Chapter 20 - Kebenaran

2206 Kata
Hujan yang turun begitu lebat malam ini sepertinya tak bisa melenyapkan hiruk pikuk yang terjadi di Rumah Sakit Hetalia. Beberapa orang, terutama staf rumah sakit yang berada di koridor utama lantai satu tampak berlari ke sana ke mari. Beberapa tenaga medis seperti perawat dan dokter juga terlihat siaga di koridor depan. Dua mobil yang melaju kencang dari arah utara langsung berbelok dan memasuki halaman depan Rumah Sakit Hetalia. Deru mesin yang terdengar kencang dibalik suara hujan langsung menarik perhatian dari para tenaga medis dan staf rumah sakit yang telah berjaga dari tadi. Dokter Hutson, seorang dokter senior di rumah sakit ini yang telah mengenakan jaket berwarna hitam ala regu penanganan Ex-0 langsung mengambil ponsel yang tersemat di dalam jaketnya. Dokter yang terlibat langsung saat insiden kematian Diana Melia dulu itu tampaknya tengah menghubungi seseorang. "Direktur Liliana, mobil yang membawa orang itu sudah sampai. Anda bisa segera menuju ruang isolasi khusus bersama dr. Edgar. Saya dan tim medis yang sudah ada di sini akan membawa pasien tersebut ke sana.” Dokter Hutson terdiam untuk beberapa saat. Dia terlihat mengangguk kemudian menutup sambungan teleponnya. Dengan cepat, dokter senior bersurai putih itu langsung memberikan himbauan kepada tim medis yang kini bersamanya. “Para perawat tolong siapkan kasur dorong dan payung untuk pasien tersebut. Begitu pasien itu di bawa ke sini, dokter residen langsung memberikan pertolongan pertama padanya. Apakah semua orang mengerti?” “Dimengerti, Pak!” Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, beberapa tim medis yang mengenakan seragam serba hitam itu langsung menjalankan tugasnya masing-masing. Para perawat langsung pergi menghampiri dua mobil tadi. Mereka semua menerjang hujan yang turun begitu lebatnya di kawasan Hetalia. “Dokter Deva, tolong bawa pasien tersebut ke atas tempat tidur,” ujar seorang perawat laki-laki yang memakai payung lebar berwarna hitam. Di dalam mobil berwarna putih itu, terdapat dr. Deva bersama Dika yang duduk di kursi depan. Sementara di bagian belakang, Alexa terus menemani pria tersebut untuk memastikan bahwa nyawanya aman sampai mereka semua tiba di Rumah Sakit Hetalia. Deva yang mengerti ucapan perawat tadi pun langsung keluar dari mobil dan membantu Alexa mengeluarkan pria tersebut. Dika pun juga turut membantu dr. Deva membawanya keluar. “Suster, tolong tempat tidurnya didekatkan,” ujar Dika. Akhirnya, sosok pria bernama Tom Hustoff itu langsung dibawa dengan cepat menuju koridor utama rumah sakit. Ia diiringi oleh beberapa perawat laki-laki yang memayunginya agar pria itu tak mengalami hipotermia. Akan sangat berbahaya jika pria ini semakin mengalami kedinginan. Baik dr. Deva, Alexa, maupun Dika dengan cepat berlari menuju koridor utama rumah sakit. Tanpa memikirkan hujan yang membasahi tubuh mereka, ketiganya langsung pergi begitu saja dari mobil. Begitu tiba di koridor utama, mereka bisa melihat dengan jelas bahwa kini Tom Hustoff sedang menjalani pemeriksaan awal untuk mengecek suhu, tekanan darah, dan lain-lainnya. Setelah itu, tim medis dengan segera mendorong Tom yang masih tak sadarkan diri untuk diperiksa lebih lanjut ke dalam ruang isolasi khusus. “Dokter Hutson, bolehkah saya meminta tiga masker?” ujar dr. Deva yang langsung membuat dr. Hutson terkejut. “Dokter Deva?! Bagaimana ceritanya Anda tidak memakai masker?” Hutson pun dengan segera meneriaki staf medis untuk mengambil masker yang terdapat di meja resepsionis. Pria itu langsung menoleh kembali ke arah dr. Deva, Alexa, dan Dika yang tampak basah kuyup. “Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kalian bertiga bisa menemukan pria itu? Dia reporter yang sudah menuduh Hetalia melakukan aksi korupsi bukan?” Begitu perawat datang, Hutson segera menyerahkan masker yang diberikan padanya tadi untuk Alexa, Dika, dan dr. Deva. Ketiga orang itu dengan sigap memakai masker tersebut. “Ceritanya begitu panjang. Mereka berdua yang menemukan orang itu di Sungai Kale, sepertinya dia melakukan percobaan bunuh diri. Aku awalnya juga bingung. Mereka pergi selama tiga jam dan tak kunjung kembali. Ketika kembali, mereka menghebohkan satu lab dengan membawa orang itu.” Baik Dika maupun Alexa langsung tersenyum canggung ketika mendengar ucapan dr. Deva. Di lain sisi, keduanya tampak terus menatap ke arah mobil hitam yang berhenti di belakang mobil putih milik dokter yang berdiri di samping mereka tersebut. Mobil hitam itu adalah milik Tuan Adam Hillary. Selain Adam Hillary, di mobil itu juga ada sosok Rafa. Tapi, kenapa mereka berdua masih tak kunjung keluar? Penjelasan dr. Deva tadi langsung dibalas dengan anggukan paham oleh dr. Hutson. “Aku tadi juga begitu kaget ketika dr. Edgar memberi tahukan kepada seluruh staf medis tentang kabar ini.” “Aku tidak menyangka jika dr. Edgar akan seheboh itu sampai mengumumkan hal ini pada seluruh staf medis,” komentar Deva dengan wajah heran. “Dia bahkan memanggil polisi. Sepertinya, mereka akan tiba sebentar lagi.” “Apa? Polisi?” gumam Deva yang semakin menunjukkan ekspresi penuh tanda tanya. Deva tampak memikirkan sesuatu. Untuk apa sebenarnya sampai memanggil polisi segala? Apa yang sebenarnya dipikirkan oleh dokter senior itu? Ia tahu jika pria tadi terlibat skandal dengan mereka, tapi entah kenapa semua ini terasa janggal. Melirik jam yang sudah menunjukkan pukul enam lebih, Dokter Hutson pun harus segera menyusul tim medis lainnya yang telah membawa orang tadi ke ruangan isolasi khusus. Sebelum ia pergi, dokter berusia lanjut itu memanggil Deva yang sedari tadi tampak melamun. Deva pun langsung tersadar. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri dengan linglung karena kaget. “Eh ya? Ada apa?” “Kalian bertiga harus segera mandi dan melakukan proses sterilisasi sendiri. Ini adalah rumah sakit, jadi tolong lakukan proses sterilisasi dengan segera di ruangan khusus agar virus yang mungkin terbawa bersama kalian tidak ikut masuk ke dalam.” Alexa yang mendengar itu langsung memasang pose hormat. “Siap laksanakan, Dokter!” “Kalau begitu, aku harus segera menyusul yang lainnya.” Dokter berambut putih itu berbalik. Sebelum melangkah terlalu jauh, ia mengingatkan mereka sekali lagi, “Lakukan dengan segera ya! Aku pergi dulu!” “Hati-hati, Dok!” balas Alexa sambil melambaikan tangannya. “Aku juga harus pergi dulu. Kalian harus cepat mandi dan sterilisasi diri!” Ucapan dr. Deva tadi langsung menarik perhatian keduanya. Dika yang sedari tadi masih terus menatap ke arah mobil milik Adam Hillary pun langsung menoleh ke arah dokter yang sudah siap untuk beranjak pergi tersebut. “Dok, tunggu dulu! Kenapa Rafa sedari tadi tak kunjung keluar dari mobil milik Tuan Adam Hillary?” tanya Dika dengan ekspresi bingung. Pria yang sudah bersiap pergi itu pun langsung memperhatikan mobil hitam milik Adam yang pintunya masih tertutup sedari tadi. Mata gelap milik Deva menyiratkan rasa penasaran. Namun, sedetik kemudian cahaya penasaran itu lenyap. Ia menoleh dengan santai ke arah Dika dan Alexa yang masih berdiri di belakangnya. “Biarkan saja, nanti juga keluar sendiri.” “Tapi—“ “Cepat! Kalian harus segera pergi ke ruangan khusus. Jangan lupa untuk mencari jalan yang sepi agar tak berpapasan dengan orang lain. Aku khawatir jika orang di sini nantinya terkena virus yang mungkin saja kita bawa dari luar.” Dengan tatapan pasrah, Dika dan Alexa pun saling berpandangan. Pemuda dengan wajah ketus itu terlihat menekuk wajahnya dengan kesal. “Baiklah, kalau begitu,” ujar mereka berdua secara bersamaan. Ketiga orang itu pun akhirnya berjalan terpisah menuju kamar mandi. Mereka meninggalkan koridor yang semula dipadati oleh beberapa staf medis tersebut. Koridor utama Rumah Sakit Hetalia pun tampak kembali tenang seperti biasanya setelah kedatangan pasien yang dibawa Dokter Deva tadi. Sementara itu, Rafael Zohan yang sedari tadi melirik ke arah koridor dari jendela mobil tampaknya langsung mengalihkan perhatian begitu seluruh staf medis menghilang dari sana. Ia bisa melihat dengan jelas bahwa Tom Hustoff tadi sudah dibawa masuk. Dirinya sudah duduk di sini sekitar 15 menit lamanya. Matanya melirik ke arah Adam Hillary yang sedari tadi tampak sibuk menelepon seseorang. Mereka berdua duduk bersampingan di kursi depan, dengan Adam berada di kursi mengemudi. Jujur, Rafa ingin segera keluar dari tadi. Ia sedikit menggigil kedinginan karena belum ganti baju sejak insiden di Sungai Kale beberapa jam yang lalu. Rafa masih teringat dengan ucapan Adam yang memintanya untuk tetap berada di mobil ini. Ketua Sepkai Farmasi tersebut sepertinya ingin membicarakan suatu hal penting padanya. Namun karena ia mendapat telepon dari seseorang, Adam belum mengucapkan sepatah kata pun padanya sampai saat ini. Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan oleh ketua penanggung jawab proyek Vaksin Hektovac ini? “Kalau kau sudah berkata begitu, apa boleh buat. Aku akan ke tempatmu setelah ini. Besok atau lusa kita akan pergi ke sana. Kalau begitu, sudah dulu.” Rafa menoleh ke arah Adam Hillary ketika pria itu berujar demikian lewat teleponnya. Akhirnya, percakapan di telepon itu berakhir. Dari mata hijaunya, pemuda berambut coklat ini bisa melihat jika Adam mematikan ponselnya lalu menyimpan benda itu di dashboard mobil. “Jadi, apa yang ingin kau bicarakan padaku?” Adam langsung menoleh ke arah Rafa sambil tersenyum canggung. “Maafkan aku karena telah membuatmu lama menunggu.” Rafa sendiri sebenarnya agak kesal. Ia menggigil kedinginan sejak tadi. Pemuda itu bertanya-tanya, apakah pria di sampingnya ini sama sekali tak merasa dingin padahal ia juga masih basah kuyup? Sedetik kemudian, ekspresi Adam berubah. Senyumnya lenyap digantikan dengan ekspresi serius yang ia pasang di wajahnya. “Untuk mempersingkat waktu, aku akan langsung bertanya padamu soal ini.” “Soal apa?” Alis Rafa mengernyit heran. “Apakah kau sudah berhasil menghubungi rektormu, Tuan Mario Regardus?” Saat ini Rafa bisa memastikan jika ia tak salah dengar. Suara hujan yang begitu lebat di luar mobil ini tak menjadi alasan baginya untuk tak memahami apa yang dibilang oleh Adam tadi. Tapi tetap saja, otak Rafa saat ini seperti tak mampu memproses pertanyaan tersebut. Senyum canggung merekah di wajah pemuda itu. Keduanya yang masih sama-sama tak mengenakan masker bisa melihat dengan jelas ekspresi masing-masing. “Tunggu, aku tidak salah dengar kan? Dari mana kau tahu jika aku kesulitan menghubungi rektorku beberapa hari terakhir ini?” “Itu tak penting, Rafa. Entah kenapa aku merasa ada hal yang janggal terjadi di Universitas Tenggara. Rektormu terlihat mencurigakan.” Rafa semakin dibuat bingung dengan ucapan pria di sampingnya. “Tunggu, tunggu. Sebenarnya apa maksud dari ini semua? Apa yang janggal dan mencurigakan itu?” “Perlu kau ketahui, Rafa. Awal tahun lalu tepatnya saat aku meminta Universitas Tenggara bekerja sama dalam proyek ini, sebenarnya aku tidak meminta mahasiswa seperti kalian untuk ikut andil. Aku mengirim surat resmi pada Tuan Mario Regardus untuk mengirimkan ilmuwan dan profesor dari kampus itu.” Mata Rafa melebar tak percaya. Ia bingung harus berkata seperti apa tentang informasi yang tiba-tiba ini. “Awalnya ia menyetujui hal tersebut, bahkan ada nama Profesor Jack Hannes dalam daftar nama yang ia setorkan pada kami. Daftar nama profesor itulah yang awalnya akan berpartisipasi dalam proyek ini.” Jack Hannes adalah salah satu profesor kenamaan di Universitas Tenggara. Kebetulan Rafa mengenalnya karena orang itu adalah dosen yang mengajarnya sejak semester tiga hingga saat ini. Ia cukup dekat dengan profesor itu karena kemampuan yang Rafa miliki diakui olehnya. Mengetahui info tersebut, pemuda berambut coklat ini semakin dibuat kaget. “Kau bercanda bukan? Mario Regardus alias rektor kami yang meminta sendiri pada aku dan temanku yang lainnya agar ikut dalam proyek ini. Bagaimana mungkin awalnya dia ingin mengirimkan jajaran profesor kenamaan Universitas Tenggara?” “Begitulah faktanya. Sekitar tiga minggu sebelum proyek vaksin ini dimulai, Tuan Mario yang mengatakan pada Hetalia bahwa para profesor itu mendapat panggilan darurat dari Badan Kesehatan Dunia sehingga akan pergi ke luar negeri. Jadi, kami pun yang saat itu kebingungan harus terpaksa mengganti rencana. Dia menyarankan pada kami untuk menerima mahasiswa terbaik Universitas Tenggara agar berpartisipasi dalam proyek ini.” “Jadi, itu alasan sebenarnya kenapa kami yang masih mahasiswa dikirim ke dalam proyek ini?” Adam terlihat tertawa begitu mendengar pertanyaan sederhana dari Rafa. “Yang benar saja? Saat itu terjadi kehebohan besar ketika rapat dilaksanakan. Dokter Edgar yang paling banyak menentang kalian untuk ikut. Kalau dilogika, mahasiswa seperti kalian ini memangnya bisa apa?” Rafa mendesah kesal. Kenyataan ini membuatnya benar-benar tak tahu harus apa. Ia telah mengenal Adam Hillary sejak tujuh bulan yang lalu. Bahkan sebelum proyek ini dilaksanakan, Rafa pernah bertemu dengan Adam tanpa disengaja dalam sebuah perhelatan akbar dimana ia memperoleh penghargaan saat itu. Ketua yang berperan dalam proyek Vaksin Hektovac ini tak mungkin membual padanya. “Aku yang mengetahui ada namamu di daftar nama mahasiswa saat itu langsung membela kalian berempat untuk ikut andil dalam proyek ini. Kau ingat saat malam penghargaan di Hotel Iranjia bukan? Aku menggunakan bukti itu agar kalian berempat diterima. Dan akhirnya seperti sekarang, kalian telah membantu proyek vaksin ini selama tujuh bulan lamanya sampai tahap 50%.” “Lalu, hal mencurigakan apa yang kau katakan tadi soal rektorku?” Mata Adam tampak menggelap. Alis pria itu tertaut tajam menunjukkan keseriusan di wajahnya. "Kau tahu kasus yang dialami oleh kita saat ini bukan? Mulai dari korupsi dan lain-lain. Aku menduga jika mungkin saja Mario Regardus terlibat di balik ini semua.” “Apa katamu? K-kau bercanda kan?” Tentu saja, Rafa tak terima dengan dugaan Adam tersebut. “Ini semua terlalu aneh dan mencurigakan. Dia—“ “Omong kosong! Itu jelas tak mungkin. Bukankah kau juga tahu sendiri jika isu korupsi itu hanya tuduhan belaka? Tak mungkin rektorku terlibat di balik ini semua!” Baik Adam maupun Rafa saat ini saling menatap dengan sengit. Ada cahaya kekesalan yang tersirat jelas di mata hijau pemuda itu. Sementara di sisi lain, Adam kini hanya bisa menghela nafas panjang. Pembicaraan ini sepertinya akan berjalan lama dan alot. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN