Chapter 7 - Jati Diri

2537 Kata
“Tugas kita sebagai tim baru sepertinya tidak terlalu berat memang kalau saat ini, tapi kalau dalam dunia kerja anggap saja tim baru Hetalia ini sebagai freelance,” ujar Bu Intan. Ia menyampaikan opini. Ucapan tersebut sedikit menarik perhatian dari Dika dan Alexa yang berstatus sebagai dokter koas. Mereka kini telah sampai di teras depan rumah sakit. Dika pun menyampaikan keheranannya. “Maksud freelance ini nantinya kita melakukan tugas apa pun yang akan diminta oleh mereka?” Rafa yang memang dari awal sudah melakukan penelitian bersama staf lain hanya bisa diam melihat para anggota baru ini berkomunikasi. Awalnya, pemuda ini berada di inti saat proses pembuatan vaksin kemarin. Namun karena keputusan Tuan Adam semalam, ia dan teman-teman mahasiswanya yang lain dipindahkan ke tim baru ini sampai suasana kondusif. Mereka akan diberi tugas untuk melakukan finalisasi dan mencari sampel dengan cara berinteraksi langsung dengan pasien. Intan yang melihat itu tersenyum lebar. “Ya tepat sekali dirimu, Dika. Tim baru ini sebenarnya akan berisi orang-orang penting. Liliana dan Adam pun masuk ke dalamnya karena tim ini banyak memiliki tugas yang berhubungan dengan masyarakat nanti. Ini adalah strategi yang bisa kita lakukan agar suasana di masyarakat segera kondusif sejak kejadian kemarin.” Alexa yang mendengar itu membelalak lebar. “Apakah ini mimpi? Orang rendahan sepertiku akan berada satu tim dengan ibu direktur?!” Gadis berambut panjang itu seperti orang yang kegirangan tanpa alasan. Ia hanya tidak dapat membayangkan jika dokter koas sepertinya bisa satu tim dengan ibu direktur rumah sakit. Ini akan menjadi nilai plus baginya saat ujian profesi nanti. Senyum sombong sontak terpampang di wajahnya. Ia harus segera memberitahukan informasi ini pada Ais, si gila nilai itu. Bu Intan yang melihat Alexa langsung tertawa terbahak-bahak. Dika yang memandangnya pun hanya bisa menggelengkan kepala tak habis pikir. Memang nyatanya, kelima anak koas ini sudah begitu dekat dengan semua orang di rumah sakit. Mereka yang terus bertahan sampai detik ini diapresiasi besar oleh pihak Hetalia. Jadi, tak heran kenapa kedua dokter koas itu dekat sekali dengan Bu Intan. Rafa sendiri entah kenapa tidak tahu harus bagaimana. Suasana canggung sangat tertera jelas pada dirinya. Ia bingung menyesuaikan diri di antara mereka yang sudah sangat dekat. Mau mengobrol pun bingung. Ia yang bisa dianggap senior dalam proyek vaksin Hektovac ini tidak ada bahan pembicaraan dengan para anggota baru. Kini, mereka berempat tengah berdiri di bawah pohon besar di sebelah timur teras rumah sakit. Mata hijau pemuda itu tampak mengalihkan pandangan agar tidak terlihat canggung. Dari mata yang senada dengan zamrud itu, ia melihat para kru rumah sakit sedang menata banyak kursi di sebelah tempat parkir ambulans. Tempat itu adalah tempat dilakukannya pers kemarin. Akan tetapi, kursi yang tertata tampak dua kali lipat lebih banyak dari kemarin. Mungkinkah akan ada pers besar-besaran? “Sepertinya akan ada pers.” Ucapan Dika tadi sontak membuat Rafa menoleh ke arah pemuda di sampingnya tersebut. Pemuda itu pasti sengaja mengikuti arah pandangnya. Kini mereka saling berhadapan. “Apakah pihak rumah sakit akan mengadakan konferensi pers terkait insiden kemarin? Jadi ini yang dikatakan kemarin saat rapat?” tanya Rafa. “Bisa saja, selain itu kemarin ada wartawan tidak jelas itu kan? Mungkin rumah sakit juga sekalian menjawab pertanyaan terkait isu korupsi dana anggaran dari pemerintah,” balas Dika yang kemudian mengobrol bersama Alexa dan Bu Intan. Rafa yang dibalas tadi hanya bisa diam. Ia keheranan memperhatikan Dika. Rafa kira Dika adalah orang yang urakan dan sebelas dua belas dengan Ardi yang tipe ‘senggol bacok’ itu. Tapi ternyata Dika juga biasa saja, bahkan Rafa merasa obrolan dengannya kali ini tidak terlalu menguras emosi seperti kemarin malam. “Ngomong-ngomong, Nak. Siapa namamu? Semalam aku tidak memperhatikan perkenalan kalian karena pergi keluar dulu.” Ucapan dari Bu Intan tadi membuyarkan lamunan pemuda bersurai coklat ini. Rafa pun langsung melihat ke arah wanita yang kini tersenyum lebar di balik maskernya. Intan sendiri merasa bersalah karena tidak berkenalan dengan mereka dulu semalam. Ia merasa canggung juga ketika melihat anak itu sedari tadi hanya diam. Mungkin, Mahasiswa Tenggara itu bingung harus mulai mengobrol dari mana. “Nama saya Rafael Zohan. Anda bisa memanggil saya Rafa. Mohon bantuannya selama proyek ini berlangsung, Bu Intan.” Mata Intan sedikit menampakkan keterkejutan ketika pemuda di samping Dika itu memperkenalkan namanya. “Tunggu, kau berasal dari keluarga besar Zohan?” Rafa yang ditanyai seperti itu hanya bisa tersenyum kaku sambil mengalihkan pandangannya. Apa ini? Kenapa orang ini bertanya demikian? Apakah Bu Intan kenal dengan keluarganya? Tangan Rafa pun sontak menggaruk pipinya yang tak gatal. Ia bingung harus berkata apa, dirinya tidak menyangka bahwa ada orang di sini yang tahu tentang nama keluarganya. Intan yang melihat reaksi dari anak itu langsung mendekatkan diri ke hadapan pemuda tersebut. Alexa pun kaget dengan pergerakan cepat dari ketua apoteker di rumah sakit ini. Memangnya ada apa dengan nama keluarga Rafa? Ia tampak tak habis pikir. “Kau? Apa kau kenal dengan Dokter Natsuki Zohan?!” Intan terlihat sangat ambisius menanyai pemuda itu. Rafa semakin tak berkutik. Ia sedikit canggung dengan tatapan dari wanita di hadapannya. “Sebenarnya ... beliau adalah ibuku. Saya terkejut Anda bisa mengenalnya.” “Apa?!” Nafas Intan serasa tercekat. Ia rasanya mau mati sekarang. “Jadi kau ... k-kau ... kau anak dari Profesor William Zohan dan Dokter Natsuki Zohan?!” Mata Alexa dan Dika yang mendengar itu membelalak lebar. Alexa yang terkejut pun tak sengaja menjatuhkan perlengkapan APD di tangannya. Dengan keadaan tergesa, gadis itu buru-buru mengambilnya. Melihat Rafa yang hanya bisa tersenyum canggung sambil mengangguk kaku langsung menambah keterkejutan mereka. Baik Intan, Dika, maupun Alexa hanya bisa ternganga tak menyangka. Jadi ini alasan kenapa Bu Intan tadi kaget? Siapa yang tak kenal dengan Profesor William Zohan? Beliau adalah profesor kenamaan dari Negara Jensberg, salah satu negara maju di Benua Eropa. Pada awalnya hanya segelintir penduduk di Iranjia yang mengenalnya. Namun, sejak insiden kecelakaan besar Profesor William Zohan di Distrik Timur beberapa tahun yang lalu membuat seluruh penduduk di negara ini tahu akan namanya. Berita itu tentu saja menjadi sorotan banyak media di seluruh dunia. Nama Iranjia menjadi lebih dikenal dunia kala itu. Banyak reporter asing datang ke sini untuk meliput kasus kematian dari sang profesor. Meskipun begitu, entah kenapa tidak ada yang tahu mengenai keberadaan anaknya. Jadi, dimana selama ini sosok Rafael Zohan? Dika sendiri merasa tak menyangka. Orang di depannya ini bukan mahasiswa sembarangan. Jika orang tuanya sangat terkenal dan berpengaruh bagi dunia tapi kenapa ia justru tinggal di sini yang notabenenya adalah negara berkembang? Karier dan prestasinya akan lebih terasah jika ia berada di luar negeri. “Aku benar-benar mengagumi orang tuamu! Aku masih benar-benar tak menyangka kalau kau adalah— astaga! Bagaimana aku baru tahu! Dunia harus tahu ini!” seru Bu Intan yang tak henti menatap kagum pada Rafa. Rafa sendiri yang mendengar itu tersentak kaget. “Kau tahu, Rafa? Pantas saja, setelah aku pikir-pikir wajahmu memang bukan wajah pribumi di sini. Kau blasteran ternyata ya?” sahut Alexa. “Ibunya itu penduduk asli Negara Jesai. Namanya kan Natsuki. Dia dokter ternama di sana.” Intan menanggapi Alexa dengan cepat. Alexa yang mendengarnya hanya bisa ternganga kagum. Entah kenapa mereka seperti punya harapan baru, vaksin ini pasti akan berhasil jika dibuat oleh tangan Rafael Zohan. Dika sendiri hanya diam memperhatikan, meskipun begitu tak dapat dipungkiri matanya menyiratkan kekaguman dan kepercayaan pada pemuda di hadapannya tersebut. Atensi Intan kembali lagi ke arah Rafa yang masih bingung mencari kata-kata. “Aku sebenarnya tidak paham kenapa keluarga kalian datang ke Iranjia. Tapi menurutku, dunia harus tahu akan dirimu! Bahwa William junior masih ada di Iranjia dan ia akan menjadi pahlawan baru mulai sekarang.” Rafa yang melihat itu hanya bisa diam. Ia mengalihkan pandangannya ke arah lain ketika tiga orang tersebut memandang bangga ke arahnya. Dirinya merasa mendapat apresiasi besar dari mereka yang membuat hatinya terasa membuncah. Mata Rafa tampak menerawang ke arah langit lalu memandang ke arah Dika, Alexa, dan Bu Intan. Pemuda bermata zamrud itu membuka suara, “Sebenarnya ada banyak hal yang terjadi, tapi aku rasa keputusanku untuk tetap di sini sampai lulus kuliah sudah menjadi hal yang terbaik. Kalau soal publikasi tentang kehadiranku, kumohon jangan lakukan itu. Banyak orang yang tidak tahu bahwa aku anak dari kedua orang tersebut. Ketika aku menyebutkan namaku misalnya, kebanyakan hanya berpikir bahwa Zohan itu hanyalah nama biasa dan bukan nama keluarga.” Ketiga orang di depan Rafa tersebut sepertinya mulai paham. Di negara ini memang masih asing dengan penggunaan nama keluarga di belakang nama kecil mereka. Buktinya, nama belakang Dika, Alexa, dan Bu Intan sendiri pun bukanlah nama keluarga. Itu hanyalah nama pelengkap. Jadi, sepertinya banyak orang yang mengira nama Zohan tadi hanyalah nama biasa. Mungkinkah Bu Intanius Stefani yang pertama kali menyadari hal ini sejak Rafa berada di Iranjia? Rafa lalu menghela nafas sebelum melanjutkan bicaranya. “Kebetulan, kalian adalah salah satu dari segelintir orang yang menyadari hal tersebut. Jadi, aku mohon agar tidak perlu membicarakan hal ini pada publik atau siapa pun.” Melihat Rafa yang memohon begitu membuat ketiga orang ini saling bertukar pandang. Sayang sekali jika hal ini tidak diketahui. Kalau ini disiarkan pasti nantinya ada banyak orang yang mendukung proses pembuatan vaksin Hektovac. Tapi, jika disiarkan maka Rafa sendiri pasti akan menjadi sorotan dan membuat kehidupannya menjadi tak nyaman. Intan sebagai salah satu penanggung jawab baru dalam proyek vaksin ini hanya bisa menghela nafas kasar. Ia tampak frustrasi dan menggaruk rambutnya. “Aku setuju kalau ini untuk kebaikanmu. Kalau dipikir-pikir juga, nantinya kau pasti akan kerepotan jika seluruh dunia tahu.” Senyum lebar Rafa merekah, ia membungkuk untuk berterima kasih pada mereka bertiga. Ketiganya yang diberlakukan begitu langsung menyuruh Rafa untuk bersikap biasa. Pemuda bersurai coklat itu sontak tertawa canggung. “Sebenarnya aku ini juga hanya seorang anak—“ “Hei, kalian! Apakah sudah lama menunggu kami?” “Eh?” Rafa yang hendak mengucapkan sesuatu langsung menoleh ke arah suara. Dari teras sana, sudah berdiri Beni dan lainnya. Sepertinya mereka baru saja selesai mengambil perlengkapan. Tim A dan B itu langsung berjalan mendekati Tim C yang bersama Bu Intan di bawah pohon. “Hei, sepertinya asyik sekali? Apakah aku ketinggalan sesuatu, Bu Intan?” tanya Ais ketika ia sampai di bawah pohon pertama kali. Bukan Bu Intan yang menjawab, melainkan Alexa yang berkecak pinggang ke arah gadis berperawakan pendek itu. “Tentu saja, kenapa kalian lama sekali? Kami sudah mengobrol mengenai sejarah dunia terbentuk sampai menjadi seperti ini, tapi kalian baru datang.” Hendra yang mendengar itu menyahut ke arah Alexa, “Para gadis ini tadi yang lama dan sibuk sendiri.” Mendengar itu, sebuah tamparan pun langsung mendarat di punggung Hendra. Dapat Hendra lihat, Maria kini menatap garang ke arahnya. “Salahkan pada diri kalian, wahai para laki-laki manja yang tidak mau ambil perlengkapan sendiri!” Rino yang mendengar hinaan itu langsung melebarkan senyumnya. “Yah, kami kan tidak tahu tempatnya. Lagian kalian sendiri yang tidak keberatan. Beni juga menyuruh kalian.” Maria yang mendengar ucapan santai itu hanya bisa menahan emosi. Rino ini benar-benar bermulut licin. Kenapa dia bisa menuruti perkataannya tadi? Apa dia punya kemampuan cuci otak? Dari kejauhan terlihat mobil-mobil milik Rumah Sakit Hetalia mulai melaju ke arah mereka. Total ada tiga mobil berwarna hitam yang kini terparkir berurutan di hadapan kesepuluh orang itu. Intan yang melihat kedatangan mobil pun langsung melerai anak-anak ini. Oh ayolah, kenapa mereka seperti anak kecil? “Hei lihat, mobilnya sudah datang. Dalam satu mobil ada empat orang. Jadi, ayo masuk. Kita tidak punya banyak waktu. Tim A masuk ke mobil pertama bersamaku. Ayo!” Intan mengucapkan hal tersebut sambil membuka pintu mobil. Langkah kakinya diikuti oleh Tim A yang terdiri dari Hendra, Beni, dan Ais. Mereka pun memasuki mobil hitam yang pertama. “Eh tunggu dulu, jadi kita pergi ke laboratorium sekarang? Tapi katanya ada empat orang di satu mobil, siapa satu orang lagi di tim kita?” tanya Ardi yang membuat tim B dan C kebingungan juga. Kedua tim ini dilanda bingung terhadap persoalan yang sama. Rino yang melihat itu hanya memandang Ardi dengan malas. “Yah sudahlah, ayo masuk saja. Daripada kita menunggu di sini lebih baik masuk. Sampai jumpa, Rafa,” ujarnya pada Rafa. Ardi yang melangkah bersama Rino pun melambaikan tangan ke arahnya. Tak lupa, Maria juga mengucapkan salam perpisahan pada Alexa. Tim C pun akhirnya juga memasuki mobil hitam yang terparkir paling belakang setelah tim B masuk ke dalam mobilnya. Pembagian mobil ini dimaksudkan agar mereka tidak terlalu bergerombol. Sesaat setelah Rafa, Alexa, dan Dika duduk di kursi mobil, sosok Liliana tampak membuka pintu dan duduk di samping sopir. “Eh? Ibu Liliana?” pekik Alexa kaget. Liliana pun hanya menoleh dan langsung tersenyum ke arah mereka. “Kita harus bergegas anak-anak. Sebentar lagi siaran pers besar akan digelar di sini. Jika kita tidak segera pergi maka nantinya kita akan terhalang oleh media. Sekarang kita harus menuju laboratorium untuk masalah teknis yang lebih lanjut. Tetap pakai masker kalian demi kesehatan kita bersama,” ucap wanita dengan rambut panjang bergelombang tersebut. Direktur rumah sakit itu langsung menoleh ke arah sopir di sampingnya. “Ayo Pak, pimpin jalan terlebih dahulu.” Mendengar hal itu, mobil hitam yang terparkir paling belakang ini langsung tancap gas dan menyalip dua mobil di depannya. Akhirnya ketiga mobil ini pergi keluar dari area rumah sakit ketika mobil-mobil lain dari para jurnalis mulai berdatangan. Dika yang melihat itu mengajukan pertanyaan ke arah direktur tersebut. “Maaf jika saya lancang, Bu. Tapi pers kali ini tampaknya lebih besar dari biasanya? Apakah ini menyangkut kematian dari almarhum Diana kemarin sore?” Diana adalah sosok wanita berusia 20 tahun yang mengalami kecelakaan tragis di depan Rumah Sakit Hetalia kemarin sore. Kematiannya yang terjadi di tengah konferensi pers langsung diliput oleh media. Kejadian kemarin tentu saja menghebohkan publik. Apalagi berita ini dibarengi wacana pembuatan vaksin dan isu korupsi di Hetalia. Liliana tampak melirik Dika melalui kaca spion mobil. “Ucapanmu benar, Dika. Pihak media dan masyarakat di seluruh negara sedang gencar-gencarnya membicarakan kita. Jika kita tidak segera membuka suara, maka ini dapat memicu opini publik tergiring ke arah negatif.” “Maaf tapi Bu, apakah tidak apa-apa jika Anda selaku direktur justru pergi bersama kami ke laboratorium?” tanya Rafa yang langsung dipandang oleh kedua temannya. “Namamu Rafael kan?” Rafa yang mendengarnya langsung mengangguk. Liliana melanjutkan bicaranya, “Untuk pers kali ini ditangani oleh dr. Edgar. Semalam dia bilang telah menyuruh banyak orangnya untuk melakukan penyelidikan terkait kasus ini. Jadi, tidak perlu khawatir jika aku pergi bersama kalian.” Wanita itu tampak memikirkan sesuatu sambil memegang dagunya. “Seharusnya pers ini akan terjadi 15 menit lagi. Perjalanan kita ke lab kira-kira memakan waktu 1 jam. Kita jadi harus terpaksa mengikuti siaran pers di jalan” Alexa yang mendengar itu sontak menatap sang sopir. “Pak, tolong nyalakan radio mobil!” Sopir itu mengangguk. “Apa pun yang terjadi nanti, kuharap masyarakat tidak termakan oleh isu negatif. Kita sudah sampai di detik ini dan telah berkorban banyak hal. Kuharap proyek vaksin ini akan terus bisa berjalan lancar, Bu,” ujar sopir itu dibalik kacamatanya. Ia adalah sosok pria tua berusia 50 tahun. Suara siaran pers dari radio mobil yang keras menjadi pemecah keheningan di sini. Alis Liliana terlihat bertaut tajam, matanya pun tak henti menatap serius ke arah jalanan di depan. “Pasti! Proyek vaksin ini pasti akan berhasil! Apa pun caranya!” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN