Chapter 19 - Pertolongan

2422 Kata
Sungai Kale merupakan sungai terbesar yang ada di Distrik Pusat, Iranjia. Letaknya berada tepat di belakang area kawasan wisata Oud Centra. Oud Centra sendiri merupakan sebuah lokasi wisata edukasi dimana wilayah tersebut berisi jajaran gedung berarsitektur tua peninggalan bangsa Eropa selama menjajah di negara ini. Sayangnya, kawasan wisata eksentrik yang biasanya ramai tersebut kini terlihat begitu sepi. Hanya tampak beberapa pengurus yang membersihkan sudut bangunan di sini. Karena sekali lagi, dunia dalam keadaan krisis akibat pandemi yang disebabkan oleh virus exitium-zero, virus yang menyebabkan penderitanya mengalami depresi berlebihan. Jumlah pasien Ex-0 per 21 Oktober di seluruh dunia adalah 12.303.891 jiwa dengan 45% dinyatakan meninggal dunia. Jam yang terletak di menara halaman depan Oud Centra kini sudah menunjukkan pukul 2 siang. Matahari yang semula bersinar dengan terik kini tenggelam di balik gerombolan awan yang memayungi kawasan ini. Suasana sejuk ini tentu saja terasa begitu mengenakkan. Apalagi jika berada di kawasan paling dalam Oud Centra, tepatnya di hutan kota yang berbatasan dengan Sungai Kale. Di antara pepohonan tua yang telah menjulang tinggi, ada siluet tiga orang anak muda yang berjalan perlahan menyusuri kawasan hutan. Mereka adalah Tim C yang berniat mencari sosok Adam Hillary yang dilaporkan berada di sekitar sini. “Aku bisa mendengar suara aliran air dari sini,” komentar Alexa yang berjalan di antara Rafa dan Dika. Posisi gadis itu berada di tengah. Sungai Kale memang identik dengan aliran airnya yang deras, sehingga tak aneh apabila Alexa bisa mendengar suaranya dari jarak 10 meter. “Sebenarnya apa masih jauh lagi, Rafa?” tanya Dika. Pemuda itu sebenarnya keberatan dengan keputusan untuk melewati kawasan hutan kecil ini. Ia tak suka dengan serangga-serangga hutan. Rafa sendiri terlihat membelah jalan yang dipenuhi dengan ilalang. Hutan ini sudah tak asing lagi baginya. Ia dan ketiga temannya dari Universitas Tenggara sering menghabiskan waktu di tempat ini saat jam makan siang dulu. “Tidak, kurang lebih 10 meter lagi.” Dika terlihat menekuk wajahnya. “Lagi pula, mana ada orang yang mencari sinyal di hutan seperti ini?” “Bukan seperti itu, Tuan Adam jelas tidak mungkin mencari sinyal di dalam hutan. Tak jauh dari sini ada pondok. Ada kemungkinan dia berada di sana,” sahut Rafa yang berjalan di posisi paling depan sendiri. Setelah menelusuri hutan yang dipenuhi pepohonan besar itu, akhirnya ketiga anak muda tadi bisa keluar dari sana. Begitu keluar, mata mereka langsung disambut oleh pemandangan indah Sungai Kale yang alirnya mengalir tenang namun menghasilkan suara gemuruh. Sepertinya hari ini, sungai itu tak sederas biasanya. Alexa dan Dika yang baru pertama kali memandang Sungai Kale dari sudut ini tampak begitu kagum. Karena bagaimana pun juga, sungai ini seperti halnya sungai biasa jika dilihat dari jalan raya. “Gila, ini begitu menakjubkan!” Mata Dika berbinar tanpa ia sadari. Di sisi lain, Alexa langsung menarik nafasnya dalam-dalam. Sudah lama sekali sejak terakhir kali ia melihat pemandangan alam. Tempat ini benar-benar luar biasa. Ia berputar dengan bahagia sambil merentangkan tangan. “Di sini sejuk sekali! Aku berasa pergi liburan lagi setelah sekian lamanya!” “Kalian ini sepertinya terlalu banyak beban hidup,” komentar Rafa begitu melihat kedua anggota timnya yang saat ini kegirangan. Rafa tak terlalu peduli dengan ujaran tak terima yang langsung disampaikan oleh Alexa dan Dika padanya. Mata hijau pemuda itu kini fokus mencari letak pondok yang biasa ia sambangi. Pemuda itu menampilkan ekspresi bertanya-tanya. Dimana letak pondok yang biasanya itu? Apakah ia tadi mengambil jalan yang salah sehingga begitu keluar dari hutan tak langsung menjumpai pondok? Ketika Rafa terus berjalan ke arah selatan untuk mencari pondok yang barangkali letaknya sudah terlewat, pemuda itu menemukan suatu hal yang membuat mata hijaunya melebar tak percaya. Nafasnya tercekat. Suara aliran sungai yang bergemuruh tiba-tiba menjadi hening di telinganya. Jauh beberapa puluh meter di depannya, ada jembatan besar yang biasanya digunakan warga sekitar untuk menyeberangi sungai. Di suasana mendung ini, Rafa bisa melihat dengan jelas sosok pria yang berdiri di tepi jembatan. Tak salah lagi. Orang yang berdiri di tepi jembatan itu akan melakukan aksi bunuh diri. Kepala Rafa menggeleng, ia berusaha menolak seluruh pemikiran yang berada di otaknya saat ini. “Tidak ... tidak ... kumohon, jangan melompat.” Pemuda berambut coklat itu langsung menoleh dengan panik ke arah dua temannya. Mata Rafa melebar ketakutan. “ALEXA! DIKA! LIHAT JEMBATAN ITU!” Mendengar suara panik Rafa yang tak seperti biasa, baik Alexa maupun Dika langsung melihat ke arah tempat yang disebutkan anak itu. Mata mereka sontak melebar begitu melihat seorang pria melompat dari sana. Di detik itu juga. “Pria itu melompat?! Dia bunuh diri?!” pekik Alexa tak percaya. Mata hitamnya melebar dengan rasa tak percaya. Dika sendiri saat ini juga memasang ekspresi yang sama dengan Alexa. Mulutnya terbuka dan tertutup, dirinya berusaha mengucapkan sepatah kata namun tak mampu. Ia bergumam tanpa sadar, “Tak mungkin.” Rafa yang saat itu melihat dengan langsung aksi bunuh diri tersebut hanya bisa berdiri kaku. Badannya bergetar tanpa ia sadari. Jujur, pemuda satu ini memang sudah sering melihat berita di televisi tentang temuan mayat maupun aksi bunuh diri di seluruh penjuru negeri. Akan tetapi, pengalaman ini adalah pengalaman pertama kalinya untuk Rafa. Pemuda itu tak tahu harus bagaimana. Otaknya seakan kosong dan tak mampu berpikir apa pun. “Alexa, apa yang kau lakukan?! Apakah dirimu gila?!” Suara teriakan dari Dika tadi langsung membuat Rafa kembali ke dunia nyata. Ia tersadar dari lamunannya. Pemuda bermata hijau itu langsung berlari mendekati Dika yang tampak berselisih dengan Alexa di belakangnya. Apa yang terjadi di sini? “Lepaskan aku, Dika! Aku tidak bisa diam saja! Kita harus menyelamatkan orang itu!” Alexa terus meronta dan berusaha melepaskan genggaman Dika di lengannya. “Apa kau gila?! Tidak ada yang tahu jika orang itu terinfeksi oleh Ex-0 atau tidak, jika kau menolongnya maka bisa saja dirimu tertular. Lagi pula, kita sama sekali tak mengenalnya!” Rafa yang bingung harus apa hanya bisa memperhatikan cekcok yang terjadi antara dua dokter koas itu. Sepertinya, jiwa penolong Alexa saat ini muncul lagi. Gadis itu pasti tak akan membiarkan ada orang yang menderita di hadapannya. “Alexa, tolong jangan keras kepala. Aliran sungai ini deras, kau bisa saja terhanyut.” Rafa sebisa mungkin memberikan penjelasan secara halus padanya. Alexa sendiri tak mengindahkan ujaran dua laki-laki tersebut. Mata hitamnya terus menatap ke siluet pria tadi yang kini terbawa arus sungai. Aliran Sungai Kale ini menuju ke arah tempat tiga orang tersebut berada. Melihat pria itu yang semakin dekat, gerakan Alexa mulai liar. Ia berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan cengkeraman Dika. Sorot matanya tak lepas dari rasa khawatir. “Bodoh!” Kini Alexa menatap nyalang ke arah Dika yang sedari tadi memegang lengannya. “Lihat itu! Orang itu sudah dekat dengan kita! Ini adalah kesempatan kita untuk menolongnya!” “Kau yang bodoh! Pikirkanlah dirimu sendiri! Kau bisa terhanyut!” Dengan satu sentakan yang kuat, Alexa akhirnya lepas dari cengkeraman Dika. Gadis itu berlari tunggang langgang menuruni tanah. Letak hutan yang tanahnya lebih tinggi daripada lembah Sungai Kale membuat Alexa harus berjalan turun dahulu. “Kau bodoh! Apa yang kau lakukan?!” Dika langsung berjongkok, berusaha meneriaki Alexa agar gadis itu kembali naik. “Cepat kembali, Bodoh!” Suara gemuruh dari awan kini mulai terdengar. Awan putih yang semula berkumpul di atas lokasi Oud Centra kini menyatu dan membentuk gumpalan awan hitam. Suasana redup di tepi Sungai Kale dirasa semakin gelap dan dingin. Baik Dika, Rafa, maupun Alexa bisa merasakan aliran angin yang semilir di sekitar mereka. Dika tak sabar. Laki-laki yang terkenal ketus itu benar-benar tak habis pikir. Ia tahu jika Alexa memang jago berenang dan memiliki fisik yang bagus, tapi tak begini juga caranya. Gadis itu terlalu keras kepala. Menolong pria itu sama saja dengan bunuh diri. Stres dengan memikirkan banyaknya kemungkinan yang bisa terjadi, Dika pun mendesah kasar. Dia menoleh ke arah Rafa yang sepertinya juga bingung harus bagaimana. “Aku akan menyusul Alexa!” ujar Dika tiba-tiba. Laki-laki itu langsung berdiri dari posisi jongkoknya. Rafa yang mendengar ucapan tiba-tiba itu sontak saja kaget. “Apa kau juga akan keras kepala pergi ke sana?!” “Tak ada jalan lain bukan? Kita tak mungkin membiarkan Alexa dengan gilanya terjun ke dalam sungai itu!” Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, akhirnya Dika berjalan turun dan berlari mengejar Alexa yang sudah berenang di sungai. Wajah Rafa tampak bimbang. Pemuda itu menggigit bibir bagian bawahnya dengan kesal. Ia tak tahu harus bagaimana. Dirinya lemah dalam hal olahraga, meskipun dia bisa berenang. Rafa takut jika dia ikut menyusul Alexa dan Dika ke sana, dirinya justru menjadi beban bagi mereka karena tak bisa membantu apa-apa. Titik-titik gerimis mulai membasahi bumi. Alexa yang saat ini berada di dalam sungai merasakan dengan jelas bahwa aliran air di sini tenang namun bisa menghanyutkan tubuhnya jika ia hilang keseimbangan. Bila hujan turun dengan lebat, maka dapat dipastikan jika aliran Sungai Kale akan menjadi begitu deras. Sementara itu, air di Sungai Kale ini memiliki tinggi sebatas bahu Alexa. Gadis itu pun dengan mudah melihat ke arah depan dan mencari sosok pria yang bunuh diri tadi. “Ah, itu dia!” Alexa berusaha untuk berenang melawan arus. Ia berusaha menggapai tangan dari orang tadi. “Dapat!” serunya ketika berhasil menarik tangan pria tersebut. Ia langsung berusaha memapahnya dan ingin membawa pria tersebut ke tepi sungai. Aliran hujan yang sedari tadi turun setitik demi setitik tiba-tiba menjadi deras ketika Alexa tengah membopong pria tadi menuju ke tepian. Nafas gadis itu tercekat. Matanya menyorotkan rasa kaget dan takut secara bersamaan. Ia bisa dengan jelas merasakan aliran sungai ini semakin lama semakin deras. “Alexa, si bodoh! Ayo sini aku bantu!” Ucapan Dika yang cukup kencang di antara suara aliran sungai dan gemuruh hujan itu langsung menarik perhatiannya. Alexa pun tersenyum begitu melihat Dika yang susah payah berenang ke arahnya. Ia tak menyangka jika anak ketus ini akan turun tangan ikut membantunya. Begitu Dika sampai, pemuda itu langsung membantu Alexa untuk ikut membopong pria tersebut. Keduanya pun langsung berhati-hati melangkah menuju tepi sungai. Namun saat beberapa langkah kemudian, Alexa merasa jika pijakannya saat itu tak tepat. Ia pun terpeleset dan langsung dihantam oleh aliran Sungai Kale yang deras karena hilang keseimbangan. Tentu saja, Dika yang memiliki refleks cepat langsung berlari dan menangkap tangan Alexa. Pemuda itu terlihat kesusahan memindahkan posisi pria yang sedari tadi ia papah menuju ke punggungnya untuk digendong. “Dika! Aku tidak bisa lagi menahannya! Pegangan ini ... mengendur!” pekik Alexa yang berusaha sebisa mungkin melawan arus sungai. Gigi Dika saat ini bergemeletuk. Ia juga berusaha sekuat mungkin untuk menahan diri agar genggaman Alexa tak lepas. Hilang keseimbangan sedikit, maka sudah dipastikan jika ia, Alexa, dan pria yang kini digendongnya ini akan berakhir. Hujan semakin turun dengan lebat. Dika terlihat berusaha menyembunyikan suara menggigilnya. “Kumohon ... bertahanlah! Bertahanlah sebentar lagi!” “Mustahil! Hujan ini semakin deras! Tanganmu terasa begitu licin, pegangan ini akan lepas ... sebentar lagi!” jawab Alexa dengan sekuat tenaga. “DIKA! ALEXA!” Suara yang familier itu langsung menarik perhatian keduanya. Mereka dapat melihat Rafa kini berjalan menyusul mereka di dalam sungai dengan sebuah tali yang ia bawa. Baik Alexa maupun Dika saat ini tak mampu menahan rasa harunya. Rafa kini sudah datang menyelamatkan mereka berdua. “Cepat pegang tali ini! Kita akan keluar bersama dari sini! Ada Tuan Adam Hillary di atas sana yang bersiap untuk menarik kita, jadi ayo!” ujar pemuda itu sambil mengulurkan tangan ke arah Alexa. Alexa pun langsung menyambut uluran tangan dari Rafa. Dalam satu sentakan, akhirnya ia berhasil ditarik oleh Rafa dan Dika untuk berdiri tegak kembali. Gadis itu menghela nafas lega. Ia tak boleh ceroboh lagi. Dirinya pun langsung membantu Dika membopong kembali pria tersebut. “Anak-anak! Apa kalian sudah siap? Aku akan menarik tali ini!” teriak Adam dari atas lembah sungai. Ketiga orang pemuda itu langsung saling berhadapan. Dengan masker yang sudah hilang entah ke mana terbawa arus sungai saat berenang tadi, ketiga anak itu langsung langsung tersenyum simpul. “Sudah siap?” tanya Rafa memastikan. Dika dan Alexa yang ditanyai seperti itu pun mengangguk. Dengan suara yang begitu lantang, ketiga anak muda itu berteriak, “Kami sudah siap, Tuan Adam!” Di balik rinai hujan yang terus turun dengan lebatnya, empat orang yang berada di tepi Sungai Kale tersebut tengah berupaya menyelamatkan seorang pria yang bunuh diri. Adam yang awalnya tak sengaja melihat Rafa berdiri di tepi sungai saat hujan deras tadi tampaknya mulai mengerti alasan kenapa mereka bertiga rela hujan-hujanan saat ini. Bagaimanapun juga, Rafa tadi tak menjelaskan apa pun padanya. Pemuda yang saat itu membawa tali tambang langsung meminta tolong pada Adam untuk memegang dan menarik dirinya. Saat sudah berada di hadapan Adam saat ini, pria yang memiliki jabatan sebagai ketua Sepkai Farmasi itu bisa melihat dengan jelas sosok pria lain yang berada di gendongan Dika. “Apakah kalian terjun ke dalam sungai untuk menyelamatkan pria ini?” komentar Adam begitu melihat tiga orang di depannya ini yang berusaha meletakkan pria itu di tempat yang teduh. Tanpa babibu, Alexa langsung mengecek denyut nadi dari pria tersebut. Tubuhnya menggigil karena rasa dingin yang begitu menusuk kali ini. Akan tetapi, seutas senyum cerah langsung merekah di wajah gadis itu ketika menyadari bahwa pria ini masih bernyawa. “Dia masih hidup!” pekik Alexa dengan nada penuh haru. Dika yang mendengarnya tanpa sadar ikut tersenyum lega. Di lain sisi, Rafa dan Adam yang kini berdiri secara bersampingan hanya bisa diam. Kedua laki-laki tersebut tampaknya memikirkan sesuatu ketika melihat wajah dari pria yang kini diperiksa oleh Alexa itu. “Entah kenapa, sepertinya aku tak asing dengan orang ini.” Rafa pun langsung berjongkok dan berusaha menyingkirkan helaian rambut yang menutupi sebagian wajah pria tersebut. Saat wajahnya kini sudah bisa terlihat dengan jelas, Rafa dan Dika tanpa sadar langsung menahan nafas karena rasa kaget. Adam pun sedikit terperangah begitu melihat wajah dari pria ini. Di sisi lain, Alexa tak mengerti dengan mereka bertiga. “Kenapa ekspresi kalian semua seperti itu? Apa ada yang salah?” tanya Alexa sambil menatap ketiga laki-laki itu satu per satu. Dika tampaknya bingung harus berkata seperti apa. Tangannya dengan gemetar menunjuk ke arah sosok yang pingsan tersebut. “Bukankah dia ini ... ?” Wajah Rafa terlihat begitu serius saat ini. “Tak salah lagi, ini memang orang di hari itu.” Adam Hillary yang sedari tadi berdiri langsung berjongkok di sebelah Rafa. Tangannya terulur untuk mengecek denyut nadi pria itu di bagian lehernya. Ekspresinya Adam saat ini entah kenapa tak bisa diartikan. Dengan wajah datar, pria yang mengenakan jas ini menganggukkan kepala. “Ya, orang ini adalah orang itu. Dia adalah reporter yang sudah menuduh Hetalia melakukan korupsi kemarin. Namanya ialah Tom Hustoff.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN