Terjadi keheningan untuk sementara waktu ketika orator tadi memperhatikan anak kecil yang berusaha maju ke depan ini untuk menyuarakan suara. Ia mengamati sang gadis kecil itu dari pucuk rambut hingga ujung kaki. Matanya yang penuh semangat terlihat menantang anggota dewan tersebut. Sementara warga lain yang menyaksikannya hanya bisa menggigit bibir ketika melihat anak itu dengan beraninya maju dan menantang anggota dewan Iranjia itu.
“Siapa namamu, Nak?” Pria berambut klimis itu berjalan mendekati anak tersebut.
Tatapan mata gadis itu tak mengendur, dia mengobarkan aura penuh keberanian di matanya. “Namaku adalah Elia Herigirl!”
Sang orator lalu mengajukan pertanyaan padanya. “Pernahkah kau mendengar sebuah kalung herbal temuan dari Menteri Pertanian yang katanya mampu menangkal virus beberapa waktu yang lalu? Apakah kau tahu berapa biaya anggaran yang diminta kementerian untuk memproduksi kalung itu? Anggaranya adalah 20 triliun!”
Mata hitam gadis itu masih tak mengendur. “Lalu?”
“Kasus kalung yang menjadi bahan ejekan itu sama halnya dengan vaksin buatan Hetalia ini. Semua hal yang diupayakan ini pada akhirnya akan hilang ditelan masa dan jadi bahan ejekan. Kita harus sadar diri bahwa sumber daya manusia di negeri ini kurang memadai untuk membuat hal-hal seperti itu. Upaya kita hanyalah satu, tetap berdiam diri di dalam rumah dan menunggu pemerintah mengumumkan vaksinasi yang asli saat waktunya tiba nanti.”
Para warga yang mendengar itu hanya bisa menundukkan muka sendu. Mereka tahu jika negara ini begitu tak berdaya. Sampai kapan mereka alias masyarakat harus terus bersembunyi di dalam rumah? Padahal kenyataan yang ada pun menunjukkan bahwa berdiam diri di rumah masih membuka peluang untuk tertular Ex-0. Aura tak berdaya dari para warga semakin dirasa kuat. Rafa yang berada di antara kubangan rasa putus asa dari warga ini hanya bisa berdecak kesal.
Pemuda itu melangkah ke depan, menyusul gadis kecil tadi. “Lalu maksud Anda adalah kami sebagai masyarakat hanya bisa menunggu saja? Apakah kami hanya akan terus bertindak pasif dan menggantungkan diri pada orang luar?”
Para warga yang ada di ini sekali lagi dibuat keheranan dengan aksi berani pemuda itu yang melangkah maju dan menantang sang anggota dewan. Di sisi lain, orator berkemeja merah itu hanya menatap datar ke arah Rafa. Tak lama kemudian, senyum remeh bertengger di wajahnya.
“Kau ini masih begitu muda. Aku tak akan menyalahkan semangatmu yang begitu menggebu, tapi kau harus sadar diri. Negara kita masih belum—“
“Belum apa?” Mata hijau Rafa menatap nyalang ke arah pria paruh baya itu. “Belum mampu maksudmu? Kau ini tak waras atau bagaimana sebenarnya?”
Ucapan gila pemuda bersurai coklat itu langsung membuat seluruh warga di sini termasuk sang orator menahan nafas. Anak ini berani sekali berkata hal lancang begitu pada anggota dewan? Orator bersurai hitam tadi pun hanya bisa melirik ke arah kamera yang masih terus merekam acara orasinya ini untuk tayangan langsung salah satu stasiun televisi.
Gadis SMP yang sama terkejutnya dengan apa yang diucapkan Rafa tadi sontak tersadar akan suatu hal. Kakak yang satu ini telah datang dan membela argumennya. Ia segera berjalan mendekati para warga. Mata hitamnya kini mengobarkan rasa optimisme yang begitu nyata.
“Untuk semua warga Distrik Pusat yang ada di sini, termasuk juga seluruh masyarakat di negara ini! Dengarkan dengan baik-baik apa yang kukatakan!”
Gadis itu langsung menarik tangan sang juru kamera untuk menyoroti apa yang ingin ia ucapkan. Anggota dewan yang masih bingung dengan situasi yang tiba-tiba terjadi ini membuatnya tak tahu harus merespons apa.
Tangan gadis itu terkepal erat. “Ini adalah saatnya untuk kita bertindak! Sampai kapan kita akan terus berharap pada pemerintah dan mati tersiksa dalam rumah ketika pandemi ini masih terus berlanjut? Berdiam diri di rumah apanya? Kita tersiksa! Kita tak bisa memenuhi kebutuhan ekonomi dan pemerintah pun jarang memberikan tunjangan untuk kehidupan sehari-hari!”
Gadis itu menjeda ucapannya, matanya kini menatap ke arah kamera. “Aku begitu yakin jika vaksin ini berbeda jauh dengan kalung herbal itu. Ini adalah vaksin! Dengan inilah satu-satunya cara kita bisa kembali ke kehidupan normal kita! Sebuah kehidupan yang tidak ada darah dimana-mana dan tubuh manusia yang berserakan di tempat umum! Kita harus terus mendukung proyek vaksin ini meskipun peluangnya hanyalah 1%!”
Rafa yang mendengar orasi anak itu yang begitu menggebu langsung berjalan mendekatinya. Ia berdiri di sampingnya sambil berujar, “Dengan vaksin ini, aku sendiri yakin jika paling tidak kita sudah bertindak aktif untuk berusaha mengeluarkan diri kita dari neraka. Tidak selamanya kebijakan yang diambil pemerintah akan berimbas baik pada kita. Kalau tidak kita yang melakukannya sendiri, lalu siapa lagi? Ini adalah kesempatan buat Iranjia membuktikan kemampuannya!”
Anggota dewan yang hanya bisa diam mendengar penuturan kedua anak muda di depannya itu langsung mendesis menahan emosi. “Kalian ini ...!”
“Kau!” Rafa menunjuk ke arah pria yang mengenakan kaos kuning. Ia adalah sosok laki-laki yang tadi bertanya pada anggota dewan beberapa saat lalu.
“Kau yang tadi mengatakan bahwa pihak Hetalia menjamin bahwa vaksin Hektovac ini gratis saat konferensi pers kemarin bukan?” lanjut Rafa bertanya pada orang itu.
Pria itu mengangguk kaku, membenarkan apa yang diucapkan pemuda tersebut. Rafa yang melihatnya sontak merekahkan senyum di balik masker medis berwarna hijau yang ia kenakan.
“Lalu untuk apa lagi kita ragu mengenai hal ini? Hetalia telah menjaminnya! Bahkan dia yang merupakan tempat swasta sama sekali tidak meminta anggaran dari pemerintah dalam proyek vaksin ini! Vaksin ini benar-benar gratis dan untuk masa depan negara ini!” Rafa mengucapkannya dengan lantang.
Seorang ibu dari barisan depan yang mendengar penuturan Rafa tadi tampak menunjukkan raut pilunya. “Lalu isu korupsi itu bagaimana?”
Elia, sang gadis SMP yang mendengarkan itu sontak menatap teduh ke arah ibu tersebut. “Kau tenang saja, Bu.”
“Komisi Pemberantas Korupsi saat ini telah melakukan penyelidikan di sana. Tugas kita sebagai warga hanyalah menunggu hasil penyidikan tersebut. Yang diisukan kemarin adalah isu korupsi yang dianggarkan pemerintah untuk subsidi penanganan pasien, bukan untuk penelitian vaksin,” lanjut Elia.
Ada perbedaan ekspresi yang ditunjukkan oleh para warga di taman ini. Muka mereka yang awalnya menunjukkan kebimbangan dan putus asa yang begitu jelas kini perlahan mulai menunjukkan wajah cerah. Apakah benar jika mereka harus mempercayai vaksin ini daripada menunggu kabar yang masih belum jelas dari pemerintah?
“Dengan fakta seperti itu dan bila nanti Hetalia terbukti tak melakukan korupsi, mungkinkah kita masih menolak program vaksinnya? Ingat baik-baik, ini adalah kesempatan kita! Kita harus sadar bahwa negara ini tak ada bedanya dengan negara lain di luar sana. Kita punya segudang orang jenius di sini!” ujar Rafa dengan semangat menggebu.
Mata hijau Rafa menyiratkan optimisme yang begitu kuat. “Ini adalah kesempatan kita untuk segera terbebas dari Ex-0! Demi kesejahteraan kita! Demi Iranjia!”
Pemuda bersurai coklat ini mengepalkan tangan kuat-kuat ke arah atas. “SUKSESKAN PROGAM HEKTOVAC! YAKINKAN DIRI KITA PADA HETALIA!”
Elia awalnya memandang aneh pada laki-laki di sampingnya itu. Apakah dia ini maniak atau semacamnya? Tapi, kenapa pria ini membelanya? Tidak, itu bukanlah suatu hal yang harus dipikirkannya sekarang. Dengan berdirinya orang ini di samping Elia, ia yakin bahwa pasti di luar sana masih begitu banyak masyarakat Iranjia yang percaya pada program vaksin ini. Gadis itu lalu menatap ke arah semua penduduk yang tampak penuh haru. Benar, inilah saatnya mereka keluar dari neraka ini. Selama 10 bulan terakhir, Elia yakin bahwa vaksin inilah yang akan menolong mereka semua bebas dari iblis Ex-0.
“HIDUP VAKSIN HEKTOVACC!”
Gadis itu menyeru dengan suara lantang. Ia meniru pose laki-laki di sampingnya.
“HIDUP VAKSIN HEKTOVACC!”
Rafa pun tak kalah ambisiusnya untuk menyemangati semua warga yang berkumpul di tempat ini.
Satu per satu, puluhan pasang mata penduduk yang awalnya begitu bimbang kini mulai terlihat dipenuhi cahaya kembali. Para warga ini memang sadar diri jika mereka mungkin tak berpendidikan. Tapi, sikap kedua anak muda yang dengan beraninya berdiri gagah di hadapan anggota dewan kenamaan itu membuat tekad mereka yang semula padam kini berpacu.
Pria berkaos kuning yang ditanyai Rafa tadi adalah orang pertama yang mendukung kedua anak muda tersebut. Ia mempercayai apa yang dikatakan gadis kecil tadi. Meskipun peluang vaksin ini hanyalah 1%, tapi setidaknya ia ingin berperan aktif untuk membebaskan dirinya sendiri dari neraka ini.
“HIDUP VAKSIN HEKTOVACC!” seru pria berkaos kuning itu tak kalah lantang.
Satu per satu dari puluhan warga ini mulai tertular sikap optimisme dari Rafa dan Elia. Kedua anak itu benar, jika kita tidak bertindak sendiri untuk membebaskan diri dari neraka ini lantas siapa lagi yang bisa melakukannya? Ini adalah hidup kita! Kitalah yang menentukan pilihan.
Vaksin Hektovac adalah satu-satunya jalan keluar nyata yang sudah ada di depan mata mereka semua. Dengan vaksin itu, mereka yakin bahwa Ex-0 akan pergi dari negeri ini.
“Hidup vaksin hektovacc!” Suara sorakan mulai terdengar.
“HIDUP VAKSIN HEKTOVACC!” Suara teriakan dari para warga di Taman Adiyasa ini mulai terdengar kencang.
“HIDUP VAKSIN HEKTOVACC!!” Semua penduduk mulai berseru untuk mempercayai vaksin tersebut.
“HIDUP VAKSIN HEKTOVACC!!!” Seruan yang semakin kencang itu diikuti dengan kepalan tangan ke atas yang begitu menggebu. Semangat mereka berkobar jelas di tengah terik matahari pukul 9 pagi.
Baik Rafa maupun Elia hanya bisa tersenyum haru dan bangga dibalik masker yang digunakannya. Mereka paling tidak sudah berhasil membuat warga di sini menaruh kepercayaan pada Rumah Sakit Hetalia. Ini adalah langkah awal yang begitu bagus. Apalagi orasi dewan ini diselenggarakan secara live, Rafa yakin pasti dukungan masa di luar Distrik Pusat lainnya juga tak kalah semangat.
Anggota dewan berkemeja merah itu hanya bisa mengepalkan tangannya penuh emosi. Dua anak ini, andaikan tak ada banyak orang di sini, pria dewan tersebut pasti sudah melayangkan tangan ke arah mereka dengan sekuat-kuatnya.
Pria paruh baya ini mendesis. Ia menatap tajam sang juru kamera untuk segera mematikan kameranya. Tapi, sepertinya keinginan itu harus pupus ketika sang juru kamera masih terus menyorot aksi dari para warga di taman ini. Di antara teriakan penuh semangat semua warga di sini yang mendukung vaksin itu, anggota dewan tadi berjalan mundur dan kembali ke dalam mobilnya. Pria dengan name tag di kemejanya yang bertulis Roy Ayasa itu mendecih tak terima.
Di lain sisi, seruan lantang dari Taman Adiyasa yang mendadak ramai pengunjung ini menarik perhatian sekitar. Beberapa pengendara yang melalui jalan raya pun terlihat berhenti untuk menonton apa yang tengah terjadi saat ini.
Liliana Seran, Direktur dari Rumah Sakit Hetalia, itu pun juga tak mau kalah. Dari dinding kaca ruangannya di lantai empat, wanita anggun dengan rambut panjang bergelombang itu terus memandang kerumunan di Taman Adiyasa. Alis wanita itu mengernyit, menandakan betapa herannya ia saat ini. Sebenarnya, apa yang terjadi?
Di lain sisi, Beni, Rino, Hendra, Ardi beserta Dika yang awalnya berjalan cepat melalui koridor lantai dua tampak menghentikan langkah mereka. Kedua dokter koas dan tiga orang Mahasiswa Tenggara itu kini memusatkan perhatian mereka ke arah televisi di ruang tunggu yang menjadi pusat perhatian orang-orang di sini. Televisi besar itu memperlihatkan siaran langsung dari kerumunan warga yang berteriak dan menyerukan dukungan atas vaksin yang dibuat oleh Hetalia.
“Ini acara apa sih? Judul beritanya Orasi Dewan tentang Bahaya Vaksin Buatan Negeri tapi isinya kok malah warga yang demonstrasi?” komentar Ardi sambil mengerutkan dahinya.
Hendra yang berdiri di sampingnya sontak menyenggol pemuda itu. “Bodoh, itu bukan demonstrasi. Coba perhatikan baik-baik.”
“Wow!” Mata Rino yang biasanya terlihat sayu kini tampak berbinar. Ia selalu semangat jika ada sesuatu hal yang berhasil menarik perhatiannya.
“Ini sangat lucu. Coba bayangkan acara orasi untuk menentang keberadaan suatu hal tapi yang diliput malah aksi protes warga karena mereka semua mendukung hal tersebut,” lanjut laki-laki paling muda itu.
Dika pun sontak tersenyum remeh dibalik masker medisnya. “Dasar ya, orang-orang di pemerintahan memang sok tahu. Tahu rasa dia. Bayangkan betapa malunya orator itu ketika seluruh warga yang menonton aksinya justru mendukung vaksin Hektovac ini hahaha!”
Beni sendiri dari tadi hanya diam memperhatikan siaran televisi itu. Ketua dari dokter koas di rumah sakit ini hanya bisa mengernyitkan alis heran.
“Tunggu, sepertinya dua orang itu tak asing bagiku,” ujar Beni.
Hendra pun menoleh ke arahnya. “Hah? Yang mana?”
Beni sontak mencuri perhatian dari keempat pemuda lain di sampingnya. Laki-laki dengan rambut yang dicat coklat pada bagian pucuknya itu langsung menunjuk ke arah televisi.
“Itu loh, itu! Dua orang yang berdiri di depan warga sambil mengacungkan kepalan tangan ke atas!”
“Mana sih?” Dika yang tak berhasil menangkap maksud Beni tampak dibuat kesal. Dari tadi, juru kamera hanya menyorot deretan warga yang berteriak dan bukan orang yang dimaksud Beni. “Kau ini mengigau ya?” ejeknya.
“Tunggu dulu! Tunggu sampai kamera menyorot wajah mere— itu! Dua orang itu maksudku!” Beni berkata dengan nada yang menggebu-gebu.
Rino pun sontak menyipitkan matanya untuk berusaha mengenali orang yang dimaksud Beni. Matanya pun membulat kaget ketika dia merasa bahwa orang yang ditunjuk oleh ketua dokter koas itu tak asing baginya.
“Hei, Hendra! Ardi! Coba lihat, bukankah itu Rafa?” tanya Rino dengan suara yang penuh dengan rasa tak percaya. Pemuda dari jurusan psikologi Universitas Tenggara itu menunjuk ke arah layar televisi dengan jari yang gemetar.
Dika yang namanya tak dipanggil pun sontak ikut memperhatikan sosok yang ditunjuk oleh Rino. Matanya membulat kaget ketika ia juga merasa bahwa orang itu adalah Rafael Zohan. Meskipun wajahnya tertutup oleh masker, tapi siapa lagi orang di Iranjia yang berambut eksentrik dan memiliki mata berwarna hijau seperti itu? Tak salah lagi, pemuda itu memanglah Rafa.
Namun, Dika juga turut serta memperhatikan sosok anak kecil yang berdiri di samping Rafa. Dari rambut dan matanya, pemuda ini merasa tak asing dengan anak perempuan itu. Ia pun menoleh ke arah Beni. Dapat dilihat oleh Dika, wajah Beni kini terlihat kebingungan memperhatikan layar televisi. Sepertinya ia masih meragukan bahwa sosok pemuda di sana adalah—
Tunggu dulu. Bagaikan kabel listrik yang kini tersambung, saraf-saraf di otak Dika seperti mengingat suatu hal. Mata itu. Hidung itu. Alis itu. Gaya rambut seperti itu. Dika berulang kali memperhatikan sosok anak kecil tadi. Kepalanya pun sontak menoleh ke arah Beni dan memperhatikannya dari ujung kaki hingga kepala. Tak salah lagi.
“Beni! Anak di samping Rafa itu Elia, adikmu, bukan?”
Beni yang mendengar penuturan Dika langsung ternganga akibat rasa tak percaya. Benar juga, pantas saja wajah mereka berdua tak asing. Dua orang itu adalah Rafa dan adiknya, Elia. Apa yang adiknya lakukan di sana? Apa anak itu cari gara-gara?
“Astaga, apa yang dilakukan anak itu?” Beni pun mengerang karena tak habis pikir. Ia sudah jengah dengan kelakuan adiknya yang tak bisa diam itu.
Ardi yang melihat mereka masih memperhatikan televisi itu langsung tersadar oleh suatu hal. Ia dengan cepat melihat jam di pergelangan tangannya. Gawat, mereka terlambat.
“Hei, sudah dulu melihat TV-nya! Kita harus cepat menemui dr. Deva soal kelanjutan kasus kemarin!” ucap Ardi dengan nada panik.
Dika yang mendengar itu sontak menepuk jidatnya dengan keras. “Sial, aku lupa! Ayo cepat. Kita sudah terlambat.”
Kelima pemuda itu sontak berlari melewati banyaknya orang yang menonton televisi di ruang tunggu. Mereka berlima berlari tunggang langgang menuju ruangan dr. Deva untuk kelanjutan dari informasi yang disampaikan Dika beberapa hari lalu.
Perlu diketahui bahwa dokter koas berwajah ketus itu beberapa hari yang lalu dibawa oleh Bu Intan untuk menemui dr. Deva. Ia memberitahukan bahwa ada penemuan kasus mutasi baru di rumah sakit ini. Oleh karena itu, hari ini lima orang anak laki-laki tersebut dipanggil dr. Deva lagi ke ruangannya untuk kejelasan kasus kemarin. Seharusnya Rafa juga ada bersama mereka sekarang, tapi sepertinya ia terlambat akibat kegiatan di Taman Adiyasa tadi. Di lain sisi, para dokter koas perempuan tak ikut dipanggil karena mereka ada tugas jaga shift pagi ini.
Kelima pemuda ini pun bertanya dari lubuk hati terdalam. Mereka tak tahu bahaya apa lagi yang datang saat ini. Satu hal yang ada di pikiran mereka saat ini, sebenarnya apa yang terjadi?