Chapter 27 - Mutan

1939 Kata
Rafa menatap acara televisi di ruang tunggu rumah sakit dengan mata yang membelalak lebar. Untuk sesaat, jantung pemuda itu seolah berhenti berdetak. Apa-apaan ini? Televisi yang menampilkan siaran langsung reportase berita yang tengah mewawancarai anggota Badan Eksekutif Mahasiswa dari Universitas Tenggara itu menarik seluruh atensi Rafa. Pemuda itu saat ini duduk seorang diri di ruang tunggu lantai enam rumah sakit. Ia yang niat awalnya datang ke sini untuk melihat Gabriel Delio secara langsung bersama Dika dan Alexa justru dibuat kaget akan berita itu. Kedua rekannya yang lain saat ini tengah mampir ke kafetaria yang berada di lantai lima. Ia yang memutuskan untuk naik terlebih dahulu ke lantai enam justru menemukan siaran televisi itu. Awalnya Rafa tak peduli, ia sibuk dengan ponselnya dan terus berusaha menghubungi sang rektor. Akan tetapi, suara orang yang ia kenali pada televisi yang masih menyala tersebut mau tak mau mencuri perhatiannya. Terlihat jelas di sana, sosok Nias Rosseta yang merupakan teman sejurusannya tengah diwawancarai oleh salah satu stasiun televisi. Bukan pernyataan atau pun opini darinya yang mampu membuat jantung Rafa seolah berhenti berdetak, melainkan aksinya yang memperlihatkan video tentangnya di Taman Adiyasa tempo hari. "Kenapa...?" Mata Rafa tak bisa untuk tidak bergetar karena sensasi kejut yang dialami oleh dirinya. “Kenapa Nias harus berkata seperti itu? Kenapa dia membocorkan soal aku segala di wawancara tersebut?” Rafa terus mempertanyakan alasan kenapa ia yang harus dijadikan contoh sebagai sikap Universitas Tenggara saat ini. Bukannya ia tak mau atau bagaimana, masalahnya Rafa saat itu menentang dengan jelas orasi yang dibicarakan oleh salah satu anggota dewan ternama, Roy Ayasa. Apabila publik penasaran tentang sosoknya, maka bisa jadi para jurnalis akan menemukan fakta bahwa ia adalah mahasiswa yang terlibat kerja sama dengan Hetalia. Pemuda dengan mata berwarna hijau itu mengacak rambutnya kasar. Ia tak tahu harus bagaimana karena segalanya semakin rumit. Membayangkan dirinya jadi topik bahasan utama di seluruh Iranjia saja sudah membuatnya mual sendiri jika apa yang dikhawatirkannya tadi memanglah benar. “Argh! Apa yang harus kulakukan sekarang? Semuanya seolah ingin ditangani di saat yang sama.” Rafa menggerutu. Dia menggeram kesal. Aura suram pun sontak menyelimuti pemuda itu. Satu hari telah berlalu semenjak ia berbincang dengan Adam Hillary kemarin, namun nyatanya pemuda itu masih mengalami demam sampai sekarang. Memikirkan aksi temannya yang mengungkapkan jati diri Rafa beberapa saat yang lalu langsung membuat pemuda yang satu ini begitu pusing. Akhirnya, ia pun segera beranjak dari ruang tunggu dan menuju ke kamar isolasi khusus milik Gabriel yang berada di ujung koridor tanpa ditemani oleh Alexa dan Dika. Dan akhirnya, di sinilah Rafael Zohan kini berada. Dia sudah duduk di samping Rino yang sedari tadi lesehan di atas lantai. Rafa tampaknya tidak keberatan dengan hal tersebut, ia ikut-ikut duduk di sana sambil menghela nafas berat. Pemuda dari jurusan mikrobiologi itu telah menceritakan semua hal pada Maria dan Rino. Hatinya sedikit tenang sekarang meskipun dirinya merasa begitu lelah tanpa alasan, mungkin efek dari demam. “Kau harus pakai kacamata mulai sekarang atau apa pun itu untuk menyembunyikan identitasmu. Si Nias gila juga memberikan informasi seperti itu pada reporter,” sahut Rino tanpa menoleh ke arah Rafa. Kedua matanya terpejam saat ini, ia berusaha merelaksasikan badan. Rafa diam, tak ada keinginan baginya untuk menjawab saran dari temannya yang satu ini. Ia terlalu lelah sekarang. Kepala Rafa sedari tadi seolah begitu berat. Matanya pun ikut terpejam karena suhu tubuhnya yang terasa meningkat sekarang. Maria yang masih duduk di samping ranjang tidur Gabriel tampaknya menyadari keanehan pada pemuda yang satu ini. “Kau tidak apa-apa, Rafa? Sepertinya sedang tidak enak badan.” “Santai, aku baik—“ “Hei! Apa Rafa sudah ada di sini?!” Suara keras dari Dika yang tiba-tiba muncul dibalik pintu ruangan yang tertutup ini langsung mengagetkan mereka semua. Rafa sendiri yang dipotong ucapannya itu langsung menatap heran ke arah Dika. Maria pun sontak melirik ke arah Gabriel, syukurlah anak ini masih tertidur pulas. “Aku ada di sini!” sahut pemuda berambut coklat itu sambil mengacungkan tangan. Dika pun langsung berjalan ke arah pemuda yang duduk bersama Rino di lantai tersebut. Alexa yang terakhir kali masuk langsung menutup pintu ruangan ini dan berjalan mendekati Maria. “Ini aku bawakan kue dari kafetaria untuk Gabriel.” “Terima kasih, taruh di meja itu saja, Alexa.” Gadis yang berasal dari Tim C itu pun sontak mengangguk. “Kau ini aku cari ke mana-mana tidak ada, ternyata duduk leha-leha di sini.” Dika yang baru saja datang dari ruang kafetaria untuk membelikan oleh-oleh pada Gabriel langsung mengomel ke arah Rafa. Rafa melirik ke arah dokter koas itu sekilas. Ia mengalihkan pandangannya. “Maaf, ada keperluan.” Alexa tampaknya langsung mengobrol berbagai hal pada Maria. Keduanya duduk berhadap-hadapan, tepatnya di sebelah kanan dan kiri tempat tidur Gabriel. Selain itu, Dika juga terlihat langsung duduk di sebelah Rafa dan Rino. Mereka bertiga mengobrol bersama. Kedua Tim C dan B itu berbincang tanpa adanya Ardi. Sepertinya mahasiswa kedokteran yang satu itu masih ada urusan dengan dr. Deva. Padahal ia tadi juga bertemu dengan Tim C, tapi justru dia tak ada di sini saat Tim C kemari. “Oh ya, kau sudah mengambil sampel yang diminta oleh dr. Deva tadi?” tanya Dika pada Rafa. Rafa pun menoleh malas ke arahnya karena baru saja diingatkan. “Aku lupa.” Pemuda berambut coklat itu menatap Rino yang duduk di sampingnya. “Apakah kalian sudah mengambil sampel yang kuminta kemarin? Ardi tadi tidak membawanya saat bertemu kami.” Pemuda dari jurusan psikologi itu tampak berpikir sejenak. Ia yang teringat pun langsung berdiri dan mengambil sesuatu dari almari hitam yang berada di pojok ruangan. “Ini kan?” Rino memperlihatkan sebuah tabung kaca kecil. Rafa yang melihat itu langsung mengangguk. “Terima kasih, ya,” ujar Rafa sembari menerima barang itu dari Rino. Dika yang melihat itu langsung mengajak Rafa untuk kembali turun ke laboratorium rumah sakit ini. Alexa yang melihat kedua temannya ingin turun pun, langsung beranjak dari duduknya. Ia mengakhiri obrolannya dengan Maria dan berjalan menghampiri mereka berdua. “Tunggu, kalian tak ingin berbincang dengan anak ini?” tanya Maria dari kursi duduknya. Dika melirik ke arah rekan koasnya itu. Ia yang sudah berdiri bersama Rafa dan Alexa pun saling berpandangan, sepertinya mereka bertiga harus segera pergi dari sini. “Dia masih tidur. Lain kali saja.” Alexa mengangguk setuju. “Kami kira dia bangun, eh rupanya sedang tidur. Jadi apa boleh buat? Kami harus pergi sekarang.” “Ya sudah kalau begitu. Lain kali ke sinilah lagi,” ucap Rino. Pemuda yang satu itu menoleh ke arah Rafa yang sudah membuka pintu ruangan untuk keluar. “Kau harus ke sini lagi, Rafa. Entah kenapa aku mengira jika dirimu dan anak itu akan cocok.” Rafa tak membalas. Ia melambaikan tangannya ke atas sebagai tanda perpisahan. Alexa dan Dika pun langsung berjalan mengikuti pemuda bermata hijau itu. Pekerjaan yang menanti Tim C sudah di depan mata. Mereka saat ini tengah mempersiapkan penelitian untuk meneliti sampel darah milik Gabriel Delio dan pasien pengidap Ex-0 di rumah sakit ini. Sebelum datang ke ruangan Gabriel tadi, ketiga orang yang mengenakan jaket hitam sebagai alat perlindungan diri itu telah mengambil sampel dari setiap pasien yang terkonfirmasi Ex-0 di rumah sakit ini. Mereka menggunakan sampel itu untuk meneliti apakah adanya mutasi dari Ex-0 pada pasien lain. Mutasi adalah perubahan materi genetik dalam porsi kecil dan merupakan fenomena alamiah dalam siklus hidup suatu organisme, terutama mikroorganisme. Ketika menginfeksi manusia, suatu virus menempel pada sel, memasukinya, dan menggandakan RNA untuk menyebar ke seluruh tubuh si manusia. Akan tetapi, dalam penggandaan RNA ini bisa terjadi kesalahan sehingga RNA baru yang terbentuk berubah dari aslinya. Itulah proses mutasi terjadi. Mutasi ini terjadi secara acak dan tidak disengaja. Salah satu faktor mutasi adalah perbedaan geografis. Varian virus di suatu negara bisa jadi berbeda dengan varian virus yang sama di negara lain. Meskipun begitu, varian Zetta ini bukan pertama kalinya ada di dunia. Salah satu negara tropis di Afrika adalah tempat pertama kalinya mutasi Zetta dari Ex-0 dikonfirmasi. Ada kemungkinan Gabriel tertular virus dari sana. Karena sudah ada kasus yang sama di luar negeri, maka penelitian kali ini tergolong lebih mudah. Tim C bersama dr. Deva dan ilmuwan di Hetalia tinggal mencocokkan sampel pasien yang ada di sini dengan sampel orang yang terkonfirmasi mutasi Zetta di sana. Sistem imun manusia menggunakan sejumlah taktik untuk melawan virus Ex-0. Virus akan berusaha menghindari perlawanan sistem imun, menggandakan diri, dan menyebar ke manusia-manusia lain. Hal itu adalah sebab kenapa Ex-0 bisa bermutasi. Para peneliti mendeteksi varian baru Ex-0 dengan teknik mengurutkan genome virus (genetic sequencing) dari sampel pasien. Teknik ini membutuhkan waktu yang lama di laboratorium dengan standar khusus. Pasien yang terpapar Ex-0 sendiri tidak bisa langsung mengetahui varian virus apa yang menginfeksi berdasarkan gejala yang dialami. Dika dan Alexa saat ini sedikit-sedikit mulai mengerti tentang cara kerja virus sejak kemarin melakukan penelitian bersama dengan Rafa. Dalam waktu sehari itu, Rafa mengajarkan banyak hal dasar pada keduanya. Mereka berdua kini tahu bahwa mutasi virus berpengaruh terhadap penyusunan RNA. Jika RNA itu berubah maka antibodi dalam tubuh akan susah mengenali virus itu lagi, sehingga pasien yang sudah terpapar Ex-0 bisa lagi terkena penyakit itu dari mutasi virus yang baru. “Jika virus ini terus-terusan bermutasi, bukankah vaksin yang kita buat nanti sia-sia?” celetuk Dika saat ketiganya sudah berada di lab. Laboratorium Hetalia yang memiliki ruangan yang begitu luas ini sekarang hanya terdapat Dika, Alexa, Rafa, serta dr. Deva yang duduk terpencar. Jam yang sudah menunjukkan pukul 12 siang membuat para ilmuwan lain tengah istirahat di luar sekarang. Keempat orang itu lebih memilih bersantai di tempat ini daripada harus keluar lagi. “Selama mutasi itu tidak mengubah utas RNA yang akan dikenali oleh antibodi kita, maka itu tidak berpengaruh. Mutasi apa pun dan di mana pun, akan tetap bisa dikenali dan dicegah oleh vaksin untuk bereplikasi dalam tubuh kita," jelas Rafa yang tampaknya sedang sibuk dengan mikroskop di depannya. Dokter Deva yang sedang duduk santai di kursi yang terdapat di pojok ruangan pun tampak mengangguk. “Lagi pula, vaksin Hektovac itu kan baru 50%. Jadi, kita bisa menyerahkan laporan terkait penelitian ini pada bagian lab untuk memperbarui formula dari vaksin agar bisa menuntaskan mutasi Zetta juga.” Beberapa studi klinis membuktikan adanya sedikit penurunan efisiensi pada sebagian produk vaksin terhadap virus varian baru, dengan kata lain membutuhkan lebih banyak antibodi untuk menetralkan varian baru tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia mengisyaratkan, selama efisiensi masih di atas 50%, apa pun jenis dan platform vaksin yang saat ini sudah dikembangkan dan digunakan, dapat tetap digunakan. Tentunya pengamatan terhadap mutasi yang terjadi harus terus menerus dilakukan untuk menentukan perlunya penyesuaian jenis vaksin. Oleh karena itulah, penelitian yang dilakukan di lab Hetalia kali ini akan berpengaruh pada proyek vaksin Hektovac yang dikembangkan di laboratorium bawah tanah milik Universitas Tenggara. Deteksi mutasi dan varian yang dilakukan di lab ini menggunakan metode pemetaan genomik (Whole Genome Sequensing) untuk mengetahui lokasi dan jenis mutasi. Rafa menghela nafas panjang. “Kita sedang berada pada fase pertengahan yang menarik dan sulit diprediksi, tidak ada yang tahu akan seperti apa jadinya satu tahun dari sekarang.” Ketiga orang yang mendengar penurutan Rafa itu tampak terdiam. Mereka hanya bisa menatap hampa ke arah lantai saat ini. Lagi pula, tidak ada yang mengira bahwa virus gila penyebab orang bunuh diri secara serentak ini akan datang. Semua hal berubah secara drastis. “Ngomong-ngomong, bukankah Ardi tadi masih ada di lab ini? Ke mana dia sekarang, Dokter?” tanya Alexa yang sedari tadi diam membisu. Gadis itu tampak sibuk merapikan rak. Mata hitam dr. Deva yang ditanyai seperti itu oleh Alexa tampak melihat ke kanan dan ke kiri. Ia tampak berpikir, seolah mengingat ke mana perginya Ardi tadi. “Oh itu. Dia dipanggil dr. Edgar.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN