Chapter 16 - Nasihat

1851 Kata
“Jadi, anak itu diduga terpapar oleh virus Ex-0 mutasi baru?” Kali ini terlihat dengan jelas sosok dua orang anak muda yang berjalan beriringan. Mereka mengenakan jas jaket berwarna hitam dengan aksen biru neon di bagian lengan. Muda-mudi tersebut hanya bisa berjalan dalam diam. Berbeda dengan pertemuan pertama kali yang dialami oleh mereka, Alexa dan Rafa kini justru menampilkan wajah sendu. Bagaimana pun juga, kasus Ex-0 semakin lama dirasa semakin rumit. Apa yang harus keduanya lakukan jika seorang anak berusia 9 tahun terbukti benar telah terinfeksi mutasi baru dari varian Zetta virus Ex-0? Dua orang itu benar-benar merasa tak berdaya karena tidak bisa bertindak banyak. “Aku telah menyampaikan hal ini padamu kemarin malam bukan? Kenapa kau bertanya dengan pertanyaan yang serupa lagi?” Mata hitam Alexa yang biasanya berbinar hanya bisa menatap sendu ke arah lantai putih koridor rumah sakit yang dipijaknya. Entah kenapa, mendengar kabar tersebut kemarin membuat sifat periang dan semangatnya seakan sirna begitu saja. Alexa selalu membenci dirinya sendiri yang merasa tak berguna ketika ada seseorang yang membutuhkan pertolongan nyata. Padahal anak itu kemarin menderita di hadapannya saat berada di ruang isolasi. Alexa bahkan juga masih mengingat jelas bagaimana kakak dari anak tersebut menderita kesakitan di hadapannya seminggu yang lalu dan harus berakhir dengan kematiannya. Otak Alexa seperti berusaha untuk menyangkal fakta tentang kondisi anak laki-laki kemarin. Seperti tadi, ia terus menanyakan pertanyaan retorik yang sama ke arah Rafa untuk ke sekian kali. Dirinya yang sadar atas tindakan bodohnya pun segera menghela nafas kasar. “Maaf, aku tidak bisa berpikir jernih.” Mendengar jawaban singkat Alexa yang bernada datar itu membuat Rafa memandang gadis tersebut dengan tatapan saksama. Gadis di sampingnya sekarang ini seperti bukan Alexa saja. Alexa yang Rafa kenal biasanya selalu bersemangat dan ceria. Apa yang salah dengannya? Kedua anak muda itu tadi tak sengaja bertemu di tangga menuju ruang koas, tempat dimana markas Tim A, B, dan C berada. Mereka akhirnya berjalan dan mengobrol bersama hingga saat ini. Namun, atmosfer yang terasa berat ketika membahas kondisi anak itu membuat keduanya mau tak mau diselimuti oleh aura sendu. Anak itu, Gabriel Delio, kemungkinan besar memang terjangkit oleh mutasi baru virus Ex-0. “Apa kau merasa begitu tertekan?” tanya Rafa dengan nada heran. Alexa meraba area di belakang lehernya untuk mencari jawaban terbaik atas pertanyaan yang diajukan oleh Rafa. “Bagaimana ya, aku hanya merasa seperti tak berguna saja. Aku ini dokter, tapi kenapa aku tak mampu melakukan banyak hal untuk menolong banyak orang?” Keduanya kini telah sampai di lorong yang merupakan tempat ruang koas berada. Meskipun begitu, Alexa dan Rafa saat ini masih asyik berbincang banyak hal. “Apakah ini pertama kalinya kau mendapatkan pasien yang berada dalam kondisi kritis atau darurat?” “Sebenarnya tidak juga, aku sudah sering mendapatkannya sejak masa koas pertama kali dulu.” Rafa melirik Alexa melalui mata hijaunya. Ia pun sedikit menorehkan senyum kecil di balik maskernya. “Itu dia. Kau terlalu dibawa perasaan ketika bertugas sebagai dokter, Alexa.” “Hah? Apa?” “Apa? Aku tidak salah kan? Seharusnya kau tahu jika pekerjaan dokter selalu terhubung dengan sebuah perasaan. Saat pasien bahagia dokter akan bahagia, namun saat pasien sedih atau pun berduka, dokter pasti juga ikut sedih. Sedangkan kau sendiri? Kau ini terlalu membesarkan perasaan dan jiwa doktermu sampai membuatmu murung seperti itu karena kabar yang diberikan oleh kelompok laki-laki kemarin.” Jujur, Rafa sendiri tak mau menghardik Alexa seperti tadi karena ia ingin dekat dengannya sebagai teman karib. Meskipun begitu, harus ada seseorang yang menyadarkan Alexa jika sikapnya saat ini itu salah. Ia tak harus bersedih seperti sekarang. Padahal Rafa dan yang lainnya memberikan informasi terkait Gabriel kemarin malam, namun sampai hari berganti pun Alexa masih memikirkan hal itu dengan wajah murung. Di lain sisi, Alexa juga tahu jika sikapnya yang seperti ini agak kelewatan sampai mempengaruhi emosinya pagi ini. Tapi bagaimana lagi, ia benar-benar merasa tak berguna. “Ingat, kau itu bukan Tuhan, Alexa. Kau ini adalah seorang dokter.” Ucapan Rafa kali ini membuat Alexa berani menatap ke arah mata hijau dari pemuda tersebut. Keduanya pun tanpa sadar sudah berdiri di depan pintu ruangan koas. Rafa menatap Alexa dengan pandangan serius. “Kau tahu, dokter tak harus melakukan banyak hal untuk menolong banyak orang. Jika kau melakukan satu hal untuk menolong satu orang saja, maka kau masih tetap dianggap sebagai dokter di sini.” Saat itu juga, Rafa bisa melihat binar cahaya kembali muncul di mata gelap milik Alexa. Alexa sendiri begitu terperangah dengan apa yang diucapkan oleh pemuda bersurai coklat tersebut. Selama ini, gadis itu tak pernah memikirkan ideologi yang diucapkan Rafa tadi. Ia terus saja menyesal dan menyesal ketika tangannya tak mampu untuk menolong banyak orang. Melihat Alexa yang mengerti apa maksudnya tadi, Rafa pun langsung memperlebar senyum di balik masker hitam yang ia kenakan. “Aku senang kau paham.” “Ingat hal ini baik-baik, kau akan tetap menjadi dokter meskipun hanya melakukan satu hal untuk satu orang. Jika kau tak mampu menyelamatkan kakak Gabriel hari itu, maka dirimu masih bisa melakukan lebih dari satu hal untuk menyelamatkan Gabriel sekarang,” lanjut Rafa. Alexa tak bisa menahan rasa harunya. Entah kenapa, hari ini ia begitu emosional. Sikap dan perkataan Rafa tadi memberikan banyak imbas positif untuknya. Ia tersenyum lebar. Matanya menyipit untuk mencegah kedua netra hitam itu berkaca-kaca. “Terima kasih. Terima kasih atas dukungan yang kau berikan. Aku sungguh ... tak tahu harus berkata seperti apa saat ini.” “Tidak apa-apa, tim ada untuk saling menyemangati bukan?” Rafa tersenyum ramah. Alexa yang melihat itu hanya bisa tertawa ringan. “Bodohnya aku selama ini terus-terusan bersikap emosional seperti tadi. Padahal di luar sana, aku masih bisa melakukan banyak hal untuk menolong orang lain termasuk Gabriel.” “Apa yang kubilang,” ujar Rafa dengan nada riang. Ia pun tertawa sebentar sebelum berujar, “Kita masih harus mencari pencipta virus masokis yang telah membuat dunia ini sengsara bukan?” Sial, Alexa tak bisa membendung tawanya untuk keluar. Gadis dengan rambut panjang diikat itu langsung tertawa terbahak-bahak saat Rafa berucap demikian. Rupanya anak ini masih mengingat teori gila yang ia bagikan saat pertama kali bertemu kemarin. Alexa benar-benar tak menyangka jika Rafa masih mengingat teori absurdnya tersebut. “Kau ini apa-apaan coba? Hahaha, kenapa kau masih ingat dengan apa yang kuucapkan hari itu?” tanya Alexa sambil tertawa riang. Rafa sendiri sibuk tertawa dan tak menjawab pertanyaan Alexa tadi. Kedua orang itu tertawa bersama saat ini. Dari ujung lorong sana, terlihat Dika yang menatap tak habis pikir ke arah Rafa dan Alexa yang tengah berdiri di depan ruang koas. Apa yang mereka berdua tertawakan tanpa dirinya? “Oi, apa ini? Apa yang kalian tertawakan tanpa aku?” ujar Dika dengan nada agak kesal. Ia sedikit kesal karena ketinggalan dalam obrolan, padahal ketiganya berada di tim yang sama. Pemuda yang satu ini merasa telah dianaktirikan. “Bukan, bukan apa-apa kok, Bos.” Alexa menggoda Dika yang terlambat datang di antara mereka bertiga. Dika yang dijawab seperti itu sontak saja cemberut. “Haish,” gerutunya. Laki-laki berwajah ketus itu pun melewati Alexa dan Rafa untuk membuka pintu ruangan koas. “Kalau begitu, ayo masuk. Kita harus menunggu Tim A dan B untuk membahas langkah selanjutnya hari ini.” “Siap, Bos.” Rafa dan Alexa mengucapkan hal tersebut secara bersama sambil menahan gelak tawa. Dika sendiri yang mendengar itu langsung merasa pipinya begitu panas. Ia tentu saja malu. Apa-apaan coba? Dia bukan bos. Alexa ini memang ada-ada saja. Apa yang diajarkan anak itu pada Rafael Zohan coba? Dan begitulah, kisah awal dari Tim C pagi ini yang dimulai dengan menggoda sosok Dika, si dokter koas bersifat bossy namun tak suka dipanggil bos. Ketiga anggota Tim C itu pun lalu berjalan bersama memasuki ruangan koas untuk mendiskusikan agenda hari ini. Di lain sisi, Edgar yang kemarin mendapatkan laporan tentang kabar terbaru dari Zain, si Ketua Polisi Distrik Pusat, langsung mengajak para petinggi Rumah Sakit Hetalia dalam pertemuan terbatas. Selain petinggi Hetalia yang menghadiri rapat, ada juga sosok Adam Hillary yang menduduki salah satu kursi rapat pagi ini. Adam ialah ketua dari Perusahaan Sepkai Farmasi yang juga sekaligus merupakan Ketua Pelaksana dari Program Vaksin Hektovac. Total ada lima orang yang bisa terlihat jelas di dalam ruang rapat milik dr. Edgar saat ini. Dokter Liliana Seran yang merupakan direktur dari rumah sakit tampak duduk di ujung meja. Wanita itulah yang memimpin rapat sejak dua jam yang lalu. Di sisi lain, ada juga sosok Bu Intan beserta dr. Deva yang menyimak dengan saksama hasil laporan yang berada di tangan mereka masing-masing. “Oh ya, Adam. Apakah proses pembuatan vaksin sudah mulai dilanjutkan kembali?” tanya Intan. Secara tak langsung ia telah memecah keheningan yang terjalin di antara mereka sejak tadi. Adam pun langsung menoleh ke arah Intan. “Seperti rencana baru yang kita buat kemarin, saat ini program pembuatan vaksin masih terus dilakukan oleh para ilmuwan di laboratorium tersebut. Mereka mulai bekerja lagi sejak tiga hari yang lalu.” “Kita benar-benar bersyukur karena mendapat tempat penelitian di bawah tanah dan tidak diketahui oleh banyak orang,” ucap Liliana dengan helaan nafas lega. Deva melepas kacamata yang ia pakai sejak tadi. Dokter itu menatap ke arah seluruh peserta rapat pagi ini dengan wajah serius. “Meskipun begitu, aku sebenarnya masih bingung dengan motif Universitas Tenggara mengirim mahasiswa untuk proyek ini." Seluruh petinggi Hetalia termasuk Adam langsung diam begitu mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Deva. Baik ia maupun semua orang di sini sama sekali tak paham dengan motif Universitas Tenggara. Memang benar pihak mereka telah mengizinkan pembuatan vaksin di laboratorium Universitas Tenggara yang dibangun secara rahasia di bawah tanah, tapi tindakan mereka yang mengirim mahasiswa ini begitu aneh. Seperti ada suatu hal yang disembunyikan. “Yah, kita pikirkan itu nanti saja. Aku sebenarnya juga curiga dengan universitas itu. Akan aku suruh orang kepercayaanku untuk mencari informasi terkait hal tersebut,” ujar Edgar yang berusaha mengalihkan topik rumit tadi. Pria berusia setengah abad itu pun mengambil beberapa tumpukan berkas yang tak jauh dari posisinya duduk sekarang. “Saat ini prioritas kita adalah bagaimana cara membuat opini publik agar 100% mendukung Hetalia. Dengan dukungan itu, aku yakin nama jelek kita akibat isu-isu negatif seperti korupsi pasti akan sirna.” Intan langsung menatap serius ke arah dokter senior yang duduk di hadapannya tersebut. “Cara terbaik untuk saat ini adalah dengan membuktikan bahwa kita itu tak bersalah, meskipun akan sulit karena anggota parlemen sepertinya tak setuju dengan program ini.” “Apalagi ditambah dengan hubungan keluarga antara Roy Ayasa dan Ketua Komisi Pemberantas Korupsi. Posisi kita sekarang sudah semakin terpojok. Tinggal menunggu hasil penyidikan disiarkan ke publik, maka habislah kita,” sahut Liliana dengan nada santai. “Biasanya hasil penyidikan korupsi itu diumumkan setelah dua minggu sejak hari pemeriksaan kan?” tanya Adam sembari matanya menerawang suatu hal. Edgar yang mendengar itu langsung membenarkan perkataan Adam. Apa yang dipikirkan oleh pria satu ini sekarang? Semua orang di ruangan ini tiba-tiba terpusatkan perhatiannya ke arah Adam yang berpikir serius. Pria berambut klimis itu langsung tersenyum simpul. “Sepertinya aku ada cara untuk menghentikan tuduhan tanpa bukti ini. Akan kubuat Komisi Pemberantas Korupsi beserta anggota parlemen diam tak berkutik.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN