Chapter 26 - Pengungkapan

1802 Kata
Negara Iranjia ini adalah sebuah negara yang besar. Meskipun hanya terdiri dari satu daratan utama dan terbagi dalam lima kawasan distrik saja namun, nyatanya jumlah penduduk di sini begitu banyak. Iranjia menempati urutan negara terbesar ke-7 di dunia. Sudah genap hampir 10 bulan lamanya virus Ex-0 menginvasi negara ini. Selama itulah masyarakat di seluruh negeri diperintahkan oleh pemerintah agar tak keluar dari rumahnya apabila keadaan tak darurat. Akan tetapi, semua itu telah berubah semenjak Rumah Sakit Hetalia mengumumkan kabar pembuatan vaksin yang telah mencapai 50%. Hal itu membuat warga bertanya-tanya. Kenapa pihak swasta justru lebih cepat bergerak daripada pemerintah? Dimana peran dewan parlemen, presiden, serta kementerian kesehatan untuk memerangi virus ini? Di sisi lain ada banyak juga dari masyarakat yang merasa Hetalia telah membuang-buang waktu dan anggaran yang selama ini diberikan oleh pemerintah. Mereka percaya bahwa tak mungkin negara berkembang seperti Iranjia mampu untuk membuat vaksin yang identik dengan negara-negara barat yang isinya orang jenius semua. Apalagi adanya isu korupsi di Hetalia semakin membuat warga bertanya-tanya. Kenapa pemerintah tak segera bertindak untuk menghentikan rumah sakit itu atau bahkan menutupnya saja kalau bisa? Dimana peran dewan parlemen, presiden, serta kementerian kesehatan untuk memerangi virus ini? Iranjia semakin hari semakin kacau. Warga mulai berhamburan untuk keluar dari rumahnya masing-masing. Mereka bersapa dan bertanya kepada tetangga sekitar. Mereka ingin bertindak untuk menyampaikan aspirasi dan suara mereka secara langsung pada pemerintah. Sebenarnya kenapa negara ini menjadi semakin kacau? Masyarakat pun akhirnya terbelah menjadi dua kubu, yakni kubu vaksin dan kubu anti-vaksin. Vaksin yang harusnya membawa harapan dan motivasi agar bisa terus berjuang memerangi Ex-0, justru menimbulkan kekacauan besar di negara berkembang yang satu ini. Karena sekali lagi, dunia dalam keadaan krisis akibat pandemi yang disebabkan oleh virus Exitium-zero, virus yang menyebabkan penderitanya mengalami depresi berlebihan. Jumlah pasien Ex-0 per 23 Oktober di seluruh dunia adalah 12.503.094 jiwa dengan 42% dinyatakan meninggal dunia. “Pemirsa, saat ini saya berada di depan Universitas Tenggara yang sempat diisukan telah bekerja sama dengan Rumah Sakit Hetalia untuk membuat vaksin setelah keempat mahasiswanya tampil di acara konferensi pers yang menghebohkan itu.” Seorang wanita berambut panjang dengan jas berwarna abu tua saat ini sedang berdiri di depan pintu masuk utama dari Universitas Tenggara yang menjulang begitu megah. Ia sedang meliput secara langsung ke universitas yang paling terkenal di Iranjia tersebut. Ada isu yang menyebutkan bahwa mahasiswa dari universitas ini akan unjuk rasa ke pemerintah beberapa hari lagi. Reporter tersebut datang ke sini untuk membuktikan kebenaran dari isu itu. “Saat ini saya sudah bersama dengan Nias Rosseta, salah satu anggota Badan Eksekutif Mahasiswa dari Universitas Tenggara.” Kamera yang semula menyorot ke arah reporter berambut panjang tadi kini beralih ke seorang mahasiswi cantik dengan rambutnya yang panjang dan bergelombang. Mahasiswi yang mengenakan jas almamater biru tua Universitas Tenggara itu tampak tersenyum ke arah kamera di balik masker yang ia kenakan. “Baiklah, Nias. Sebagai salah satu anggota dari Badan Eksekutif Mahasiswa, apakah benar jika seluruh mahasiswa dari Universitas Tenggara akan melaksanakan demo beberapa hari lagi?” Mahasiswi itu menggeleng, tanda tak setuju. “Kami tidak akan pernah ikut melaksanakan demo seperti aksi masyarakat-masyarakat lain dari seluruh negeri ini. Kami semua adalah mahasiswa, kami adalah orang yang berpendidikan. Oleh karena itu, kami tetap akan melaksanakan himbauan dari pemerintah untuk berdiam diri di rumah demi menghindari paparan virus Ex-0.” Sudah menjadi rahasia umum jika seluruh masyarakat di Iranjia akan melaksanakan demo secara serentak. Warga yang berasal dari latar belakang yang berbeda bersatu untuk unjuk rasa kepada pemerintah, mulai dari pengusaha, nelayan, petani, orang-orang di bidang hukum, guru, pegawai, buruh, hingga mahasiswa. Rencananya demo akbar itu akan dilaksanakan serentak di seluruh penjuru negeri dengan fokus di Distrik Pusat, dimana distrik itu merupakan lokasi vital pemerintahan negara ini. Banyak kabar simpang siur tentang kapan tanggal terjadinya demo tersebut. Akan tetapi, sebagian dari masyarakat meyakini bahwa aksi itu akan dilakukan di akhir bulan ini, lebih tepatnya tanggal 30 Oktober yang akan datang. “Jadi, mahasiswa Universitas Tenggara tidak akan ada sama sekali yang ikut dalam demo akbar itu?” tanya reporter itu sekali lagi untuk memastikan. Gadis yang bernama Nias itu mengangguk dengan penuh keyakinan. “Benar sekali. Sebagai salah satu anggota Badan Eksekutif Mahasiswa, saya menjamin hal tersebut.” Reporter itu tampak mengangguk paham dengan pernyataan dari mahasiswi ini. “Sebelum datang ke sini, saya sempat mewawancarai juga warga sekitar. Ada dari mereka yang mendukung program vaksin dari Hetalia dan ada juga dari mereka yang menolak vaksin ini. Apa pendapatmu terkait hal tersebut?” Nias yang memang sudah terlihat sebagai tipe gadis periang dan sedikit manja itu langsung tersenyum penuh arti ke arah kamera. “Sebenarnya saya itu heran dengan masyarakat Iranjia yang masih menolak vaksin ini.” Reporter tersebut memandang heran ke arah gadis yang berada di sampingnya ini. “Maksudmu?” “Kita itu punya banyak universitas ternama di negeri ini, bahkan banyak dari mereka yang telah menorehkan prestasi besar di luar negeri tapi tak pernah terliput oleh media. Dengan bukti sebanyak itu, kenapa kita harus ragu lagi dengan gagasan proyek vaksin yang sudah dibuat oleh Hetalia? Mereka itu pahlawan kita! Ketika pemerintah tak mampu untuk bertindak banyak, Hetalia dengan beraninya membuat inovasi program vaksin itu loh.” “Meskipun begitu, masyarakat masih tak percaya dengan kualitas vaksin yang dibuat oleh negeri ini. Bagaimana menurutmu?” Nias terlihat bergaya, dia seolah terlihat pusing dengan cara memijit pelipisnya. “Inilah pola pikir yang kuno yang tertanam dalam diri masyarakat kita. Apa-apa harus luar negeri, semuanya harus luar negeri. Padahal nyatanya kita itu mampu loh aslinya membuat hal seperti ini. Setelah pasar vaksin dikuasai oleh pihak luar nanti kita demo lagi. Kok negeri ini jadi dikuasai asing, begitu.” Reporter di samping Nias yang mendengar penjelasannya tadi langsung terkikik pelan. Apa yang dikatakan oleh gadis ceplas-ceplos ini memang benar adanya. Masyarakat di Iranjia itu paling mengedepankan protes daripada aksi nyata. Saat ada aksi nyata seperti sekarang, mereka justru menentang. Ada-ada saja. “Saya itu dari jurusan mikrobiologi, saya juga mengerti sedikit-sedikit tentang virus dan mekanismenya. Oleh karena itu, saya yakin ilmuwan yang bekerja dalam proyek itu pasti hebat karena mahasiswa seperti saya saja paham, lantas kenapa profesor yang menggarap vaksin itu dianggap tak becus? Mereka itu lebih hebat daripada saya. Jadi percaya saja, vaksin ini pasti akan hebat,” lanjut Nias sambil matanya terus menatap tajam ke arah kamera. Gadis itu terlihat menghelakan nafasnya lelah. Ia kembali menatap ke arah kamera yang masih menyorotinya tersebut. “Yah, kalau sampai nanti masyarakat masih tak setuju maka aku sarankan saja pada Hetalia untuk menjual vaksin buatannya ke luar negeri. Aku yakin vaksin itu akan disambut baik oleh pihak luar. Dan saat itu terjadi, kalian semua yang menentang vaksin ini pasti akan menangis dan mengemis pada Hetalia untuk memberikannya pada negeri ini.” “Pemerintah, lebih tepatnya dewan parlemen kemarin juga sudah mengeluarkan pengumuman untuk menentang program vaksin ini,” sahut reporter itu. Nias melihat ke arahnya. “Aku tidak peduli dengan parlemen. Mereka memang seperti itu. Semuanya sudah menjadi bisnis bagi mereka. Aku yakin jika di balik ini semua, ada kemungkinan politik uang terjadi di sana. Siapa tahu bukan? Bisa saja parlemen telah mengimpor vaksin dari luar negeri dengan harga mahal dan itu dijadikan alasan untuk menolak vaksin gagasan Hetalia.” Gadis ini begitu kontroversial, begitu yang dipikirkan oleh reporter wanita tersebut. Akan menjadi masalah jika ia masih bertanya terkait pemerintah pada mahasiswi yang satu ini. Ia dan pemikiran liarnya bisa saja membuat publik dan pemerintah geger soal apa yang dikatakannya tadi terkait politik uang. “Ah ya, soal isu mahasiswa tenggara yang terlibat dengan proyek vaksin ini, bagaimana menurutmu?” tanya reporter itu berusaha mengalihkan perhatian. “Oh, soal itu. Itu kan cuma isu, sampai sekarang juga tak terbukti benar. Yang aku tahu memang ada relawan dari mahasiswa tenggara yang bekerja di Hetalia saat ini. Kalau pun mereka terlibat maka aku akan sangat bangga karena mereka bisa berjasa pada negeri ini, bukan seperti masyarakat dan parlemen yang bisanya kritik saja tanpa adanya tindakan.” Reporter itu tersenyum dengan kikuk. Sekali lagi, gadis ini dengan frontalnya menghina parlemen serta masyarakat yang menentang program vaksin besutan Hetalia tersebut. “Baiklah, kalau begitu. Apakah ada hal yang ingin kau ucapkan sebagai penutup wawancara?” Gadis ini tampak berpikir. Ia kemudian mengambil ponselnya dan menunjukkan video orasi salah satu anggota dewan di Taman Adiyasa yang beberapa saat lalu gencar dibahas di mana-mana. “Kau tahu video ini bukan?” Reporter itu mengangguk, tentu saja ia tahu. “Orang berambut coklat yang menentang apa yang dikatakan oleh anggota dewan ini adalah temanku. Melihat aksinya yang menentang anggota dewan itu, maka sudah pasti bukan? Universitas Tenggara sama sekali tak setuju dengan aksi pemerintah. Universitas Tenggara akan selamanya netral. Kami mendukung vaksin ini, namun di lain sisi kami juga akan tetap mendukung pemerintah selama kebijakannya bermanfaat bagi negeri ini.” Reporter itu tersenyum. Ia mengangguk paham. Sejujurnya dia baru tahu jika pemuda itu adalah mahasiswa dari Universitas Tenggara. Kabar ini pasti akan menghebohkan publik untuk sekali lagi. Reporter wanita itu pun akhirnya berterima kasih pada Nias dan mengakhiri siarannya kali ini. Di lain sisi, Rumah Sakit Hetalia saat ini beroperasi seperti hari biasanya. Kemarin adalah hari dimana pertama kalinya Tim B bertemu dengan Gabriel Delio. Perlahan dengan pasti anak itu telah berhasil mempercayai Maria, Ardi, dan Rino yang setiap saat selalu bersamanya. Dengan rasa kepercayaan itu, kondisi Gabriel mulai mengalami sedikit peningkatan dari hari-hari sebelumnya. Selain terus berusaha agar kondisi psikis Gabriel terjaga, Tim B juga melaksanakan tugas mereka. Tim yang terdiri dari tiga orang anggota itu senantiasa melaporkan perkembangan anak tersebut pada Tim C yang bertugas meneliti dugaan mutasi baru bersama dr. Deva. Di sisi lain, tim itu juga turut serta melaporkan setiap gejala dan keluhan dari Gabriel agar segera bisa ditangani dengan obat-obatan dari Tim A. Ketiga tim yang berasal dari regu gabungan antara dokter koas dan mahasiswa tenggara itu terus bekerja sama untuk mengupayakan kesembuhan Gabriel Delio. “Hah, capek sekali,” keluh kesah Rino dengan suara berat. Pemuda dari jurusan psikologi itu bersender di dinding dengan posisi duduknya yang selonjoran di lantai ubin. Ia duduk begitu saja tanpa adanya alas karena rasa capek yang sudah tak bisa ditahan lagi. Di sisi lain, Maria yang sedari tadi mencoba untuk membuat Gabriel tertidur langsung menatap ke arah Rino. “Kau baru kembali dari lab atau bagian farmasi?” “Aku baru saja dari bagian farmasi.” Tugas ganda yang diberikan pada Tim B membuat ketiga anggota di tim itu kewalahan karena harus ke sana ke mari untuk terus melaporkan hal-hal terkait anak ini ke dua tim yang lain. Ketika Maria dan Rino saling mengobrol, pintu ruangan ini pun terbuka. Gabriel yang tertidur tampaknya tak terganggu dengan suara pintu yang dibuka tadi. Awalnya mereka mengira bahwa itu Ardi, namun kemunculan Rafa dibalik pintu yang dibuka tadi membuat keduanya mengernyit heran. Aura suram terlihat jelas menyelimuti pemuda ini. Ada apa dengan dia?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN