Ardi menatap sekeliling. Kini ia berada di lantai tujuh Rumah Sakit Hetalia. Saat ia tengah mengobrol bersama dr. Deva di lab tadi, tiba-tiba ada staf medis yang memanggilnya untuk menemui dr. Edgar yang berada di salah satu kamar inap lantai ini.
Perlu diketahui bahwa Rumah Sakit Hetalia memiliki tujuh lantai utama yang digunakan untuk keperluan operasional. Lantai tujuh dan enam biasanya digunakan untuk perawatan pasien dengan status khusus atau darurat.
Ardi yang kini berada di lantai tujuh sebenarnya juga penasaran. Kenapa dirinya dipanggil ke sini padahal tempat ini adalah tempat khusus di mana bukan sembarangan orang yang bisa masuk. Lagi pula, kalau ada hal yang ingin dibahas oleh dr. Edgar maka seharusnya ia memanggil Rafa yang merupakan ketua tim dari mahasiswa tenggara bukan?
Setelah lama mondar-mandir ke sana ke mari, akhirnya pemuda yang dicap berandal dari jurusan kedokteran itu menemukan jawaban kenapa ia dipanggil ke sini. Seorang pria berambut panjang dan hitam dengan kupluk yang berwarna senada tampak keluar dari suatu ruangan. Ardi yang melihat sosok itu langsung melebarkan matanya.
“Ayah?! Apa yang kau lakukan di sini?” pekiknya. Ia terkejut bukan main.
Pria gondrong berambut hitam itu pun langsung menoleh ke arah Ardi. Di sampingnya ada sosok dr. Edgar bersama Adam Hillary dan seorang petugas polisi. Ya, pria berambut panjang tadi ialah Darius Hitman, salah satu orang yang memiliki aset terbanyak di negara ini sekaligus ayah dari seorang Ardius Leon.
“Oh, kau.” Darius terlihat tersenyum. “Apa kabarmu, Brother? Sehat?”
Wajah Ardi sedikit memerah. Ia menahan malunya sekarang. Ayahnya memang selalu bersikap aneh seperti ini, tapi yang benar saja? Apa perlu ia memanggilnya seperti itu di depan Ketua Sepkai Farmasi, Wakil Direktur Hetalia, beserta petugas polisi? Pemuda itu pun langsung berjalan mendekat ke arah ayahnya.
“Apa yang kau lakukan di sini?”
Pria itu menyunggingkan seringai dibalik masker yang ia pakai. “Apa? Aku hanya jalan-jalan biasa.”
Alis Ardi pun mengernyit heran. “Oh ya? Di lantai tujuh Rumah Sakit Hetalia? Kurang kerjaan sekali kau sampai berkeliaran dan cari penyakit di sini.”
Melihat pertengkaran ayah dan anak di depan matanya tersebut membuat dr. Edgar hanya bisa tersenyum karena perasaan canggung yang ia alami sekarang. Dokter senior itu pun menoleh ke arah Ardius Leon yang sibuk mencaci maki ayahnya.
“Kau Ardi, bukan? Putra dari Tuan Darius Hitman?”
Ardi yang dipanggil pun sontak menatap kaget ke arah dr. Edgar. Astaga, dia sudah bertindak memalukan di depan dokter senior ini. “A-ah, itu benar. Saya adalah Ardius Leon. Kenapa Dokter Edgar memanggil saya?”
“Oh itu, ada hal yang ingin Tuan Darius Hitman tanyakan padamu,” sahut dr. Edgar sembari melirik ke arah pria berkupluk tersebut.
Mata hitam Ardi sontak melirik ke arah ayahnya. Ada apa ini sebenarnya? Seperti ada yang tak beres saja. Lagi pula, apa motif sebenarnya sang ayah datang ke sini?
“Ardi,” panggil Hitman kepada putra semata wayangnya tersebut. Ardi pun langsung menatap sang ayah. “Apa kau dan ketiga temanmu yang lain dari Universitas Tenggara akan ikut melakukan demo tanggal 30 nanti?”
Mata Ardi membelalak. Tunggu, otaknya tak bisa memproses pertanyaan ayahnya untuk sejenak. Ia tak paham. Kenapa sang ayah menanyainya seperti tadi? Apakah memang ada sesuatu?
“Apa maksudmu? Sudah jelas jika aku tak akan ikut, bukan? Aku dan teman-temanku sibuk sekali di sini.”
Tidak ada yang menyahut setelah Ardi berkata demikian. Keempat pria dewasa yang berada dihadapan Ardi saat ini saling pandang. Mereka seolah mengucapkan bahasa isyarat yang tak dimengerti olehnya. Pemuda dari jurusan kedokteran itu pun semakin dibuat curiga oleh gerak-gerik mereka. Seperti ada yang tak beres saja.
“Kenapa? Kenapa kalian bertanya hal itu padaku?”
Darius Hitman tampak menggelengkan kepala, tanda ia sedang meyakinkan Ardi bahwa pertanyaan tadi bukanlah hal penting. "Bukan apa-apa. Kami hanya ingin memastikan bahwa Hetalia tak terlibat dalam skandal demo ini. Karena bagaimana pun juga, penyelidikan Komisi Pemberantas Korupsi akan diumumkan tanggal 29, lebih tepatnya sehari sebelum demo itu berjalan.”
“Jadi, akan lebih baik jika demo ini bisa dicegah sehari sebelum hal itu terjadi. Kelangsungan proyek vaksin Hektovac ini akan ditentukan saat tanggal 29 itu,” sahut petugas polisi yang berdiri di samping Ayah Ardi. Di seragamnya, terdapat tanda nama Zainudin Keil.
Itu alasan yang cukup masuk akal, begitulah yang dipikirkan oleh Ardi. Ia terlihat berpikir suatu hal sebelum membalas ucapan mereka. “Tunggu, apakah kalian tidak melawan balik?”
“Oh ya, tentu saja kami akan melawan,” jawab Adam Hillary dengan senyum lebar di wajahnya. Pria itu melirik ke arah pintu di belakangnya. “Karena kita punya saksi hebat yang akan membuat parlemen mati kutu.”
Tatapan Ardi kini mengikuti arah pandang dari Ketua Sepkai Farmasi tersebut. Siapa sebenarnya orang yang dirawat di ruangan ini? Sepertinya orang penting sekali sampai dijenguk oleh mereka berempat. Pemuda yang satu ini jadi begitu penasaran.
Adam pun berjalan mendekat ke arah Ardi. “Lagi pula ya, ketua timmu itu sangat keren. “
Ketua tim? Siapa yang Adam maksud? Apakah maksudnya ketua tim dari mahasiswa tenggara yang tak lain ialah Rafael Zohan?
Adam masih menorehkan senyum lebar di balik masker yang ia kenakan sekarang. “Dia sudah menjadi jalan pembuka perang antara Hetalia dan Dewan Parlemen Iranjia. Kalau saja anak itu tak buka suara saat orasi Roy Ayasa di Taman Adiyasa kemarin, maka sampai sekarang kita tak akan tahu siapa sosok sebenarnya dari si tikus itu dan seberapa busuk orangnya.”
“T-tunggu, kau tahu jika itu adalah Rafa?” tanya Ardi dengan gugup.
Bagaimana pun juga, saat malam dari kejadian itu Rafa pernah bilang kalau dia tak ingin ada orang lain yang tahu jika orang yang memicu demo tempo hari di Taman Adiyasa adalah dirinya. Lantas, bagaimana mungkin sekarang Adam Hillary tahu bahwa pemicu unjuk rasa itu adalah Rafa? Apakah ada orang lain yang memberitahunya?
“Kau ini ketinggalan sekali.”
Ardi langsung memandang ke arah ayahnya yang mengejeknya demikian. “Apa maksudmu? Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Yah, kau bisa lihat nanti di surat kabar atau televisi. Yang pasti saat ini kami berempat sudah meminta keterangan darimu bahwa kalian tak akan ikut demo tanggal 30 nanti,” sahut dr. Edgar sembari memperhatikan jam di pergelangan tangannya.
Dokter senior itu pun langsung melihat sekeliling. Ia mengabaikan wajah Ardi yang masih menampilkan ekspresi kaget yang bercampur rasa bingung.
“Karena sudah waktunya, ayo kita ke ruanganku saja. Di sana sudah ada Liliana yang menunggu kita. Ia baru saja kembali setelah menemui temannya yang merupakan anggota dewan parlemen. Pasti sudah ada banyak info yang bisa kita dapatkan,” lanjut dr. Edgar.
Darius Hitman hanya bisa melirik ke arah anaknya yang masih kebingungan. Ia berusaha menahan tawa. “Ya sudah, kami pergi dulu, Ardi. Selamat bekerja ya?”
Ardius Leon yang baru saja tersadar dari lamunannya pun langsung memandang kaget ke arah empat orang yang mulai beranjak pergi dari tempat ini. Mulutnya terbuka tertutup karena bingung ingin berkata seperti apa. Pada akhirnya, ia hanya bisa diam mematung tanpa mengucap sepatah kata pun. Mata hitamnya menatap kesal ke arah empat orang yang sudah hilang di ujung koridor sana. Sebenarnya apa yang terjadi?
Hari demi hari pun akhirnya terlewati. Tak terasa sudah enam hari lamanya mereka mengerjakan penelitian terkait dugaan mutasi baru pada diri Gabriel Delio. Tim B masih sibuk bermain bersama anak itu. Di sisi lain Tim A juga sibuk-sibuknya membantu bagian farmasi untuk meracik obat yang sesuai dengan keluhan anak tersebut. Ketika dua tim itu terus bekerja keras, Tim C saat ini sepertinya mulai sedikit bisa bernafas lega.
Bagaimana pun juga, tim yang beranggotakan Alexa, Dika, dan Rafa itu dibantu oleh banyak profesor ternama di Hetalia. Oleh karena itu, tugas mereka berjalan begitu cepat. Kemungkinan besok hasil penelitian ini akan bisa diproses. Pada umumnya, metode identifikasi mutasi virus Ex-0 terdiri dari empat tahap.
Pertama, pemotongan DNA pada bagian molekuler DNA virus menjadi bagian lebih kecil agar mesin pengurut DNA dapat membacanya. Selanjutnya ialah proses pengodean DNA yang memberikan kode untuk mempermudah proses identifikasi.
Kemudian Tim C dan peneliti lainnya melakukan proses whole genome sequencing, yakni memasukkan DNA beberapa sampel virus ke dalam sebuah alat bernama whole genome squencer untuk melacak barcode agar terdeteksi asal kepemilikan DNA.
Setelah hal itu selesai, mereka tinggal melakukan analisis data dengan membandingkan urutan DNA virus dan mengidentifikasi perbedaannya. Proses inilah yang memberikan informasi bagaimana tingkat kedekatan dan kekuatan jenis virus tertentu untuk menimbulkan gejala yang sama pada manusia dan mengetahui mutasi jenis apa yang dialami oleh Gabriel Delio.
Ex-0 ini bisa menimbulkan komplikasi karena faktor stres yang berlebih. Masih tidak diketahui dari mana zat patogen pembawa virus ini berasal. Organisasi kesehatan dunia menetapkan status virus ini berbahaya karena dapat mematikan, namun bisa disembuhkan dengan terapi dan obat-obatan.
Karena sekali lagi, dunia dalam keadaan krisis akibat pandemi yang disebabkan oleh virus Exitium-zero, virus yang menyebabkan penderitanya mengalami depresi berlebihan.
Jumlah pasien Ex-0 per 29 Oktober di seluruh dunia adalah 13.801.130 jiwa dengan 50% dinyatakan meninggal dunia.
Hari ini adalah hari yang ditunggu. Tanggal 29 Oktober. Sebuah tanggal keramat yang akan menentukan bagaimana proyek vaksin Hektovac ini nantinya berjalan. Pukul 10 siang nanti, Komisi Pemberantas Korupsi akan mengumumkan hasil penyidikannya terkait dugaan korupsi di Rumah Sakit Hetalia.
Para petinggi di Hetalia sudah tahu bagaimana hasil dari penyidikan itu nantinya. Mereka yang sudah berkumpul di ruang direktur dari rumah sakit ini pun tampaknya sudah siap untuk bergerak. Jam di dinding yang menunjukkan pukul 9 langsung membuat lima orang yang berkumpul di sini langsung berdiri dari kursi mereka. Ini adalah saatnya mereka untuk maju dan melakukan aksi perlawanan. Kelimanya akan datang di acara konferensi pers yang diadakan di kantor dewan parlemen.
Liliana tersenyum. “Ayo kita tuntaskan masalah ini sekarang!”
Bagaimana pun juga, ini adalah perang. Dalam perang, hanya ada satu pemenang dan satu pihak yang kalah. Dan hari ini, Hetalia beserta Sepkai Farmasi akan membuktikan bahwa mereka di pihak yang benar. Mereka akan menunjukkan apa itu kekalahan nyata pada Dewan Parlemen.