Alexa tak tahu harus merespons bagaimana. Ia bersama Maria dan Ais hanya bisa memandang tak berdaya ke arah seorang anak laki-laki. Ketiga gadis yang mengenakan mantel jas berwarna hitam itu hanya bisa diam mematung. Kebetulan sekali, siang ini ketiganya mendapatkan tugas piket menjaga pasien Ex-0.
Di balik jendela kaca yang sedari tadi mereka perhatikan, ada seorang anak laki-laki berusia 9 tahun bersama beberapa dokter ahli. Anak itu ialah Gabriel Delio, adik dari korban kecelakaan hari itu. Hari dimana seluruh masyarakat Iranjia memusatkan perhatian pada Rumah Sakit Hetalia setelah dilakukannya konferensi pers.
“Anak itu kenapa sebenarnya?” tanya Ais tak mengerti.
Gadis dengan poni di dahinya itu baru saja tiba di ruangan isolasi ini karena harus mampir terlebih dahulu ke kamar mandi. Ia memandang ke arah Alexa dan Maria yang telah sampai dulu di tempat ini. Pandangannya menuntut ke arah dua temannya tersebut untuk menjelaskan semua hal.
Maria menoleh ke arah gadis yang lebih pendek darinya itu. “Jarak antara kau dan aku hanya 15 menit tadi. Jadi, aku juga tidak tahu apa yang terjadi. Dokter dan perawat di dalam melarang kita masuk.”
Mereka bertiga baru saja melakukan tugasnya untuk memantau pasien lain di ruang rawat inap umum. Oleh karena itu, tiga orang tersebut baru bisa datang sekarang ke ruang isolasi pasien Ex-0 untuk membantu dokter dan perawat lain. Namun, saat Alexa dan Maria tiba untuk pertama kali di tempat ini, mereka langsung dihadang oleh perawat untuk tidak masuk terlebih dahulu.
“Anak itu... entah kenapa begitu kesakitan,” ujar Alexa dengan nada tak tega. Mata hitam gadis itu terus memandang lurus ke arah Gabriel.
Di balik kacamata pelindung yang ia kenakan, Alexa hanya bisa menatap hampa kedua telapak tangannya. Sekali lagi, hatinya terasa begitu sakit. Ia merasa rendah diri. Jiwa dokternya seperti tak berdaya. Karena untuk ke sekian kalinya, Alexa tak mampu melakukan apa-apa untuk menolong orang sakit yang berada di depan matanya langsung.
Dobrakkan keras dari pintu yang terbuka langsung menarik perhatian ketiga gadis tersebut. Mereka memandang ke arah para dokter dan perawat yang tampak tergesa mendorong kasur rumah sakit. Di atas kasur itu ada sosok Gabriel Delio yang meringkuk menahan rasa sakit.
“Dok, apa yang terjadi? Ke mana kalian akan membawa anak ini pergi?” tanya Maria dengan nada panik.
“Ini darurat, kita mau tak mau harus memindahkan anak ini ke ruangan khusus. Untuk menggantikan kami, tolong kalian jaga ruang isolasi ini ya?”
Belum sempat dijawab, para dokter dan perawat yang semula menjaga ruangan ini langsung berjalan tergesa membawa anak tersebut. Alexa, Maria, maupun Ais hanya bisa diam mematung untuk beberapa saat ketika mendengar respons dari dokter senior tadi. Apa yang sebenarnya terjadi?
Di lain sisi, dr. Edgar, sang wakil direktur dari Rumah Sakit Hetalia tampak memandang telepon yang berada di atas meja kerjanya. Tatapan dari pria berambut cepak itu terlihat begitu tajam. Ia tengah gusar saat ini. Hatinya harap-harap cemas menunggu telepon dari sang Ketua Polisi Distrik Pusat, Zainudin Keil.
Pria berusia lebih dari 50 tahun itu teringat akan sosok anggota dewan yang hari ini menjadi topik pembicaraan di seluruh televisi Iranjia. Anggota dewan itu bahkan dengan beraninya membacakan orasi terbuka yang membahas aksi penolakan terhadap vaksin buatan Hetalia di Taman Adiyasa pagi tadi. Edgar sendiri tak habis pikir. Kenapa juga anggota dewan itu menayangkan aksi orasinya secara langsung dan diliput oleh stasiun televisi?
Edgar mengambil remot TV yang letaknya tak jauh darinya. Mata sipit pria itu kini dapat melihat dengan jelas sosok anggota parlemen tadi pagi di layar kaca saat ini. Bahkan stasiun televisi yang dilihatnya sekarang juga menuliskan nama dan biodata lain terkait jati diri anggota dewan parlemen Iranjia itu.
Edgar berpikir sembari memegang dagunya. “Memang tak salah lagi, pria ini adalah Roy Ayasa.”
“Yang menyuruhku melayangkan isu korupsi adalah salah satu anggota dewan komisaris parlemen. Soal data lain terkait pasien itu aku yang membuatnya sendiri karena korban yang dimaksud di sini adalah adikku. Aku mengenalnya lebih dekat dari siapa pun.”
Mata Zain dan dr. Edgar melebar kaget ketika mendengar penuturan itu. Apa yang diharapkan anggota dewan itu dengan melayangkan isu korupsi ini? Apakah ia bermaksud menggagalkan proyek vaksin Hetalia?
“Siapa namanya?” tanya Zain.
“Roy Ayasa.”
Ingatan dokter senior tersebut langsung terfokus pada kejadian di kantor polisi seminggu yang lalu. Masih tertanam jelas di benak pikirannya bahwa saat itu Tom Hustoff, sang jurnalis yang telah mengacaukan acara pers Hetalia kemarin, dengan gamblangnya menyebut bahwa dia diutus secara langsung oleh anggota komisaris parlemen yang bernama Roy Ayasa.
Edgar memang tak terlalu mengerti seluk beluk maupun liciknya dunia perpolitikan. Tapi melihat orasi terbuka yang dibacakan oleh anggota perlemen bernama Roy Ayasa di taman tadi pagi, sepertinya pria itu memang berusaha menggagalkan vaksin buatan mereka. Apa yang sebenarnya terjadi di kalangan pemerintah? Apakah elite politik itu sama sekali tak mendukung gagasan vaksin ini?
Suara dering dari telepon di ruangan kerja miliknya langsung membuat Edgar membuyarkan lamunan. Ia dengan cepat mengangkat telepon berwarna putih itu.
“Bagaimana? Apakah benar jika Roy Ayasa yang telah melakukan tuduhan ke Hetalia?” tanya Edgar dengan suara menggebu.
Ada jeda sejenak di seberang telepon. Penelepon itu tampak memikirkan sesuatu. “Jujur, ini sedikit rumit.”
Sontak alis dari wakil direktur itu mengernyit heran. Bagian mana yang dimaksud rumit oleh Zain, si ketua polisi?
“Sebelum Roy melakukan orasi di Taman Adiyasa pagi tadi, aku dan beberapa orang yang kupercayai telah melakukan penyidikan terlebih dahulu tentang dia setelah Tom Hustoff memberikan info ini di hari penangkapan kemarin.”
“Lalu? Bagian manakah yang menurutmu rumit?”
Tidak memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Edgar, Zain di seberang telepon justru menanyai balik pria lanjut usia itu. “Memangnya apa hasil penyelidikan KPK lima hari yang lalu?”
Benar, Komisi Pemberantas Korupsi Negara Iranjia telah melakukan penyelidikan di rumah sakit ini lima hari yang lalu. Semua kru dan beberapa pasien di sini juga tahu akan informasi tersebut karena banyak petugas dari komisi itu yang mengelilingi seluruh gedung rumah sakit untuk mencari barang bukti. Edgar sendiri sebenarnya tak paham dengan pertanyaan yang diajukan oleh Zain. Ini baru lima hari, jadi lembaga tersebut belum merilis hasil dari penyelidikan yang mereka lakukan di sini.
“Mereka belum memberitahu pihak rumah sakit maupun publik ya?” Zain di seberang telepon tampaknya menyadari kejanggalan ketika Edgar hanya diam dan tak menjawab pertanyaannya.
Ada helaan nafas yang terdengar dari telepon putih yang kini digenggam oleh dokter senior itu. “Baiklah, aku akan memberitahumu pasal hasilnya. Jadi, orang kepercayaanku telah memberitahu jika Komisi Pemberantas Korupsi menemukan satu bukti kuat yang dapat membawamu ke dalam hotel prodeo.”
Bagaikan disambar petir di siang bolong, Edgar tak bisa menyembunyikan rasa terkejut di wajahnya. Berita apa ini? Mungkinkah Zain telah berbohong padanya?
Tapi, sudah sepuluh tahun lamanya pria itu menjadi orang kepercayaan Edgar selama ini. Sebagai salah satu orang penting yang memiliki banyak pengaruh, tak kaget bila Edgar memiliki banyak koneksi di negara ini yang salah satunya ialah ketua polisi Distrik Pusat tersebut. Ia dan Zain sudah kenal dekat. Dalam hatinya Edgar tahu jika Zain adalah tipe orang serius dan tak suka bercanda, tapi akalnya saat ini seperti menolak informasi yang diucapkan oleh ketua polisi itu.
“Kenapa? Apa kau kaget?” Zain bertanya dengan nada retoris.
“Sebenarnya apa ini? Kau sedang tak bercanda bukan?” tanya Edgar dengan keringat yang mengucur deras di dahinya. Detak jantung pria itu berdegup kencang.
“Komisi Pemberantas Korupsi telah menemukan bukti pemindahan dana sebesar 800 juta untuk seseorang yang bernama Mario Regardus. Biar kutebak, itu adalah rektor dari Universitas Tenggara bukan?”
“Apa-apaan ini? Uang itu adalah aset milik Rumah Sakit Hetalia dan bukan hibah yang diberikan pemerintah untuk penanganan pandemi di negara ini,” jelas Edgar.
Jujur, pria setengah abad ini sedikit bisa bernafas lega. Bagaimana pun, uang 800 juta itu adalah aset pribadi milik Hetalia dan bukan dari anggaran negara.
“Begitu ya? Sayang sekali.” Zain menjeda ucapannya untuk beberapa saat. “Kau harus bisa menemukan bukti lain untuk menyanggah tuduhan korupsi itu. Karena bagaimana pun juga, apakah kau tahu jika Ketua Komisi Pemberantas Korupsi adalah adik kandung dari Roy Ayasa? Ini menjadi semakin rumit karena pria itu memanfaatkan nepotisme adiknya untuk menjatuhkan nama rumah sakitmu.”
Sial, Edgar tak bisa menyembunyikan emosinya. Ia sangat ingin untuk mengumpat kesal. Giginya bergemeletuk karena menahan emosi. Pria ini tak tahu harus menanggapi seperti apa informasi yang diberikan oleh Zain tadi. Kini Edgar mengerti bahwa kondisinya semakin rumit ketika semua hal mulai terkuak. Ia tentu saja punya bukti kuat untuk menyangkal tuduhan korupsi 800 juta tersebut.
Akan tetapi, jika sang penuduh yang tak lain dan tak bukan adalah Roy Ayasa tersebut memanfaatkan posisi adiknya yang menjabat sebagai ketua lembaga itu, maka sudah dipastikan tak ada jalan lain. Mereka pasti akan berupaya dengan segala cara untuk menjatuhkan nama Hetalia dan menggagalkan program vaksin ini. Pangkat adalah segalanya bukan? Pasti semua orang di komisi itu akan menuruti apa yang dibilang oleh sang ketua.
Sebenarnya, apa motif asli dibalik pencegahan program vaksin Hektovac oleh para elite politik ini?
Ketika memikirkan motif tersebut, mata Edgar tiba-tiba berbinar dengan cerah. Ia bagai mendapat wahyu dari Tuhan. Pria itu tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya.
“Tunggu.” Edgar menjeda ucapannya. Di lain sisi, Zain yang masih terhubung dengannya melalui telepon langsung mengerutkan kening bingung.
“Apa maksudmu?”
“Aku bisa melayangkan laporan balik terhadap Roy Ayasa dan adiknya jika kedua orang itu memang terbukti ingin menjatuhkan nama Hetalia kan?”
“Hah? Apa yang sebenarnya kau bicarakan secara tiba-tiba ini?”
“Coba pikirkan sekali lagi. Apa motif mereka berusaha sebisa mungkin untuk menjatuhkan nama Hetalia dan menggagalkan program vaksin ini? Padahal sudah jelas jika program vaksin yang Hetalia buat akan sangat menguntungkan negara kita.”
Di seberang telepon, Zain hanya bisa mendengarkan penuturan dari wakil direktur Rumah Sakit Hetalia tersebut.
“Selain tak perlu mengimpor vaksin dari luar negeri, kita juga bisa mengharumkan nama bangsa. Lantas alasan apalagi yang membuat pemerintah menghalangi program vaksin ini?” tanya Edgar.
Zain tampaknya mulai mengerti arah pembicaraan yang diutarakan oleh Edgar. “Benar juga. Padahal dulu ketika Kementerian Pertanian mencetuskan kalung herbal yang dapat menyembuhkan Ex-0 saja, semua elite politik di parlemen langsung mendukungnya. Yah, meskipun sayangnya di akhir wacana, mereka justru beralih menghina kalung itu akibat gagal.”
Senyum semringah langsung merekah di balik masker yang dikenakan oleh dr. Edgar. “Apa yang kubilang tadi? Ini sangat aneh. Aku yakin pasti ada motif tersembunyi di balik ini semua. Ada yang disembunyikan pemerintah dari kita. Kalau kalung tak berguna itu saja dulu didukung, lantas kenapa vaksin ini tidak?”
Ada suara tawa yang bisa didengar jelas oleh Edgar di seberang telepon. Sepertinya Zain sangat terhibur dengan teori yang ia pikirkan tadi. Tanpa sadar, wakil direktur itu pun juga ikut tersenyum.
“Kau benar-benar sesuatu sampai bisa memikirkan ini semua, dr. Edgar. Aku akan melihat bagaimana kau bertindak ketika Komisi Pemberantas Korupsi mengumumkan hasil penyidikannya nanti.”
Seringai terbentuk di wajah dokter senior itu. “Heh, tunggu saja mereka.”