Chapter 6 - Kekhawatiran

2241 Kata
Di lantai ruangan auditorium ini, semua orang dapat melihat jelas sosok Dika yang tengah tersungkur. Ada darah yang terlihat jelas di sudut bibirnya. Sementara di sisi lain, Rino dan Ardi tampak menatap tajam ke arah dokter koas itu. Sorot mata yang tercipta antara tiga orang itu penuh dengan percikan rasa benci. Rafa pun sontak berjalan mendekati Hendra. Ia bertanya pada pemuda itu karena ia adalah satu-satunya anggota dari tim mereka yang dapat mengontrol emosi dengan baik selain dirinya. “Apa yang terjadi di sini? Siapa yang memukul Dika? Apakah Ardi?” Pemuda yang memakai kaos putih itu hanya bisa mengalihkan pandangannya. Ia bingung menjawab bagaimana. Apalagi dr. Deva juga menatap intens ke arahnya, meminta penjelasan. “Ceritanya panjang sekali,” jelas Hendra. Ais yang mendengar ucapan dari Hendra langsung berinisiatif untuk angkat suara. Ia mengacungkan tangan dan menoleh ke arah Rafa beserta Dokter Deva yang berdiri di samping pemuda itu. “Ada sedikit perselisihan tadi. Dika memancing emosi Rino, Hendra, dan Ardi. Ia secara langsung menyinggung Rino karena umurnya yang masih 19 tahun saat ini. Rino berusaha kami tahan emosinya. Akan tetapi, justru Ardi yang tidak tahan melihat Rino dihina dan dia meninju Dika.” Untuk sesaat, keheningan terjadi di ruangan ini. Rafa menghela nafas, ia memijit pelipisnya yang berdenyut karena semalam tak bisa tidur. Dapat dilihat dari netra hijaunya, kini Ardi tampak mengalihkan pandangan dari pemuda berambut coklat itu. Dokter Deva hanya bisa menghela nafas. Ia tahu tabiat Dika yang tak pernah memfilter omongannya ini memang bisa membuat seseorang tersinggung. Jadi, dirinya pun juga tak menyalahkan Ardi atas kejadian ini. Dokter berambut gelap itu akhirnya meminta semua untuk tenang dan menyuruh mereka duduk. Pria paruh baya itu lalu berdiri di podium yang terletak di depan meja para petinggi. Ia terlihat mencari beberapa berkas dari tasnya lalu mengeluarkan benda-benda itu. “Baiklah, hari ini aku khusus meminta kalian untuk datang ke rumah sakit pagi-pagi sekali karena aku akan menjadikan kalian sebagai tim. Ada tiga tim yang akan aku bentuk, masing-masing beranggotakan tiga orang.” Pria itu berusaha menatap ke sekeliling terlebih dahulu sebelum melanjutkan ucapannya. Deva tengah mencoba untuk menilai bagaimana tanggapan mereka tentang kabar yang ia sampaikan beberapa saat yang lalu. “Untuk hari ini, kita akan survei ke laboratorium dahulu. Ke depannya, mungkin kita akan banyak melakukan kegiatan di lab rumah sakit untuk berinteraksi langsung dengan pasien. Beberapa minggu terakhir ini, mutasi virus berkembang sangat pesat,” lanjut pria bermata gelap itu. “Tim A adalah Hendra Joseph, Ais Sofhie, dan Beni Herrison. Selanjutnya Tim B adalah Maria Silviatan, Ardius Leon, dan Rino Falderon. Sedangkan Tim C terdiri dari Rafael Zohan, Alexa Liezel, dan Dika Anderald.” Dokter Deva menjeda ucapannya terlebih dahulu. Ia melihat respons dari kesembilan orang di hadapannya. “Sepertinya tidak ada yang keberatan?” Mau dibilang keberatan atau tidak pun, mereka bersembilan hanya bisa diam membisu. Rasanya jika protes terhadap orang seperti dr. Deva ini mustahil. Apa pun keputusannya akan susah untuk diubah. Tipikal orang yang kukuh pada pendirian. Dokter Deva yang melihat itu sontak membentuk senyum lewat tatapan matanya. Ia bahagia karena mereka tidak memberikan respons negatif. “Baiklah, sekarang kalian bisa keluar. Sebentar lagi mobil yang akan membawa kita menuju laboratorium Universitas Tenggara akan tiba. Masih ada waktu untuk menunggu. Aku minta kepada dokter koas untuk mengambil pakaian APD dan membawakan empat baju APD kepada mereka,” ujar dr. Deva sambil menunjuk ke arah para Mahasiswa Tenggara. Ucapan dr. Deva tersebut menjadi penutup pertemuan pagi ini. Ia tampak sedikit terburu-buru dan segera berpamitan pergi. Rafa dan Hendra yang duduk bersebelahan hanya bisa saling pandang. Begitu juga Ardi dan Rino. Keempatnya seperti tak rela jika berbeda grup, tapi apa boleh buat. Mulai sekarang mereka tidak akan bertugas bersama lagi. “Kenapa jadinya seperti ini? Kita jadi terpisah karena ada tambahan dokter koas,” keluh Rino dengan tatapan lesunya. Ardi yang duduk di sampingnya terlihat cemberut. Ia memangkukan wajah sambil mengetuk-ketuk jarinya ke meja. Bagaimanapun juga, aura yang dipancarkan oleh pemuda itu terlihat sangat muram. Hendra menatap keduanya dengan pandangan tak habis pikir. “Oh ayolah kalian, jangan bersikap seperti itu. Apa yang diucapkan Dokter Deva tadi benar, Ex-0 semakin hari telah semakin bermutasi menjadi ganas. Proyek kita tak akan berjalan jika ia tak bisa menumpas mutasi baru virus ini.” Rafa yang mendengarnya langsung ikut mengangguk. “Hendra benar. Seperti apa yang telah kita obrolkan dengan Tuan Adam Hillary semalam di HP, kita harus istirahat dulu sampai suasana terkait Hetalia menjadi lebih kondusif.” Rino menatap Rafa dengan pandangan jengah. Ia pikir masa istirahat yang dimaksud semalam itu adalah mereka akan diberikan cuti. Tapi siapa sangka jika istirahat yang dimaksud adalah kerja sama dengan dokter koas yang menyebalkan ini? Ia tahu jika hanya Dika yang menyebalkan, tapi tetap saja pemuda ini tak mau jika mereka berempat pisah kelompok. Rafa yang melihat keluh kesah yang terjadi di timnya hanya bisa diam memperhatikan. Semuanya terlihat semakin runyam saja semakin ke sini. Pemuda yang saat ini terlihat sangat mengantuk itu hanya bisa terenyak kaget ketika meja di depan tempat duduknya digebrak. “Hei, Kau! Siapa namamu? Rafael Bondan?” Alis Rafa mengernyit mendengar pertanyaan itu. “Bukan, namaku Rafael Zohan.” Sang pelaku penggebrakan itu hanya bisa mendesah ketika menyadari kebodohannya. Ia lalu melirik ke arah Rafa dengan ketus. “Ayo ikut aku dan Alexa! Ingat ya, jangan berani membuatku repot seperti orang sok kaya itu!” Ucapan itu sontak membuat perhatian Rafa terpusat ke arah pemuda yang telah berdiri di depan meja tempat duduknya. Rasanya pemuda bersurai coklat ini sangat ingin memijit pelipisnya yang pening sekarang. Rafa tak mengerti. Dari ketiga temannya, kenapa harus dia yang harus satu tim dengan Dika alias dokter koas yang bermasalah ini? Mata hijaunya pun bergerak melirik ke arah gadis di belakang Dika. Rafa mungkin harus bersyukur, untung saja Alexa ada di tim ini. Berkat obrolan pagi tadi, ia merasa bahwa Alexa pasti akan akrab dengan dirinya. “Kenapa diam? Ayo cepat!” ujar Dika yang sudah tak tahan melihat anak yang terus menatap Alexa ini. Rafa yang mendengar itu sontak berdiri dan menyusul Dika bersama Alexa. Ketiganya pergi menuju pintu keluar. Tak lupa, ia melambaikan tangan ke arah tiga temannya yang lain sebagai tanda pergi dahulu. Suara pintu yang tertutup pun langsung mengisi keheningan di ruangan ini. “Apa dia memang orang seperti itu?” celetuk Hendra sambil memangkukan wajahnya. Penggemar game ini tak habis pikir dengan sifat Dika. Di sisi lain, Rino tampaknya tengah sibuk menahan kepalan tangan Ardi yang ingin meninju Dika sejak tadi. Lagi-lagi, dokter koas itu memancing emosi orang yang dijuluki preman dari Universitas Tenggara ini. Ardi benar-benar tak tahan dengan sifat Dika ketika berbicara dengan Rafa tadi. “Lepaskan aku, Rino! Ingin aku tinju lagi dia! Si dagu lancip itu benar-benar kurang ajar!” Beni yang mendengar makian itu hanya bisa menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. Ketua tim koas ini sebenarnya sungkan dengan para mahasiswa tersebut. Dipikir-pikir lagi, sifat Dika memang keterlaluan. “Yah, entahlah. Dia orangnya memang begitu. Aku mohon kalian bisa terbiasa,” ucapnya. Ais pun hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia berdiri dan menghadap ke arah tiga orang mahasiswa itu. “Sudahlah, abaikan saja. Ayo kita pergi. Akan kutunjukkan jalan menuju ruang perlengkapan.” Maria dan Beni pun berdiri. Mereka berenam keluar dari ruang auditorium bersama. Keenamnya terlihat mengobrol santai di sepanjang jalan, meskipun 50% topik pembicaraannya hanya membicarakan tabiat buruk Dika. Lantai satu Rumah Sakit Hetalia kini mulai dipenuhi oleh orang yang berlalu lalang, sepertinya mereka ingin berobat ke poliklinik. Jam tujuh begini, rumah sakit memang sudah mulai ramai. Hetalia yang terdiri dari gedung tujuh lantai ini bisa dikatakan sebagai rumah sakit terbesar dan utama di Distrik Pusat. Jadi tak heran jika tidak terlihat satu pun pasien yang sampai terlantar di koridor atau semacamnya meskipun lonjakan pasien akibat virus Ex-0 ini meningkat di Negara Iranjia. Di ujung koridor utama lantai satu terdapat sebuah pintu bercat hitam. Ruangan tersebut adalah ruang perlengkapan. Sebuah ruangan yang mana menyimpan segala alat perlengkapan rumah sakit ini. Di depannya terlihat Rafa, Dika, dan Alexa yang sudah membawa seperangkat baju perlindungan diri berwarna hitam di tangan mereka. Mereka bertiga berjalan mendekati Tim A dan B. “Kutunggu di halaman ya? Sepertinya mobil sudah datang,” ungkap Rafa pada teman-teman seuniversitasnya. Ketiga temannya yang mendengar itu hanya bisa mengangguk. Rafa pun lalu berjalan menuju halaman utama bersama Dika dan Alexa. Gadis bersurai hitam panjang yang diikat itu menghentikan langkahnya tatkala ia mengingat suatu hal. Ia pun berbalik dan memandang ke arah tim A dan B yang memasuki ruang perlengkapan. “Oh iya! Hanya ambil bajunya saja ya? Jangan dipakai dulu. Kita akan memakainya nanti di sana,” ujar Alexa yang langsung diberi tanda oke oleh Maria. Gadis bersurai sebahu itu pun lalu menutup pintu ruangan tadi. Alexa yang melihat itu pun lalu melanjutkan langkahnya. Ia berjalan di belakang Rafa dan Dika. Matanya yang senada dengan obsidian itu hanya bisa menatap kedua pemuda di depannya dengan jengah. Apa-apaan mereka? Kenapa betah sekali diam-diaman di sepanjang jalan? Apakah tidak ada rasa canggung begitu? Alexa mencoba diam. Ia mencoba ikut terbawa suasana dan menciptakan keheningan. Tapi, gadis itu tak bisa menahan kedutan di bibirnya untuk bicara. Ia pun merasa frustrasi dan menyerah. Dokter koas itu membuka suara. “Hei—“ “Hei kalian!” Mata Alexa mendelik tajam ke arah orang yang memanggil mereka. Siapa orang yang berani menghancurkan niatnya untuk memecah keheningan? Matanya pun hanya bisa berubah menjadi tatapan melas tatkala menyadari bahwa Bu Intanius Stefani yang telah memanggil tadi. Mana mungkin dia berani mencari gara-gara dengan beliau? Perlu diketahui, Intanius Stefani atau yang kerap disapa dengan panggilan Bu Intan itu merupakan orang yang kemarin ikut mengisi meja petinggi di rapat auditorium semalam. Ia adalah Ketua Apoteker Rumah Sakit Hetalia yang semalam mengenakan baju perlindungan lengkap. Wanita dengan kulit tan dan senyumannya yang selalu lebar itu kini memakai pakaian santai. Meskipun begitu, jas apotekernya masih terpakai. Ia juga tak lupa mengenakan masker medis berwarna hitam. “Apa kalian saat ini tengah menuju ke halaman utama?” “Iya, Bu Intan. Ada apa ya?” tanya Dika. Rafa sedikit terperangah, jadi Dika ini bisa sopan juga ya? “Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin ikut saja sekalian.” Wanita paruh baya yang memiliki kulit tan dengan rambut panjang tergerai itu lalu berjalan di samping Alexa. Rafa yang berjalan di samping Dika sedikit melirik ke arahnya. Jadi dia Ibu Intanius? Sesaat tadi ia tidak tahu dia siapa, mengingat pertemuan kemarin malam beliau menggunakan APD lengkap yang membungkus tubuhnya. “Oh iya Alexa, dimana yang lain?” tanya Bu Intan yang berusaha memecah keheningan di antara mereka berempat. “Kami pergi terlebih dahulu. Saat ini yang lain sedang mengambil baju APD di ruang perlengkapan.” “Begitu ya.” Ucapan terakhir yang keluar dari mulut Bu Intan tersebut langsung menjadi gerbang pembuka menuju keheningan bagi mereka. Rafa sendiri tak masalah dengan suasana hening tersebut, ia sama sekali tak terganggu. Sebelumnya ia juga tak mengenal Bu Intan karena wanita ini tak pernah ikut andil dalam proyek vaksin sejak Maret lalu. Ini hanya prasangka, tapi menurut Rafa, sepertinya wanita yang menjabat sebagai Ketua Farmasi Rumah Sakit Hetalia ini akan masuk dalam proyek vaksin Hektovac. Orang ini pasti akan dimasukkan ke divisi baru. Pembuatan vaksin selama ini melibatkan 54 orang ahli, termasuk tim mahasiswa yang dipimpin Rafa. Orang-orang ini dibagi menjadi tiga tim besar untuk mencegah penularan karena jumlahnya yang banyak. Tiga tim ini terdiri dari tim penguji, tim peneliti, dan tim evaluasi. Sekarang, ketika progres vaksin ini telah mencapai 50%, Rumah Sakit Hetalia mengirimkan lebih banyak staf medis untuk membantu. Total ada 30 yang dikirim, termasuk dokter koas dan para pejabat penting seperti Bu Intan, Wakil Direktur Edgar, serta Direktur Liliana. Pada tahap awal dulu, ketiga tim memiliki tugas sama yakni melakukan penelitian terhadap virus. Tahap penelitian ini disebut tahap desain. Dalam tahap ini, ketiga tim akan melakukan kegiatan yang sama berupa penelitian untuk mempelajari virus. Hal itu diteliti mulai dari bagaimana virus menyebar, menyerang, hingga menguasai tubuh. Saat hal tersebut sudah dipelajari, para tim ahli ini pasti akan bisa menemukan celah untuk menghentikan virus hidup. Setelah proses tersebut, barulah masing-masing tim melakukan tugas yang berbeda. Tim penguji akan melakukan proses hulu dimana sel ditumbuhkan dan menghasilkan bahan aktif yang akan dimasukkan dalam vaksin. Tim peneliti akan melakukan proses hilir dimana komponen vaksin akan dimurnikan, dipisahkan, dan dimasukkan ke dalam formulasi akhir yang siap digunakan. Sedangkan tim evaluasi sendiri akan bertindak sebagai tim serba guna dan finalisasi, dimana mereka bisa membantu segala tugas dari kedua tim yang lain. Tim evaluasi ini nantinya juga akan bertindak dalam hal pengujian vaksin pada relawan dan membantu mengenalkan vaksin ini pada masyarakat. Tentu saja, Rafa mengetahui tentang hal tersebut karena sejak awal ia sudah berperan dalam proyek yang satu ini. Meskipun begitu, ada hal yang sedikit membuatnya bingung. Setelah apa yang telah terjadi kemarin saat konferensi pers, mungkinkah segala hal yang telah ia buat bersama tim ahli lain akan sia-sia? Hektovac tidak mungkin akan berhenti di tengah jalan karena gangguan dua hal kemarin bukan? Pelipis Rafa kembali berdenyut memikirkan hal itu semua. Pemuda ini tak bisa membayangkan jika hasil jerih payahnya akan terbuang sia-sia karena insiden kemarin. Dan, kenapa pula rektornya di saat yang begini harus tidak bisa dihubungi sejak kemarin? Padahal ini adalah masalah besar. Rafa yang memikirkan banyak hal sepanjang perjalanan menuju halaman depan ini pun secara tak sadar mengabaikan seluruh percakapan yang terjadi antara Bu Intan, Alexa, dan Dika. Ia terus berjalan dan berputar dalam dunianya sendiri, mengabaikan suara-suara yang berlalu lalang di sekitarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN