Chapter 22 - Pertarungan

1763 Kata
Dokter Edgar berjalan seorang diri di lorong rumah sakit yang temaram. Jam yang telah menunjukkan pukul dua malam ini membuat Rumah Sakit Hetalia begitu sepi. Hawa dingin yang menyeruak setelah hujan reda beberapa jam yang lalu mampu membuat siapa saja menggigil. Dokter senior yang menjabat sebagai wakil direktur rumah sakit itu tampak mengusap tangannya, berusaha sebisa mungkin agar tetap hangat. Sebagai orang yang memasuki usia senja, Edgar sebenarnya sudah lelah dengan urusan pekerjaan. Dia yang harusnya bisa tidur enak di rumah justru masih harus berkeliaran di rumah sakit saat jam malam seperti ini. Pria itu menghela nafas lelah. Ia baru saja keluar dari ruang perawatan Tom Hustoff. Reporter yang telah menuduh Hetalia melakukan korupsi itu dinyatakan negatif Ex-0 saat ini, tapi kenapa ia mencoba aksi bunuh diri? Semuanya dirasa semakin rumit. Ia baru saja mengobrol banyak hal dengan Zainudin Keil, si ketua polisi Distrik Pusat, perihal kondisi Tom di ruang perawatan tadi. Karena pria itu masih tak sadarkan diri sampai sekarang, keduanya terpaksa harus kembali mengunjunginya lagi besok untuk meminta keterangan. Edgar kini berada di dekat meja resepsionis, tepatnya lantai satu Rumah Sakit Hetalia. Pria itu melihat sekeliling, lalu menengok ke arah halaman rumah sakit yang masih basah karena guyuran hujan tadi. Ia pun berjalan mendekati sang resepsionis yang masih berjaga sampai saat ini. “Apakah Adam Hillary sudah tiba di tempat ini?” Wanita berkacamata yang memiliki paras cantik itu hanya bisa menggeleng, menandakan bahwa ia belum melihat sosok Adam sedari tadi. “Tuan Adam belum ke sini lagi, Dokter.” Edgar pun mengangguk paham. Ia berjalan pelan menuju tempat duduk yang disediakan tak jauh dari sana. Pria itu dengan santai duduk di kursi yang terbuat dari rotan tersebut. Ia mengambil surat kabar hari ini yang tergeletak di meja depannya. “Saking sibuknya hari ini, aku belum membaca koran apa pun sejak pagi tadi. Ironis, padahal sekarang sudah berganti hari.” Edgar membuka satu per satu halaman dari koran itu. Semua hal kontroversial yang terjadi belakangan ini ada di sana. Mulai dari isu korupsi Rumah Sakit Hetalia, demo warga di Taman Adiyasa yang mendukung vaksin, hingga berita tentang dewan parlemen yang akan menuntut Rumah Sakit Hetalia apabila masih meneruskan proyek vaksin. “Aku baru tahu jika dewan parlemen telah memutuskan hal seperti ini.” Edgar menghela nafas panjang. “Sepertinya aku tidak akan bisa tidur besok. Semuanya menjadi semakin rumit.” “Rumit? Sepertinya tidak.” Ucapan seorang pria dengan nada menggoda itu langsung membuat Edgar mendongakkan kepalanya. Alis dokter itu mengernyit heran. “Adam Hillary? Kenapa kau baru datang?” Pria dengan rambut gelap itu tampak tersenyum lebar di balik maskernya. Pakaian yang dikenakan oleh Ketua Sepkai Farmasi itu berbeda dengan pakaian yang ia pakai saat masih bersama Rafael Zohan tadi. Adam kini tampak rapi seperti biasanya dan ia juga sudah memakai masker. Ia pun langsung duduk di kursi rotan yang berada di hadapan dr. Edgar. “Ada satu hal penting yang ingin aku katakan padamu yakni kau tak perlu merasa pusing dengan semua hal ini.” Dokter senior itu memijit kepalanya yang berdenyut sakit. Ia menghela nafas begitu panjang, menunjukkan betapa depresinya pria itu sekarang. “Bagaimana tidak pusing? Kondisi negara ini menjadi semakin kacau. Pemerintah sama sekali tak mendukung proyek vaksin. Masyarakat terbelah menjadi dua kubu, pendukung vaksin dan pendukung pemerintah. Semuanya menjadi ricuh, padahal virus Ex-0 semakin hari juga semakin ganas.” Adam terlihat mengambil koran yang telah diletakkan oleh dr. Edgar di meja. Ia membaca halaman koran itu satu per satu. “Entah kenapa, aku menduga jika beberapa hari lagi masyarakat yang selama ini hanya berdiam diri di rumah akan melakukan demo. Pasti itu akan terjadi jika negara ini tak kunjung kondusif,” ujar Ketua Sepkai Farmasi tersebut. “Seminggu terakhir ini saja, Hetalia telah kedatangan lebih dari 800 pasien rujukan. Jika warga di seluruh distrik yang ada di Iranjia melakukan aksi demo saat penyebaran Ex-0 semakin meningkat seperti sekarang, aku tidak tahu berapa jumlah lonjakan pasien dalam satu hari nantinya. Apakah 3000? 5000?” Edgar mengucapkan itu dengan nada panik. Adam pun menyunggingkan senyumnya. “Apa yang terjadi jika kita juga mengumumkan adanya temuan mutasi baru dari virus Ex-0 di negara ini?” Wajah Edgar menegang. Pria tua itu mengibas-kibaskan tangannya. Ia tak bisa membayangkan apa jadinya negara ini ketika Hetalia memberitahukan kabar tersebut “Cukup, jangan katakan soal itu. Aku tak bisa membayangkan apa pun. Negara ini bisa-bisa hancur kalau ditambah berita seperti itu sekarang.” Mereka tak bisa menyembunyikan tawa. Keduanya sama-sama tertawa miris saat ini. Kondisi Hetalia benar-benar terpojok, Adam yang selalu mendukung rumah sakit ini tampaknya juga turut merasa prihatin. Di sisi lain, dr. Edgar tahu jika berita terkait dugaan mutasi baru ini harus segera disampaikan, tapi karena kondisi masyarakat yang masih kacau sepertinya informasi itu harus ditunda. Dokter senior itu melihat ke arah sekeliling. Lantai pertama rumah sakit ini begitu sepi. Hanya ada resepsionis dan beberapa staf medis yang berjaga. Edgar masih harus membicarakan banyak hal penting dengan pria di depannya. Membicarakan hal tersebut di sini cukup berbahaya karena ini hal sensitif. Ia pun kembali menatap ke arah Adam yang masih asyik membaca koran. “Kalau begitu, ayo ke ruanganku. Kita bahas apa saja hal yang telah berhasil kau temukan.” Mengerti apa arti dari ucapan sederhana itu, Adam pun menyunggingkan senyumnya. “Dengan senang hati, dr. Edgar.” Di sisi lain tampak puluhan orang berkumpul dalam sebuah ruangan yang begitu lebar nan megah. Ruangan dengan aksen warna putih dan emas itu diterangi oleh begitu banyak cahaya lampu. Di depan ruangan, bisa terlihat lambang negara Iranjia yang dipasang megah di atas podium. Bendera Iranjia yang berwarna biru dengan lingkaran emas yang berada di tengahnya tampak berkibar di setiap sudut ruangan. Ruangan megah ini adalah ruang utama dari Dewan Parlemen negara Iranjia. Sebanyak 50 orang yang berstatus sebagai anggota parlemen tampak duduk di mejanya masing-masing. Jam dua malam bukanlah halangan bagi mereka untuk menuntaskan rapat yang diselenggarakan hari ini. Ini adalah rapat tertutup anggota dewan. Tidak ada pers maupun masyarakat yang tahu jika hari ini dewan parlemen telah menyelenggarakan rapat rahasia. Pertemuan ini telah berjalan selama 10 jam lamanya. Satu hal yang mereka bahas kali ini ialah proyek vaksin Hektovac yang digagas oleh Rumah Sakit Hetalia. Di depan sana, terlihat sosok Roy Ayasa yang tengah melakukan presentasi. Sang ketua dewan yang berada di sampingnya hanya diam memperhatikan. “Ini adalah data tentang rentang harga vaksin buatan luar negeri yang saat ini sedang dalam masa pengerjaan.” Pria yang mengenakan kemeja merah itu langsung menatap ke arah seluruh anggota dewan di ruangan ini. “Bayangkan jika kita mengharapkan pihak swasta seperti Hetalia mengerjakan vaksin seperti itu, semuanya pasti akan sia-sia.” Roy Ayasa kembali melakukan hal yang sama dengan apa yang ia ucapkan saat orasi di tengah Taman Adiyasa kemarin. Pria itu menampilkan data statistik tentang jumlah kerugian negara dan hutang yang sudah melilit Iranjia selama 10 bulan terakhir sejak virus ini menyerang. “Melihat besarnya nominal pada data tersebut, maka kita tak boleh menyia-nyiakan uang untuk mendukung proyek tak karuan yang belum diuji coba itu. Kita harus mendapatkan hal yang pasti saja. Dengan membeli vaksin buatan luar negeri yang terkenal ahli dalam bidang seperti ini, maka secara tak langsung kita telah menghemat anggaran. Meskipun harga vaksin itu sangat mahal, tapi anggaran negara lebih baik digunakan untuk membelinya daripada digunakan untuk membiayai kegiatan yang belum jelas hasilnya.” Ketua Dewan tampak mempertimbangkan semua hal. Pria dengan jenggot berwarna putih itu terlihat memperhatikan beberapa dokumen yang terdapat di mejanya. Sang ketua yang duduk di podium depan langsung memandang ke arah anggota parlemen lain di hadapannya. “Jadi, bagaimana kesimpulan dari rapat ini? Adakah dari kalian yang masih keberatan dengan pembelian vaksin dari luar negeri? Apa pun hasilnya, aku harus segera menyerahkan laporan pada Presiden untuk mengambil keputusan final.” Semua anggota tampak berbincang satu sama lain. Membicarakan hal ini selama 10 jam lamanya terasa begitu sulit. Melihat anggota parlemen yang masih terus berdebat satu sama lain membuat Ketua Dewan itu mengerti kebimbangan yang tengah mereka alami. Kalau begini caranya, maka ia harus memberikan mereka tambahan waktu untuk membuat keputusan. “Perhatian semuanya! Aku akan memberi waktu 15 menit bagi kalian untuk mempertimbangkan keputusan akhir ini. Manfaatkan waktu itu baik-baik!” Roy Ayasa yang berdiri di depan tadi pun berjalan menuju meja Ketua Dewan. Ia tampak membicarakan banyak hal dengan sang ketua. Semua orang yang ada di ruangan ini tahu jika pria itu adalah pemain di balik layar. Meskipun bukan ketua atau pun wakil dewan parlemen, Roy telah menjadi pionir di lingkungan Dewan Parlemen Iranjia. Dia bukanlah orang yang selalu menonjol, pria itu selalu menjadi bayang-bayang parlemen. Ketika parlemen membutuhkan informasi, dia ada. Ketika parlemen membutuhkan dana, dia ada. Ketika parlemen membutuhkan dukungan masyarakat, dia ada. Roy Ayasa adalah segalanya. Dia bisa semuanya. Oleh karena itu, pria serba biasa tersebut dianggap sebagai raja di balik layar oleh seluruh anggota dewan. Latar belakang keluarganya yang berkecimpung di dunia pemerintahan dan politik juga menjadi pengaruh besar. Jika ia mau, Roy mampu mengendalikan segala aspek di negara ini. Namanya kini menjadi sorotan masyarakat di seluruh Iranjia ketika orasinya di tengah Taman Adiyasa ditentang besar-besaran oleh masa. Masyarakat yang sebelumnya tak tahu siapa Roy Ayasa, kini mulai mengenal pria tersebut. Mereka mengenalnya dari sisi luar tanpa mengetahui siapa sosok asli di balik nama itu. Dia adalah sang pria berbahaya. Sang raja di balik layar yang memiliki singgasana absolut di Dewan Parlemen. “Kau tak perlu khawatir, Ketua.” Roy Ayasa menyandarkan punggungnya di podium milik Ketua Dewan Parlemen dengan santai. Matanya menatap tajam ke arah seluruh penjuru ruangan. “Oh ya? Kenapa aku tak perlu khawatir?” “Karena aku yakin jika 90% anggota parlemen tidak akan mendukung proyek Vaksin Hektovac dan memilih opsi pembelian vaksin dari luar negeri,” ujar Roy sambil menyunggingkan seringai di balik masker yang ia kenakan. Sang ketua yang sudah lanjut usia itu mendengus. Pria itu melirik ke arah Roy dengan santai. “Kau yakin dengan harga yang telah kau ucapkan tempo hari itu, bukan?” “Ya, tentu saja.” Roy menatap ke arah Ketua Dewan dengan seringai yang masih sama. “Aku sudah menaikkan harga vaksin luar negeri itu dua kali lipat di laporan anggaran, jadi kau tak perlu khawatir.” “Soal Hetalia bagaimana?” Roy kini mendengus. Pria itu menampilkan cahaya kemenangan di sorot matanya. “Begitu adikku mengumumkan hasil laporan Komisi Pemberantasan Korupsi, maka nama Hetalia akan menjadi abu. Mereka akan jatuh dan masyarakat tak akan percaya padanya.” “Kutunggu momen itu datang.” Sang Ketua berusaha untuk tetap memasang wajah tenang dan datar miliknya. Roy yang mendengar itu langsung memperlebar senyumnya. “Dengan senang hati, Ketua.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN