Pria ini adalah Tom Hustoff, tertera jelas namanya pada sebuah tanda pengenal di baju yang ia kenakan. Laki-laki dengan kacamata bulat itu hanya bisa mendecih tak berdaya sembari menatap tajam ke sosok yang berdiri di depannya. Samar-samar, dapat dilihat beberapa luka lebam di wajahnya pada ruang temaram ini.
“Masih tak mau mengaku?” Sebuah pukulan dilayangkan lagi padanya.
Tom hanya bisa menunduk ke bawah dalam keadaan tersungkur. Ia mengerang frustrasi. Tangannya dengan cepat meraih kacamata bulat yang ia kenakan dan melemparnya ke dinding hingga pecah. Ia berusaha berdiri, menatap nyalang ke arah sosok itu.
“Memangnya aku bisa apa?! Aku tidak bisa apa-apa! Kalian semua adalah orang berkuasa yang biadab! Kalian memanfaatkan posisi kalian sesuka hati untuk kepentingan sendiri.” Tom menundukkan wajahnya dengan keadaan terpukul.
Tawa nanar terdengar dari dirinya, pria berambut hitam itu melemparkan senyum seringai. “Lihat sekarang, apa yang telah dilakukan oleh Kepala Polisi Distrik Pusat? Dia menganiaya seorang jurnalis yang menyuarakan keadilan. Sungguh menyedihkan.”
Pria berambut gondrong seleher itu hanya memandang datar ke arah Tom ketika mendengar penuturan tadi. Ia menggaruk telinganya yang tidak gatal sebagai tanda tak peduli dengan apa yang jurnalis itu katakan.
Ya, pria berkacamata bulat bernama Tom Hustoff ini ialah sosok yang telah menjadi sumber kekacauan di Rumah Sakit Hetalia kemarin sore. Ia adalah jurnalis yang menuduh Hetalia telah melakukan korupsi.
Tak butuh waktu lama bagi Dokter Edgar, selaku wakil direktur dari Hetalia, untuk mencari dan memberi hukuman pada sosok jurnalis tersebut. Di hari yang sama dengan diadakannya konferensi pers Hetalia, Tom telah diamankan oleh pihak kepolisian Distrik Pusat.
Di tengah hari yang terik ini, pria berkacamata bulat dengan rambut keriting itu tengah diinterogasi secara langsung oleh Kepala Polisi Distrik Pusat, Zainudin Keil.
“Sesungguhnya aku peduli padamu,” ujar kepala kepolisian yang kontras dengan ekspresinya.
“Apa? Peduli katamu? Orang yang peduli seharusnya tidak memukuliku!”
Kepala kepolisian itu menghela nafas lelah. Ia kemudian duduk di kursi yang telah disediakan di dalam ruang interogasi kantor polisi ini.
“Aku hanya melakukan tugasku. Aku tahu jika mungkin kau mengalami tindakan tak adil. Tapi, perilakumu yang melempar tuduhan palsu itu tidak dibenarkan.”
“Soal apa? Korupsi pada Hetalia? Mungkin jika yang melayangkan tuduhan itu bukanlah jurnalis kampung seperti aku maka kau akan membiarkannya! Kau tidak tahu tentang semua hal yang telah terjadi padaku dan dengan seenaknya menempatkan diriku sebagai sosok antagonis. Kau ini baji—“
“DIAM!”
Kali ini bukan pukulan yang dilayangkan oleh polisi itu, melainkan teriakan dengan aura yang begitu mencekam. Gertakan dengan aura tajam itu membuat jurnalis berusia 27 tahun itu menciut.
Kepala polisi yang kerap disapa Zain itu memandang tajam ke arah sang jurnalis dengan serius sekarang. Orang di depannya ini benar-benar menguras waktu dan tenaganya saja. Sudah dua jam ia di sini bersamanya, tapi tetap saja manusia ini kukuh pada pendirian dan tak mau buka suara.
“Kau tahu? Aku menginterogasimu di sini bukan menempatkan dirimu sebagai pelaku. Aku hanya butuh kesaksian dan pernyataanmu. Dari mana kau menerima data pasien dan tuduhan korupsi itu? Siapa yang menyuruhmu? Kalau kau menjawabnya sejak tadi, aku tidak akan pernah memukulmu.”
Tom Hustoff adalah pria yang belum terlalu berumur, usianya baru 27 tahun bulan Februari lalu. Namun, wajahnya yang penuh kerutan itu membuat banyak orang mengira bahwa dirinya 10 tahun lebih tua. Dia adalah warga Distrik Pusat yang tinggal di perbatasan wilayah Pusat dengan Distrik Utara. Data yang bisa diketahui dari Tom adalah ia merupakan anak yatim piatu. Dari kecil dirinya dibesarkan di sebuah panti asuhan kecil di perbatasan. Sebelum menjadi jurnalis, Tom bekerja sebagai buruh tambang di Distrik Utara. Kini, pria yang bekerja di Redaksi Paleo itu ditangkap untuk diinterogasi mengenai perbuatannya yang menggegerkan publik kemarin sore.
“Dia adalah adikku! Pasien itu adalah adikku! Apakah kau tahu?!”
Mata Zain sedikit melebar. Pria yang memakai kaos hitam itu kini sedikit mulai paham dengan motif yang dilakukan Tom.
Tom tak bisa menahannya lagi. Ia tersungkur dan tidak kuasa berdiri ketika mengingat jasad adik perempuannya yang sudah ditemukan membusuk itu. Awalnya ia tidak tahu, bahkan ia meliput secara langsung dan melihat jasad tinggal tulang itu. Matanya bergetar hebat ketika ia memikirkan itu semua. Tangannya hanya bisa menangkup wajahnya yang terpukul. Pria itu menahan air matanya.
“Rossa adalah seorang ibu panti. Ia melanjutkan pekerjaan ibu yang telah tiada untuk mengurus panti asuhan tempat kami tinggal. Ia dan aku hanya berjarak 3 tahun. Kami memang bukan saudara, tapi ikatan kami sangat kuat. Aku bertugas menghidupi panti dengan bekerja sedangkan Rossa yang bertugas mengurus segala hal di sana.”
Zain yang melihat kondisi pria yang lebih muda 12 tahun di depannya ini merasa iba. Ia bangkit dari posisi duduknya di kursi. Kepala polisi itu duduk bersila di depan Tom sekarang. Dua pria itu kini saling duduk berhadapan di lantai. Mata hitam Zain sedikit melirik ke arah seorang pria tua dengan jas putih yang berdiri di pintu interogasi.
Gigi Tom saling bergemeletuk. “Lalu, semua petaka terjadi ketika Rossa dinyatakan positif terinfeksi Virus Ex-0!”
“Apa yang terjadi?”
Tangan yang menangkup wajah itu kini telah dilepaskan oleh Tom. Jurnalis itu menatap Zain di depannya dengan pandangan kosong namun penuh emosi. Alisnya menukik tajam.
“Rossa berencana menikah bulan ini, tepatnya pada tanggal 13 kemarin. Tidak ada gejala atau apa. Tiba-tiba anak-anak sering mendengar jeritan dari dalam kamar tidurnya. Mereka mengatakan padaku kalau Rossa mengalami mimpi buruk tiap hari. Aku pulang dan memeriksakannya ke klinik. Di sana adikku dinyatakan positif terinfeksi Ex-0. Rossa pun akhirnya tinggal serumah dengan calon suaminya agar anak-anak di panti tidak ada yang ketularan.”
“Apakah keadaannya memburuk setelah itu?” sahut Zain mendengarkan.
Tom merasakan kepalanya pening lagi ketika mengingat semua hal tentang adiknya. Ia memegang kepalanya dengan kuat. Pria itu pun akhirnya bisa melupakan rasa bencinya pada kepala polisi yang duduk di depannya saat ini. Ia menceritakan semua hal dari awal sampai akhir. Masih teringat di kepalanya, saat itu kondisi Rossa semakin parah ketika ia menjenguknya di rumah sang calon suami. Rossa tak bisa beraktivitas dan merasakan detak jantungnya yang tiap hari terasa berdebar dengan kuat.
Tom tahu bahwa upahnya tak seberapa, apalagi setelah gajinya dipotong karena pandemi. Ia juga harus menghidupi panti asuhan. Namun, dirinya nekat membawa Rossa ke Rumah Sakit Hetalia agar mendapat perawatan optimal saat itu. Perempuan berambut coklat sebahu itu mendapatkan perawatan hanya seminggu di sana. Uang Tom saat itu tidak cukup untuk membiayai Rossa agar sembuh seratus persen. Pihak rumah sakit akhirnya menyuruh mereka keluar karena masih banyak pasien lain yang sanggup membayar lebih agar bisa terawat.
“Adikku saat itu hanya bisa tersenyum padaku dan mengatakan bahwa sekarang ia merasa lebih baik.”
Tom merasakan air matanya mengalir ketika mengingat momen dimana ia bisa melihat sang adik untuk terakhir kalinya.
“Saat itu aku terpaksa membawa Rossa pulang ke panti asuhan karena sungkan dengan keluarga calon suaminya. Aku yang saat itu harus tetap bekerja akhirnya meninggalkan Rossa dan anak-anak di panti selama beberapa minggu. Uang hanya kukirimkan via transfer akibat kantor begitu sibuk. Aku hanya menelepon sesekali dan kudengar Rossa sudah sehat,” lanjut Tom dengan senyum nanar yang terpampang nyata.
Tom tidak tahu jelas apa yang terjadi. Semuanya bermula minggu lalu, tepatnya 5 hari setelah berita penemuan mayat itu, calon suami adiknya tiba-tiba datang ke tempat kosnya. Ia memohon maaf sejadi-jadinya. Pria itu bahkan siap jika harus dilaporkan ke polisi. Ia mengatakan bahwa mayat yang ditemukan kemarin adalah Rossa. Gigi Tom bergemeletuk ketika mengingat kejadian tersebut.
“Ternyata selama Rossa dirawat di Hetalia, ibu calon suaminya tertular virus Ex-0. Sakit jantung ibunya semakin parah akibat virus ini. Sang ibu bahkan terus meminta anak laki-lakinya tersebut untuk membunuhnya. Psikis dan fisik wanita itu diserang telak. Anaknya pun tak mampu jika harus membiayai biaya rumah sakit.”
Zain memandang serius ke arah Tom. Kondisi Iranjia saat ini memang dikatakan belum mampu jika memberikan subsidi kepada penduduknya yang banyak agar gratis rawat inap. Jadi tak kaget bila nyatanya di luar sana banyak orang yang terinfeksi virus dan tidak mendapat perawatan baik akibat masalah ekonomi.
Tom melanjutkan ceritanya, “Beliau pun meninggal tepat ketika Rossa tinggal di panti selama seminggu. Tiga hari kemudian, Rossa yang tidak tahu apa-apa pergi berkunjung ke sana. Calon suami adikku yang masih terpukul langsung meluapkan emosi ke arah Rossa. Laki-laki itu tak terima dengan keadaan adikku yang tampak baik-baik saja sedangkan ibunya harus meregang nyawa. Mereka terlibat pertengkaran hebat, bahkan pria itu main tangan pada Rossa karena emosi.”
“Apakah setelah itu adikmu pulang dengan keadaan terpukul?”
Tom menyunggingkan senyum nanar. “Ia pulang dengan bis saat itu. Kondisinya yang terpukul membuat ia tidak sadar bahwa panti asuhan sudah terlewat. Dia berhenti di sembarang tempat lalu berjalan tidak tahu arah, jika aku tebak. Sampai akhirnya Rossa menemukan hutan di lokasi perbatasan Distrik Pusat dengan Distrik Timur. Dia—”
Tangan Zain langsung menepuk bahu Tom dengan kuat. Ia tahu betapa mengenaskannya jenazah yang ditemukan di tepi hutan kemarin. Berdasarkan penyelidikan tim forensik, korban saat itu mengalami benturan keras di bagian kepalanya. Dugaan yang pasti ia terus berjalan tanpa arah dan akhirnya jatuh atau terpeleset di dalam hutan. Korban yang sadar pun berusaha keluar dari hutan untuk kembali pulang. Akan tetapi, lukanya yang parah di kepala membuat korban pingsan di tepi hutan dan tewas karena tidak langsung mendapat pertolongan selama beberapa hari.
“Kau masih muda.”
Ucapan Zain itu membuat Tom yang terpukul menengadahkan kepala dan memandang ke arahnya.
Kepala polisi itu melanjutkan, “Dulu aku juga punya saudara, seorang kakak sepupu perempuan yang begitu aku kagumi dan sayangi. Aku tahu betapa hancurnya perasaanmu saat ini ketika adikmu telah tiada akibat luka psikis, entah itu akibat campur tangan virus Ex-0 atau bukan. Yang ingin kukatakan padamu adalah jangan termakan oleh rasa dendam.”
“Tapi andai saja Hetalia memberi kesempatan agar adikku bisa sembuh seratus persen atau andai saja negara ini bisa membantu orang miskin seperti kami, pasti ibu dari calon suami adikku juga masih hidup!”
Zain membantu Tom untuk berdiri dan menopang tubuhnya. Kepala polisi Distrik Pusat ini tahu, mata dari pria di depannya ini dipenuhi oleh kilat amarah akibat rasa ketidakadilan yang ia alami.
“Andai saja aku kaya.” Wajah jurnalis ini tampak mengeras.
“Andai saja negara ini bisa lebih makmur.” Tangannya tak luput dari gemetar. Ia mengepal erat.
“Andai saja virus ini tidak pernah ada.” Tom merasakan sensasi yang aneh. Ada rasa yang menggambarkan seolah semua hal di hidupnya telah hancur.
“Andai saja semua itu tidak terjadi, maka adikku... adikku...!” Tom tidak tahu, dadanya begitu sesak dan berdebar hebat.
Zain pun memandang aneh ke arah pria ini. Ada yang tak beres. Ia bisa melihat Tom menahan sakit dengan menggertakkan giginya. Pria berambut panjang yang masih menyentuh bahu milik Tom itu langsung menggoyang-goyangkan tubuh jurnalis ini.
“Hei, apa kau baik-baik saja?” tanya Zain dengan ekspresi yang begitu bingung.
“Kau sebaiknya harus segera ikut aku ke rumah sakit saat ini.”
Ucapan itu langsung menarik perhatian Tom dan Zain. Kepala polisi itu langsung memandang ke arah pria berjas putih yang sedari tadi memperhatikan interogasi ini di seberang pintu. Tom sendiri yang menahan sakit di dadanya langsung berbalik dan menemukan bahwa salah satu petinggi di Hetalia tengah berjalan ke arahnya. Itu adalah dr. Edgar Barinton, wakil direktur Rumah Sakit Hetalia.
Tentu saja, mata sipit jurnalis ini langsung memandang tajam ke arahnya. Segala hal berbau Hetalia seakan menjadi hal menjijikkan baginya. “Kau— apa yang kau inginkan?! Sedari tadi kau ada di sini?!”
“Setelah siaran pers tadi aku langsung menuju ke kantor polisi dan melihat interogasimu secara langsung. Tak kusangka bahwa kisahnya akan menjadi seperti ini. Aku paham bahwa dirimu memiliki dendam tersendiri pada kami.”
“Lantas mengapa?!” sahut sang jurnalis dengan pribadi keras itu pada pria berusia 55 tahun di depannya. Zain yang melihat itu hanya bisa diam.
Wajah penyesalan terbentuk jelas di raut tua dr. Edgar. Ia meminta maaf secara tulus pada Tom Hustoff. Dokter senior itu ingin mengutarakan permintaan maafnya mewakili seluruh staf Hetalia.
“Kau merasakan sakit di dadamu. Jantungmu seakan tak bisa berhenti berdebar baru saja, bukan? Ayo ikut aku ke rumah sakit. Itu adalah salah satu indikasi terinfeksi Ex-0. Pihak Hetalia akan menanggung semua hal terkait perawatanmu sebagai permohonan maaf atas apa yang telah terjadi.”
Ruangan ini diselimuti oleh keheningan setelah dr. Edgar mengatakan hal tersebut. Namun tak usah menunggu waktu lama, tawa keras dari Tom langsung saja pecah. Itu membuat Zain dan Edgar memusatkan perhatian ke arah pemuda ini. Apa yang terjadi?
“Kau ingin menyogokku, bukan? Bilang saja hahaha! Tak usah merasa bersalah dan memasang wajah menjijikkan itu.”
Tom yang terus tertawa tampak mengusap bekas tangisannya. Ia memandang ke arah dokter ini dengan senyum remeh yang sesuai dengan ciri khasnya. Tatapannya bergulir ke sosok Zain yang masih berada di samping jurnalis itu.
“Tuan Kepala Polisi, jika aku mengatakan siapa orang yang menyuruhku maka aku bisa pergi keluar kan?” tanya Tom dengan penuh senyuman.
Alis Zain mengernyit heran. “Tentu saja, kau bisa keluar setelah mengatakan semua hal yang kau tahu. Bukankah tadi aku bilang begitu? Tapi sebaiknya kau harus ikut dr. Edgar ke Hetalia untuk—“
“Yang menyuruhku melayangkan isu korupsi adalah salah satu anggota dewan komisaris parlemen. Soal data lain terkait pasien itu aku yang membuatnya sendiri karena korban yang dimaksud di sini adalah adikku. Aku mengenalnya lebih dekat dari siapa pun.”
Mata Zain dan dr. Edgar melebar kaget ketika mendengar penuturan itu. Apa yang diharapkan anggota dewan itu dengan melayangkan isu korupsi ini? Apakah ia bermaksud menggagalkan proyek vaksin Hetalia?
“Siapa namanya?” tanya Zain.
“Roy Ayasa.”
Ucapan itu sontak membuat kedua tokoh ini mematung lagi. Informasi apa ini sebenarnya? Mereka berdua hanya bisa menatap tak percaya ke arah Tom Hustoff. Tom yang mengerti arti tatapan itu sontak melangkah dan mengambil tasnya di meja. Urusannya di sini selesai. Pria itu tak ingin berbicara apa pun lagi. Ia menyerahkan segala berkas yang diperlukan kepada Zain.
“Ini adalah bukti dan data yang aku kumpulkan. Segala hal korupsi ini bersumber langsung dari Roy. Aku harap tugasku di sini selesai. Sesuai perkataanmu tadi Tuan Zain, aku akan pergi keluar setelah mengakui segala hal. Aku tidak mau berada satu ruangan dengan orang Hetalia.”
Tom berniat keluar sembari membawa tas ranselnya. Namun, langkah pria itu dihentikan oleh Zain yang mencekal lengannya.
“Setidaknya kau harus ikut dr. Edgar ke rumah sakit untuk tes. Bisa gawat kalau dirimu terinfeksi.”
Tom yang sudah melangkah keluar tadi hanya bisa melirik ke arah Zain melalui ekor matanya. “Apa? Aku kembali ke Hetalia bersama orang itu? Tidak sudi. Permisi Tuan Zain, aku harus pergi sekarang.”
Zain pun hanya bisa memandang datar ke arahnya. Dendam dan amarah pria itu benar-benar hebat. Ketika tangan Tom sudah memegang knop pintu, suara dari dr. Edgar menghentikan niatannya untuk keluar.
“Apakah kau tidak setuju dengan program vaksin ini sampai mau disuruh menyebarkan isu buruk tadi? Ini demi Iranjia. Kita bisa buktikan pada negara luar bahwa negara kita ini hebat. Ini juga untuk menghapus virus Ex-0 dari dunia. Apa kau tidak mau ini semua terjadi?”
“Tentu saja, aku menginginkan hal itu.” Ada jeda sejenak sebelum Tom melanjutkan, tubuhnya masih tetap menghadap pintu dan tidak berbalik. “Tapi negara hebat apa yang masih membiarkan rakyatnya menderita dan tiap hari tersiksa oleh tangisan akibat kemiskinan?”
Edgar hanya bisa diam mendengarkan. Tom melanjutkan, “Kenapa dirimu yang memosisikan diri sebagai pahlawan justru mengharapkan pamrih? Kau ini sama saja. Baik kau atau pun pemerintah. Semuanya menyebalkan. Kenapa aku harus diam saja dan membiarkan kebusukan kalian tidak diketahui rakyat?”
Lagi-lagi Edgar hanya bisa diam mendengarkan. Emosi tidak boleh menguasainya di tempat ini. Melihat atmosfer di ruangan ini yang semakin tak baik, Zain pun angkat bicara. “Jadi, kau sebenarnya tidak memihak dua kubu baik Hetalia maupun Parlemen?”
“Aku ini jurnalis lho, Tuan Zain. Aku akan menyuarakan kebenaran.” Mata Tom melirik ke arah sang kepala polisi. Ia melanjutkan, “Terkait isu itu benar atau tidak, pasti Komisi Pemberantasan Korupsi akan segera menyelidiki Hetalia. Dan kita tinggal lihat saja kebenaran itu nanti.”
Zain hanya bisa mendengus, sepertinya penyelidikan yang dilakukannya tidak akan berhenti di Tom. Masih banyak orang di luar sana yang terlibat dalam kasus satu ini.
Sebelum melangkah keluar, pria berusia 27 tahun itu memanggil Zain. “Oh iya, Tuan Zain. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi padaku nantinya. Aku ingin perlindungan darimu sebenarnya. Senang bertemu denganmu. Semoga kakak sepupumu dan adikku kini bisa bahagia di surga.”
Mata hitam Zain melebar. Ia hanya bisa berdiri mematung ketika melihat Tom. Pria itu kini membuka pintu lalu berjalan keluar. Menurut Zain, ucapan Tom tadi entah kenapa terdengar penuh makna. Perlindungan dari apa? Apakah Roy Ayasa akan mencelakai Tom karena jurnalis itu sudah menyetorkan namanya ke polisi? Atau perlindungan dari keganasan Ex-0 yang diduga menyerangnya saat ini?
Zain yang terus berkecimpung di pikirannya langsung mengabaikan suasana sekitar. Ia tak menyadari bahwa kini dr. Edgar telah berdiri di dekatnya.
“Kau sebaiknya ganti baju dan maskermu, Tuan Zain. Ada indikasi bahwa jurnalis tadi terinfeksi virus Ex-0 saat ini.”
Zain yang mendengar saran itu langsung menoleh ke arah pria tua di sampingnya. Ia lalu memegang kaos hitamnya. “Yah, mungkin kau benar, dr. Edgar.”