Chapter 23 - Rumah

1792 Kata
“Kau yakin dirimu tidak apa-apa?” Di meja makan ini terlihat empat orang pemuda yang saling duduk berhadapan. Jam warna biru yang terdapat di samping kulkas menunjukkan pukul 6 pagi. Ruang makan ini begitu hening. Suara detik dari jam biru tersebut menggema di seluruh penjuru ruangan. Ketiga pemuda yang berada di ruangan ini fokus memperhatikan teman mereka yang satu-satunya memiliki warna rambut coklat di sini. Ia adalah Rafael Zohan, si ketua tim dari ketiga mahasiswa itu. “Aku tidak apa-apa.” Pemuda bermata hijau tersebut tampak acuh. Ia hanya sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil. Hendra yang menanyai kondisi Rafa tadi langsung menekuk muka begitu mendengar jawaban. “Tidak apa-apa, tapi semalam suntuk terus menggigil.” Rafa hanya bisa menatap temannya dari jurusan farmasi itu dengan malu. Ia tersenyum canggung. Bukan bermaksud untuk bohong, pemuda itu hanya ingin mereka tak perlu khawatir dengan dirinya. Bagaimana pun juga, Rafa hanya demam biasa. Itu bukan hal besar. Ia menduga jika demam itu pasti datang karena dirinya kehujanan kemarin. “Dia pasti seperti itu karena bermain hujan kemarin,” ujar Ardi sembari mengambil nasi. Pemuda yang terkenal sebagai berandal dari jurusan kedokteran itu melirik ke arah Rafa. “Lagian kau ini aneh sekali. Sudah tahu fisikmu itu lemah, kenapa juga menolong pria itu?” Kemarin malam, mereka bertiga begitu kaget ketika Rafa pulang dalam keadaan basah kuyup. Meskipun pemuda itu sudah mandi dan melakukan sterilisasi di rumah sakit dahulu, ia terpaksa harus kehujanan lagi karena lupa membawa payung. Tentu saja, mereka semua sudah tahu jika mahasiswa dari jurusan mikrobiologi tersebut memiliki fisik lemah. Ia sangat payah dalam hal fisik, terutama yang berhubungan dengan olahraga. Tapi nyatanya, Rafa masih saja nekat melakukan hal yang tak perlu seperti menolong orang yang bunuh diri di Sungai Kale kemarin. “Alexa dan Dika nekat menolongnya saat melihat orang itu tercebur ke sungai.” Rafa pun mengikuti ketiga temannya yang lain sudah mengambil nasi. Ia mengambil beberapa sendok nasi goreng yang masih mengepulkan uap panas itu. “Seperti tak pernah melihat orang bunuh diri saja mereka itu. Padahal kan selama 10 bulan terakhir ini sudah ribuan orang yang nekat bunuh diri di mana-mana,” sahut Rino dengan tatapan sinisnya. Pemuda yang satu ini begitu kesal dengan aksi bodoh yang dilakukan Tim C. Bagaimana pun juga, mereka bertiga itu nekat. Coba bayangkan jika tak ada Adam Hillary saat itu, bisa-bisa ketiganya sudah meregang nyawa bersama dengan pria yang diselamatkan kemarin. Sungai Kale itu airnya deras, masuk ke dalam sungai itu saat hujan turun sama saja dengan menyerahkan jiwa ke gerbang kematian. Lagian orang itu kan yang sudah menuduh Hetalia melakukan korupsi, harusnya mereka biarkan saja dia. Rafa berusaha untuk mengabaikan omelan yang disampaikan oleh ketiga temannya itu. Ia sekarang menyesal telah menceritakan semua hal pada mereka saat pulang kemarin. Kalau tahu masih akan diceramahi hal yang sama sampai pagi ini, harusnya ia tak bilang apa-apa. Keempat pemuda dari Universitas Tenggara itu tinggal di sebuah rumah susun yang sudah disewa sejak tujuh bulan yang lalu, tepatnya saat mereka tiba pertama kali di Distrik Pusat. Rumah susun yang memiliki gaya seperti apartemen ini memiliki ruangan yang cukup luas. Ada empat kamar yang bisa ditiduri di sini. Selain itu, mereka juga mendapatkan fasilitas berupa dapur, kamar mandi, serta ruang bersantai yang luasnya juga cukup lebar. Oleh karena itu, kamar apartemen dengan lantai kayu dan dinding berwarna putih ini terlihat begitu elegan. Semua biaya sewa kamar apartemen ini telah dibiayai oleh Rumah Sakit Hetalia. Rumah sakit itu bertanggung jawab atas semua hal yang dibutuhkan oleh keempatnya, mulai dari biaya tempat tinggal, makan, transportasi, serta kebutuhan hidup lainnya. Mereka berempat akan terus mendapatkan fasilitas itu selama proyek vaksin Hektovac ini berjalan. Letak apartemen yang dekat dengan Hetalia ini juga memudahkan mereka yang saat ini melakukan tugas sehari-hari di rumah sakit, mengingat keempatnya tidak bekerja di lab lagi. “Ngomong-ngomong.” Hendra yang menatap serius ke arah Rafa saat ini langsung jadi pusat perhatian. “Mengesampingkan demam yang kau alami sekarang, sepertinya ada hal lain yang kau sembunyikan dari kami.” Mata Rafa sedikit terperangah. Ia terkejut dengan ucapan sahabatnya itu, apalagi Hendra mengatakannya dengan tiba-tiba. Rafa pun memasang senyum canggungnya. “Apa maksudmu?’ “Semalam kau begadang lagi. Biasanya kan dirimu selalu tak bisa tidur jika ada suatu masalah,” jawab Hendra dengan santai. Rino yang duduk di samping mahasiswa jurusan farmasi itu mengangguk setuju. “Semalam aku bermain game dengan Hendra sampai pukul 12 malam. Kami melihat lampu di kamarmu masih menyala. Aku dan Hendra sudah menduga jika semalam dirimu begadang lagi.” Ardi yang semalam tidur awal tampak menunjukkan ekspresi bingung. Ia tak tahu apa-apa, meskipun begitu pemuda ini yakin jika dugaan Hendra dan Rino tadi pasti benar. Bagaimana pun juga, Rafa ini memiliki kebiasaan begadang ketika dirinya stres. Jadi, mereka bertiga yang sudah tinggal dengannya selama tujuh bulan terakhir paham betul dengan tabiat buruk milik ketua timnya ini. Di lain sisi, Rafa tampak mengalihkan pandangannya. Fakta bahwa dia belum menceritakan apa pun pada mereka bertiga soal Mario Regardus sepertinya menimbulkan kecurigaan. Pemuda yang satu ini belum bisa mengatakan apa-apa soal pertemuannya dengan Adam Hillary yang membahas rektor mereka kemarin. Jika teman-temannya ini tahu, mereka pasti akan tak terima. Mata hijau milik Rafa bergulir ke arah Ardi. Ia melirik pemuda itu dari ekor matanya. Pemuda yang satu ini pasti akan bertindak emosional bila mengetahui kebenaran bahwa keempatnya telah ditepu oleh sang rektor. Saat perjalanan pulang dari rumah sakit kemarin pun Rafa sudah memutuskan. Akan lebih baik jika dia tetap diam dan memeriksa semuanya secara langsung ke Universitas Tenggara setelah selesai melakukan penelitian terhadap mutasi baru Ex-0. Oleh karena itu, ia tak bisa mengatakan apa pun pada mereka bertiga soal ini. “Kalian ini apa-apaan coba? Sekarang kan aku sudah ada di sini. Aku tidak bangun kesiangan, jadi tentu saja semalam aku tak begadang. Lampunya terus kunyalakan karena aku kesulitan mengompres dahiku kalau gelap.” Penjelasan dari Rafa itu dibalas oleh tatapan curiga oleh Ardi, Rino, dan Hendra. Akan tetapi, kalau dipikirkan lagi apa yang diucapkan oleh Rafa tadi ada benarnya juga. Pemuda itu sepertinya mengalami demam yang cukup tinggi semalam, jadi tak heran apabila ia sibuk mengompres agar demamnya cepat turun. “Ya sudah. Kalau begitu, ayo cepat kita selesaikan sarapan pagi ini. Kita semua harus segera sampai di Hetalia pukul 7 pagi,” ujar Rino. Ketiganya yang mendengar perkataan itu langsung mengangguk paham. Mereka semua akhirnya mempercepat sarapan agar bisa pergi menuju rumah sakit. Di sisi lain, kini dr. Edgar tampak duduk di ruangannya. Ruangan dengan cat berwarna kuning ini sedikit berantakan. Semalam wakil direktur Hetalia itu tak pulang. Ia tidur di sini setellah membahas banyak hal dengan Adam Hillary. Pria berusia lanjut itu pun hanya tidur selama kurang lebih tiga jam tadi. Mata hitam Edgar yang memiliki kantung tidur itu melirik ke arah jendela. Ruangannya yang berada di lantai atas langsung disinari oleh cahaya matahari pagi ini. Pria itu menarik nafas dalam-dalam, berusaha menghirup sebanyak mungkin udara pagi untuk membuang rasa stresnya. Bagaimanapun juga, setelah tugasnya pagi ini yang menggantikan Liliana selesai, ia akan pulang ke rumah apa pun caranya. Pria itu melihat ke arah setumpuk dokumen di mejanya. Entah kenapa, ia tiba-tiba teringat dengan apa yang dikatakan Adam semalam. “Pokoknya kau dan Hetalia tak perlu mengkhawatirkan banyak hal. Aku sudah menangani segala masalah kita yang berurusan dengan pemerintahan.” Adam mengatakan itu sambil terus membaca koran yang ia bawa dari lantai satu tadi. “Memangnya, apa yang telah kau lakukan sampai setenang itu?” “Aku sudah menanganinya. Kau tenang saja pokoknya.” Edgar pun tampak menghela nafas. Ia sudah kenal dengan orang yang berada di depannya ini sejak pria itu masih kecil. Hubungan dekat mereka yang sudah terjalin lama tampaknya membuat Adam sesuka hati untuk bertindak semaunya. “Soal Universitas Tenggara bagaimana? Bukankah kemarin pagi kau yang memaksaku untuk menyerahkan urusan itu padamu juga? Apa kau bisa menagani urusan kita dengan pemerintahan jika kau harus menyelidiki rektor dari universitas itu?” Sejujurnya Edgar khawatir. Orang di depannya ini telah begitu bayak membantu Hetalia. Jika semua urusan dipegang olehnya, apakah mungkin semua hal itu berhasil ditangani dengan baik? Padahal kalau mau, Edgar tak ingin membebani Adam. Ia bisa menyuruh orangnya untuk menyelidiki hal-hal mencurigakan itu. Adam yang ditanyai soal Universitas Tenggara langsung mempertegas posisi duduknya. Ia memandang ke arah Edgar serius. Koran yang sedari tadi ia pegang pun sudah diletakkan. Ketua Sepkai Farmasi itu langsung saja mengatakan apa yang telah ia katakan pada Rafa tadi di mobil. Ia menjelaskan semua hal terkait aksi penyidikannya terhadap Mario Regardus, rektor universitas itu. “Jadi begitu, kau menyuruh mahasiswa yang bernama Rafael Zohan untuk pergi ke universitasnya sendiri setelah penelitian mutasi baru ini selesai?” “Ya, benar sejali. Dia adalah ketua tim dari mahasiswa itu. Di lain sisi, aku juga cukup mengenalnya dekat. Oleh karena itulah, aku mengutusnya.” Adam pun sekarang menatap teduh ke arah Edgar. Dokter senior di depannya ini memiliki hubungan istimewa dengan Adam. Pria ini telah menjadi sosok penting baginya. Jika saat kecil dulu ia tak ditolong oleh Edgar, entah bagaimana nasibnya sekarang. Adam hanya ingin dokter ini bersantai dan tak terbebani dengan hal yang berat. Jadi, itulah alasan kenapa ia repot-repot mau membantu Hetalia. “Dokter Edgar, kau harus mengingat apa yang kukatakan tadi. Kau tak perlu mengkhawatirkan hal-hal seperti ini. Pulanglah nanti dan bersantai saja di rumah. Semua ini akan kuurus.” Ucapan Adam itu entah kenapa membuat Edgar tak mampu menahan senyumnya untuk merekah. “Kau masih saja tak berubah sejak dulu ya? Kalau kau terus sibuk dengan urusan ini, bagaimana naib perusahaanmu?” “Alah, itu gampang. Aku punya banyak anak buah ahli yang kupercayai. Mereka mampu menjalankan perusahaan dengan baik.” Mata Adam melirik ke arah salah satu pigura yang ada di ruang kerja dr. Edgar ini. Di sana ada potret anak kecil yang berfoto dengan dokter senior tersebut. Senyum Adam merekah. Ia jadi teringat dengan kenangannya saat foto bersama itu. Pria berambut gelap itu pun kembali menatap ke arah Edgar dengan senyum di balik maskernya. “Pokoknya kau tenang saja, serahkan hal ini padaku. Kau akan terima beres nantinya.” Suara ketukan pintu yang terdengar keras langsung membuyarkan lamunan dr. Edgar. Ia melirik ke arah jam di ruangannya yang telah menunjukkan pukul 7 pagi tepat. Mengerti siapa orang yang mengetuk pintu itu, Edgar pun merekahkan senyumnya. Tugasnya hari ini akan selesai begitu ia memberikan arahan pada orang-orang yang akan masuk ini. Ia bisa bersantai sebentar lagi. “Permisi, dr. Edgar. Apakah kami boleh masuk?” Ucap seseorang di balik pintu. “Silakan, masuklah.” Begitu Edgar mengucapkan hal itu, pintu ruangannya langsung terbuka. Di depan dokter senior itu kini berdiri sembilan orang anak muda yang merupakan regu gabungan dari dokter koas dan tim mahasiswa tenggara. Edgar pun tersenyum simpul. “Baik, ayo kita mulai bicarakan tugas hari ini.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN