Survei laboratorium bukanlah hal yang sulit. Bagi tenaga medis, laboratorium sudah bagaikan tempat tinggal kedua. Jadi, tim anggota baru dari Rumah Sakit Hetalia pun tak mengalami kesulitan apa pun.
Meninggalkan dr. Edgar yang pergi ke kantor polisi Distrik Pusat setelah acara pers Hetalia selesai, regu rumah sakit yang tadi sudah sampai di laboratorium kini tampak berkeliling dan melihat progres vaksin Hektovac yang sudah dimulai semenjak tujuh bulan yang lalu. Adam Hillary—sosok yang menjadi ketua dan penanggung jawab dari vaksin Hektovac—kini mendampingi Liliana dan lainnya melihat progres vaksin yang mereka buat.
Karena kondisi publik yang masih heboh setelah konferensi pers kemarin, khusus hari ini para pegawai dari Sepkai Farmasi dan ilmuwan-ilmuwan yang bekerja sama dalam pembuatan vaksin ini tidak bekerja. Laboratorium serba putih yang begitu luas ini terlihat sangat lenggang saat ini. Hanya ada Adam, Liliana, Intan, beserta tiga tim bentukan dr. Deva pagi tadi yang tak lain dan tak bukan adalah Tim A, B, dan C.
“Apakah ini tidak salah?” Ais bertanya dengan nada penuh keheranan. Gadis berperawakan kecil dengan poni yang menutupi dahinya itu memandang tak percaya pada empat mahasiswa Tenggara.
Ia lalu menunjuk ke arah beragam sampel virus aktif yang sudah dimatikan. Sampel itu diletakkan pada meja berlapis kaca di depannya. “Kalian berempat ikut andil dalam membuat ini? Bagaimana bisa?”
Beni tampak mendecakkan lidah tak percaya. “Wow, anak universitas elite memang beda ya? Apa yang kalian makan sampai bisa membuat hal seperti ini?”
Ketua tim dari dokter koas itu langsung memandang ke arah Hendra yang ada di sampingnya. Hendra, Beni, dan Ais berada dalam satu tim sekarang. Tim mereka adalah Tim A. Pemuda berwajah sayu yang merupakan Mahasiswa Tenggara itu hanya bisa tertawa receh ketika ditatap penuh kagum oleh dua rekan se-tim barunya yang baru ini.
“Aku sebenarnya bukan berada di divisi ini. Wilayah laboratorium yang ini adalah milik Divisi Penguji yang langsung berhadapan dengan virus. Karena aku dari jurusan farmasi, aku berada di Divisi Penelitian yang bertugas memproses keefektifan vaksin,” jawab Hendra sembari terkekeh.
Maria yang mendengar percakapan antara ketiga orang yang berada di Tim A itu langsung mengernyit heran. Gadis berambut pendek itu langsung menatap dua orang Mahasiswa Tenggara lain yang satu tim dengannya, mereka adalah Ardi dan Rino.
“Tunggu, apakah ini maksudnya kalian yang berasal dari Universitas Tenggara tidak berada dalam satu tim yang sama sejak tujuh bulan yang lalu?” tanya Maria.
Ardi pun sontak menoleh ke arah gadis itu. Ia menggelengkan kepalanya. “Bukan seperti itu cara kerjanya, woi. Kami berempat dibagi dalam divisi berbeda karena tidak berasal dari jurusan sama.”
“Ya, dia benar. Dia berada di dalam Divisi Peneliti yang sama dengan Hendra karena berasal dari jurusan kedokteran. Kalau aku berada di Divisi Evaluasi sebab berasal dari jurusan psikologi,” ujar Rino dengan nada malas.
Maria yang mendengar itu pun sontak mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai pertanda bahwa dirinya paham. Ketiga orang yang berada dalam Tim B itu tampak mendiskusikan hal lain setelah Maria banyak bertanya kepada Ardi dan Rino.
Alexa sendiri yang masih sibuk memperhatikan meja yang ditutup oleh lapisan kaca tebal ini tampak mengerutkan kening tak paham.
“Kalau ini adalah milik Divisi Penguji, lalu siapa dari kalian yang berada di divisi ini?” tanya Alexa dengan nada yang sedikit keras tanpa ia sadari. Gadis itu entah kenapa begitu semangat hari ini. Ucapan Alexa yang keras itu pun akhirnya turut didengar oleh Tim A dan B yang juga berada di dekatnya.
Rino yang memasang wajah bosan terlihat menguap karena rasa kantuknya yang sudah tak tertahan. “Kalau tim ini sih Rafa yang menjadi pusatnya.”
Sontak anggota Tim A, B, termasuk Alexa dan Dika yang merupakan dokter koas yang berada di Tim C langsung memusatkan perhatian ke arah pemuda bersurai coklat yang dimaksud. Rafa sendiri tampak tak sadar jika ia diperhatikan. Pemuda itu sedari tadi hanya berdiri diam di samping Dika dan sibuk memainkan ponselnya.
“Oh iya, benar juga. Rafael Zohan dari jurusan mikrobiologi kan? Pantas jika dia berada di sini,” sahut Ais ketika yang lain masih diam memperhatikan Rafa.
Maria pun langsung memusatkan perhatiannya kepada deretan virus-virus ini. Hati kecilnya sangat ingin mengambil sampel itu dan mengamatinya secara langsung melalui mikroskop.
“Ini benar-benar keren ya? Mematikan virus pasti sangat menantang!” Gadis berambut pendek itu merekahkan senyum lembar di balik maskernya.
Ais yang mendengarnya pun sontak mengangguk. “Gila, Rafa benar-benar keren. Kalian juga tidak kalah keren. Semua dari Universitas Tenggara memang hebat.”
“Meskipun begitu, jangan lupakan bahwa Beni Herinson juga akan menjadi The Next of Albert Enstein. Aku tidak akan kalah dengan kalian berempat ya?” goda Beni pada Hendra dan kawan-kawannya yang lain.
Semuanya pun sontak tertawa receh ketika mendengar penuturan dari ketua tim dokter koas yang begitu percaya diri tersebut. Selama ini Beni memang selalu dikenal sebagai pemuda yang periang dan humoris. Jadi tak salah jika dirinya sudah terlihat sangat dekat dengan Mahasiswa Tenggara yang akan menjadi bagian dari tim dokter koas selama beberapa bulan ke depan. Padahal dia dan empat orang pemuda itu baru bertemu kemarin.
Alexa dan Dika yang melihat Tim A dan B tertawa begitu riang tersebut langsung saling pandang. Kedua dokter koas yang berada di Tim C ini hanya bisa tersenyum simpul. Mereka berpandangan dengan tatapan yang penuh arti. Entahlah, keduanya secara tak langsung ingin berbincang banyak hal mengenai sosok pemuda bule yang menjadi rekan mereka di Tim C saat ini.
Bagaimanapun juga, dokter koas maupun Mahasiswa Tenggara lain tak ada yang mengetahui siapa sosok anak berambut coklat ini. Mereka semua tidak tahu bahwa sosok Rafael Zohan inilah yang akan menjadi kunci sukses dari program Vaksin Hektovac yang sudah dikembangkan ini. Hanya Alexa, Dika, dan Bu Intan yang mengetahui hal tersebut.
Jika memang benar Rafa telah berperan banyak dalam hal hebat seperti berurusan dengan virus ini, maka tak dapat dipungkiri lagi kalau anak itu akan menjadi kunci keberhasilan dari program vaksin ini. Siapa orang di Iranjia atau bahkan dunia ini yang tak mengenal Profesor William Zohan sejak insiden kecelakaan tragisnya beberapa tahun lalu? Profesor itu bahkan sangat terkenal akan temuan anti virus HIV-nya. Orang dari negara Jensberg itulah yang telah berhasil menghapuskan HIV/AIDS dari dunia ini.
Jika anak dari Profesor William Zohan diketahui telah membuat vaksin untuk melenyapkan Exitium Zero alias Ex-0 dari permukaan bumi, maka orang mana yang akan menolak vaksin buatannya?
Seolah memiliki pemikiran sama, Dika dan Alexa langsung menganggukkan kepala. Mereka berdiskusi secara langsung tanpa disadari. Kedua dokter koas ini hanya memikirkan satu hal. Mereka sepakat bahwa Rafael Zohan adalah kunci utama dari cerita yang tengah mereka lalui.
Rafael Zohan kini merupakan tokoh utama yang akan berperan penting dalam misi penyelamatan dunia dari keganasan Ex-0. Dia adalah satu-satunya sosok yang bisa membawa nama Iranjia harum di mata dunia.
Dika dan Alexa yang sedari terus berpandangan dengan raut tegang dan serius itu tak sengaja melihat ke arah Bu Intan yang kini menatap mereka berdua jauh di depan sana. Ketua farmasi yang memiliki kulit coklat tan itu menatap ke arah Tim C dengan pandangan penuh arti. Ketika Adam Hillary dan Liliana Seran berbalik menuju arah selanjutnya, Intan langsung melirik ke arah Dika dan Alexa.
Kedua dokter itu langsung memperhatikan gerak-gerik Bu Intan tanpa disadari oleh siapa pun. Dari kedua pasang mata dokter koas itu, mereka dapat melihat sosok Intanius Stefani yang kini menaruh jari telunjuknya di depan masker yang ia kenakan. Secara tak langsung, wanita berperawakan tinggi itu memberikan kode untuk merahasiakan suatu hal. Ini pasti terkait Rafa. Dika dan Alexa yang melihat itu pun langsung merekahkan senyum kecil dibalik masker mereka. Keduanya langsung mengangguk sebagai tanda paham.
Selain virus Ex-0, kini Rafael Zohan telah menjadi misteri baru bagi dua anggota dari Tim C ini. Siapa sebenarnya sosok pemuda eksentrik dengan rambut coklat ini?
“Ayo kita segera menyusul Tuan Adam dan Bu Liliana. Mereka sudah pergi ke ruang selanjutnya bersama Bu Intan!”
Ucapan Ais itu pun langsung membuat perhatian ketiga tim ini terpusat ke arah tiga orang dewasa yang kini sudah melangkah menjauh tersebut. Baik Tim A, B, maupun C langsung bergegas menyusul mereka.
Rafa pun sontak memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jas laboratorium berwarna hitam dari Rumah Sakit Hetalia tadi. Beberapa saat lalu, mata hijaunya langsung terperangah kaget ketika melihat anak-anak lain berjalan terburu-buru melewatinya.
Pemuda bersurai coklat ini memang tak begitu memperhatikan sekitar dari tadi. Ia sudah hafal ruangan yang mereka tempati saat ini karena sejak tujuh bulan yang lalu Rafa selalu sibuk di sini. Dirinya sudah hafal seluruh seluk beluk ruangan laboratorium sehingga secara tak langsung membuat dirinya tidak begitu memperhatikan survei yang tengah mereka semua lakukan sekarang.
Rafa kini berjalan beriringan dengan Dika dan Alexa. Di depannya ada Maria, Rino, dan Ardi yang merupakan anggota dari Tim B.
“Sebenarnya apa yang kau lihat sedari tadi di ponselmu?” tanya Dika tak habis pikir. Dokter koas yang berwajah ketus itu tampaknya langsung melunak apabila dirinya berbicara pada Rafa.
Maria yang melihat perilaku dari Dika yang berjalan di belakangnya itu langsung meliriknya dengan pandangan terkejut bukan main. Apa dia tak salah? Rasanya aneh sekali melihat Dika bersikap lunak pada seseorang yang baru ditemuinya. Mereka yang berstatus sama sebagai dokter koas di Hetalia saja memerlukan waktu selama lebih dari tiga bulan untuk melunakkan Dika.
Anak ini sedang sehat-sehat saja kan? Atau dia bukan Dika? Maria pun sontak menggelengkan kepalanya dengan keras untuk menghilangkan pemikiran anehnya tadi.
Di sisi lain, Rafa yang ditanyai seperti itu oleh Dika hanya bisa menghela nafas lelah. Ia berjalan di samping kiri sementara Dika berada di ujung kanan. Di antara pemuda ini terdapat Alexa yang hanya memperhatikan percakapan mereka sejak tadi.
“Aku hanya sedang berusaha menghubungi seseorang,” jelas Rafa dengan nada lelah.
Alexa pun memandang ke arahnya. “Apakah yang kau maksud adalah rektormu? Seperti yang kau ceritakan pagi tadi?”
Rafa pun mengangguk. Ia terus-terusan berusaha menghubungi sang rektor tapi hasilnya nihil. Teleponnya masih tidak aktif sampai sekarang. Sebenarnya apa yang terjadi? Rafa pun tak sengaja melirik ke arah Dika yang memasang ekspresi penuh tanya.
“Apa?” tanya Rafa.
“Tidak, aku hanya heran. Memangnya ke mana perginya rektormu sampai tak bisa dihubungi hingga saat ini?
“Kalau hal itu, aku pun juga tak tahu.”
Ardi yang sedari mendengar percakapan yang terajut di antara Tim C itu langsung melirik ke arah Rafa.
Pemuda jurusan kedokteran yang tergabung dalam Tim B ini sontak berucap, “Sudahlah, Rafa. Abaikan saja rektor tua itu. Dia memang menyebalkan. Kalau tidak bisa dihubungi ya sudah lupakan saja.”
Alis Rafa mengernyit heran. “Tapi, masalahnya—“
“Berandalan ini benar, Rafa. Kau seharusnya tidak perlu mengkhawatirkan hal itu secara berlebihan.” Rino yang berjalan di depan Alexa langsung menoleh ke arah Rafa, “sekarang fokus saja pada kegiatan kali ini.”
Rafa pun langsung menghembuskan nafas lelahnya lagi. Ia menoleh ke arah Alexa dan Dika dengan raut muka bersalah. Pemuda bermata hijau ini merasa bersalah pada mereka berdua karena sibuk sendiri sejak tadi.
Melihat wajah itu, Alexa pun sontak tertawa. Ia memukul bahu Rafa sambil menahan tawa. “Apa-apaan wajahmu itu hah? Santai aja kali!”
Dika pun menggelengkan kepala tak habis pikir. “Bukannya aku memaafkanmu, tapi ya sudahlah. Aku tahu kalau kau sedang ada masalah saat ini. Meskipun begitu terap saja, awas jika kau tak merasa bersalah atas kelakuanmu tadi.”
Alexa yang melihat sikap Dika sontak tertawa lepas. Ia tak bisa menyembunyikan tawanya lagi. “Kau ini kenapa? Kenapa jadi tsundere seperti ini? Ahhahaha!”
“Apa katamu?!” tanya Dika tak terima.
Rafa yang melihat adanya percikan yang bisa memicu pertarungan antara Dika dan Alexa ini pun hanya bisa melerai mereka. Ia langsung mengibas-ngibaskan tangan di antara kedua orang itu sebagai usahanya untuk melerai mereka.
“Oi, oi, oi! Kalian ini, sudahlah! Hei, jangan sampai bergaduh di lab!” lerai Rafa. Pemuda itu sontak menggampar pelan pundak Alexa untuk mencegahnya melakukan hal usil pada Dika yang saat ini tengah marah tersebut.
Dasar ya. Baik Alexa, Dika, maupun Rafa benar-benar tak habis pikir. Sepertinya perpaduan yang tercipta antara Tim C ini bukanlah hal yang buruk. Ketiganya merasa nyaman satu sama lainnya. Tanpa sadar, Rafa dan Alexa yang menyadari kebodohan mereka langsung tertawa kecil. Di lain sisi Dika tampak membuang mukanya ke arah lain. Meskipun begitu, ada senyum simpul yang terukir dibalik masker yang dikenakan oleh dokter koas berwajah ketus itu.
Ya, sepertinya pemikiran mereka bertiga tak salah. Perpaduan yang dibentuk oleh Tim C sepertinya bukan hal yang buruk.