Chapter 21 - Tugas

1478 Kata
Hujan masih turun di atas bumi Iranjia. Hawa dingin yang menusuk tulang saat ini justru kontras dengan suasana di dalam sebuah mobil. Dua orang laki-laki yang berada di dalam mobil hitam yang terparkir di halaman depan Rumah Sakit Hetalia itu terus beradu argumen sejak tadi. Tatapan keduanya menampilkan pancaran rasa tak terima. Rafael Zohan, sosok pemuda bermata hijau yang mengenakan jaket hitam basah dengan logo Hetalia itu, terlihat bingung harus bagaimana. Ia menggertakkan giginya dengan kuat. Alisnya bertaut tajam menandakan emosinya yang begitu meluap saat ini. “Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar servis area. Silakan hubungi beberapa saat lagi.” Masih, ia masih terus mendengar suara yang sama sejak lima menit yang lalu. Mata hijau Rafa melebar. Ia marah. Ia tak terima dengan kenyataan bahwa dirinya telah dibohongi. Rafa menekan ponselnya dengan kasar untuk yang ke sekian kali. “Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar servis area. Silakan hubungi beberapa saat lagi.” Lagi, masih belum cukup. Ia harus mencoba lagi. “Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar servis area. Silakan hubungi beberapa saat lagi.” Lagi. “Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar servis area. Silakan hubungi beberapa saat lagi.” “Sudah cukup sampai di sana!” Mata Rafa langsung bergetar karena kaget. Ia yang hendak menekan kembali ponselnya langsung beralih menatap Adam Hillary yang kini memandangnya dengan tatapan datar. “Bagaimana? Kau sudah lihat buktinya? Sejak pertama kali kau mencoba menghubungi orang itu sampai detik ini masih tidak ada jawaban, bukan?” Rafa diam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Hati dan otaknya ingin menolak semua informasi ini. Ia tak mau menerima kenyataan bahwa dirinya memang sudah ditipu oleh rektor itu. Padahal selama ini, Rafa merasa sudah cukup dekat dengan sosok Mario Regradus. Akan tetapi, sebanyak apapun dia menolak kenyataan itu, faktanya memang ada suatu hal aneh dan mencurigakan di sini. Apa yang sebenarnya diinginkan oleh rektor itu? Apa motifnya di balik ini semua? Rafa pun menarik nafas dalam-dalam. Dia menatap Adam Hillary dengan pandangan serius saat ini. “Jadi, apa yang kau inginkan sekarang?” Adam pun tersenyum. Ia kemudian melanjutkan teorinya. Alasan kenapa ia sangat yakin jika Mario Regardus terlibat dengan ini semua. “Rektormu itu orang yang mengerti bagaimana politik berjalan. Aku pikir dia itu orang pro pemerintah, tapi ternyata tidak juga. Kau mengerti maksudku bukan?” Rafa tampak berpikir untuk beberapa saat. “Jadi, secara tak langsung kau menduga jika rektorku telah membocorkan informasi tentang proyek vaksin ini ke orang pemerintahan?” Adam menggeleng tanda tak setuju. “Bukan begitu.” “Lalu?” “Jika dia ingin membocorkan informasi terkait vaksin ini, kenapa Mario Regardus tak melakukannya sejak tujuh bulan yang lalu? Fakta yang ada sekarang ini, orang pemerintahan justru gencar melakukan aski protes sejak kita melakukan konferensi pers adanya proyek pembuatan vaksin oleh Rumah Sakit Hetalia.” Rafa termenung. Apa yang dikatakan oleh Adam itu ada benarnya juga. Jika ingin membocorkan informasi ini sejak awal, maka rektornya akan melakukan hal tersebut sejak pertama kali ia menerima surat kerja sama dari Hetalia. “Lalu, apa maksudmu yang sebenarnya?” tanya Rafa tak sabar. “Aku merasa jika rektormu itu menjalankan politiknya sendiri. Dia tidak mendukung proyek ini maupun orang pemerintahan. Dia punya politik dan kekuasaan sendiri. Bagaikan sebuah benalu yang berada di antara dua pohon besar. Benalu itu akan menyerap semua nutrisi dari keduanya. Pohon yang tak bisa menghasilkan nutrisi lagi akan ia tinggalkan. Pohon yang masih bisa akan ia tumpangi selamanya. ” Mata Rafa benar-benar melebar karena rasa kaget. Ia terperangah saat ini dengan apa yang diucapkan oleh Adam. Teka-teki ini terasa masuk akal sekarang. Mulai dari alasan kenapa Mario menarik daftar nama ilmuwan yang semula akan ikut dalam proyek ini sampai nomornya yang tak bisa dihubungi selama lebih dari satu minggu. Orang tua itu sepertinya sengaja. Sejak awal, Mario sama sekali tidak memihak vaksin ini. Mario Regardus adalah orang netral yang sekarang sedang menyaksikan pertarungan antara dua kubu besar. Pemerintah vs Proyek Vaksin Hektovac. Siapa pun yang akan menjadi pemenang di akhir pertarungan nanti, maka rektornya tersebut akan memihak dia. Adam tertawa. Dia tertawa hingga air matanya menetes. Pria paruh baya itu sepertinya begitu kesal saat ini. Suara tawanya yang aneh itu langsung menarik perhatian Rafa yang sedari tadi hanya diam. “Bodohnya aku baru menyadari hal ini pagi tadi. Baik aku, kau, teman-temanmu, Rumah Sakit Hetalia, bahkan semuanya telah ditipu oleh muslihat Tuan Mario Regardus.” Mata hijau pemuda itu menerawang jauh. “Aku juga tidak menyangka akan begini jadinya. Padahal sudah tujuh bulan aku ada Distrik Pusat untuk mengerjakan proyek vaksin, tapi malah mengetahui fakta yang sebenarnya hari ini.” “Meskipun begitu, sebenarnya dia tidak menyalahi aturan kerja sama. Aku saja yang bodoh.” Adam membalas perkataan Rafa sambil mengingat surat perjanjian yang telah ia buat dengan rektor Universitas Tenggara itu. Di dalam surat perjanjian yang ia buat dahulu, selain penyewaan laboratorium rahasia milik Universitas Tenggara yang berada di bawah tanah, Adam juga menyetujui soal penyerahan mahasiswa yang menggantikan profesor-profesor ternama kampus tersebut. Betapa bodohnya dia dan tim yang ada di proyek pembuatan Vaksin Hektovac dahulu. Andaikan saat itu Adam menyelidikinya langsung, maka sudah pasti akan terbongkar tipu daya yang dilakukan oleh rektor tersebut. Ketua proyek vaksin Hektovac ini pun menghela nafas lelah. “Bagaimanapun juga, kebohongan dan kelicikan yang dilakukan oleh Tuan Mario Regardus ini sudah keterlaluan. Aku tidak tahu jika masih ada hal lain yang ia lakukan diam-diam saat ini.” “Ngomong-ngomong, kau tahu dari mana soal tidak adanya daftar profesor yang pergi ke luar negeri?” “Oh, itu.” Adam menjawab pertanyaan Rafa tadi dengan menyunggingkan senyuman remeh. “Aku punya banyak agen di luar sana, jadi informasi ini bisa kudapatkan dengan mudah dalam beberapa jam saja.” Suasana di mobil itu kini hening. Adam yang merasa telah menjelaskan semua dugaannya pada Rafa hanya bisa menunggu reaksi apa yang selanjutnya ingin ditunjukkan oleh anak tersebut. Di sisi lain, Rafa tak tahu harus berkata apa lagi. Ia hanya diam. Otaknya kosong. Sorot matanya saat ini pun kosong. Pemuda bersurai coklat itu melamun. Dalam hatinya, Rafa terus bertanya-tanya. Ia tahu jika isu korupsi kemarin hanyalah tuduhan semata. Direktur Liliana telah menjamin hal tersebut, bahkan sang reporter yang saat itu menuduh Hetalia kini tengah mendapatkan perawatan di rumah sakit ini. Jadi sudah dapat dipastikan bila saat siuman nanti, pria tersebut pasti akan bisa dimintai keterangan. Meskipun begitu, dirinya masih penasaran. Apakah uang 100 juta yang akan ia terima nanti adalah hasil korupsi Hetalia yang sebenarnya? Pemuda ini bimbang. Perlukah ia menanyakan hal tersebut pada Adam Hillary? Jika rektornya saja yang selama ini ia percayai bisa berbohong untuk sebuah tujuan, maka Hetalia bisa saja hanya berdalih untuk menutupi kebenaran kan? “Rafa, aku ingin kau melakukan satu hal untuk membuktikan apa yang sebenarnya terjadi pada Mario Regardus.” “Eh?” Tentu saja Rafa terkejut, ia yang sedari tadi melamun langsung menatap kelabakan ke arah pria paruh baya tersebut. Adam tahu jika anak ini sedari tadi melamun dan sibuk memikirkan suatu hal. Sebelum melanjutkan perkataannya, pria itu tampak melirik ke arah kursi belakang mobil ini. Di kursi itu terdapat alat medis milik Sepkai Farmasi yang didatangkan dari luar negeri. Alat itulah yang ingin diambil oleh Rafa dan timnya siang tadi. Pria itu langsung menatap Rafa dengan serius. Pemuda yang ditatap pun langsung membalas tatapan Adam Hillary dengan pandangan yang tak kalah serius. “Kau mendapatkan tugas untuk meneliti dugaan mutasi baru dari varian Zetta di tubuh seorang bocah kan?” Rafa langsung mengangguk, ia membenarkan ucapan itu. “Berapa lama?” “Aku tidak tahu, tergantung kesulitan dan kondisi anak itu nantinya. Ada apa?” “Aku ingin memberikan misi khusus untukmu.” Mata Rafa sedikit terperangah. Pemuda itu menampilkan ekspresi terkejut dan heran. Misi khusus untuk dirinya? Kenapa tiba-tiba sekali? Pandangan Adam menggelap. Tangannya yang sedari tadi ia senderkan ke setir mobil tampak berputar-putar, ia memainkan jarinya. Mata gelap milik Ketua Sepkai Farmasi itu menatap lurus ke depan, memandang mobil putih milik dr. Deva yang dihantam oleh air hujan sedari tadi. Dia menghela nafas panjang. Pria itu lalu menoleh ke arah Rafa dengan pandangan sama. “Setelah penelitianmu ini selesai, aku ingin kau berkunjung ke kampung halamanmu. Kau harus pergi ke Universitas Tenggara untuk melihat secara langsung apa yang sebenarnya sedang dilakukan Mario Regardus. Kita tidak akan tahu apa-apa jika tidak melihatnya langsung.” Ucapan Adam dengan nada suara yang terdengar lebih berat dari biasanya itu menjadi penutup percakapan mereka berdua. Pemuda bersurai coklat itu menyiratkan keseriusan. Matanya kini menunjukkan tekad kuat. Ia harus segera menyelesaikan penelitian terkait mutasi Zetta ini. Dengan begitu, Rafa akan cepat bisa pulang ke rumahnya dan melihat secara langsung apa yang sebenarnya terjadi di balik ini semua. Dia pasti akan menemukan kebenaran di balik semua ini. “Laporkan semua hal itu nantinya padaku.” “Baik.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN