Chapter 29 - Perang

1158 Kata
Orang bilang pertempuran bak hidup dan mati. Mereka akan terus memperjuangkan hak-haknya dan selalu merasa bahwa pihak yang dibelanya selalu di sisi kebenaran. Menang atau kalah adalah harga mati. Mereka akan menang apa pun caranya. Dalam kasus ini, baik dewan parlemen maupun Hetalia menginginkan kemenangan. Bagaikan sangkakala perang yang mulai ditiup, dua pihak itu tengah mempersiapkan strategi masing-masing agar pihak lawan bisa dihancurkan sampai tak tersisa. Dan di sinilah, rakyat Iranjia tengah melihat peperangan tak kasat mata itu. Hari ini adalah sebuah momentum di mana keputusan akan proyek vaksin itu ditentukan. Di kantor dewan parlemen, lebih tepatnya di ruang konferensi pers sekarang, tengah dilakukannya pembacaan hasil penyelidikan Komisi Pemberantas Korupsi atas dugaan tindak penyalahgunaan uang yang telah dianggarkan pemerintah untuk Rumah Sakit Hetalia. Hetalia dituduh telah mengorupsi uang itu untuk proyek vaksin yang mereka buat saat ini tanpa izin dari pemerintah. “Atas bukti-bukti tersebut, saya ingin menyampaikan bahwa Rumah Sakit Hetalia telah terbukti melakukan penyelewengan dana anggaran dari pemerintah Iranjia untuk penanganan kasus Ex-0 di negara ini. Di sini tertera jelas bahwasanya ada aliran uang keluar sebesar 800 juta.” Lampu-lampu lensa dari kamera langsung menghujani pria yang tengah duduk di tengah-tengah meja konferensi pers tersebut. Ia adalah Rei, ketua dari Komisi Pemberantas Korupsi yang menangani secara langsung kasus korupsi Hetalia kali ini. Masyarakat yang melihat siaran itu dari televisi sebenarnya juga dibuat bertanya-tanya, kenapa sampai harus ketua komisi yang menyampaikan hal ini? Ke mana juru bicara dari komisi tersebut? Apakah memang proyek vaksin ini begitu krusial sampai sang ketua yang harus menyampaikan secara langsung? Seluruh masyarakat yang berada di penjuru negeri Iranjia saat ini terfokus pada siaran pers yang diselenggarakan oleh Dewan Parlemen Iranjia tersebut. Seluruh stasiun TV di negeri ini pun kompak untuk menyiarkan berita tersebut sehingga mau tak mau masyarakat dipaksa untuk melihat konferensi pers ini secara tak langsung. Saat ini, Rafa dan Alexa yang tengah duduk di kafetaria rumah sakit ini hanya bisa memandang tak percaya ke arah televisi yang berada di tempat ini. Mereka tengah memakai baju biasa, bukan seragam jaket hitam khusus yang merupakan milik regu penanganan EX-0. Keduanya melihat kabar itu dengan mata yang membelalak kaget. “Apakah kita akan membiarkan ini semua terjadi?” celetuk Rafa begitu ketua dari Komisi Pemberantas Korupsi mengumumkan hal tadi. Seluruh orang yang berada di kafetaria kali ini langsung dibuat bingung. Mereka langsung protes dan tidak terima akan pernyataan komisi itu. Di sisi lain, Rafa tahu bahwa uang 800 juta itu mungkin saja mengalir pada Universitas Tenggara. "Mereka benar-benar keterlaluan," balas Alexa dengan emosi yang tertahan. Gadis itu memandang layar kaca televisi dengan alis yang terpaut tajam. Rafa kemudian memandang Alexa dengan tatapan serius. Ia mencoba bertanya pada gadis yang siapa tahu mengerti akan suatu hal ini. "Tapi, uang delapan ratus juta itu untuk apa?" Alexa yang semula memfokuskan diri pada layar kaca pun kemudian menatap Rafa dengan tatapan tak kalah serius. Ia menengok ke kanan dan ke kiri, berusaha memastikan kalau tak ada orang lain yang bisa mendengar apa yang ingin dikatakannya pada Rafa kali ini. "Aku juga tidak mengerti. Akan tetapi, aku pernah dengar rumor harga lab yang disewa itu 800 juta," bisik Alexa yang membuat detak jantung Rafa seakan berhenti berdetak. Jadi begitu ya? Uang korupsi itu sudah menjadi rumor di sini? "Tapi, ada satu hal yang kau perlu tahu, Rafa." Ucapan Alexa yang tegas itu menarik perhatian pemuda ini kembali. "Seberapa mahal pun sewa lab itu, Hetalia tidak pernah menyewanya menggunakan uang negara. Seluruh aset Hetalia dipakai untuk hal itu dan ini semua adalah tuduhan palsu dari Dewan Parlemen!" Rafa yang semula memandang penuh keterkejutan ke arah Alexa pun kemudian mengangguk setuju. Apa yang dikatakan oleh dokter koas gadis ini memang benar. Hetalia sama sekali tak mungkin untuk melakukan aksi korupsi itu. Ini semua hanyalah taktik pemerintahan dewan parlemen yang menginginkan Vaksin Hektovac tak ingin dibuat. "Kau benar, Alexa. Tak diragukan lagi kalau semua ini adalah ulah para pedebah itu!" ujar Rafa sembari menatap tajam ke arah layar televisi. Suasana di kantin ini memanas. Pasalnya seluruh orang yang berada di sini ialah pendukung Rumah Sakit Hetalia. Mereka yakin dengan pasti kalau rumah sakit ini tak mungkin melakukan hal menjijikkan seperti itu. Alexa kemudian ikut menoleh ke arah televisi juga. Ia mengangguk dengan penuh keyakinan. "Ya, ini semua hanyalah trik para b*****h berdasi di parlemen itu!" "Hei, hei, hei." Suara seorang laki-laki yang begitu familiar di telinga Rafa maupun Alexa itu pun langsung membuat perhatian mereka tersita ke sumber suara. Tak jauh dari mereka berdua, seorang laki-laki tinggi yang mengenakan seragam dokter koas kini berjalan mendekati dua muda-mudi tersebut. "Dika?" tanya Rafa dengan alis mengernyit. Pemuda yang menjadi anggota dari Tim C ini tiba-tiba datang dan mendudukkan diri di samping Rafa dan Alexa. Alexa dan Dika yang melihatnya hanya bisa mengernyit heran. "Kenapa kalian memandang televisi yang tak bersalah itu seolah ingin membunuhnya?" tanya Dika dengan santai. Dokter koas yang satu ini tampak membaca-baca lembar menu. "Apa maksudmu?" Alexa langsung bertanya pada Dika dengan nada tinggi. "Tentu saja kami tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Komisi Pemberantas Korupsi bersama Dewan Parlemen itu tentang Hetalia!" Rafa yang mendengar hal tadi pun mengangguk setuju. Di sisi lain, Dika hanya bisa tersenyum miring di balik masker yang ia kenakan. Ia kemudian menatap ke arah Dika dan Alexa secara bergantian dengan pandangan penuh arti. "Tunggu saja. Sebentar lagi, aku sangat yakin kalau akan terjadi momen menakjubkan di sana." Untuk sesaat, tempat konferensi pers yang disiarkan secara langsung di seluruh stasiun televisi Iranjia itu hanya dipenuhi dengan suara jepretan dari puluhan kamera milik para jurnalis yang berada di sini. Orang-rang penting yang berada di meja konferensi pers tampak terdiam untuk beberapa saat. Di sana telah duduk tiga orang yang akan mengumumkan beberapa hal penting kepada seluruh media. Selain ketua dari Komisi Pemberantas Korupsi, di sana juga duduk Roy Ayasa beserta Ketua Parlemen. “Dewan Parlemen juga memutuskan bahwa mulai saat ini, proyek pembuatan vaksin Hektovac yang digagas oleh Rumah Sakit Hetalia akan dilarang. Hetalia dan seluruh jajaran tim yang telah bekerja sama dengannya akan dibubarkan. Kita hanya tinggal menunggu keputusan dari presiden,” sahut sang ketua Dewan Parlemen yang memiliki jenggot berwarna putih itu. Roy Ayasa yang duduk di sebelah kiri ketua Komisi Pemberantas Korupsi itu juga ikut mengangguk. “Seperti yang saya bahas saat orasi di Taman Adiyasa kemarin, proyek vaksin ini adalah sebuah kesalahan. Selain termasuk sebagai kegiatan ilegal karena dibuat secara diam-diam, Hetalia sepertinya akan menipu masyarakat dengan kualitas vaksin yang diragu—” “Apakah benar begitu, Tuan Roy Ayasa?” Suara dari seorang wanita yang berdiri di balik puluhan jurnalis yang saat ini tak henti-hentinya menyorot ke arah meja konferensi pers tadi langsung jadi pusat perhatian. Di sana terlihat Liliana dan beberapa orang penting Hetalia yang sudah mengenakan jas jaket hitam milik regu penanganan Ex-0. Bukan hal itu saja yang membuat mereka semua terkejut, di belakang Liliana saat ini juga berdiri beberapa jajaran polisi. Apa yang telah terjadi? Mungkinkah pihak Hetalia melakukan p*********n di acara konferensi pers milik Dewan Parlemen?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN