Chapter 8 - Keputusan

2116 Kata
Dunia ini terdiri dari 6 benua besar yakni Asia, Eropa, Amerika, Afrika, Australia, dan Antartika. Eropa sendiri sudah dikenal oleh banyak orang melalui banyaknya ilmuwan yang lahir di sana. Peradabannya sendiri pun bisa dikatakan yang paling maju di antara benua lainnya sejak dulu. Salah satu negara yang terkenal dari Eropa adalah Jensberg. Jensberg adalah salah satu negara yang cukup penting serta memegang peranan utama di kawasan Eropa dan dunia. Setelah perang dunia II, Jensberg berada dalam kondisi yang hancur secara fisik. Kota-kota besar Jensberg mengalami kerusakan berat. Namun, salah satu hal yang patut dicontoh dari Jensberg adalah semangat bangkit yang luar biasa. Dan semangat besar ini terbukti, saat ini Jensberg menduduki negara dengan kekuatan ekonomi ke-4 terbesar di dunia. Meskipun banyak penduduk di Benua Eropa yang mengklaim diri mereka sebagai manusia paling unggul di dunia, nyatanya masih ada banyak negara lain di Asia yang masuk dalam kategori negara maju. Salah satunya adalah Jesai. Seusai Perang Dunia II, Jesai mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat dan menempatkan diri sebagai kekuatan ekonomi terbesar nomor dua di dunia. Kelebihan ekonomi Jesai adalah masyarakatnya yang terus berinovasi dalam segala bidang, sehingga tak kaget jika banyak penemuan teknologi baru terjadi di negara ini. Beberapa tahun yang lalu, salah seorang ilmuwan terkenal dunia dari Jensberg bernama Profesor Wiiliam Zohan tewas dalam kecelakaan besar. Istrinya adalah seorang dokter kenamaan di Negara Jesai yang bernama dr. Natsuki Zohan. Isunya, sekarang Dokter Natsuki sudah mengambil pensiun dari pekerjaan dokternya dan menjalankan usaha perkebunan di Jesai. Kecelakaan hebat yang melibatkan mobil profesor dengan sebuah truk minyak di jalan Distrik Timur di Negara Iranjia ini tentu saja menjadi sorotan. Pasalnya profesor yang dikenal dengan penemuan antivirus dari HIV/AIDS ini meninggal dalam usia muda yakni pada usia 53 tahun. Negara Iranjia terdiri dari lima wilayah yang salah satu daerahnya merupakan Distrik Timur, tempat terjadinya kecelakaan dari profesor ternama luar negeri tersebut. Distrik Timur dikenal sebagai daerah yang menjadi pusat ekonomi negara Iranjia. Di wilayah itu terdapat banyak industri dan perusahaan berdiri. “Anaknya— anak dari Profesor William Zohan berada dalam satu tim denganmu! Mahasiswa Tenggara yang berambut coklat dan bermata hijau! Dia adalah Rafael Zohan!” Suara dari telepon itu sontak membuat Liliana terdiam membisu. Sudah 40 menit sejak perjalanan menuju laboratorium, tiba-tiba HP-nya berdering. Ia mendapat telepon dari Intan. Keduanya merupakan teman seangkatan ketika kuliah dulu, itu yang menjadikan alasan mereka begitu akrab. Mata dari wanita anggun itu hanya bisa membelalak kaget sambil melirik ke arah yang dimaksud. Pemuda yang menjadi bahan pembicaraan antara dirinya dan Intan itu kini tampak serius memperhatikan suara dari radio bersama Alexa dan Dika. Ketiganya menampilkan mimik wajah yang begitu tegang. Liliana mendesis, “Kau ini ... bercanda?” Suara Intan yang dari tadi begitu lirih namun syarat akan kehebohan ini memenuhi telinganya. Liliana bahkan tak bisa mendengar suara heboh ketiga anak di belakangnya yang mendengar siaran pers. Hal tersebut dikarenakan dunianya kini terfokuskan pada hal yang disampaikan oleh Ketua Apoteker Rumah Sakit Hetalia tersebut. “Aku tadi menyadari hal ini ketika mendengar namanya. Awalnya kupikir itu hanya nama pelengkap biasa. Aku berpura-pura heboh dan menanyainya apakah dia kenal dengan Natsuki Zohan? Dan aku tak menyangka jika dia mengakui bahwa idolaku itu adalah ibunya.” “Apakah ini adalah sebuah harta karun bagi kita? Atau ini adalah salah satu strategi dari Tuan Mario Regardus selaku rektor dari universitas itu?” tebak Liliana dengan suara yang begitu lirih. Kedua wanita yang saling bertelepon ini sengaja berkata pelan agar tidak didengar oleh orang lain. Baik Liliana maupun Intan kini terlihat begitu tegang di mobilnya masing-masing. “Tidak ada yang tahu mengenai hal itu, tapi mungkin saja iya. Meskipun tak ada jaminan juga bahwa rektor itu mengetahui hal ini. Yang terpenting, informasi ini telah kusampaikan padamu. Informasi lebih jelasnya akan kita bicarakan setelah turun dari mobil nanti.” Panggilan telepon dari Intan itu pun akhirnya terputus. Liliana langsung melepas earphone dari telinganya. Ia memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut. Kejutan apalagi sekarang? Dulu ketika dirinya membaca nama Rafael Zohan, Liliana memang sedikit tertarik dengan istilah yang dipakai pada nama tersebut. Namun karena banyaknya masalah yang didapat, Direktur Rumah Sakit Hetalia itu lupa untuk mencari tahu lebih dalam mengenai jati diri Rafa. Ia pun baru bertemu dengan para mahasiswa Tenggara kemarin malam. Sebelumnya, staf medis Hetalia yang terlibat dengan mereka hanyalah Dokter Deva. Jika tahu akan begini, lebih baik Liliana ikut andil dalam proyek vaksin Hektovac dari awal dan bukan mulai sekarang. Beberapa saat setelah ia tenggelam dalam pikirannya, wanita paruh baya itu dikejutkan oleh suara teriakan dari tiga anak di kursi belakang. Dirinya langsung menoleh dengan alis yang menukik tajam. Ada apa sebenarnya sampai heboh begitu? “APA?! PROYEK VAKSIN INI DIJEDA SEMENTARA?!” Oh, jadi masalah ini. Direktur rumah sakit itu pun kembali memandang jalan di depannya. Dapat ia lihat, sopir di sampingnya kini sama terkejutnya akan hal yang mereka dengar dari siaran pers tersebut. “A-apa ini? Apa aku tidak salah dengar, Bu?!” tanya sang sopir itu pada dirinya. Tak ada jawaban yang bisa Liliana keluarkan sekarang. “Anda semua tidak salah dengar. Proyek vaksin Hetalia akan dibatalkan sementara waktu sampai kondisi di rumah sakit ini stabil. Oleh karena itu, pihak Sepkai Farmasi dan Universitas Tenggara saat ini tak menjalin kerja sama dengan kami. Almarhum Diana yang dinyatakan tewas di tempat kemarin sore adalah bukti bahwa virus ini adalah ancaman serius. Saya harap pada pemerintah dan masyarakat untuk terus percaya pada kami. Hetalia melakukan segala hal yang terbaik untuk Negara Iranjia ini. Isu korupsi dan lain sebagainya hanyalah isu pengecoh.” Suara dr. Edgar yang menyiarkan konferensi pers itu menggema jelas dalam mobil ini. Lima orang di dalam mobil hanya bisa diam dan menyimak apa yang dikatakan oleh dokter senior di Rumah Sakit Hetalia tersebut. “Perihal jurnalis yang melayangkan tuduhan pengabaian pasien serta korupsi saat pers kemarin itu kini telah diselidiki oleh pihak yang berwajib. Aku mohon dengan sangat, satukan tangan kita bersama! Buktikan bahwa Iranjia mampu bertahan melawan virus Ex-0!” Alexa mengangguk dengan tatapan tak terima. Ia setuju dengan apa yang dikatakan oleh sang sopir beberapa saat yang lalu. Mereka semua tak terima jika vaksin ini dibatalkan begitu saja. “Lalu dana yang sudah kita habiskan untuk apa? Kenapa dibatalkan begini saja? Bagaimana kerja sama dengan Sepkai Farmasi dan Universitas Tenggara?” tanya Alexa dengan raut panik. Ia tahu jika pihak rumah sakit telah mengeluarkan dana begitu besar dalam proyek ini. “Untuk apa sebenarnya kita sekarang berada di mobil ini?” sahut Rafa yang juga dilanda kebingungan. Mahasiswa bersurai coklat terang ini begitu dilema. Ia tidak menyangka jika pihak Rumah Sakit Hetalia telah membuat keputusan macam ini. Proyek yang telah ia lakukan bersama timnya sekarang dijeda sampai waktu yang tak bisa ditentukan. Di sisi lain, sang rektor tetap tak bisa dihubungi sampai sekarang. Jika semua ini terjadi, lantas untuk apa dia masih berada di Distrik Pusat? Rafa juga ingin pulang ke tempat tinggal aslinya di Distrik Timur. Sang sopir yang berusia lanjut hanya bisa memandang prihatin ke arah Liliana melalui kacamata yang ia kenakan. Wanita itu, pandangannya entah kenapa seperti sedang menanggung beban yang begitu banyak. Ia pasti telah mempertimbangkan dengan matang perihal keputusan ini. Prihatin dengan kondisi dari sang direktur, pria tua itu pun melirik ke belakang. Ia menatap teduh ke arah tiga pemuda di belakangnya. “Anak-anak, tolong tenang dulu. Ibu Liliana pasti punya penjelasan atas ini semua.” Liliana pun hanya bisa mengusap wajahnya kasar. Sepertinya, memang ini adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan banyak hal pada mereka. Mobil hitam yang dinaiki oleh Tim C ini terus maju membelah jalan raya yang lenggang. Masih tersisa 5 menit sebelum mereka sampai di lab, Liliana rasa waktu itu cukup untuk memberi tahu para anak muda ini akan rencana cadangan baru yang telah ia sepakati dengan petinggi rumah sakit lainnya. “Ingat baik-baik ini, aku hanya mengatakan satu kali saja. Proyek vaksin kita akan terus berjalan, apa pun yang terjadi. Kita mendapat keuntungan karena lokasi laboratorium hanya diketahui oleh segelintir orang dan berada di bawah tanah. Memanfaatkan kondisi ini, kita akan melanjutkan penelitian secara diam-diam. Apabila kondisi publik telah tenang dan tak lagi memusatkan perhatian kepada kita, maka saat itulah Vaksin Hektovac sudah siap untuk dipublikasikan kembali.” Liliana langsung memandang satu per satu ke arah mereka untuk melihat tanggapan dari apa yang ia ucapkan tadi. Ia pun melanjutkan, “Kemarin kami memutuskan untuk memberitahu masyarakat agar berita pembuatan vaksin ini bisa membawa energi positif bagi mereka di tengah pandemi. Tapi siapa sangka, ada dua kejadian besar yang tiba-tiba terjadi. Lebih dari 50% masyarakat langsung beropini negatif terhadap pihak Hetalia. Ini adalah risiko yang paling berat.” “Jadi, itu alasan kenapa pihak Rumah Sakit Hetalia yang memegang tanggung jawab pada proyek ini sebesar 70% tak berani ambil risiko?” tanya Dika. Dokter koas yang terkenal ketus itu akhirnya buka suara setelah sekian lama mengamati situasi. Liliana yang mendengar pertanyaannya pun hanya bisa mengangguk. Wanita itu membenarkan spekulasi yang diutarakan oleh Dika. “Lantas, bagaimana pernyataan dr. Edgar yang mengatakan bahwa Sepkai Farmasi dan Universitas Tenggara tidak menjalin kerja sama dengan rumah sakit?” tanya Rafa kebingungan. Posisi rektornya yang tak bisa dihubungi terus dari semalam membuat ia dan teman-temannya serasa terombang-ambing kini. Apalagi setelah pernyataan pemutusan kerja sama tadi, ia merasa seperti tak tahu dimana tempatnya harus berada dan bingung harus bertindak apa. “Itu hanyalah pengalihan isu agar nama institusi mereka tak ikut jadi sorotan. Risikonya akan bertambah besar jika kedua institusi ini kena imbas juga,” jawab sang direktur rumah sakit dengan tenang. Mata Liliana tampak dipenuhi cahaya. Wajahnya terlihat begitu serius. Ia meneruskan, “Lagian, ada banyak tikus pengendus yang kini berenang di selokan Hetalia.” Kondisi di mobil yang dinaiki oleh Tim C itu tiba-tiba senyap. Atmosfer dalam mobil pun seakan berubah tanpa sebab ketika Liliana mengutarakan kalimat ambigu tadi. Mereka saling pandang. Apakah ini semacam istilah khusus? Alexa begitu keheranan dengan cara bicara dan tatapan Liliana saat ini. Ia dengan beraninya mengajukan pertanyaan, “Apa maksud Anda, Bu?” Liliana pun menoleh ke arah gadis itu dengan senyum simpul yang terpatri di wajahnya. “Kurasa kalian tidak perlu tahu akan hal ini. Biar kami yang mengurusnya. Lupakan siaran pers ini karena ini tidak berpengaruh sama sekali dari agenda yang telah kita buat. Fokus terus pada tahap pembuatan vaksin ini.” Baik ketiga pemuda maupun sang sopir di samping Liliana yang mendengar ucapannya tadi hanya bisa mengangguk tegas. Jika ini adalah keputusan terbaik maka tak masalah. Pada intinya, apa pun yang Hetalia lakukan semua hanyalah untuk kepentingan dan reputasi negara ini. “Satu hal yang perlu kalian ingat, proyek kali ini statusnya menjadi rahasia. Jangan pernah membahas apa pun terkait ini sekarang. Publik juga telah melihat wajah para mahasiswa Tenggara dan beberapa anak koas pada saat pers kemarin, maka jadwal kalian menjadi padat. Khusus untuk Rafa, status Mahasiswa Tenggara saat ini dipalsukan menjadi relawan di Hetalia. Apa kalian semua paham?” “Paham, Bu!” Mata hijau Rafa menerawang jauh. Ia tahu jika semalam rencana proyek ini akan dirombak total. Sebagai ketua tim, sepertinya Rafa harus siap dengan aksi pembuatan vaksin secara sembunyi-sembunyi ini. Kini dirinya tidak lagi berstatus sebagai anggota penelitian melainkan relawan di rumah sakit. Pemuda yang bertugas sebagai peneliti di lab itu kini harus berinteraksi langsung dengan para pasien Ex-0 di rumah sakit bersama dokter koas. Adam Hillary, Ketua Sepkai Farmasi sekaligus ketua proyek vaksin ini, telah memberi tugas pada Rafa dan timnya untuk meneliti lebih dalam para pasien Ex-0 di Rumah Sakit Hetalia. Tindakan itu dilakukan semata untuk mencari tahu potensi baru terkait adanya mutasi virus di negara ini. Dan pada akhirnya ketiga mobil hitam itu menghilang di balik sebuah tempat wisata terkenal yang disebut Oud Centra. Oud Centra adalah sebuah lokasi dimana wilayah tersebut berisi jajaran gedung berarsitektur tua. Kompleks gedung beraksen Eropa yang dibangun pada zaman kedudukan penjajah di Iranjia itu sampai kini dijadikan sebagai lokasi wisata di Distrik Pusat. Banyak sejarawan bilang bahwa dulunya tempat ini adalah kompleks perumahan elite dari para penjajah. Sepinya pengunjung ketika pandemi saat ini membuat tidak ada yang terlalu memperhatikan ketiga mobil tadi. Masuk ke dalam jalanan di kompleks Oud Centra, tepatnya 2 kilometer dari gerbang depan, terdapat sebuah kastel putih yang tidak terlalu diurus. Kastel itu lokasinya jauh dari pusat keramaian Oud Centra. Bangunan ini tersembunyi dibalik rimbunnya pepohonan dan berbatasan langsung dengan Sungai Kale, sungai terbesar di Distrik Pusat, sehingga tempat ini pun tidak pernah dijamah wisatawan. Jalanan dalam Oud Centra ini bisa dikatakan buntu karena ujungnya hanyalah aliran deras Sungai Kale. Di bawah kastel itulah terdapat pintu masuk ke basement, tempat dimana laboratorium yang dipakai dalam proses pembuatan vaksin Hektovac berada. Pintu masuk itu berupa gerbang besi besar yang selalu dikunci. Dalam sekejap pun, tiga mobil hitam tadi menghilang dibalik pepohonan dan tak dapat dilihat oleh siapa pun lagi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN