Chapter 25 - Harapan

1683 Kata
Gabriel Delio adalah tipe anak urakan yang tidak bisa diam walau satu menit saja, begitulah yang mereka kira. Di ruang keamanan yang berada di lantai dua ini, Tim B dan C beserta dua pembimbing mereka yang tak lain dan bukan ialah Bu Intan dan dr. Deva sedang melihat apa yang terjadi di ruang isolasi anak tersebut. Mereka semua melihat ke arah layar monitor besar yang menampilkan video dari kamera pengintai yang dipasang secara rahasia di sana. Jantung mereka seolah berhenti berdetak ketika mendengar ucapan Gabriel beberapa saat yang lalu. Mata semua orang yang berada di ruangan ini tak bisa untuk tidak melebar kaget. Tatapan mata anak itu yang kosong terlihat begitu mengerikan ketika dirinya mengucapkan ancaman seperti tadi. Kenapa anak itu ingin mereka semua mati? “Dia benar-benar sudah berubah dalam waktu yang begitu singkat,” ujar Dika tanpa sadar. Beni yang berdiri di samping pemuda itu tampaknya masih menatap tak percaya ke arah layar besar tersebut. Ia bertanya-tanya, sebenarnya apa yang telah terjadi? “Ke mana anak yang penuh energi dan beringas itu?” sahutnya dengan nada tak percaya. Si ketua dari dokter koas yang ada di Hetalia ini tampaknya masih kaget dengan pemandangan di depannya. Dika dan Beni adalah satu-satunya orang di antara mereka yang pernah berinteraksi langsung dengan anak tersebut saat penerimaan pasien rujukan dari Distrik Utara tempo hari. Anak itu begitu aktif dan tak bisa diam, bahkan saat kakaknya tewas tertabrak dia langsung meronta-ronta tak terima. Akan tetapi, kenapa Gabriel sekarang begitu berubah total? Dia benar-benar kosong seperti tak ada lagi harapan hidup di sana. Apakah ini semua akibat dugaan mutasi baru itu? Di sisi lain, saat ini ketiga anggota Tim B tak bisa untuk tidak membelalakkan matanya kaget. Mereka telah menahan nafas tanpa sadar. Jantung ketiga anak muda itu seolah berhenti berdetak. Mereka tak salah dengar kan? Gabriel Delio menginginkan mereka semua mati? Tapi kenapa? Berbeda dengan reaksi kaget dari Maria, Ardi, dan Rino yang masih bertahan lama, dr. Hutson langsung mengendalikan ekspresinya. Ia tak bisa sembarangan. Jika reaksi kagetnya terlalu lama begitu, maka anak ini bisa saja semakin merasa terancam. Pengalaman sebagai dokter senior telah memberitahunya akan hal tersebut. Kini pra berambut putih tersebut memandang teduh ke arah Gabriel. “Gabriel, kenapa kau berkata seperti itu?” tanya dr. Hutson dengan ramah. Dalam beberapa saat, Gabriel hanya diam. Mata kosongnya menatap ke arah dokter itu dengan lama. “Kalian semua, orang -orang berbaju hitam seperti kalian, yang telah membuatku seperti ini bukan?” Mendengar ucapan anak itu, dr. Hutson sepertinya mulai mengerti. Selama ini di sekitar Gabriel hanya dipenuhi oleh staf medis yang memakai baju seragam jaket hitam ini. Oleh karena itu, anak ini pasti menyangka mereka semualah yang telah membuat kondisinya seperti sekarang. Gabriel kemudian memegangi kepalanya. Keempat orang yang berada di ruangan ini langsung waspada kalau-kalau anak ini merasa kesakitan. Tatapan kosong anak ini memandang ke arah mereka semua secara bergantian. “Setiap hari orang seperti kalian selalu datang berkeliaran di ruangan ini seenaknya saja. Kalian memberikanku suntikan, makanan, dan obat seperti hewan ternak lalu mengurungku di tempat ini seorang diri. Sebenarnya aku ini kenapa?! Apa aku ini manusia yang kalian jadikan kelinci percobaan?!” teriak Gabriel dengan frustrasi. Maria yang sedari tadi berdiri di samping jendela langsung mendekati anak itu. Dia tidak kuat mendengar apa yang diucapkan anak tersebut. Gabriel bukanlah barang percobaan. Kenapa anak sekecil ini bisa beranggapan seperti itu? Apakah selama ini perlakuan staf medis lain padanya kurang ramah? “Gabriel tolong dengarkan, kau bukanlah kelinci percobaan atau apa pun itu. Yang kami semua inginkan hanyalah kau bisa cepat sembuh. Kami memberimu semua itu agar kau bisa keluar dari sini,” jelas Maria dengan lembut. Di lain sisi, dr. Hutson hanya diam. Dia sebenarnya mengerti kenapa anak kecil ini bisa beranggapan seperti itu. Para staf medis pasti ketakutan ketika diberitahu bahwa anak ini diduga terpapar mutasi baru dari virus Ex-0. Mereka semua kemungkinan bersikap acuh dan bisa saja kasar pada anak ini. Dokter Hutson menduga jika para staf medis itu melakukan pekerjaan seperlunya saja dan yang terpenting mereka bisa cepat-cepat keluar dari ruangan ini. “Lalu kenapa? Kenapa kalian mengurungku di sini? Tidak bersama pasien lain?” Ardi yang berada di sebelah anak itu hanya bisa memandangnya dengan tatapan miris. “Hei.” Dipanggil seperti itu oleh sosok pemuda tinggi yang berada di sebelahnya, Gabriel pun langsung menoleh. Ardi menatap anak ini dengan tatapan lurus. “Apakah kau lupa jika dirimu terinfeksi virus Ex-0?” Mata Gabriel membelalak kaget. “A-apa?” “Apa kau lupa jika dirimu terinfeksi virus Ex-0 dan sedang menjalani masa isolasi agar bisa sembuh?” Tubuh anak berumur 9 tahun itu seperti menegang. Matanya membelalak lebar akibat rasa terkejut. Seperti baru ingat sesuatu, sorot mata Gabriel yang semula kosong kembali sedikit bercahaya. Dokter Hutson menyadari itu semua. Dokter senior ini mulai paham. Anak ini tak bisa mengingat apa pun. Ia lupa tentang fakta bahwa dirinya terinfeksi virus Ex-0. Jika satu per satu ingatannya kembali, maka bisa saja Gabriel akan kembali seperti semula. Kembali ke sedia kala dimana matanya dipenuhi oleh sorot cahaya yang penuh semangat. “Gabriel, kau lupa jika dirimu terinfeksi virus Ex-0?” tanya Rino pada anak itu untuk memastikan. Yang ditanyai seperti itu tampaknya masih terkejut mendengar fakta tadi. Gabriel memegang kepalanya dengan kuat. Rasa sakit ini kembali datang. Kepalanya berdenyut begitu sakit ketika ia mencoba berpikir untuk mengingat sesuatu. Mata Gabriel pun tampak menyipit dengan air mata yang sudah memenuhi bagian pelupuk. Ia sudah tak bisa lagi membendung tangisannya. “Aku ini sebenarnya kenapa? Kenapa ... kenapa ... aku tak bisa mengingat apa pun?” Tangis anak itu pecah. Ia berusaha sekuat mungkin untuk tidak mengeluarkan suara sesenggukan. “Kalian semua selalu memanggilku dengan Gabriel-Gabriel padahal aku tak tahu siapa orang yang kalian sebut itu.” Mata Gabriel memandangi mereka semua dengan tajam. Ia berusaha mencari informasi dari mereka semua. Tangan anak itu terus saja berusaha memegangi kepalanya untuk meredam rasa sakit yang ia alami. Ia memejamkan matanya kuat-kuat. “Apakah itu namaku? Aku sama sekali tak mengerti! Kenapa kepalaku selalu berdenyut sakit saat aku mencoba berpikir untuk mengingat sesuatu? Kenapa? Sebenarnya aku ini kenapa? Apa itu EX-0? Kenapa dia bisa menyerangku hah?!” Rino yang memang merupakan mahasiswa psikologi di sini hanya bisa mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa. Akan tetapi, rasa sakit yang disampaikan oleh Gabriel tadi mengena telak di hatinya. Hati pemuda itu seperti tergores. Ia tak kuat mendengar ucapan-ucapan anak itu yang dipenuhi dengan nada kesedihan dan penderitaan. Merasa frustrasi dengan keadaan seperti ini, pemuda yang memiliki tubuh agak pendek itu meminta pada Ardi untuk berganti posisi. Ardi yang melihat itu pun mengerti, ia dan Rino kini berganti posisi. Anak psikologi tersebut kini berada tepat di samping wajah Gabriel yang terus-terusan membendung tangisannya agar tak keluar. “Kau tak perlu menahan tangisanmu.” Ucapan dari Rino itu langsung memecah keheningan di ruangan ini yang semula dipenuhi dengan suara isak tangis Gabriel. “Apa?” tanya Gabriel tak paham. Ia kaget dengan ucapan yang datang tiba-tiba itu. “Di bukuku, menangis itu adalah salah satu cara terbaik untuk mengeluarkan rasa frustrasi dan kesedihan. Bahkan kalau bisa, kau harus menangis dengan suara yang begitu keras agar seluruh bebanmu hilang,” ujar Rino dengan pandangan teduh dan ramah. Baik Maria maupun Ardi yang saat itu berada di ruangan ini hanya bisa menatap ke arah Rino dengan tatapan terpana. Baru pertama kali bagi mereka melihat Rino yang seperti itu. Padahal biasanya Rino itu terlihat pemalas. Ia selalu memandang semua orang dengan sinis dan begitu sayu seperti orang mengantuk. Namun kali ini ia tampak berbeda, pemuda itu tersenyum teduh ke arah Gabriel dengan pandangannya yang ramah. “Apakah itu benar?” tanya Gabriel dengan polos. Rino pun mengangguk dengan semangat. Ia tersenyum lebar di balik masker yang ia kenakan. Ini adalah suatu kemajuan yang bagus. Gabriel mau mendengarkannya tanpa adanya hawa tertekan sama sekali. “Aku tahu jika ini semua memang membingungkan bagimu. Tapi, kami semua yang ada di sini akan membantumu untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Mulai sekarang kami akan menjadi temanmu, bukan lagi orang-orang berbaju hitam yang kemarin.” Ardi yang mendengar ucapan dari Rino tadi juga langsung tersenyum lebar. “Ya, itu benar sekali. Sekarang orang-orang berbaju hitam yang baru inilah yang akan menjadi temanmu. Kami akan selalu ada di sini.” Gabriel tampak menatap dua orang itu dengan pandangan terpukau. Apakah ia bisa percaya pada mereka? “Apa kalian janji akan membantuku?” “Tentu saja!” Suara riang dari satu-satunya sosok perempuan di ruangan ini langsung mencuri perhatian Gabriel. “Kami akan berjanji untuk selalu membantumu. Itu gunanya teman bukan?” Dokter Hutson yang sedari tadi diam pun langsung mengangguk setuju. Ia tak menyangka jika ketiga anak muda ini mampu mencuri perhatian Gabriel. “Teman ada untuk selalu membantumu, Gabriel. Sekarang, jika kau memencet bel maka yang datang bukanlah orang-orang berbaju hitam kemarin, tapi—“ “Kamilah yang akan datang!” Maria, Ardi, dan Rino langsung memotong ucapan dr. Hutson dengan ucapan yang dipenuhi rasa ceria. Sinar matahari dengan perlahan mulai memasuki ruangan ini lewat sela-sela jendela. Langit mendung yang menyelimuti Distrik Pusat pagi ini tampaknya perlahan mulai sirna. Gabriel yang masih duduk di kasurnya terlihat masih terdiam. Ia tak tahu harus bagaimana. Dan dalam hitungan waktu pun, tangis anak itu pecah. Tubuh Gabriel bergetar begitu hebat karena ia telah berhasil meluapkan emosinya. Ia menangis dengan sekuat tenaga. Teriakan tangisnya memenuhi satu ruangan. Keempat orang yang berada di ruangan ini pun tak kuasa untuk menahan senyum haru dibalik masker yang mereka kenakan. Perlahan namun pasti, keempatnya percaya jika masih ada jalan untuk membuat Gabriel Delio sembuh. Mereka percaya jika anak ini pasti akan cepat sembuh. “Terima kasih ..., terima kasih.” Hari itu Tim B telah berhasil menjalankan tugas mereka. Tim A dan C yang melihat kejadian itu dari ruang keamanan lewat kamera pengintai juga ikut tersenyum haru. Maria, Ardi, dan Rino bersama dr. Hutson telah berhasil membuka jalur penghubung antar staf medis Hetalia dengan sosok Gabriel Delio. Mereka berempat sukses mencuri hati anak ini. Meskipun begitu ini semua hanyalah awal mula, perjalanan mereka untuk menyelidiki dugaan mutasi baru ini masih panjang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN