Di meja bundar ini ada sembilan orang pemuda yang duduk melingkar. Mereka mengenakan seragam yang menyerupai jaket berwarna hitam dengan aksen biru neon di bagian lengannya. Seragam berwarna hitam itulah yang merupakan baju resmi dari regu penanganan Ex-0 di Rumah Sakit Hetalia.
Berbeda dengan dokter dan suster perawat pasien biasa yang mengenakan jas putih, regu penanganan ini mengenakan setelan serba hitam. Set pakaian hazmat itu terdiri dari celana, jas, mantel bertudung, sarung tangan, masker, hingga kacamata. Semuanya berwarna hitam dengan tambahan aksen biru neon pada mantelnya.
Ketiga tim yang merupakan Tim A, B, dan C itu kini telah berpindah divisi secara resmi ke dalam bagian tetap regu penanganan Ex-0 di Rumah Sakit Hetalia. Alasan itulah yang menyebabkan mereka memakai baju seragam serba hitam tersebut.
Tempat berkumpulnya kesembilan pemuda ini ialah ruang koas. Masing-masing dari mereka kini terlihat begitu serius memperhatikan lembaran kertas yang merupakan surat resmi dari Liliana, selaku Direktur Rumah Sakit Hetalia. Dalam surat resmi itu terdapat pernyataan dari sang direktur yang menempatkan mereka sebagai anggota tetap divisi penanganan Ex-0.
“Pada akhirnya kita benar-benar resmi ditempatkan di divisi penanganan Ex-0 di rumah sakit ini ya?”
“Siapa yang menyangka di akhir masa koas kita sekarang justru ditetapkan sebagai anggota tetap divisi tersebut?”
Beni dan Dika yang duduk bersampingan hanya bisa berbagi keluh kesah. Dulu saat mereka baru menjadi dokter koas di sini, kelima anak muda itu hanya ditempatkan sebagai pembantu dari regu penanganan di saat ada rujukan pasien saja. Siapa sangka jika kumpulan dokter koas yang hanya berjumlah lima orang ini akan ditempatkan secara resmi di bagian regu tersebut.
“Yah, mau bagaimana lagi kan? Itu nasib kalian. Kondisi Ex-0 semakin hari semakin mengkhawatirkan dan seluruh rumah sakit di Iranjia sepertinya juga kekurangan tenaga medis,” sahut Rino dengan nada bosan.
Di lain sisi, Ardi yang juga berada di Tim B bersama Rino langsung menatap Dika dengan pandangan kesal. Ardi berpikir bahwa anak ini benar-benar cerewet. Ia menggerutu dalam hati.
“Sudahlah!” ujar Ardi dengan nada kesal. Ia kemudian menatap Beni yang merupakan ketua koas di rumah sakit ini. “Akhiri omong kosong ini. Sekarang apa yang harus kita lakukan?”
“Berdasarkan dokumen yang kuterima tadi, tugas kita saat ini ialah memfokuskan diri untuk membantu proses penyembuhan Gabriel Delio yang diduga terinfeksi oleh varian baru dari mutasi Zetta.” Beni mengucapkan hal itu sambil membaca dokumen yang berada di tangannya.
Karena posisinya yang merupakan ketua koas, Beni secara tak langsung menjadi perantara utama antara ketiga tim ini dengan petinggi Hetalia. Dalam dokumen yang berada di tangannya, terdapat segala ketentuan yang telah diputuskan terkait aksi darurat untuk mencegah adanya penyebaran mutasi Zetta di Iranjia.
“Apakah benar anak itu memang terinfeksi oleh mutasi baru dari varian Zetta Ex-0? Memangnya rumah sakit ini sudah punya alat untuk mengidentifikasinya?” tanya Rafa yang langsung membuat lainnya terdiam.
Pemuda bersurai coklat yang berada di Tim C ini sebenarnya cukup heran. Gabriel Delio baru diduga terinfeksi oleh varian baru dari mutasi Zetta karena melihat gejalanya yang sama dengan orang di luar negeri. Meskipun begitu, anak tersebut belum secara resmi dinyatakan benar-benar terinfeksi oleh varian itu.
Memangnya, apa yang bisa mereka lakukan untuk mencari petunjuk yang membuktikan bahwa Gabriel memang benar terinfeksi? Apakah rumah sakit ini punya alat untuk mengungkapkan hal tersebut?
“Seingatku, rumah sakit ini memang tidak memiliki alat seperti itu,” gumam Ais, si mahasiswa penggila nilai.
Alexa yang mendengar itu sontak menoleh ke arah Rafa yang berada di sampingnya. “Jika si gila Ais sudah berkata begitu, maka dipastikan bahwa Hetalia memang tak memiliki alat tersebut.”
“Tunggu dulu, tunggu. Aku sedang mencari informasi lebih lanjut di dokumen ini.” Beni terlihat membolak-balikkan dokumen yang berjumlah puluhan lembar itu. Semua orang yang berada di ruangan ini hanya bisa diam sembari terus memperhatikan ketua tim koas itu.
“Ah! Ini dia!”
“Bagaimana? Apa yang tertulis di sana?” tanya Dika dan Ardi secara bersama tanpa disadari.
Beni terlihat membaca tulisan dalam dokumen itu secara saksama. Ia langsung menatap semua orang di sekelilingnya. Dokumen yang sedari tadi dibacanya langsung ia tunjukkan pada mereka. “Sepertinya aku paham dengan apa yang disampaikan di sini.”
“Di halaman yang kalian lihat sekarang, tertera dengan jelas bahwa kita akan menggunakan perlengkapan dari Sepkai Farmasi untuk meneliti dugaan mutasi baru itu. Untuk itu, Bu Liliana di sini menuliskan perintah agar kita pergi ke laboratorium yang kemarin untuk mengambilnya.”
Maria terlihat begitu serius mendengar penjelasan dari laki-laki berambut hitam itu. “Tunggu, siapa dari kita yang akan pergi mengambilnya ke sana? Kalian tahu kan jika pergi ke Oud Centra itu harus naik mobil?”
“Kau ini bodoh atau bagaimana, Cewek Galak? Sudah pasti Hetalia akan meminjamkan mobilnya,” komentar Ardi yang duduk di sebelah gadis itu. Maria yang mendengar itu pun tak segan untuk menampar bahu Ardi.
Beni memperhatikan mereka dengan saksama. Ia menatap anggota timnya, tim B, lalu berganti ke tim C. Laki-laki itu sepertinya tengah memikirkan suatu hal.
“Bagaimana jika kita bagi tugas saja?” usul Beni setelah mempertimbangkan banyak hal.
Hendra yang duduk di sampingnya langsung menoleh. Ia, Beni, dan Ais tergabung dalam satu tim yang sama. “Menurutku, untuk pengambilan alat dan hal-hal lain yang berhubungan dengan penelitian mutasi ini kita serahkan saja pada Tim C? Bagaimana?”
“Apa?”
Untuk pertama kalinya, tiga orang yang berada di Tim C itu berkata serentak dengan wajah yang menunjukkan ekspresi heran.
“Kalian, para dokter koas, sudah tahu bukan jika Rafa ahli dengan hal-hal yang berbau mikrobiologi. Ini bidangnya, jadi kita tak perlu meragukan dia. Apalagi ada Dika dan Alexa di sana, semuanya pasti akan beres,” sambung Hendra. Pemuda yang sejak tadi diam itu langsung jadi pusat perhatian semua orang.
Para dokter koas lain kecuali Dika dan Alexa yang mendengar penuturan tadi sontak mengangguk paham. Benar juga apa yang dibilang Hendra tadi. Mereka tahu jika Rafa begitu hebat dalam hal seperti ini setelah melihat sampel buatannya di laboratorium kemarin. Menyerahkan tugas penelitian tersebut pada ahlinya akan lebih mudah daripada mereka yang masih awam harus coba-coba melakukannya.
Di lain sisi, Dika dan Alexa hanya bisa berpandangan. Mereka tahu jika Rafa bisa dalam hal ini, apalagi mengingat latar belakang anak itu yang merupakan putra dari profesor ternama dunia. Tapi, dua dokter koas itu entah kenapa merasa tak yakin dengan kemampuan mereka untuk melakukan penelitian bersama Rafa.
“Bagaimana? Apakah yang lain setuju?” tanya Beni untuk memastikan.
“Kalau aku sih sudah pasti setuju karena kami bertiga sudah tahu bagaimana kemampuan dari ketua kami,” sahut Rino yang langsung diberi anggukan oleh Ardi dan Hendra.
Beni yang mendengar itu mengangguk paham. Ia lalu menoleh ke arah Ais dan Maria untuk meminta pendapat mereka. Kedua gadis yang berada dalam beda tim itu sontak mengangguk karena tak ada alasan bagi mereka untuk menolak Tim C menjadi bagian peneliti mutasi baru virus Ex-0.
“Baiklah, kalau begitu sudah kita putuskan jika Tim C yang bertindak dalam segala hal yang berkaitan dengan penelitian. Untuk mempersingkat waktu, kalian bertiga harus cepat pergi ke laboratorium kemarin dan mengambil alat itu.”
Alexa dan Dika yang mendengar keputusan sepihak dari teman-temannya tersebut berusaha menyanggah ucapan Beni. “T-tapi!”
“Ayo, cepat. Tunggu apalagi?” goda Ais pada ketiga orang tersebut.
Jujur, saat ini Rafa merasa sungkan kepada Dika dan Alexa. Kenapa wajah mereka berdua terlihat begitu tertekan? Apa jangan-jangan kedua dokter koas ini merasa jika dirinya akan menjadi beban mereka dalam tugas kali ini?
Pemuda bersurai coklat tersebut langsung menarik nafas dalam. Ia memanggil Alexa dan Dika yang sedari tadi menampilkan mimik depresi. “Aku berjanji tidak akan menjadi beban kalian. Jadi, tolong jangan memasang ekspresi tertekan seperti itu.”
‘BUKAN ITU MASALAHNYA! KAMILAH YANG AKAN MEMBEBANIMU!’ Batin Alexa dan Dika saat ini menjerit bersama. Mereka tak kuasa dengan sifat lugu pemuda bersurai coklat ini. Kenapa anak ini harus merendah untuk meroket?
Interaksi lucu antara tiga orang yang tergabung dalam Tim C itu langsung dibalas oleh gelak tawa. Baik Tim A maupun Tim B saat ini tertawa melihat ekspresi Dika dan Alexa yang terlihat syok dan semakin tertekan dengan ucapan polos Rafa.
“Tunggu, kenapa kalian tertawa? Apa ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Rafa keheranan.
"Tidak! Tidak! Ayo segera berangkat ambil alat itu,” ujar Ais menahan tawa.
Rafa yang mendengar itu langsung menatap datar ke arah semua orang. Ia berusaha menyembunyikan ekspresi kesal bercampur herannya. Akhirnya, ketiga orang itu beranjak dari ruang koas ini menuju parkiran mobil untuk diantarkan ke lokasi laboratorium kemarin berada.
Ketika tiga orang pemuda itu berjalan tergesa menuju tempat parkir, mereka tak sengaja berpapasan dengan dr. Edgar yang berjalan masuk. Dokter senior itu juga kebetulan dari tempat parkir untuk mengambil beberapa berkas yang tertinggal di dalam mobilnya.
Edgar yang terkenal tegas itu langsung menatap mereka karena terlihat begitu mencolok saat melewati koridor lantai satu. Baju hitam yang dikenakan oleh Tim C di antara baju-baju putih kru rumah sakit lain langsung menarik atensinya. Jujur, Edgar mengakui kalau dirinya memang tak begitu dekat dengan kru rumah sakit lain selain petinggi. Hal itu menyebabkan dia banyak lupa dengan wajah petugas medis lainnya.
“Kalau tidak salah dua orang itu dokter koas bukan? Apa orang lain ya? Mau ke mana mereka?” gumamnya sambil menyipitkan mata.
“Mari, Dokter Edgar,” tegur Alexa dan Dika ketika ketiganya berpapasan secara langsung dengan Edgaar.
Rafa yang kebetulan berjalan paling belakang hanya bisa ikut menganggukkan kepala tanpa mengucap satu patah kata pun. Di lain sisi, Edgar yang diberi salam seperti itu juga turut mengangguk. Atensinya terus tertuju pada ketiga anak muda itu meskipun mereka sudah berjalan keluar. Wakil direktur itu tak tahu. Ia merasa seperti pernah melihat pemuda yang berjalan paling belakang tadi. Wajahnya terasa familier bagi Edgar.
“Kalau dipikir-pikir yang bermata hijau tadi kok mirip dengan Zainudin Keil ya? Dasar polisi itu, banyak sekali orang yang menyerupai wajahnya,” gumam Edgar sembari meneruskan langkahnya menuju ruang kerja.
Rapat yang ia selenggarakan bersama beberapa petinggi tadi sudah selesai sekitar sepuluh menit yang lalu. Mereka akhirnya menyerahkan semua hal pada Adam Hillary karena sosok Ketua Sepkai Farmasi itu berkata ingin menyelesaikan urusan ini dengan caranya sendiri. Pria itu ingin membantu kesulitan yang dialami oleh Hetalia.
Ngomong-ngomong soal Zain yang merupakan Ketua Polisi di Distrik Pusat, Edgar jadi teringat dengan percakapan mereka di akhir telepon kemarin. Mata hitam milik dokter senior yang kini berjalan menaiki tangga itu tampak menerawang jauh. Pikirannya melayang ketika ia mengingat apa yang diucapkan Zain di telepon kemarin.
“Dokter Edgar, ada satu hal yang ingin aku sampaikan padamu sebelum telepon ini kututup,” ujar Zain dengan serius lewat sambungan telepon.
Edgar yang sedari tadi tampak bahagia dengan ide cemerlangnya untuk mengalahkan Roy Ayasa langsung mengendurkan senyuman begitu mendengar nada suara Zain yang berubah menjadi lebih dalam. Ada apa dengan nada bicara anak ini?
“Apa itu?” jawab Edgar dengan tenang.
“Kau masih ingat tentang Tom Hustoff kan?”
“Tentu saja. Tak mungkin aku melupakannya.”
“Baguslah.”
Alis Edgar mengernyit. “Tunggu, sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan?”
“Kau tahu jika aku akan selalu membela kebenaran dan keadilan bukan? Aku tak segan untuk menyeretmu ke penjara meskipun kau adalah kenalanku. Oleh karena itu, aku mohon padamu untuk setidaknya bertanggung jawab pada segala hal yang terjadi pada kehidupan Tom Hustoff.”
Edgar diam. Dia masih mendengar ucapan Zain di seberang telepon dengan ekspresi tenang.
“Kau harus ingat jika ada orang yang menderita di luar sana akibat salah satu kebijakan yang dirimu buat. Seandainya saat itu kau lebih membuka matamu ke sekitar, kau pasti bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa. Ingat, Tom yang telah memberitahu kita perihal Roy Ayasa ini.”
Akhirnya, Edgar pun bereaksi. Ia menghela nafas kasar. “Aku mengerti, Zain. Aku akan bertanggung jawab untuk kebijakanku yang memulangkan adiknya padahal belum sembuh total saat itu. Apa pun yang terjadi nanti, aku dan Hetalia akan bersiap untuk melindungi serta membantu Tom Hustoff sepanjang umurnya.”
“Akan kupegang omonganmu, Dokter.”
Sekarang Edgar yang sudah berdiri di depan pintu ruang kerjanya tampak memikirkan sesuatu. Kira-kira dimana letak keberadaan Tom Hustoff saat ini? Apa yang ia lakukan? Dan apakah Tom sudah terbebas dari jeratan Ex-0 jika melihat gejala yang dialaminya tempo hari?