Banyak orang berkata jika masa kecil itu adalah momen emas yang begitu berharga bagi setiap orang. Anak kecil yang baru tumbuh perlahan akan mulai mengerti apa yang terjadi di dunia ini. Dunia yang indah namun juga mengerikan.
Bagaikan kanvas putih yang kosong, mereka hanya bisa menerima setiap coretan yang datang. Mereka tak mampu untuk memilih coretan yang diinginkan berupa garis hitam atau emas.
Di sinilah ia berada, seorang anak kecil berusia 5 tahun yang berjalan pulang melalui jalan setapak menuju rumahnya. Rumahnya adalah hunian sederhana di sebuah desa kecil di Distrik Barat, Iranjia. Distrik Barat merupakan daerah yang terkenal akan sektor agronya. Banyak peternakan, pekebunan, sawah, dan kolam yang bisa mudah dijumpai pada daerah ini. Di rumah yang terletak di pertengahan sawah itu, tampak seorang wanita lansia menyapu halaman rumah.
Semburat merah dari matahari yang terbenam di ufuk barat menyinari wajah sendu anak itu. Sang wanita yang dari tadi sibuk menyapu tiba-tiba menyadari bahwa cucunya telah pulang telat sore ini.
“Rafa?” Mata wanita itu menyipit, mencoba memastikan jika anak yang berjalan di jalan setapak itu memanglah cucunya. “Kenapa dia baru pulang sekarang?”
Wanita itu dengan sigap meletakkan sapunya dan berlari ke arah anak bersurai coklat terang itu. Sang anak menampilkan wajah sendu yang begitu kentara. Mata hijaunya menerawang jauh, seolah jiwanya tak menghuni raga anak itu sekarang.
“Loh, Rafa? Kamu kenapa, Nak? Kenapa wajahmu sedih begitu?” Sang nenek berjongkok di depannya. Ia menangkup wajah Rafa dengan telapak tangan. “Ceritakan pada nenekmu ini!”
Anak itu menatap neneknya dalam diam. Wanita bersurai coklat dengan gaya rambut diikat ke samping ini hanya bisa memasang ekspresi sendu. Ia tahu bahwa cucunya memang pendiam sedari dulu. Rafa kecilnya ini dikenal sebagai anak yang pemalu dan tak pandai berteman. Sikapnya yang tak seperti anak lainnya yang ekspresif membuat cucu di depannya ini memang sering dicap berbeda oleh temannya lain di taman kanak-kanak. Tak jarang, ia jadi bahan hinaan oleh teman-temannya di TK.
“Temanku berkata bahwa aku menjijikkan.” Mata anak itu bergulir ke bawah dengan bahu yang sedikit bergetar. “Dia bilang aku aneh. Rambut dan mataku juga aneh. Tapi, aku tidak terima jika dia berkata bahwa ibu itu gila.”
Nada datar yang keluar dengan mudahnya dari mulut sang cucu membuat hati wanita bernama Paula Yovie ini sakit. Paula entah kenapa, bisa merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Rafa lewat mata hijaunya. Meskipun tak ada air mata yang keluar, ia bisa tahu bahwa saat ini Rafa terpukul telak dari dalam lubuk hatinya.
Tangan wanita itu merengkuh kepala Rafa. Ia elus rambut halus sang cucu dengan penuh kasih sayang. Badannya berusaha menenangkan anak tersebut lewat pelukan. Ia berujar, “Kau tak perlu memedulikannya, Rafa.”
Rafa sendiri diam, hanya diam. Ia bingung untuk merespons bagaimana tanggapan neneknya ini.
“Rambut dan matamu yang berbeda dengan anak-anak lain itu adalah anugerah dari Tuhan. Hidupmu juga adalah anugerah. Kau harus memanfaatkan hidupmu dengan baik dan terus hiduplah bahagia. Diam saja apabila mereka menghinamu, percayalah mereka akan lelah sendiri nanti.”
Dagu Rafa bersandar pada pundak neneknya. “Apakah itu berarti aku harus diam saja jika mereka menghina dan menyakitiku? Kau ingin cucumu ini disiksa, Nek?”
Paula menggeleng. Wanita itu terus mengelus-elus punggung cucunya. “Bukan seperti itu. Aku ingin jika ada temanmu yang masih menghinamu, tunjukkanlah pada mereka bahwa kau ini hebat, kau tidak aneh, dan ibumu tidak seperti apa yang dikatakan mereka.”
Mendengar penuturan dari neneknya yang begitu, Rafa sontak melepas pelukan yang dilakukan wanita tersebut. Mata hijaunya menatap dalam mata dari sang nenek yang memiliki rupa sama dengan miliknya. Tangan kecil anak laki-laki ini memegang dengan erat ransel merah yang mengantung di pundaknya. Ia melirik sebentar ke arah memar di lengan kirinya.
“Apakah Nenek berpikir jika ibu menyayangiku?”
Yang diingat oleh Rafa saat itu hanyalah ekspresi sang nenek yang menahan air mata. Paula menggigit bibir bawahnya kuat-kuat agar ia tak berlinang tangisan. Wanita itu pun menghambur ke pelukan Rafa lagi ketika ia tak mampu membendung perasaan campur aduk yang dirasakannya.
Sore itu, ketika cahaya hangat dari matahari yang tenggelam menyinari desa yang ada di Distrik Barat ini, seorang anak kecil baru menyadari bahwa selama ini dunia yang dilaluinya berbeda jauh dengan dunia teman-temannya yang lain di TK. Ekspresinya yang sedari awal tadi hanyalah diam dan sendu itu perlahan mulai berubah. Bibirnya berkedut, ia tak mampu menahan rasa untuk tak menangis ketika mendengar isak tangis neneknya. Satu hal yang Rafa ingat tentang kejadian sore itu adalah ucapan maaf dari sang nenek yang tak henti mengalir di sela-sela tangisannya.
Suara detik jam yang terus berjalan tiba-tiba memasuki area pendengaran pemuda berusia 22 tahun ini. Rafael Zohan duduk dengan posisi mata yang melebar kaget. Ia baru saja terbangun paksa dari mimpinya. Entah apa yang terjadi, pemuda ini tiba-tiba memimpikan kenangan ulang masa kecilnya bersama sang nenek. Alis pemuda berstatus mahasiswa ini menukik tajam, ia menggigit bibirnya untuk menahan emosi.
“Kenapa aku tiba-tiba bermimpi seperti tadi?” Rafa menggosok mukanya kasar. Tangannya yang kesal tampak mengacak-acak rambut coklatnya.
Mata hijau pemuda itu kini melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ia menyipit ketika merasakan cahaya sang mentari menusuk matanya. Pemuda yang masih kesal itu membanting tubuhnya ke kasur kembali. Matanya mencoba menutup karena ia ingin melanjutkan tidur.
Namun, sedetik kemudian mata Rafa terbuka lebar karena dia menyadari suatu hal. Tidak, hari ini bukanlah Hari Minggu. Bagaimana mungkin dia berusaha menyambung tidur padahal jam sudah menunjukkan pukul 8? Dengan tergesa, anak bermata hijau itu melompat dari kasurnya. Ia yang mengecek posisi dimana ketiga temannya yang lain hanya bisa pasrah ketika mengetahui fakta bahwa dirinya ditinggal lagi oleh mereka.
“Sial, kenapa tadi malam insomniaku harus datang kembali?!” Pemuda itu pun menyabet handuk merahnya dari balik pintu kamar dan berlari pontang-panting menuju kamar mandi.
Hari ini adalah seminggu semenjak pengumuman mengenai pembatalan proyek vaksin oleh Dokter Edgar. Masyarakat Iranjia kini masih dilanda problematika yang membuat mereka begitu bimbang. Kasus kecelakaan besar yang terjadi di depan rumah sakit kemarin merupakan bukti nyata bahwa Hetalia masihlah belum 100% baik menangani pasiennya, ditambah isu korupsi yang menguar kuat. Apakah Vaksin Hektovac yang mereka buat benar-benar akan efektif untuk negeri ini?
Siaran radio terus saja mengudara di negara ini dan topik bahasannya masihlah sama. Seluruh media di Iranjia terus-terusan menyorot Rumah Sakit Hetalia akibat isu korupsi, penelantaran pasien, serta proyek vaksinnya. Masyarakat pun dibuat bertanya. Apakah menyerahkan hal vital pada pihak swasta seperti Sepkai Farmasi dan Rumah Sakit Hetalia sudah tepat untuk membuat vaksin?
Kondisi televisi yang masih belum seberapa di negeri ini membuat sebagian masyarakat bertanya-tanya. Mereka ingin mendapat informasi terbaru, maka dari itu semuanya tak segan untuk berbondong-bondong menuju taman kota melihat siaran TV. Para orator dari anggota dewan pun kini tak segan membacakan orasi di depan masyarakat supaya mereka tak pernah memihak pada Hetalia.
“Para warga Iranjia yang diberkati! Saya sebagai salah satu anggota dewan memohon dengan sangat pada kalian untuk membuka mata. Isu korupsi dan penanganan pasien di Hetalia masih sangat buruk. Lantas, untuk apa kita mempercayakan suara kita untuk mendukung proyek vaksin tak jelas ini?”
Pagi itu, di taman pusat kota yakni Taman Adiyasa yang sudah beberapa bulan sepi, seorang anggota dewan ternama dari negeri ini tengah menyelenggarakan orasi yang begitu berapi-api. Suasana mendung serta terdapatnya TV besar di taman itu membuat banyak masyarakat Distrik Pusat berkumpul di sana kembali setelah sekian lama. Atensi mereka yang semula datang ke sini untuk menyaksikan TV besar di tengah taman jadi teralihkan ke arah sang orator dari dewan parlemen tersebut.
“Kita sebagai warga negara yang baik harusnya sadar diri dengan kemampuan kita. Hetalia telah mengambil kesempatan dalam kesempitan untuk membuat sesuatu yang tak berfaedah. Organisasi Kesehatan Iranjia, OKI, pun tak sanggup untuk membuat vaksin. Lantas kenapa mereka ingin membuat vaksin sendiri?” Sang orator menatap tajam pada kerumunan masyarakat di depannya. “Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah uang!”
Mata semua orang di sini membelalak kaget. Orator itu turun dari podiumnya dan berjalan mendekati para warga. “Mereka yang mengaku sok intelektual itu memanfaatkan kondisi masyarakat yang tak berdaya untuk memborong habis vaksin buatan tersebut. Masyarakat yang terbuai karena iming-iming vaksin dapat melenyapkan Ex-0 di negara ini, pasti dengan mudah membelinya tanpa pikir panjang!”
Salah seorang warga dengan gemetar menyanggah penuturan dari orator tadi, “T-tapi, Pak! Bukankah di konferensi pers kemarin mereka bilang bahwa vaksin ini gratis dan demi kepentingan seluruh masyarakat Iranjia?”
Orator berambut hitam klimis itu menoleh ke arah seorang pria yang menyanggah opininya tersebut. Ia berjalan mendekatinya. “Kau percaya dengan mudah apa yang mereka katakan?”
“Apa?” Pria tersebut memandang tak mengerti ke arah anggota dewan tersebut. “Bukankah perkataan mereka sudah jelas?”
“Ini adalah kasus klise dalam dunia politik dan pemasaran. Pada awalnya mereka akan memberikan vaksin cuma-cuma. Setelah itu, pasti karena permintaan yang meningkat, vaksin itu akan dijual dengan harga sangat mahal karena masyarakat telah bergantung padanya!”
Omongan dari sang orator itu sekali lagi disambut oleh ekspresi tak percaya dari puluhan masyarakat yang menonton orasinya. Sang orator yang membawa juru kamera sendiri untuk merekam orasinya tersebut hanya bisa menatap mereka semua dengan ekspresi yang begitu serius. Masyarakat Iranjia itu naif, banyak dari mereka yang masih belum paham dengan seluk beluk dunia politik. Anggota dewan itu tak ingin jika warga yang mempunyai pendidikan rendah ini tertipu.
Di lain sisi, Rafael Zohan yang terlambat untuk pergi ke Rumah Sakit Hetalia ini justru berhenti di Taman Adiyasa untuk melihat kegiatan orasi tersebut. Pemuda bersurai coklat yang tadi menaiki sepeda itu kini justru berdiri di barisan depan sendiri melihat sang anggota dewan berpidato. Menurut Rafa pria ini sudah keterlaluan, padahal isu korupsi itu belum terbukti benar dan masih dalam tahap penyelidikan. Meskipun begitu, berani sekali dia mengatakan hal seperti tuduhan palsu di depan umum.
Satu hal yang Rafa sadari, orang di depannya ini berusaha mengadu domba masyarakat dan pihak Hetalia. Dia telah memanfaatkan kondisi masyarakat yang terombang-ambing untuk menggagalkan proyek Vaksin Hektovac.
Tangan pemuda bersurai coklat ini terkepal erat, ia dengan nekat melangkah maju untuk menyuarakan kebenaran. Dirinya tak peduli dengan identitasnya yang terkuak di publik. Baik saat konferensi pers dulu maupun saat ini, dia masih menggunakan masker yang menutupi sebagian wajahnya. Pasti tak akan ada yang menyadari bahwa dirinya adalah salah satu Mahasiswa Tenggara yang terlibat dalam proyek vaksin.
“Lalu, apa kontribusi pemerintah untuk menagani virus ini selain menyuruh masyarakat untuk terus berdiam diri di rumah?”
Tidak, pertanyaan itu bukanlah dari Rafa. Pemuda itu belum mengucapkan sepatah kata pun untuk menyerukan pendapatnya. Mata hijau pemuda yang sudah bersiap menyangkal sang orator tersebut sontak berbinar ketika melihat seorang gadis SMP yang dengan beraninya berkata demikian pada anggota dewan tadi. Mata dan rambutnya entah kenapa seperti tak asing bagi Rafa. Siapa gadis kecil tersebut?