa yang terjadi sore tadi, Alexa jadi terpikirkan dengan anak kecil yang menangis dalam pelukan Dika. Bagaimana kondisinya sekarang? Gadis berusia 22 tahun itu pun tak sengaja menatap ke arah empat orang mahasiswa dari Universitas Tenggara yang duduk tak jauh darinya. Sepertinya mereka sangat memperhatikan dengan detail setiap hal yang dibahas. Mahasiswa dari kampus elit memang beda ya? Ia dan keempat teman koasnya yang berasal dari Universitas Distrik Pusat sebenarnya tidak betah jika harus duduk diam dan memperhatikan materi berat selama 4 jam penuh. Tapi, ajaibnya keempat mahasiswa tadi kuat. “Apa mereka itu masih manusia yang makan nasi sama dengan kita?” celetuk Alexa sambil memperhatikan empat orang tadi. Ais, teman koas Alexa, yang mendengar itu sontak menoleh ke arah gadis berkucir panjang tersebut. Ia mengikuti arah pandang Alexa. Tak perlu waktu lama, gadis penggila nilai ini pun menatap Alexa dengan senyum anehnya. “Entahlah. Nasinya mungkin berbeda warna atau jika tidak, pasti mereka terlampau jenius sehingga membuat nasi dengan kandungan dopamin di dalamnya.” Alexa dan Maria yang mendengar penuturan Ais itu langsung ikut tersenyum aneh ke arahnya. Kedua gadis itu tampak menahan tawa begitu dalam. Anak-anak elite memang beda ya ternyata? Dokter Deva memperhatikan seluruh audiensi di ruang auditorium ini. Mata hitam pria itu lalu melirik ke arah jam tangan di lengan kirinya yang menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Oh tidak, apakah dia terlalu banyak membicarakan berbagai hal hari ini? Ini sudah sangat malam tanpa dia sadari. Sosok dokter berusia 38 tahun itu pun mematikan layar proyektor dan kembali duduk di kursinya. “Saya mohon maaf, tanpa saya sadari ternyata sudah hampir tengah malam. Ada banyak hal yang ingin kami sampaikan sebagai pihak dari rumah sakit sehingga tanpa sadar empat jam telah berlalu. Sebenarnya masih banyak hal lain yang perlu dibahas, tapi mengingat ini pertemuan pertama kita dalam progres menuju 60% jadi sepertinya ini sudah terlampau lama,” ujar dr. Deva dengan pandangan tak enak ke arah peserta rapat. “Jadi, secara tidak langsung pertemuan yang akan datang bisa lebih malam lagi ya selesainya?” celetuk ketua tim mahasiswa koas. Ia adalah Beni Herinson. Dika yang mendengar ucapan itu hanya melirik sekilas ke arah sahabatnya. Dokter bersurai hitam gelap tadi pun tampak menorehkan senyum. Sebagai salah satu dokter spesialis penyakit dalam dan vaksinolog di sini, Deva berperan penting dalam proses pembuatan vaksin ini sejak tujuh bulan yang lalu. “Jadi, apakah ada hal yang sekiranya ingin ditanyakan sebelum rapat kali ini diakhiri?” tanya pria tersebut. Tak ada sahutan dari para peserta rapat. Semuanya tampak menimang-nimang sesuatu dalam ekspresi wajah yang mereka tunjukkan. Suasana hening sampai acuan tangan dari sosok Rafael Zohan membuat seluruh perhatian orang di ruangan ini terpusat padanya. “Ya, silakan Rafa. Apa yang ingin kau tanyakan?” Pemuda yang memakai blazer almamater berwarna biru itu terlihat memperhatikan sekitar sebelum mengucapkan sepatah kata. “Dokter Deva, sejak tadi Anda terus menjelaskan banyak hal, bahkan sampai hal tak penting juga dijelaskan.” Alis pria itu mengernyit. Deva tak paham. Hal tak penting mana yang sekiranya ia ucapkan tadi? Melihat ekspresi kebingungan yang ditunjukkan oleh salah satu orang penting di proyek ini pun membuat Rafa harus memperjelas lagi apa maksudnya. Pemuda bersurai coklat itu pun tetap bersikap tenang. “Maksud saya, kenapa Anda harus menjelaskan panjang lebar terkait cara pengamanan rumah sakit sampai prosedur untuk menghadapi pemerintah dan media? Kita semua tahu bahwa proyek vaksin ini dilaksanakan di laboratorium bawah tanah milik Universitas Tenggara, lantas kenapa hal itu perlu dilakukan?” Pria bersurai hitam tersebut tampaknya mulai paham dengan hal apa yang ingin ditanyakan oleh Rafa. Ia mengenal anak itu cukup dekat dalam waktu beberapa bulan terakhir. Rafael Zohan ialah sosok pemuda cemerlang yang senantiasa bersikap tenang di mana pun. Bukan hanya pandai dalam bidang intelektual, anak ini juga memiliki kemampuan luar biasa dalam hal pengelolaan emosinya. “Ah, mungkin hal tadi sedikit membuatmu merasa bingung. Tapi, perlu kamu ketahui bahwa insiden reporter tadi telah mengacaukan segala rencana yang kita buat. Harapannya memang hari ini jadwal kita untuk mempublikasikan penemuan vaksin ini, tapi siapa sangka jika Hetalia akan terjerat skandal? Belum lagi insiden kecelakaan tadi semakin memperparah semua hal.” Liliana yang mendengar penuturan dari Deva terlihat menganggukkan kepala setuju. Kasus mengenai reporter tadi masih terus akan diselidiki oleh pihak Hetalia, tapi tetap saja fakta tersebut membuat seluruh rencana yang telah disusun hancur total. Wanita anggun itu berucap, “Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada para profesor dan lainnya yang telah berupaya sekuat tenaga selama proses pembuatan vaksin ini dari awal sampai sekarang. Kami dari pihak Hetalia tak pernah menyangka jika akan mengalami skandal seperti ini.” Para profesor dan kru dari Sepkai Farmasi yang selama ini berjibaku dalam proses pembuatan vaksin tersebut hanya bisa memandang sendu ke arah Liliana. Tak ada yang menyangka bahwa jadwal publikasi ke publik hari ini akan hancur total seperti sekarang. Rafa terlihat mempertimbangkan sesuatu di wajahnya. Ia diam sejenak sebelum berucap, ”Apakah mungkin proyek ini dibatalkan?” Baik Hendra, Rino, maupun Ardi yang mendengar pertanyaan dari temannya tersebut hanya bisa memandang tak percaya ke arah Rafa. Rino, mahasiswa paling muda di antara mereka berempat, langsung menyikut pinggang Rafa yang duduk di sampingnya. “Oi, pertanyaanmu itu retoris sekali. Kau kira progres dari vaksin ini baru 1%? Kita sudah sampai setengah jalan jadi tak mungkin jika proyek ini— “Proyek ini bisa jadi dibatalkan.” Dokter Edgar, Wakil Direktur dari Rumah Sakit Hetalia yang berusia lanjut itu langsung menjawab pertanyaan Rafa. Mata Rino berkedip tak percaya. “Apa?” Pria tua dengan dahi lebar itu terlihat menghela nafas. “Itu hanya skenario terburuk saja. Proyek ini tak mungkin dibatalkan dengan sembrono. Pihak Hetalia akan terus menyelidiki dan mencari kebenaran atas semua hal yang terjadi.” Ketua Sepkai Farmasi yang tak lain dan tak bukan ialah Adam Hillary langsung mengangguk setuju. “Saya dan pihak Hetalia akan mengadakan konferensi pers kembali besok. Untuk langkah selanjutnya, masih ada banyak hal yang akan kami pertimbangkan. Saya harap kalian bisa menunggu hasil tersebut besok saat konferensi.” Melihat suasana yang semakin tak kondusif membuat Deva berinisiatif untuk menutup rangkaian acara ini. Masih ada banyak hal yang harus para petinggi bicarakan saat ini. “Sepertinya cukup sekian pertemuan kita hari ini. Para peserta rapat bisa undur diri dari ruangan. Besok kita akan membahas lebih lanjut lagi,” ujar Dokter Deva sembari menepuk kedua tangannya. Ia berusaha menarik atensi seluruh audiens yang terdengar gaduh. Dokter Edgar, wakil direktur rumah sakit yang sudah berusia lebih dari 50 tahun, yang mendengar perkataan dr. Deva tadi mengangguk setuju. Seluruh perhatian dari para peserta rapat kali ini sudah terpusat ke arah meja petinggi. “Saya ucapkan juga banyak terima kasih kepada para profesor yang sudah menyempatkan hadir. Intinya, vaksin ini bukanlah hal kaleng-kaleng yang tinggal campur-campur obat di dalam mangkok terus langsung jadi. Entah berapa bulan atau justru berapa tahun kita berhasil membuatnya, kita harus membuktikan pada pihak luar dan pemerintah agar yakin bahwa kita, Negara Iranjia mampu membuat hal seperti ini sendiri!” Ucapan dari Dokter Edgar tersebut entah kenapa memberi rasa suntikan semangat kepada para peserta rapat hari ini. Semuanya memang mungkin akan terjadi, tapi yang bisa mereka lakukan sekarang adalah terus berusaha. Satu per satu dokter dan profesor langsung bertepuk tangan dengan penuh haru. “Ya! Kita semua pasti berhasil!” sahut serempak dari para dokter dan profesor yang ada di barisan depan. “Kita akan buktikan bahwa tanah air kita tidak selemah itu! Dengan vaksin ini, Iranjia akan dicap sebagai negara hebat. Jika pemerintah hanya mengharapkan vaksin dari negara lain, maka kita harus buktikan bahwa negara kita mampu membuatnya sendiri! Kita buat pemerintah sadar akan potensi di negara kita ini! Kita pasti bisa!” sahut salah satu kru dari Sepkai Farmasi yang langsung disambut oleh sorakan haru dari para dokter & profesor. Mereka serempak berteriak setuju. Semua orang yang berada di sini memiliki idealis yang sama. Mereka ingin membuat pemerintah membuka mata bahwa Iranjia mampu membuat suatu hal hebat. Mereka ingin membuktikan pada dunia luar bahwa Iranjia adalah negara besar yang hebat. Negara Iranjia harus bisa mengganti status negara berkembangnya menjadi negara maju. Liliana yang melihat itu tampak tersentuh dengan semangat semua orang di sini. Ia pun ikut bertepuk tangan untuk menambah euforia malam ini. Wanita dengan rambut hitam bergelombang itu lalu berdiri. Tangannya mengepal dan meninju kuat-kuat ke arah udara kosong di atasnya. “SUKSESKAN PROGRAM VAKSIN HEKTOVAC!!” “SUKSESKAN PROGRAM VAKSIN HEKTOVAC!!!” Senyuman Liliana mengembang begitu mendengar sahutan dari para audiensi. Wanita itu mengeluarkan suara yang satu oktaf lebih keras dari sebelumnya untuk memacu semangat mereka. “HIDUP VAKSIN HEKTOVAC!!!” “HIDUP VAKSIN HEKTOVAC!!!” Satu per satu orang mulai keluar dari ruangan karena waktunya juga sudah terlalu malam. Sebelum semuanya habis keluar, Dokter Deva yang masih sibuk membereskan berkas-berkasnya di meja langsung menatap ke arah Beni yang merupakan ketua dari dokter koas di rumah sakit ini. “Beni, beri tahu teman-temanmu untuk tetap di ruangan ini.” Pria berambut hitam itu lalu menatap ke arah empat orang mahasiswa Universitas Tenggara yang bersiap keluar ruangan, “Kalian berempat juga di sini.” Adam yang mendengar penuturan dari dokter paruh baya tersebut langsung menghentikan langkah kakinya pergi keluar ruangan. Ia berbalik dan menatap ke arah Deva sebelum pergi bersama para petinggi lainnya. “Kalau begitu, kuserahkan anak-anak ini padamu ya, Dokter? Aku akan pergi bersama yang lainnya ke ruang direktur terlebih dahulu. Kau harus segera menyusul setelah urusan ini selesai,” ujar pria berambut klimis itu. Deva yang sudah selesai menata rapi berkasnya langsung mengacungkan jempol ke arah ketua Sepkai Farmasi tersebut. Alhasil, kini di ruang auditorium hanya tersisa dirinya, lima orang dokter koas, dan empat sekawan dari Universitas Tenggara. Dokter ahli yang sedari tadi memperhatikan kesembilan pemuda itu hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia lalu menolehkan pandangan ke arah Rafa dan ketiga teman lainnya yang sudah jadi anak didiknya selama tujuh bulan terakhir sejak vaksin ini pertama kali dibuat. “Ngomong-ngomong, kalian berempat belum berkenalan dengan anak koas ya? Kuharap kalian bisa akrab karena kali ini aku yang akan mengawasi kalian secara langsung. Kalian akan kubuat menjadi tim.” “Apa? Tim? Dokter tidak salah? Untuk apa kami satu tim dengan mereka? Mereka ini tidak berguna dan hanya main-main saja.” Dika menyela dengan nada tidak terima. Pemuda berambut lurus berwarna hitam itu tidak suka dengan keberadaan mereka di sini. Daripada satu tim dengan anak-anak ini, lebih baik ia tak usah ikut andil dalam proyek vaksin saja. Deva yang mendengar nada keberatan itu langsung buka suara. “Kalian tidak boleh saling bertengkar atau semacamnya. Bukankah aku sudah pernah bilang dulu jika syarat kelulusan koas adalah dengan mengikuti program vaksin ini? Jadi, ayo bentuk kerja sama.” Hendra, salah satu mahasiswa Universitas Tenggara, menghela nafas sebentar. Sepertinya bekerja sama dengan mereka akan merepotkan. Mata bosannya pun bergulir ke arah dr. Deva yang mulai memperkenalkan para mahasiswa koas tersebut. Sementara Rafa yang kini berdiri di sampingnya hanya bisa diam memperhatikan. “Ini adalah Ais Sofie. Ia alumni dari Universitas Pusat, kebetulan mereka semua berasal dari kampus yang sama. Ia adalah dokter koas paling rajin di sini.” Tampak seorang gadis berperawakan pendek dengan kacamata bulat kecil yang bertengger di depan mata hitamnya. Gadis itu sontak tersenyum kecil, tanda menyapa. Tatapan dr. Deva bergulir ke samping Ais yang memperlihatkan keberadaan Alexa. “Di sampingnya adalah Alexa Liezel. Dia ini berasal dari Distrik Timur sebelumnya. Jadi, mungkin saja kalian yang dari Timur akan cocok dengannya. Dia dokter koas paling ‘b****k’ menurutku di sini.” Seorang gadis dengan rambut hitam diikat tampak langsung menekuk wajahnya. Matanya yang senada dengan warna obsidian itu langsung menatap tajam ke arah dr. Deva. “Aku tidak sekacau itu, Dok.” Mendengar penuturan Alexa, sontak dokter dengan tinggi 170 cm itu menorehkan senyum mengejek. Deva lalu menatap sosok gadis berambut sebahu yang berdiri di samping Alexa. “Itu yang rambut sebahu adalah Maria Silviatan. Dia adalah anak kesayangan dari Bu Intanius Stefani, orang yang memakai APD lengkap tadi. Kalian tahu kenapa? Karena keduanya sama-sama memiliki aura ganas.” Maria yang mendengarnya langsung menorehkan senyum jengkel. Apa citranya dan Bu Intan separah itu sampai dicap beringas oleh semua orang? Oh ayolah, bukan salahnya lahir dengan muka jutek dan kemampuan bela diri hebat seperti ini. “Di samping Maria itu ada dua laki-laki koas juga. Yang bersemir coklat itu, dia adalah Beni Herinson. Anak koas yang hobi sekali tidur dan terlambat. Meskipun begitu, Beni adalah ketua koas di sini. Di sampingnya yang rambut hitam itu adalah Dika Anderald. Kalian jangan mengecapnya ketus ya karena ucapannya tadi? Ia memang begitu. Kalau sudah dekat, Dika itu asyik kok.” Dika yang disindir begitu hanya bisa memalingkan muka dan bersikap tidak peduli. Sementara itu, Beni tampak bersikap biasa. Ia menunduk dengan gestur memperkenalkan diri ke arah kuartet dari Universitas Tenggara tadi. Rino, Rafa, Ardi, dan Hendra yang melihat sikap Beni sontak membalasnya dengan anggukan. Keempat pemuda itu lalu memperkenalkan diri masing-masing pada para mahasiswa koas tersebut. Alexa dan Beni terlihat memperhatikan, sementara sisanya tidak terlalu peduli. Dokter Deva yang melihat itu mengukirkan senyum puas karena mereka telah saling kenal. “Baiklah, sepertinya pertemuan dan perbincangannya bisa dilanjut besok. Cukup sekian untuk hari ini, aku pamit undur diri terlebih dahulu. Semoga kalian bisa akrab untuk ke depannya,” ujar Dokter Deva sebelum pergi keluar menuju ruangan direktur. Dokter muda itu melambaikan tangannya seperti anak kecil ke arah semua orang saat melangkahkan kaki keluar. Suara pintu yang ditutup sontak menggema di ruangan yang sunyi ini. Kesembilan remaja yang memasuki masa dewasa itu hanya bisa membisu saat ini. Sekarang apa yang harus dilakukan? Dika yang sudah jengah akhirnya menghela nafas kasar. Ia pun berniat keluar. Dari matanya, pemuda itu dapat menangkap sosok Ardius Leon yang mendelik ke arahnya. Oh? Anak itu yang memanggilnya tadi di koridor bukan? Melihat sikap Ardi yang seperti itu, Dika dengan sengaja menabrakkan bahunya ke arah putra dari pemilik pabrik rokok terkenal tersebut. “Kau ...,” desis Ardi yang tak terima diberlakukan seperti itu. Rafa yang menyadari Ardi ingin melayangkan tinjunya ke arah dokter koas itu pun sontak mencengkeram kuat bahu anak itu. “Kau ini tipe orang yang mengandalkan otot dulu ya? Sungguh terlalu. Bahkan jiwa dokter pun tak ada pada dirimu. Menyedihkan,” sahut Dika yang semakin membuat sosok konglomerat itu kepanasan. Rafa sendiri yang mendengar Dika mengatakan hal itu tampak menatapnya dengan pandangan tak habis pikir. Bukankah itu hinaan yang ia lontarkan kepada Dika tadi? Keempat dokter koas lain yang mendengar ejekan itu langsung mendelik tak suka ke arah pemuda bernama lengkap Dika Anderald tersebut. Beni pun akhirnya turun tangan dan menyentak bahu Dika. “Kau ini apa-apaan?” “Ucapanmu tadi juga tak mencerminkan dokter, Dika!” peringat Ais di belakang Beni yang masih memegang bahu pemuda itu. Dika pun melepas pegangan Beni di bahunya dengan kasar. Ia lalu menolehkan kepala kembali ke arah empat pemuda tersebut. “Kuperingatkan pada siapa pun dari kalian yang nantinya menjadi timku, jangan sampai membuatku kerepotan! Ingat itu, anak manja!” Rafa, Ardi, Hendra, dan Rino yang mendengar itu tentu saja langsung mendelik tak terima. Anak tadi benar-benar keterlaluan. Alexa yang melihat kejadian tadi pun langsung menatap iba ke arah empat mahasiswa itu. Dirinya pun pada akhirnya mengikuti langkah anak koas lain yang keluar ruangan menyusul Dika. “Dika tunggu! Kita harus bicara!” Beni berusaha menghentikan sahabatnya tersebut. “Iya, Dika. Tunggu kami dulu!” “Kau ini tak bisa ya bersikap halus pada mereka?” “Iya, apa yang dikatakan Maria benar. Tunggu dulu!” Dan Alexa yang terakhir keluar dari ruangan ini tanpa sengaja membanting pintu auditorium dengan keras. Pada akhirnya, keempat pemuda itu tak menyangka jika rapat yang pertama kali diselenggarakan di Rumah Sakit Hetalia ini diakhiri dengan suara dentuman keras dari pintu yang ditutup oleh para dokter koas. Mereka ini pemain drumb band atau bagaimana memangnya? Keempatnya pun serentak menghelakan nafas lelah. Bagaimana mungkin mereka akan bekerja sama dengan para dokter koas itu? “Entah kenapa aku berharap kalau hari ini adalah hari pertemuan terakhir antara kita dan para dokter koas itu,” ujar Rino yang langsung diangguki oleh dua temannya yang lain. Rafa yang mendengar itu pun sontak menghela nafas lelah. Ada-ada saja. Semoga besok mereka semua akan mendengar kabar baik terkait kelanjutan proyek ini dan keterangan dari Rumah Sakit Hetalia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN