Tim B berbeda dengan tim lainnya dari regu gabungan antara dokter koas dan mahasiswa tenggara di Rumah Sakit Hetalia. Maria Silviatan merupakan satu-satunya dokter koas yang berada dalam tim ini. Padahal di Tim A maupun Tim C berisi dua orang dokter koas, tapi di tim ini hanya ada dia seorang. Gadis berambut pendek sebahu itu harus bersabar ketika ia harus kerja sama dengan dua orang mahasiswa dari Universitas Tenggara yang begitu menyebalkan.
Di sebelah kanan dan kiri Maria saat ini tampak dua orang laki-laki yang mengenakan seragam jaket hitam seperti dirinya. Mereka adalah Ardi dan Rino. Dua orang mahasiswa yang begitu menyebalkan bagi Maria. Jika bisa memilih, gadis itu pasti akan menunjuk Rafael Zohan atau pun Hendra Joseph yang kalem untuk jadi teman setimnya.
“Oi, Maria.” Panggil Ardi sambil melirik ke arah gadis yang memiliki tinggi setelinganya itu.
Melihat Maria yang menoleh ke arahnya, Ardi pun melanjutkan perkataannya, “Kau sudah mempersiapkan sesuatu untuk berhadapan dengan anak itu? Maksudku suatu hal khusus agar ia bisa mendengarkan apa mau kita.”
Mata biru Maria yang merupakan lensa mata itu hanya bisa menatap lurus ke arah depan. Gadis yang memiliki masalah rabun jauh itu pun tampak menggaruk pelan kepalanya. “Entahlah, aku tak jago berurusan dengan anak kecil. Jadi, aku tak mempersiapkan apa pun.”
“Ah, harusnya aku tahu kenapa kau tak jago berurusan dengan anak kecil. Mereka pasti akan langsung lari begitu melihat wajahmu yang galak itu,” celetuk Rino. Sontak saja mahasiswa dari jurusan psikologi itu mendapatkan cubitan keras di bagian perutnya.
Inilah alasan kenapa Maria merasa kesal dengan dua anak laki-laki ini. Baik Rino maupun Ardi selalu menggoda dirinya dengan cara meledek. Siapa yang tak kesal coba? Mereka tahu bahwa dia itu tipe gadis temperamental, tapi kok ya masih saja suka menggodanya dengan bercanda seperti ini.
Saat ini ketiga orang itu sudah berjalan menuju ruangan isolasi khusus, tempat di mana Gabriel Delio dirawat. Anak itu diduga mengalami mutasi baru dari varian Zetta virus Ex-0. Di negara ini, baru ditemukan pasien yang memiliki gejala seperti itu meskipun di luar negeri sudah ada beberapa orang yang juga terpapar mutasi baru itu. Berdasarkan data yang dirilis oleh Organisasi Kesehatan Dunia, mutasi baru ini ditemukan sebulan yang lalu alias mulai muncul sekitar pertengahan bulan September.
Sampai saat ini, Hetalia masih merahasiakan kabar terkait Gabriel Delio. Instansi tersebut merasa bahwa jika mereka menyiarkan kabar itu maka kondisi negara ini semakin kacau akibat pertentangan yang ada di masyarakat terkait proyek Vaksin Hektovac. Bagaimana pun juga, sekarang Iranjia terbelah menjadi dua kubu yakni kubu vaksin dan kubu anti vaksin.
Memikirkan itu semua membuat Maria pusing sendiri. Gadis itu tak habis pikir betapa stresnya para petinggi Hetalia menghadapi ini semua. Mereka harus ke sana ke sini mengurus banyak hal.
Beberapa saat yang lalu, ketiga orang itu yang merupakan anggota Tim B bersama dengan Tim A dan Tim C telah menemui dr., Edgar di ruangannya. Dokter yang menjabat sebagai wakil direktur itu begitu terlihat lelah dengan kantung mata hitam di wajahnya. Padahal selama ini dr. Edgar terlihat begitu tegas, tapi ia tadi tersenyum lembut menyambut mereka. Pasti pria itu begitu tertekan sampai melupakan karakter aslinya yang selalu ia pakai ketika berada di rumah sakit.
“Tugas kita hari ini hanya mengambil sampel darah anak itu kan?” celetuk Maria yang mengingat apa kata dr. Edgar tadi.
Rino yang mendengar pertanyaan itu langsung menggeleng. “Bukan hanya itu, kita juga harus mengambil hati bocah itu.”
Ah ya, benar juga. Maria lupa akan misi mengambil hati Gabriel Delio agar ia tak merasa semakin tertekan. Rasa tertekan yang ia alami bisa membuat keadaan anak itu semakin parah mengingat Ex-0 mengincar jaringan otak yang menghasilkan hormon kortisol. Hormon kortisol adalah hormon yang memicu tumbuhnya rasa depresi pada diri seseorang. Jika Gabriel Delio tertekan selama dirawat di sini, maka itu bisa membahayakan tubuhnya.
“Ngomong-ngomong, apakah orang yang berdiri di depan pintu ruangan anak itu adalah dr. Hutson?” tanya Ardi sambil menunjuk ke arah seorang pria yang juga mengenakan jaket hitam dengan kombinasi biru neon seperti milik mereka bertiga.
Maria mengikuti arah jari Ardi yang menunjuk seseorang. Ia pun kemudian mengangguk setuju. “Ah, iya. Itu memang dr. Hutson. Ayo kita segera ke sana karena sudah ditunggu.”
Baik Ardi dan Rino yang mendengar perkataan itu langsung mengangguk paham. Ketiganya langsung mempercepat langkah mereka menuju ruangan yang berada di ujung lorong ini. Di sana sudah ada dr. Hutson yang berdiri menunggu mereka.
Tim B mendapatkan pembimbing dan ketua yang tak lain dan bukan ialah dr. Hutson. Ia adalah dokter senior yang selama ini bertugas dalam penanganan Ex-0 di rumah sakit ini. Ia juga adalah dokter yang saat itu menangani Diana Melia, kakak dari Gabriel Delio yang saat itu tewas akibat kecelakaan begitu tiba di Hetalia.
Di lain sisi, Tim C yang merupakan tim dari Rafa, Dika, dan Alexa mendapatkan dr. Deva yang bertugas membimbing mereka. Dokter Deva ditugaskan sebagai pembimbing dari Tim C karena dirinya adalah dokter spesialis penyakit dalam dan vaksinolog di Hetalia. Jadi, ia sangat cocok ditugaskan bersama Tim C yang memang bertugas meneliti kondisi Gabriel Delio.
Tim A yang tugasnya mengurusi segala hal yang berkaitan dengan obat-obatan memiliki Bu Intanius Stefani sebagai pembimbing dan ketua tim. Tim yang berisikan Beni, Hendra, dan Ais itu akan bertugas bersama Bu Intan di bagian farmasi yang nantinya disediakan khusus untuk Gabriel Delio.
“Selamat pagi, dr. Hutson. Maaf karena Anda sudah menunggu lama.” Maria langsung menyapa dokter itu begitu tiba di hadapannya.
Dokter senior yang memang sudah kenal dengan Maria tersebut langsung mengibas-kibaskan tangannya, tanda bahwa Maria tak perlu bersikap sungkan seperti itu. “Santai saja, Maria. Aku baru tiba di sini juga.”
“Selamat pagi, Dok. Saya adalah Ardius Leon. Mahasiswa Universitas Tenggara dari jurusan kedokteran yang tergabung dalam regu gabungan ini.”
Dokter Hutson bisa melihat sosok laki-laki bertubuh tinggi dengan warna hitam lurus tampak menganggukkan kepala ke arahnya sebagai tanda perkenalan diri. Tak lama setelah anak itu berkenalan, laki-laki yang berada di samping kanan Maria juga langsung menyapanya.
“Saya adalah Rino Falderon. Mahasiswa Universitas Tenggara yang berasal dari jurusan psikologi. Mohon bantuannya selama bertugas, Dok,” ujar laki-laki dengan rambut hitam yang sedikit bergelombang itu.
“Salam kenal juga ya, Ardi dan Rino. Saya adalah dr. Hutson yang selama ini bertugas dalam penanganan Ex-0 di rumah sakit ini. Muai sekarang, saya yang akan memimpin kalian sebagai Tim B dari regu gabungan dokter koas dan mahasiswa tenggara untuk menyelidiki dugaan mutasi baru pada Gabriel Delio.”
Rino dan Ardi langsung mengangguk paham dengan perkenalan dr. Hutson yang ramah itu. Di sisi lain Maria tampaknya juga ikut tersenyum di balik maskernya.
“Dokter, untuk mempersingkat waktu, bagaimana jika kita langsung saja masuk dan menemui Gabrile Delio?” ujar Maria.
Saran dari Maria tersebut langsung diberi anggukan setuju dari dr. Hutson. Lebih cepat lebih baik. Dokter tersebut kemudian memberikan arahan kepada mereka bertiga tentang apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama berhadapan dengan Gabriel. Mereka bertiga tampaknya langsung mengangguk paham begitu dr. Hutson menyampaikan hal tersebut.
“Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk. Pastikan alat perlindungan diri milik kalian sudah terpasang aman dan kuat untuk menghindari paparan virus Ex-0 selama berinteraksi dengan anak itu.”
“Kami mengerti, Dok!” sahut ketiganya dengan serempak.
Begitu pintu ruangan terbuka, terlihat Gabriel duduk seorang diri di tempat tidurnya. Suasana pagi ini yang sedikit mendung di Distrik Pusat tampaknya memberikan suasana suram di ruangan ini. Hawa dingin datang menyeruak, dengan segera Ardi menutup pintu ruangan yang dibuka oleh mereka tadi.
Gabriel memang diletakkan dalam ruang isolasi khusus. Di sini tidak ada perawat maupun dokter yang terus berjaga dengannya. Hal itu karena kondisinya yang masih belum diidentifikasi saat ini. Apakah ia memang terkena mutasi baru itu atau tidak. Jadi, perawat akan datang ketika anak itu menekan bel ketika membutuhkan sesuatu.
Infus masih terus mengalir melalui selang yang terhubung dengan tangannya. Keempat orang yang melihat itu langsung paham bahwa kemungkinan besar selama ini anak itu tak mau makan. Infus itu pasti terpasang untuk mengganti cairan tubuhnya yang hilang. Tubuh Gabriel pun terlihat lebih kurus daripada tubuhnya dulu saat baru tiba di tempat ini.
Tak butuh waktu lama, dr. Hutson langsung berjalan menuju tempat tidurnya, ia meninggalkan ketiga anggota Tim B yang masih diam di tempat.
“Selamat pagi, Gabriel. Bagaimana kabarmu hari ini?” sapa dr. Hutson dengan ramah.
Matta hitam Gabriel hanya melirik ke arah pria itu dengan tatapan kosong. “Aku tak tahu.”
Jawaban sederhana itu membuat hati ketiga anak muda yang masih berdiri di depan pintu tersebut seakan tergores. Mereka kasihan melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh anak berumur 9 tahun itu. Padahal ia masih begitu kecil, merasakan ini semua pasti begitu menyakitkan. Ketiganya pun langsung berjalan menyusul dr. Hutson.
“Halo, Gabriel. Apakah kamu kesepian selama ini?” Maria datang dengan sapaan ramah. Anak itu hanya diam saja.
“Kau tak perlu khawatir, kami semua akan menjadi temanmu mulai hari ini. Meskipun tidak ada suster atau pun dokter di sini, kami akan selalu datang tiap hari menemanimu sampai kau sembuh,” sahut Ardi dengan ucapan yang tak kalah riang.
Maria yang tak tahu harus apa karena ucapannya tadi diacuhkan pun langsung berjalan menuju jendela. Ia membuka tirai yang menutup jendela tersebut agar sinar matahari bisa masuk meskipun sedikit, mengingat cuaca pagi ini sedang mendung. Gadis itu juga membuka jendela agar ruangan ini tak pengap dan udaranya bisa berganti.
Rino sejak tadi hanya diam. Dia berdiri di samping kanan tempat tidur Gabriel bersama Ardi sementara dr. Hutson dan Maria tadi berdiri di sisi kiri tempat tidur ini.
“Anak ini entah kenapa mirip dengan Rafa,” celetuknya tanpa sadar. Rino menggumamkan ucapannya tadi dengan pelan.
Ardi yang tak sengaja mendengar itu langsung menoleh dengan tatapan tak habis pikir. Ia berbisik, “Dari sisi mana Rafa bisa mirip dengan Gabriel? Coba lihat, tatapan mata anak ini begitu kosong. Sama sekali tak ada cahaya di sana.”
“Kau tak tahu saja,” jawab Rino dengan suara bisikan yang penuh dengan rasa kesal. Dasar, si Ardi ini menguping monolog orang sesuka hatinya.
Gabriel hanya diam. Dia memandang mereka berempat satu per satu. Di sisi lain, dr. Hutson juga masih diam memperhatikan. Ia belum berani melakukan apa-apa sebelum melihat reaksi anak ini lebih lanjut.
Setelah cukup lama hening, Gabriel tampaknya ingin buka suara. Mulut anak itu berkedut, menandakan bahwa ia ingin mengucapkan sesuatu. Mata kosongnya yang tadi melihat sekeliling tampak menatap hampa ke arah telapak tangannya.
“Kalian ingin menjadi temanku?”
Mata Ardi yang mendengar pertanyaan itu langsung berbinar. “Ya, tentu saja. Kenapa tidak? Mulai sekarang kami akan menemanimu bermain.”
“Ya, Gabriel. Kami semua sekarang ada untukmu, bahkan kalau kau mau, kami bisa menjadi keluargamu,” balas dr. Hutson dengan ramah.
Tidak ada suara, Gabriel justru diam dengan matanya yang masih menatap kosong ke arah telapak tangannya. Maria yang masih membenarkan tirai jendela tampak melirik ke arah anak itu ketika merasakan suasana canggung yang tercipta ini.
“Tapi, aku tak ingin.” Ucapan sederhana itu membuat mereka semua saling pandang. Ardi dan Rino saling bertatapan seolah bertanya bagaimana ini.
Gabriel pun mendongakkan kepalanya. “Aku tak ingin berteman dengan kalian. Aku ingin kalian semua mati saja.”
Dan di detik itu juga, mereka berempat yang berada di ruangan ini langsung menarik nafasnya tanpa sadar.