Chapter 11 - Isu

2349 Kata
Iranjia adalah sebuah negara yang memiliki luas cukup besar. Negara ini dikenal melalui besar daratannya yang membentang dari bujur timur hingga barat. Negara yang memiliki satu daratan besar dan beberapa pulau-pulau kecil ini memiliki pusat pemerintahan di Distrik Pusat sehingga tak heran apabila wilayah Pusat ini begitu sibuk di jam-jam pulang kerja. Namun, semua hal itu berubah semenjak virus bernama Exitium Zero atau Ex-0 menyerang dunia, tak terkecuali negara Iranjia. Jumlah pasien Ex-0 per 15 Oktober di seluruh dunia adalah 11.709.809 jiwa dengan 45% dinyatakan meninggal dunia. Di bulan Oktober yang identik dengan musim hujan di negara tropis tersebut, semua yang berada di sudut wilayah Pusat terlihat sepi. Wilayah Pusat sudah bagaikan kota mati dengan hanya satu dua orang saja yang lewat di jalan raya. Dika Anderald yang sore ini tengah memegang payung hitam di seberang jalan hanya bisa mengerutkan keningnya. Di seberang jalan dari tempatnya berdiri sekarang adalah Rumah Sakit Hetalia. Pemuda koas ini menunjukkan raut bingung. “Kenapa banyak sekali mobil polisi di halaman rumah sakit?” tanyanya pada diri sendiri. Hujan ringan saat ini masih mengguyur wilayah Distrik Pusat. Terhitung, sudah dua hari yang lalu semenjak Dika dan anak-anak lain melakukan tugas survei lapangan di laboratorium yang merupakan tempat dibuatnya vaksin Hektovac. Ia dan dokter koas lain saat ini sudah bertugas kembali di rumah sakit. Di lain sisi, anak-anak dari Universitas Tenggara juga berusaha bersikap senormal mungkin untuk melakukan tugas mereka yang baru sebagai relawan. Sebelum kondisi masyarakat di negara ini kondusif, sepertinya para mahasiswa itu tak bisa bekerja normal lagi di laboratorium mereka. Rafael Zohan dan tim dari Universitas Tenggaranya harus rela berperan sebagai petugas relawan yang membantu dokter koas di rumah sakit ini sampai waktu yang belum bisa ditentukan. Dika tampak menengok ke kanan kiri sebelum menyeberang. Meskipun kondisi Distrik Pusat sudah bagaikan kota mati, dia harus tetap waspada. Pemuda ini tak mau bernasib sama seperti pasien kemarin yang harus bernasib tragis dan meregang nyawa setelah ditabrak oleh kendaraan. Mengingat kejadian itu, mau tak mau Dika melirik ke arah bekas lokasi kejadian dari kecelakaan beberapa hari lalu yang kini masih dibatasi oleh garis polisi. “Aku tak tahu sebenarnya ada apa di sini, tapi kalau dipikir-pikir lagi sepertinya baju yang dikenakan oleh petugas-petugas ini adalah baju milik Komisi Pemberantas Korupsi.” Untuk sekali lagi, Dika berbincang dengan dirinya sendiri. Pemuda berwajah ketus ini hanya bisa melihat kerumunan di halaman itu sekilas lalu segera berjalan masuk. Dia berhenti sejenak di teras rumah sakit untuk meletakkan payung hitamnya. Setelah dirasa beres, Dika pun bergegas menuju ruang koas. “Dika!” Suara teriakan itu langsung membuat dokter koas itu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia dapat melihat sosok Bu Intan yang kini berjalan tergesa menuju ke tempat ia berada. “Ada apa ya, bu?” Intan terlihat mengatur nafas dibalik masker yang ia kenakan, sepertinya wanita ini sedang tergesa. “Kenapa kau baru datang?” “Eh?” Wajah Dika sontak bingung. “Aku baru datang karena jadwalku hari ini adalah sore hari.” “Ah, begitu rupanya. Ya sudahlah itu bukan hal penting, ada yang perlu aku bicarakan denganmu.” Raut serius dari tatapan mata yang dipancarkan oleh Bu Intan saat ini membuat Dika penasaran. Sebenarnya apa yang terjadi? “Aku sudah mencari-cari Beni sejak tadi tapi tak menemukannya. Ada hal darurat. Aku ingin kau menyampaikan ini pada Tim A, B, dan C. Untuk itu, ayo ikut ke ruangan dr. Deva terlebih dahulu bersamaku,” jelas Bu Intan. Dika sendiri yang mendengar kata darurat langsung mengangguk paham tanpa bertanya apa pun. Pemuda ini langsung berjalan mengekori Bu Intan menuju ruangan dr. Deva. Entah kenapa, ia memiliki sugesti bahwa hal darurat ini pasti berhubungan dengan Ex-0 mengingat Bu Intan tadi bilang bahwa dia harus menyampaikan hal ini nantinya pada Tim A, B, dan C. Dua orang itu pun langsung berjalan tergesa di sepanjang koridor depan rumah sakit menuju ruangan dr. Deva. Di lain sisi, Mahasiswa Tenggara beserta anak-anak koas lain tengah melakukan pengecekan rutin di ruang rawat inap untuk pasien umum. Di bagian dokter koas ada Beni dan Alexa, sedangkan empat mahasiswa dari Universitas Tenggara hanya mengikuti mereka. Keempat pemuda itu sebenarnya tidak terlalu diperlukan saat ini. Mereka hanya melakukan tugas-tugas simpel yang diberikan oleh dokter koas maupun para pasien. “Baiklah, ini adalah pasien terakhir yang kita cek hari ini. Sampaikan salam pada Nyonya Rosetta,” titah Beni pada empat mahasiswa tersebut. Ketua tim koas yang satu ini memang paling jago dalam urusan menjahili para mahasiswa universitas elite tersebut. Baik Rafa, Rino, Ardi, maupun Hendra hanya bisa memasang senyum masam di balik masker yang mereka kenakan. Keempatnya langsung menganggukkan kepala ke arah wanita tua dengan rambut panjang tersebut sebagai tanda menyapa. Beni dan Alexa yang melihat ekspresi itu pun sontak terkekeh pelan. Alexa langsung berusaha melupakan hal tadi. Gadis ini berjalan mendekati wanita tua tersebut dan mulai mengecek kondisi tubuhnya. “Apakah perut Anda masih terasa melilit?” tanya Beni pada Nyonya Roseta ketika ia diperiksa oleh Alexa. Wanita satu ini dirawat di rumah sakit karena perutnya terus saja terasa sembelit. Ia baru saja di sini, tepatnya dirawat sejak kemarin hari. Wanita tua itu pun menjelaskan apa saja yang ia rasakan pada Beni dan Alexa. Kedua dokter koas ini langsung mencatat hal-hal penting dari apa yang dikeluhkan oleh Nyonya Rosetta untuk dilaporkan ke pada dokter yang merawatnya. Sementara di sisi lain, kelompok mahasiswa itu hanya bisa diam saja memperhatikan. Mereka yang berstatus relawan di tempat ini jadi tak bisa melakukan banyak hal. “Kalau dilihat dari kondisi Anda saat ini, sepertinya dua hari lagi sudah bisa pulang kok,” hibur Alexa pada wanita tua itu. Roseta yang mendengarnya langsung tertawa keras. Nenek yang satu ini memang sepertinya merupakan tipe orang yang bisa cepat akrab, periang, serta begitu energik. Ia terlihat begitu senang saat ini. “Hoi, Rojali! Kau dengar apa yang dikatakan Dokter ini? Aku bisa pulang dua hari lagi! Selamat tinggal hahaha!” ledek Rosetta pada sosok kakek bernama Rojali di sampingnya. Kakek Rojali ini juga merupakan pasien umum yang sama-sama dirawat di Rumah Sakit Hetalia. Tipe periang seperti Nyonya Roseta pasti langsung bisa membuat dirinya akrab dengan sosok kakek tersebut. Rojali yang mendengarnya hanya bisa memasang wajah ketus tanda tak terima. “Dasar para orang tua ini ada-ada saja,” komentar Rino pelan. Hendra yang mendengar ucapan itu sontak menyikut perut pemuda tersebut. Rino ini memang orangnya ceplas-ceplos sekali. Bukan saatnya bagi anak psikologi tersebut untuk berkomentar. Mereka harus bisa menjaga perasaan dari pasien. Pemuda berwajah lesu itu pun hanya bisa mengaduh kesakitan akibat sikutan Hendra. Rafa dan Ardi yang melihat kelakuan keduanya hanya bisa menahan tawa. “Oh ya, Dok. Apa aku boleh bertanya?” tanya Rosetta pada Beni dan Alexa. “Tentu saja, silakan.” Alexa menjawab dengan ramah. Nenek berambut putih panjang yang sepertinya berasal dari kalangan berada ini hanya bisa berusaha melirik ke arah luar melalui pintu di depan sana. Ia begitu heran kenapa hari ini terasa ramai sekali di rumah sakit. “Sebenarnya ada apa? Tadi aku seperti mendengar banyak mobil. Apakah itu polisi atau apa?” Beni dan Alexa yang ditanyai seperti itu hanya bisa saling pandang, Mereka berdua juga kurang tahu mengenai hal tersebut karena sedari tadi berkuat dengan pasien. Mereka tak menyangka jika Nyonya Rosetta ini begitu jeli sampai mendengar kegaduhan di luar sana. Melihat Beni dan Alexa yang kebingungan, Rafa pun menjawab, “Itu tadi bukan mobil polisi melainkan milik Komisi Pemberantas Korupsi.” “Dari mana kau bisa tahu?” tanya Ardi. “Aku tadi melihat banyak petugas dari lembaga itu berlalu lalang di koridor rumah sakit saat pergi ke kamar mandi.” Ardi yang mendengar penjelasan itu pun hanya bisa mengangguk paham. Ada benarnya juga, sekitar beberapa jam lalu Rafa memang meminta izin pergi ke kamar mandi sehingga ia pasti bisa melihat kegaduhan di luar. “Apakah ini ada hubungannya dengan kasus kemarin?” tanya Kakek Rojali yang sedari tadi hanya memperhatikan. Nyatanya, hampir seluruh pasien di rumah sakit ini tahu akan kejadian saat pers kemarin. Ada wanita yang tewas dalam kecelakaan dan isu korupsi dana pemerintah di Rumah Sakit Hetalia. Hal ini sudah seperti menjadi rahasia umum bagi mereka semenjak kejadian itu berlangsung. Lidah Alexa pun kelu, ia tak tahu harus menjawab bagaimana agar para pasien di ruangan ini tak perlu mengkhawatirkan kondisi tersebut. Alexa takut jika kondisi mereka akan turun apabila terus fokus memikirkan masalah Hetalia saat ini. “Saya sangat yakin apabila itu isu korupsi itu tidak benar. Hetalia adalah satu-satunya rumah sakit terbaik di Distrik Pusat, jadi tidak mungkin mereka korupsi,” bela Nyonya Rosetta. Mendengar itu, Rojali langsung memandang tak suka ke arah Roseta. “Tapi, adanya kecelakaan yang menyebabkan korban sampai tewas kemarin menunjukkan betapa tak becusnya rumah sakit ini.” “Hei, jangan asal bicara kau. Wanita itu saja yang gila karena berlari ke arah jalan raya.” Nenek tua itu berusaha mempertahankan argumennya. “Tidak ada bukti yang menyatakan Hetalia bersih dari dugaan korupsi. Jadi, bisa saja tuduhan itu benar.” Rino semakin jengah dengan dua orang tua ini. Ia pun menghela nafas lelah. Sebagai ketua anggota tim koas yang telah dipercaya, Beni sendiri langsung berusaha melerai perdebatan antara orang tua tersebut. “Apa pun yang terjadi sekarang kuharap kalian tak perlu mengkhawatirkan hal tersebut. Ini bukan urusan kami, bukan juga urusan kalian. Ini adalah urusan pejabat tinggi Hetalia dan pemerintah. Hal yang perlu kita urusi saat ini adalah kesehatan kita,” ujar Beni panjang lebar. Rosetta dan Rojali pun sontak saling pandang dan merasa malu atas aksi kekanakan yang mereka lakukan tadi. Alexa akhirnya tersenyum simpul melihatnya. Gadis itu langsung mewakili mereka semua untuk pamit undur diri dari ruang rawat inap yang satu ini. Di sisi lain, Rafa masih kalut dengan alam bawah sadarnya. Ia merasa ada hal yang tak beres di sini dan semua berubah menjadi teka-teki. Isu korupsi? Rektornya yang tak bisa dihubungi? Uang 400 juta? Apakah ini semua hanya kebetulan semata? Tanpa sadar, mereka semua alias mahasiswa Universitas Tenggara telah menghabiskan waktu yang cukup panjang dengan menjadi relawan di Hetalia. Ternyata jadi relawan di rumah sakit tugasnya bisa dikatakan mudah-mudah sulit. Tapi tetap saja, ini melelahkan karena keempatnya harus sering berinteraksi dengan banyak orang. Malam ini terlihat banyak bintang yang menghiasi langit Distrik Pusat. Bulan pun terlihat bersinar cerah tanpa awan yang menutupinya. Lalu lintas di jalan dekat Rumah Sakit Hetalia juga terlihat lancar. Jam besar di gerbang utama Hetalia kini menunjukkan pukul 10 malam. Dari seberang jalan rumah sakit, tampak keempat pemuda yang memakai baju medis berjalan beriringan. “Apa ada dari kalian yang berhasil menghubungi rektor?” Suara Rafa itu memecah keheningan antara keempat mahasiswa Universitas Tenggara ini. Jujur pemuda bersurai coklat tersebut masih memikirkan masalah rektornya yang tak bisa dihubungi sampai sekarang. Saat ini mereka baru saja kembali setelah istirahat makan malam di luar. “Aku juga masih mencoba meneleponnya terus dari tadi siang tapi tetap saja tidak bisa,” sahut Rino yang pandangannya terus menoleh ke kanan dan ke kiri, bersiap menyeberang jalan. Keempatnya pun mulai berjalan menyeberangi jalan. Mereka berjalan memutar akibat jalan yang berada tepat di depan gerbang utama rumah sakit masih dipasang garis polisi akibat insiden kemarin. Dapat Rafa perhatikan dari jauh, masih ada noda kemerahan di aspal yang bisa terlihat jelas ketika lampu kendaraan tak sengaja menyorot ketika melewati jalan ini. “Hei.” Hendra mengucapkannya dengan nada berbisik agar suaranya tak dapat didengar selain keempat orang temannya. Ia melanjutkan, “Mungkinkah uang korupsi yang diisukan kemarin untuk membayar upah kita yang 400 juta itu?” Mata Rafa, Ardi, dan Rino yang mendengar itu langsung membulat sempurna. Ketiganya berseru bersama, “Sialan, kukira hanya aku yang berpikir demikian!” Dan tentu saja teriakan tiga orang itu langsung menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang di lobi Hetalia saat ini. Hendra yang melihat aksi bodoh ketiga teman di depannya yang menyahut secara bersamaan tadi hanya bisa menahan malu dan menepuk jidatnya. Jadi bukan ia saja yang berpikir begitu? Keempat mahasiswa yang baru mengenal dekat tujuh bulan terakhir ini hanya bisa saling memandang dengan ekspresi tak menyangka. Mereka memasang ekspresi melongo di wajahnya masing-masing. Dan tak lama kemudian, tawa miris terdengar dari mulut empat orang tersebut. Mereka terus tertawa dan tersenyum miris di balik masker sepanjang jalan. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Apakah benar dugaan mereka tersebut? Andai saja keempatnya bisa paham apa yang telah terjadi di balik semua ini, pasti hasilnya lebih mudah. Kenapa pula mereka baru mengetahui fakta ini ketika sudah 7 bulan bekerja di proyek ini? “Kau tahu? Aku benar-benar pusing memikirkan semua hal ini sejak kemarin. Sepertinya aku mengalami insomnia lagi nanti,” ujar Rafa sembari tertawa miris. Empat pemuda itu kini sudah berdiri di depan ruang koas. Mereka semua diletakkan dalam ruangan yang sama dengan dokter koas karena secara tak langsung dua kelompok ini telah menjadi tim-tim baru yang tak lain dan tak bukan ialah Tim A, B, dan C. Rino menoleh ke arah Hendra dan Ardi dengan tatapan horor. “Rasanya kehidupan kita yang isinya bermalas-malasan berubah genre menjadi mystery dan psychological.” Hendra menyahut Rino dengan senyum mirisnya, “Apa pun itu pokoknya selain genre thriller dan crime, Sobatku. Aku lemah dalam bertarung.” “Hahahaha... hahaha... hahaha....” Empat serangkai itu pun hanya bisa saling memandang horor satu sama lain. Tawa miris yang terlontar dari mulut mereka masih belum reda hingga kini. Tampilan empat manusia itu seperti orang depresi sekarang. Otak mereka seolah berhenti bekerja sejak keempatnya mulai paham bahwa ada banyak misteri yang harus dipecahkan mulai sekarang. Dunia ini memang menyimpan banyak misteri. Apakah ada kejutan yang akan mereka terima lagi nantinya? Pintu ruang koas tiba-tiba terbuka dari dalam. Maria yang membuka pintu tadi langsung memandang ke arah empat mahasiswa yang saling tertawa itu dengan tatapan jijik. Apa yang salah dengan mereka? Sia-sia sudah tenaga yang gadis itu pakai untuk mengecek keluar ruangan. “Siapa yang buat ramai di depan pintu, Maria?” tanya Beni dari dalam. Gadis berambut sebahu itu hanya bisa menghela nafas lelah ketika mendengar pertanyaan tersebut. Hari ini dirinya sangat capek karena sudah sehari penuh bekerja di ruang isolasi bersama Ais. Ia pun kembali masuk dan menutup pintu ruangan koas ini. “Hanya empat orang gila yang sedang meratapi nasib.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN