“Baiklah, karena Tim C sudah pergi ke laboratorium yang kemarin, sekarang aku akan membahas tugas Tim A dan B yang ada di sini,” ujar Beni.
Tim A dan B saat ini masih duduk tenang di ruang koas setelah kepergian Tim C keluar dari ruangan beberapa saat yang lalu. Beni yang sejak awal telah memimpin jalannya rapat langsung membahas secara rinci tugas dan hal-hal yang harus dilakukan oleh kedua tim tersebut selama Tim C melakukan aksi penelitian.
“Karena kita memiliki seseorang yang berasal dari jurusan psikologi, bagaimana kalau Tim B bertugas untuk berhadapan secara langsung dengan Gabriel Delio?” ujar Ais. Gadis berponi itu mengajukan saran sambil menatap ke arah Rino.
Rino yang mengerti arti ucapan tadi langsung jadi pusat perhatian. Ia tahu kalau akan begini jadinya. Laki-laki berumur 20 tahun tersebut hanya bisa mendesah karena rasa pasrah yang ia alami.
“Jadi, Tim A secara tak langsung ingin memakankan Tim B karena posisiku yang merupakan mahasiswa psikologi, begitu?”
Hendra yang merupakan satu-satunya teman sesama mahasiswa Rino yang berada di dalam Tim A terlihat berusaha menahan tawa. “Bukan begitu, Rino. Ais hanya mengucapkan fakta. Tim B harus memanfaatkan ilmu psikologi yang kau miliki untuk mendekati anak itu.”
Beni yang mendengar penuturan teman setimnya itu langsung mengangguk setuju. “Bagaimana pun juga, dia itu anak kecil. Masih tidak mengerti apa-apa. Kemarin saat kakaknya tewas, aku berurusan langsung dengan bocah itu. Gabriel adalah tipe anak nakal yang liar dan suka berontak.”
“Aku takut jika nantinya dia berontak dan kabur saat akan diperiksa untuk penelitian. Paling tidak, Rino pasti bisa menghadapi anak itu dengan ilmu psikologinya,” sambung Ais.
Maria sendiri yang mendengar penjelasan dari Tim A hanya bisa mengangguk-angguk mengerti. Gadis itu lalu menoleh ke arah Ardi dan Rino yang tampaknya tertekan harus berurusan dengan anak kecil.
“Kalian ini kenapa coba?” tukas Maria dengan nada garang.
Ardi yang mendengar itu langsung melirik ke arah Rino yang berada satu tim dengan dirinya. “Aku harus berurusan dengan anak kecil merepotkan gara-gara setim denganmu, Rino!”
“Kalau bisa memilih, aku juga tidak akan memilihmu sebagai anggota timku!” hardik Rino tak terima. Ia merasa kesal dengan ucapan Ardi tadi.
Maria terlihat memijit pelipisnya ketika mendengar kedua pemuda yang berada dalam tim B ini terus-terusan berdebat. “Kalian ini, sudahlah. Gabriel itu kasihan. Kalian para laki-laki tak tahu penderitaan macam apa yang dialaminya.”
“Benar, saat itu kami benar-benar tak kuasa melihat dia merintih kesakitan sambil terus memegang kepalanya.” Ais menyahut ucapan Maria dengan tatapan mata yang terlihat sendu.
Masih teringat dengan jelas oleh Maria dan Ais, Gabriel menunjukkan ekspresi kesakitan yang begitu jelas saat dipindahkan ke ruang isolasi darurat kemarin pagi. Anak berumur 9 tahun itu terus saja berteriak dan menangis sambil memegang kepalanya dengan sekuat tenaga.
“Mutasi Zetta ini benar-benar bahaya. Ada kemungkinan besar jika anak itu sudah lupa mengenai beberapa hal,” sahut Ardi sambil memangkukan wajahnya di meja.
“Kau benar, oleh karena itu aku mohon pada kalian bertiga yang berada di dalam Tim B harus hati-hati. Ke depannya kita akan secara bergantian untuk interaksi dengan Gabriel agar anak itu bisa akrab dengan kita bersembilan,” ucap sang ketua koas.
Maria, Ais, Ardi, Rino, dan Hendra yang mendengar penuturan itu langsung mengangguk paham. Lagi pula kemarin saat kecelakaan terjadi, Gabriel yang berontak langsung luluh dalam pelukan Dika. Oleh karena itu, sepertinya Dika bisa membantu banyak hal apabila mereka kesulitan untuk mengobrol dengan anak tersebut nantinya. Semua dokter koas yang berada di sini dan mengingat kejadian tersebut hanya bisa berharap jika Gabriel tak melupakan kenangannya bersama Dika saat itu.
“Lalu tugas Tim A apa?” tanya Ardi pada Beni. Anak yang dicap berandalan oleh sebagian orang Mahasiswa Tenggara itu menatap Beni dengan tak sabar.
“Karena Hendra berasal dari jurusan farmasi, Tim A akan bekerja sama dengan regu farmasi khusus Ex-0 di rumah sakit ini. Kami akan menunggu laporan dari kalian yang berinteraksi secara langsung dengannya. Dari laporan itulah, regu farmasi akan memberikan obat yang sesuai agar keluhan Gabriel mereda.”
Ardi yang mendengar penuturan Beni yang panjang dan lebar itu sontak mengangguk paham. Di lain sisi, Hendra yang disebutkan dalam perkataan Beni tadi tampak ingin menanyakan suatu hal.
“Sebentar Beni, jadi kesimpulannya adalah dari hasil kerja Tim B akan diserahkan menuju Tim A lalu yang terakhir akan diproses oleh Tim C untuk diteliti lebih lanjut?” tanya mahasiswa farmasi itu untuk memastikan.
Beni pun mengangguk. “Ya, benar sekali. Jadi itu adalah skema kerja kita untuk beberapa waktu yang akan datang sampai Gabriel dinyatakan sembuh. Hal yang perlu diingat di sini adalah fakta bahwa kita tidak mengerjakan ini semua sendiri. Ada ahli yang bertugas di masing-masing tim untuk mendampingi kita. Jadi, kalian tidak perlu khawatir apabila takut salah langkah atau hal lainnya. Semua hal yang kita lakukan ada dalam pengawasan mereka.”
“Wih,” Ais memuji. “Kira-kira siapa saja yang akan mendampingi kita dalam tugas kali ini?”
“Untuk itu, aku tidak tahu.” Beni menggeleng pelan, pemuda itu tampak berpikir mengenai suatu hal. “Aku harus melaporkan hasil diskusi kita kali ini pada Bu Liliana, jadi kemungkinan orang yang akan mendampingi kita akan diberitahu setelah aku menyampaikan laporan.”
Ardi yang merasa rapat kali ini sudah usai pun langsung berdiri dari kursi tempatnya duduk. “Jadi secara tak langsung, pertemuan kita kali ini sudah selesai kan? Apa yang harus kita lakukan sekarang?”
Semua pasang mata langsung tertuju pada Beni setelah Ardi bertanya demikian. Ketua dokter koas itu langsung melihat ke arah jam yang melingkari lengannya.
“Sepertinya sekarang sudah jam makan siang. Kalau seingatku tadi, kita bebas hari ini. Segala hal terkait proyek ini akan mulai dilaksanakan besok hari. Kalian bisa pulang kalau begitu.”
Pertemuan yang berjalan sejak pagi tersebut langsung ditutup oleh Beni dengan ucapan terima kasih karena mereka semua telah menyempatkan hadir. Semua orang pun kemudian beranjak dari kursinya dan berjalan keluar dari ruang koas itu. Sementara itu, Beni yang masih harus bertemu dengan Liliana langsung berjalan tergesa menuju ruangannya yang berada di lantai empat.
Di lain sisi, cuaca Distrik Pusat kali ini terasa begitu terik. Jam yang telah menunjukkan pukul 11 siang menyebabkan matahari bersinar begitu terang saat ini. Padahal sekarang sudah memasuki pertengahan Oktober yang identik dengan musim hujan. Melihat panasnya hari ini, sepertinya beberapa jam lagi akan muncul hujan akibat proses penguapan yang maksimal dari sinar matahari.
“Memakai baju seragam berwarna hitam ini terasa begitu gerah ya?” celetuk Rafa yang langsung memecah keheningan yang terjadi di dalam mobil.
Jujur, pemuda bersurai coklat itu memang belum terbiasa dengan baju seragam Hetalia yang seperti ini. Rasanya sesak dan gerah, ia tak terlalu nyaman. Padahal biasanya ia hanya memakai kaos dan setelah jas putih lab saja ketika bertugas.
“Nikmati saja,” sahut Alexa dengan nada masokis.
Dika sedari tadi justru memperhatikan cuaca panas yang menyengat di luar mobil melalui jendela. “Coba lihat ke arah Tenggara. Sudah terbentuk awan hitam di sana. Pasti sebentar lagi hujan akan turun.”
“Memang seperti itu kan biasanya? Matahari yang bersinar terang di musim hujan pasti punya maksud tersembunyi. Dia bertingkah ingin menyinari bumi padahal nyatanya sedang melakukan proses penguapan agar turun hujan.”
Suara laki-laki di kursi depan yang menyahut percakapan tiga orang pemuda itu langsung jadi pusat perhatian. Dia adalah Dokter Deva yang sedari tadi mengemudikan mobil ini.
Kebetulan, dr. Deva hari ini juga akan pergi ke laboratorium itu. Jadi, ketiga pemuda yang tergabung di Tim C tersebut ditawari olehnya untuk gabung sekalian dalam mobil yang ia kendarai.
“Apakah kalian semua bawa payung?” tanya dr. Deva sambil melirik ketiganya melalui kaca spion.
“Ya jelas, kami pasti bawa!” jawab Alexa dengan semangat.
Dika pun dengan cuek menjawab, “Mana mungkin di saat musim hujan begini kami pergi keluar tanpa membawa payung.”
“Hm hm, sedia payung sebelum hujan,” sahut Rafa dengan matanya yang sejak tadi ikut melihat ke arah jendela.
Mobil putih milik dr. Deva itu pun akhirnya memasuki kawasan Oud Centra. Oud Centra adalah sebuah lokasi dimana wilayah tersebut berisi jajaran gedung berarsitektur tua. Kompleks gedung beraksen Eropa yang dibangun pada zaman kedudukan penjajah di Iranjia itu sampai kini dijadikan sebagai lokasi wisata di Distrik Pusat. Di tempat inilah, laboratorium bawah tanah yang dijadikan tempat pembuatan Vaksin Hektovac berada.
Keempat orang yang berada dalam mobil putih tadi pun segera keluar ketika mobil itu sudah memasuki tempat parkir khusus laboratorium. Laboratorium ini juga memiliki tempat parkir khusus sendiri yang berguna untuk mencegah ketertarikan massa. Bisa mencurigakan kalau ada banyak orang yang melihat kendaraan berjejer rapi di tempat yang sama.
“Kalian bilang mau mengambil alat Sepkai Farmasi, bukan?” tanya Deva sembari membawa ketiga pemuda itu berjalan masuk.
Alexa yang berjalan di belakang dr. Deva langsung mengangguk. “Benar sekali, Dokter. Kami punya surat resmi yang diberikan Beni. Di situ sudah ada rincian tentang alat tersebut yang dijelaskan secara langsung oleh Bu Liliana. Oleh karena itu, surat ini harus disampaikan pada Tuan Adam Hiillary terlebih dahulu.”
“Hm, begitu ya.” Deva tampak memikirkan sesuatu sebelum akhirnya berbalik menatap mereka.
“Kalau begitu aku akan menunda surveiku setelah masalah alat ini selesai. Sekarang, ayo ikuti aku menuju ruangan Adam Hillary,” sambungnya yang langsung disetujui oleh Tim C.
Keempat orang itu langsung menuju ke ruangan Adam yang berada di ujung koridor utama lab ini. Sebelum memasuki ruangan utama laboratorium, keempat orang Hetalia itu langsung diperiksa oleh staf penjaga. Mereka semua berusaha memastikan jika setiap orang yang masuk ke dalam laboratorium harus dalam keadaan steril. Staf penjaga juga meminta mereka untuk menunjukkan kartu identitas karena tidak sembarang orang yang bisa masuk ke tempat ini meskipun letaknya juga dikatakan rahasia.
Ketiga anggota Tim C bersama dr. Deva tidak lupa untuk memakai jas lab terlebih dahulu. Mereka melakukan proses sterilisasi yang kedua kalinya di ruang perlengkapan itu untuk memastikan bahwa tidak ada kuman maupun kotoran dari luar yang terbawa masuk ke dalam lab.
Kondisi laboratorium saat ini berbeda drastis dengan apa yang mereka lihat saat kunjungan yang dilakukan tempo hari. Seminggu yang lalu tempat ini begitu lenggang dan sepi seperti tidak terpakai. Namun, kini keadaannya justru berbalik. Hari ini laboratorium terlihat dipadati oleh banyak orang. Karena proses penelitian vaksinnya dijalankan kembali, maka semua kegiatan di lab ini berjalan seperti normal.
“Hei Rafa, setiap hari apakah seramai ini aktivitas yang diselenggarakan dalam lab?” celetuk Dika ketika mereka berjalan menuju ruangan Adam Hillary.
Rafa yang memang dulu pekerjaannya selalu dilakukan di tempat ini hanya bisa membenarkan perkataan dokter koas itu. “Seperti yang kalian tahu, ini kan masih ruang utama laboratorium. Masih banyak ruangan lain yang juga tengah sibuk dan dipadati banyak orang di jam-jam sekarang.”
Mereka kini sudah berada di depan pintu ruangan dari Ketua Sepkai Farmasi tersebut. Deva yang memiliki jabatan sebagai wakil ketua penyelenggara dan penanggung jawab proyek Vaksin Hektovac ini langsung mengetuk pintu. Adam adalah ketuanya dan dia juga sudah cukup dekat dengan pria itu sejak tujuh bulan yang lalu. Oleh karena itu, tanpa menunggu sahutan dari orang yang berada di dalam ruangan, dokter yang satu itu langsung membuka pintu dan berjalan masuk.
“Loh? Tidak ada orang di sini?” ujar Dika dengan nada penuh keheranan.
Alexa sendiri langsung melihat ke sekeliling dan memang benar jika ruangan bernuansa putih ini tidak ada orang di dalamnya. “Ke mana perginya Tuan Adam saat jam-jam sibuk seperti ini?”
Wajah Deva terlihat bingung juga. Seingatnya Adam tidak pernah pergi ke luar saat jam kerja dulu. Apakah setelah rapat pagi tadi selesai, Adam tidak langsung pergi menuju lab dan justru pergi keluar untuk mengatasi masalah korupsi seperti yang ia ucapkan pagi tadi?
“Sebentar, kita harus keluar dulu. Sebaiknya aku bertanya pada orang di sini,” ujar dokter tersebut yang langsung dipahami oleh ketiga anggota Tim C.
Rafa, Alexa, dan Dika langsung berjalan keluar dari ruangan mengikuti ke mana arah perginya dr. Deva. Dokter berusia tiga puluhan tahun itu saat ini sedang berbincang dengan salah satu ilmuwan ahli yang berada di sini.
“Maaf mengganggu waktu kerjamu, Profesor Johan,” ucap Deva pada profesor berambut putih itu.
Profesor yang sepertinya seusia dengan dr. Edgar itu langsung memandang ramah ke arah mereka berempat. “Tidak apa-apa, Dokter Deva. Apa yang— loh? Rafa? Apa yang kau lakukan di sini? Kalau tidak salah kau dan tiga temanmu diliburkan untuk sementara waktu bukan?”
Profesor yang memiliki tubuh tinggi itu langsung menaruh perhatian pada sosok pemuda berambut coklat yang berada di antara mereka. Profesor ini tentu saja sudah mengenal Rafa sejak awal proyek ini dilakukan. Siapa ilmuwan di laboratorium ini yang tak mengenal anak berbakat seperti dia?
Sebenarnya ia heran ketika mendengar kabar bahwa Rafa diliburkan sementara waktu setelah insiden saat konferensi pers itu dilakukan. Sungguh disayangkan, padahal pemuda itu sudah membantu banyak hal dalam keberhasilan proyek ini. Profesor Johan begitu takjub. Untuk sekelas mahasiswa, Rafa ini benar-benar berbeda. Dia begitu luar biasa saat berada di lab ini.
“Sebenarnya sudah ada banyak hal yang terjadi saat ini. Saya dan teman-teman saya saat ini membantu segala hal yang perlu dilakukan di Hetalia,” jawab Rafa dengan ramah.
“Oh begitu, terima kasih atas kerja kerasmu selama ini. Aku akan sangat bahagia jika kau nanti akan kembali ke sini dan membantu kami semua.”
Rafa yang mendengar penuturan profesor di depannya ini langsung tersenyum malu. Jujur, ia senang ketika dipuji seperti itu oleh profesor ahli di depannya. Di sisi lain, Alexa dan Dika langsung berpandangan. Satu hal yang mereka pikirkan, Rafael Zohan memanglah bukan orang biasa.
“Jadi, apa yang bisa kulakukan untuk membantumu, Dokter Deva?”
“Oh iya, apakah Anda tahu dimana Tuan Adam Hillary saat ini? Di ruangannya tidak ada siapa pun saat ini. Apakah dia belum kembali dari Hetalia sejak pagi tadi?”
Profesor Johan tampak memikirkan suatu hal, pria itu berusaha mengingatnya. “Tadi aku melihat Adam sudah kembali. Dia baru keluar sekitar 20 menit yang lalu. Kalau tidak salah ... sepertinya dia bilang ingin ke Sungai Kale sebentar.”
“Apa?” Deva menunjukkan wajah heran. “Apa yang dilakukan orang itu di sana?”
“Tadi aku melihat Adam begitu kesusahan saat menerima telepon karena jaringan di sini agak susah. Dia mungkin pergi ke sana untuk mencari sinyal.”
“Oh, astaga. Ada-ada saja,” ujar Deva dengan ekspresi tak habis pikir. Ia pun tersenyum pada Profesor Johan karena telah memberinya informasi.
“Terima kasih banyak atas informasinya, kami undur diri kalau begitu. Silakan dilanjut pekerjaan Anda yang sempat tertunda tadi.” Profesor itu tersenyum di balik masker yang ia kenakan. Ia pun langsung melanjutkan pekerjaannya tadi.
Rafa dan Alexa yang mendengar info tadi langsung berpandangan. Ini adalah tugas mereka, jadi mereka tak ingin merepotkan dr. Deva untuk ikut mencari Adam Hillary. Seakan mengerti jalan pikiran masing-masing, kedua orang itu langsung menatap ke arah Dika. Dika yang paham pun langsung saja mengangguk ke arah keduanya.
“Dokter Deva,” panggil Dika ketika dokter itu sibuk dengan ponselnya. Tampaknya ia ingin mencoba untuk menghubungi Adam.
“Ya? Ada apa?”
“Karena ini adalah tugas kami sebagai Tim C, maka kami saja yang akan mencari keberadaan Tuan Adam Hillary. Anda tidak perlu repot-repot membantu kami bertiga.”
Alexa yang mendengar ucapan Dika tadi juga ikut mengangguk setuju. “Benar itu, Dok. Anda lanjutkan saja tugas survei Anda ke sini. Kami akan mencari Tuan Adam bersama.”
“Ini surat resmi dari Bu Liliana. Untuk jaga-jaga agar tidak hilang, aku titipkan surat ini padamu, dr. Deva.” Rafa pun menyerahkan sebuah surat yang sejak tadi ia pegang. Deva tampaknya langsung menerima surat itu.
Dokter itu langsung tersenyum simpul di balik masker yang ia kenakan. Anak-anak ini sepertinya sudah ada kemajuan, mereka bekerja sama sebagai tim dengan baik.
“Baiklah jika itu mau kalian, aku akan menurut. Kalau begitu, kalian bisa gunakan pintu keluar yang berada di belakang agar tak mengundang kecurigaan.” Dokter itu langsung menoleh ke arah Rafa, “Kau sudah tahu dimana letaknya pintu rahasia itu kan, Rafa?”
“Ya, tentu saja. Aku juga sudah hafal dengan jalan menuju Sungai Kale lewat pintu itu.”
“Bagus, kalau begitu berhati-hatilah.”
Ketiga anak muda itu mengangguk. “Kami mengerti, Dok.”