Dari tahun ke tahun, sejak Iranjia merdeka dari jajahan bangsa asing, pertumbuhan ekonomi di negara ini semakin meningkat ke taraf yang lebih baik. Bahkan presiden kali ini pun yakin bahwa 20 tahun mendatang negara ini menjadi salah satu negara yang berstatus maju. Namun, sebuah pandemi telah datang menghantui umat manusia di milenium kedua ini. Semua harapan dan impian dari negara musnah. Berita kematian dimana-mana. Semua orang dalam keadaan terpuruk. Pemandangan orang bunuh diri pun menjadi konsumsi publik.
Karena sekali lagi, dunia dalam keadaan krisis akibat pandemi yang disebabkan oleh virus exitium-zero, virus yang menyebabkan penderitanya mengalami depresi berlebihan.
Jumlah pasien Ex-0 per 20 Oktober di seluruh dunia adalah 12.003.809 jiwa dengan 47% dinyatakan meninggal dunia.
Iranjia sendiri memiliki sebuah rumah sakit yang menjadi rumah sakit pusat di wilayahnya. Rumah sakit yang terkenal itu bernama Rumah Sakit Hetalia. Hetalia telah menjadi perbincangan publik selama sepekan terakhir ini. Hal itu dikarenakan konferensi persnya yang mengumumkan pembuatan vaksin seminggu lalu menimbulkan pro dan kontra, baik di kalangan pemerintah maupun masyarakat.
Apalagi ditambah dengan kasus kecelakaan serta dugaan korupsi dan pengabaian pasien di hari yang sama, hal itu membuat kondisi publik semakin gaduh. Mereka dibuat bertanya-tanya. Apakah keputusan pembuatan vaksin ini sudah benar?
Di gedung megah Hetalia yang terdiri dari tujuh lantai itu tampak seorang pemuda bermantel hitam berlari sekuat tenaga menaiki tangga. Pemuda berambut coklat terang itu tengah terburu-buru menuju suatu ruangan di lantai dua.
Ia adalah Rafael Zohan, sosok pemuda yang tampil dalam televisi beberapa saat yang lalu. Rafa merasa begitu bodoh karena tadi ia terbawa suasana oleh keadaan sekitar di Taman Adiyasa sampai melupakan fakta bahwa ia terlambat menemui dr. Deva. Langkah kakinya terus bergerak cepat melewati banyaknya orang yang berlalu lalang di sepanjang koridor lantai dua.
Tepat di ujung lorong lantai dua ini, mata hijau Rafa dapat menemukan sebuah ruangan yang bertuliskan Deva di bagian atas pintunya. Ia berdiri di sana untuk beberapa saat terlebih dahulu, mencoba untuk menetralkan nafasnya yang berpacu. Setelah menarik nafas yang dalam, Rafa segera meraih knop pintu dan membukanya.
Tanpa melihat ke seluruh isi ruangan, Rafa langsung membungkukkan badannya. Ia merasa bersalah atas aksi cerobohnya kali ini.
“Saya mohon maaf atas keterlambatan saya hari ini! Apa pun yang terjadi nantinya, saya tidak akan mengulangi hal ini lagi!”
“Weh, si artis sudah datang,” celetuk Ardi yang langsung membuat Rafa mendongakkan kepalanya. Ia pun segera berdiri tegak dan memandang anak kedokteran itu dengan tatapan tak mengerti.
“Apa ... maksudmu?” Rafa bergumam dengan nada bingung.
“Kau yang tadi tampil dan melakukan aksi panjat sosial di televisi kan? Itu alasanmu datang terlambat kan? Banyak alasan saja, kami telah menunggumu lama sekali tahu,” hardik Ardi dengan nada jengkel.
Rafa yang mendengar itu hanya bisa melirik ke arah lain. Ia tak berani menatap langsung ke arah teman-temannya dan dokter koas yang ada di sini. Dari tempat berdirinya, Rafa juga bisa melihat dr. Deva yang seperti terus memandangnya.
Rino hanya diam memperhatikan gerak-gerik Rafa di depan pintu itu. Atensinya pun langsung terfokus ke arah Hendra yang terlihat mengomeli aksi Ardi tadi. Bagaimana pun juga, mereka baru sampai di tempat ini 15 menit yang lalu. Jadi, tidak terlalu lama juga. Apa yang dilakukan Ardi tadi memang agak kasar mengingat Rafa adalah ketua mereka. Anak itu pasti sedang banyak pikiran sehingga bangun kesiangan.
“Sudahlah, kami hanya menunggu sekitar 15 menit tadi, Rafa. Aku tadi juga ada jadwal mendadak sehingga pertemuannya diundur satu jam dari janji awal kita. Besok jangan diulangi lagi ya?”
Ucapan ramah dari dr. Deva itu secara tak sadar membuat Rafa menarik nafas lega. Ia pun segera menutup pintu dan berjalan mendekati anak-anak yang lain. Sekarang keenam pemuda itu telah berdiri di hadapan dr. Deva yang duduk di kursinya.
“Karena kalian berenam sudah datang, ayo ikut aku ke lantai empat. Kita menuju ke ruangan Bu Liliana.”
Beni yang melihat dr. Deva beranjak dari kursinya itu sontak bingung. “Tunggu, ke ruang Bu Liliana?”
Deva yang berjalan keluar langsung mengangguk. Ia membuka pintu dan bersiap keluar. “Kita akan bahas masalah ini di sana,” ujarnya tanpa membalikkan badan ke arah enam pemuda itu.
Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, akhirnya dr. Deva keluar dari ruangan itu dan diikuti oleh keenam pemuda di belakangnya. Mereka berjalan menuju ruangan Liliana Seran, sang direktur rumah sakit, dengan wajah tegang yang begitu serius.
Di lain sisi, Liliana masih menatap ke arah jendela dari dinding kantornya. Mata wanita anggun tersebut melihat ke arah Taman Adiyasa dengan pandangan selidik. Selama sepuluh bulan terakhir ini, Liliana baru pertama kali melihat banyak orang berada di taman itu. Sementara itu, suara televisi dalam ruangannya yang terus menyala juga tak kalah menarik perhatian dari sang direktur.
Melalui ekor matanya, Liliana melirik ke arah televisi yang menampilkan berita aksi unjuk rasa di Taman Adiyasa. Ia pun menjauh dari jendela dan duduk di kursinya, mencoba mencermati isi dari berita tersebut. Untuk beberapa saat, matanya berbinar. Wanita itu menemukan suatu hal yang sangat menarik.
“Rambut dan mata itu? Mungkinkah ini anak yang dibicarakan Intan kemarin? Rafael Zohan?”
Di layar kaca yang menampilkan aksi unjuk rasa itu bisa terlihat jika para warga di Distrik Pusat tak setuju dengan orasi yang dibacakan seorang anggota dewan di Taman Adiyasa. Setelah dua orang remaja maju dan menyampaikan pendapat mereka, masyarakat yang ragu pun tampaknya mulai yakin dengan program vaksin yang digagas oleh Rumah Sakit Hetalia dan Sepkai Farmasi.
Liliana pun mengambil remot. Ia ingin mengganti saluran televisi yang menayangkan berita ini, namun aksinya tersebut tak berbuah manis. Entah kenapa seluruh stasiun televisi nasional sepertinya kompak menayangkan aksi unjuk rasa di Taman Adiyasa untuk pertama kalinya ini setelah sepuluh bulan berlalu.
Wanita berambut gelombang panjang ini pun tak bisa menyembunyikan senyum kecil di balik masker yang ia kenakan. Ia bisa merasakan energi positif ketika melihat warga unjuk rasa membela program vaksin Hektovac. Bagaikan sebuah kehidupan, dukungan dari masyarakat Distrik Pusat ini bisa menjadi jalan pembuka bagi kesuksesan vaksin Hektovac.
“Dukungan ini...,” Liliana menjeda ucapannya. Ia tak bisa menyembunyikan perasaannya yang membuncah sekarang. “Dukungan ini bagaikan oase di tengah gurun.”
“Permisi.”
Suara itu sontak membuat Liliana memandang ke arah pintu masuk ruangannya. Ia dengan segera mematikan televisi dan berjalan menuju pintu kayu berwarna putih tersebut.
“Silakan masuk,” ujar Liliana sembari membuka pintu. Dokter Deva yang melihat itu tampak mengangguk. Ia berjalan masuk diikuti oleh keenam pemuda di belakangnya.
Ketika melihat sosok Rafael Zohan yang berjalan paling akhir, Liliana tak bisa untuk tak memperhatikan pemuda yang satu ini. Anak ini benar-benar aset berharga untuk kesuksesan vaksin Hektovac.
“Jadi bagaimana? Apakah kita akan langsung membahasnya?” tanya Liliana sembari menutup pintu. Wanita itu berjalan menuju tempat duduknya yang tadi.
Di depan meja kerja Liliana tersebut, terdapat sofa panjang yang bentuknya melengkung. Di tengah sofa itu terdapat meja kecil berlapis kaca. Dokter Deva dan keenam anak buahnya terlihat duduk rapi di sana.
“Dengan senang hati, Bu. Sepertinya tak perlu basa-basi juga, kita bisa membahasnya sekarang.” Deva membalas ucapan Liliana sambil menatap ke arah enam pemuda di sampingnya yang kompak mengangguk setuju.
Liliana yang mendengar itu sontak menarik nafasnya. Ia mengambil beberapa berkas yang telah disiapkan di atas meja kerjanya. Wanita itu menyerahkan berkas tersebut pada Deva untuk dibagikan kepada pemuda-pemuda tersebut.
“Tunggu.” Suara Dika tercekat ketika ia melihat pas foto yang terdapat di berkas itu. “Bukankah ini adalah anak di hari itu?”
Atmosfer ruangan ini entah kenapa berubah setelah dokter koas itu bertanya demikian. Di lain sisi, Beni pun dibuat tak kalah kagetnya. Lidah pemuda yang satu ini begitu kelu. Tak salah lagi, anak ini adalah adik dari korban kecelakaan yang tewas di depan Rumah Sakit Hetalia seminggu yang lalu. Dia adalah adik kandung dari Almarhum Diana Melia.
Dika kembali menatap ke arah dr. Deva dan Liliana dengan mata yang membulat tak percaya. “J-jangan bilang? Jangan bilang anak inilah yang terkena kasus mutasi baru?”
Keempat Mahasiswa Tenggara yang memang tak tahu menahu soal hal tersebut hanya bisa saling pandang. Mereka berusaha mencari jawaban satu sama lain namun hasilnya nihil. Keempatnya bahkan tak mengenali anak ini, lantas kenapa Dika dan Beni dibuat heboh seperti itu?
Liliana yang merasa tak suka dengan atmosfer dingin di ruangannya ini hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia menatap Dika dengan sendu. “Benar, ini adalah anak di hari itu. Dia adalah adik kandung dari Diana Melia, korban tewas akibat kecelakaan yang terjadi di depan rumah sakit ini seminggu lalu. Namanya adalah Gabriel Delio.”
Keempat Mahasiswa Tenggara yang mendengar penuturan dari Liliana itu tanpa sadar menarik nafasnya. Jadi begitu, pantas saja reaksi Beni dan Dika tadi begitu berlebihan.
“Jadi ini adalah adik dari kasus kecelakaan yang kau lihat dari kantin dulu ya, Rafa?” gumam Hendra yang dapat didengar Rafa di sampingnya.
Rafa sendiri hanya diam, ia masih mengingat dengan jelas momen ketika menonton kecelakaan itu secara langsung dari lantai atas. Siapa sangka jika adik kandung dari korban itu sekarang justru terkena kasus mutasi virus baru? Ex-0 ini memang gila.
“Baiklah langsung saja aku jelaskan mengenai kasus ini.” Dokter Deva langsung menarik atensi dari seluruh orang yang berada di ruangan ini dengan tepuk tangan. Ia kini berdiri dan menjelaskan segala hal terkait kasus yang menimpa anak kecil itu.
“Gabriel Delio, seorang anak berusia 9 tahun ini diduga terinfeksi oleh mutasi baru virus Ex-0. Seperti yang kita tahu, dalam satu bulan terakhir ini beredar berita yang menjelaskan bahwa di luar negeri sudah banyak ditemui mutasi Ex-0 jenis Zetta.”
Liliana yang mendengar apa yang dikatakan Deva tadi langsung mengangguk. Wanita ini menambahkan, “Varian Zetta ini diketahui menyamar sebagai sel yang berada dalam jaringan otak. Banyak pasien yang terpapar oleh mutasi ini mengatakan bahwa mereka begitu tertekan akibat peningkatan hormon kortisol secara ekstrem. Karena yang diserang otak, kebanyakan pasien mengeluhkan rasa sakit yang luar biasa di bagian kepalanya.”
Perlu diketahui bahwa virus Ex-0 menyebabkan otak memproduksi hormon kortisol secara berlebih sehingga pengidapnya mengalami depresi. Hormon kortisol ialah hormon yang berperan ketika seseorang depresi atau tertekan.
Orang yang mengidap virus ini memiliki gejala stres dan mood turun dalam kurun waktu 1-5 hari. Gejala berlanjut dengan kesusahan bernafas, mual, dan detak jantung tak beraturan. Gejala berkelanjutan yang disebutkan tadi oleh pihak medis disebut mirip dengan penyakit anxiety tingkat kronis.
Namun, segala hal menjadi rumit ketika sebuah varian baru ditemukan dari hasil mutasi virus Ex-0 di luar negeri. Mutasi baru ini disebut sebagai Varian Zetta oleh banyak ahli. Zetta lebih ganas dari Ex-0 biasa karena menyerang saluran dalam otak yang bisa menyebabkan efek samping berupa sakit kepala yang begitu luar biasa. Meskipun begitu, sampai saat ini belum ada penelitian yang mengatakan bahwa Zetta bisa menyebar lebih cepat dari Ex-0 biasa.
“Gabriel akhir-akhir ini sering mengeluh kepalanya terasa begitu sakit. Aku curiga jika anak itu bisa saja terpapar oleh Varian Zetta saat pertama kali membaca laporan medisnya,” ungkap dr. Deva sembari membaca rekam medis anak berusia 9 tahun tadi pada berkas yang berada di tangannya.
Baik Beni, Dika, Rino, Ardi, Hendra, maupun Rafa hanya bisa diam memperhatikan setiap penjelasan yang disampaikan oleh Deva dan Liliana. Sepasang mata dari enam pemuda itu tak lepas dari berkas rekam milik Gabriel Delio di tangannya masing-masing. Wajah mereka menunjukkan raut yang begitu serius saat ini.
“Aku sangat khawatir jika anak itu memiliki indikasi terkena virus Ex-0 jenis baru dari mutasi Zetta,” keluh Liliana di sela-sela penjelasan yang ia berikan bersama Deva.
Ardi yang mendengarnya sontak mengerutkan kening bingung. “Tunggu, jenis baru dari mutasi Zetta? Apa aku tak salah dengar?”
Rino yang berada di sampingnya juga turut mengangguk dengan wajah tak mengerti. “Bukankah mutasi Zetta baru ditemukan sebulan terakhir ini kasusnya? Bagaimana mungkin anak ini terkena jenis baru dari mutasi tersebut?”
Deva yang mendengar pertanyaan dari dua orang anak buahnya tersebut langsung menatap enam pemuda ini dengan tatapan serius. “Ex-0 semakin hari semakin ganas. Ia bermutasi dan terus bermutasi. Ini adalah bentuk antisipasi kita sebagai pihak medis. Kita wajib curiga pada setiap dugaan yang terjadi.”
Pria dengan aura kalem dan sabar itu terlihat menatap berkasnya kembali. “Coba kalian perhatikan lampiran yang terdapat pada halaman sepuluh.”
Melihat mereka yang sudah membaca isi dari halaman tersebut, Liliana segera buka suara. “Di rekam medis halaman ini, kita bisa melihat jika dalam tiga hari terakhir Gabriel Delio tampaknya mengalami penurunan di daya ingatnya.”
“Rincian ini ... seperti Alzheimer?” gumam Rafa.
Deva yang tak sengaja mendengar gumaman pemuda bermata hijau itu hanya bisa menggeleng pelan. “Untuk sekarang aku juga tidak tahu. Dia sering kali lupa dalam segala hal selama kurun waktu tiga hari terakhir. Jika ini tak segera diatasi, aku khawatir jika anak itu mengalami Alzheimer atau kepikunan permanen.”
Keenam pemuda itu mulai memahami apa yang terjadi sekarang. Jika hal ini dibiarkan, ucapan dr. Deva tadi ada benarnya. Mereka tak ingin anak sekecil itu mengalami penurunan daya ingat yang signifikan seperti itu, apalagi ditambah rasa sakit di kepalanya yang terus menyerang. Itu pasti sangat menyiksa bagi anak kecil seusia dia.
“Jadi penurunan daya ingat ini yang membuat Anda dan Bu Liliana curiga bahwa selain adanya dugaan terinfeksi oleh Mutasi Zetta, Gabriel ini bisa saja terinfeksi oleh mutasi baru dari varian Zetta yang lama? Begitu?” tebak Beni. Mereka berdua yang ditanyai seperti itu sontak mengangguk.
“Untuk itu, kita sekarang harus segera bertindak agar mutasi baru ini bisa dengan cepat diatasi. Kita semua tak ingin Gabriel menularkan virus itu pada pasien isolasi yang lain kan? Jadi, kita akan bahas rencana yang harus dilakukan agar virus mutasi ini tak menyebar ke orang lain,” jelas dr. Deva.
Dika tampak memandang ke arah dokter ahli itu dengan tatapan serius. “Apakah dokter ahli lain dan dokter yang menangani pasien Ex-0 sudah tahu mengenai informasi ini?”
“Ya, mereka telah kupanggil untuk menghadiri rapat yang membahas masalah ini tiga hari yang lalu.” Liliana mengucapkan tadi sambil memijit pelan pelipisnya.
Akhirnya pembicaraan yang berlangsung hari ini antara dr. Deva dan Liliana bersama keenam pemuda itu berjalan cukup lama. Mereka membahas segala hal yang bisa dilakukan untuk memutus rantai penyebaran dari virus Ex-0 yang diduga telah sukses bermutasi di rumah sakit ini. Mereka akan melakukan apa pun yang terjadi agar Gabriel Delio terbebas dari rasa sakit yang ia alami.