Chapter 30 - Tuntutan

2877 Kata
Beberapa hari sebelum konferensi pers di kantor Dewan Parlemen dilaksanakan, direktur dari Rumah Sakit Hetalia, Liliana Seran terus berjaga. Wanita itu hanya tidur tiga jam dalam sehari. Ia terus-terusan mendapatkan panggilan dari media, jurnalis, anggota kepolisian, hingga Komisi Pemberantas Korupsi. Bagaikan teror yang mengusik hidupnya, wanita anggun itu tak bisa berbuat banyak. Ia telah menyerahkan segala hal terkait urusan rumah sakit dan penyidikan mengenai kasus yang menjerat instansinya pada dr. Edgar selaku wakil direktur dari Hetalia. Liliana sendiri tak pernah tampil di rumah sakit karena ia ditahan dalam dua hari terakhir untuk dimintai keterangan oleh Komisi Pemberantas Korupsi. Sosoknya yang sempat menghiasi layar kaca karena keputusan Hetalia untuk mengembangkan proyek vaksin seakan lenyap ditelan selama beberapa hari terakhir. Sejak saat itu, Liliana Seran tak pernah terlihat di media mana pun. Namun, kini wanita anggun berambut panjang dengan gaya bergelombang itu berdiri tegap di belakang puluhan wartawan yang menyorot ke arah meja konferensi pers dewan parlemen. Matanya melayangkan tatapan intimidasi. Ia melihat ke arah tiga orang yang duduk di meja konferensi pers itu dengan pandangan tajam. Pihak Hetalia pun langsung dihadang oleh para wartawan yang ingin meminta kejelasan. Seragam jaket hitam dengan aksen warna biru neon yang khas milik Hetalia itu menjadi kebanggaan sendiri bagi Liliana dan petinggi Hetalia lain yang berada di sini. Jas berbentuk mantel yang panjang hingga menyentuh lutut kaki itu berkibar mengikuti langkah kaki mereka yang berjalan mendekati meja konferensi pers. “Nyonya Liliana Seran, apa yang Anda lakukan di sini bersama dengan pasukanmu?” tanya Rey, sang Ketua Komisi Pemberantas Korupsi dengan suara rendah akibat menahan emosi. Liliana kini menatap tiga orang pria yang duduk di meja pers itu dengan tenang. “Aku di sini untuk menyuarakan keadilan dan kebenaran kepada seluruh masyarakat yang berada di Iranjia.” Roy Ayasa mendesis. Ia memangkukan wajah di tangan kirinya. Seringai khas milik pria berumur yang satu ini tak bisa untuk disembunyikan. Betapa menariknya badut-badut Hetalia ini. Apakah mereka tidak tahu dengan siapa mereka berhadapan? Sepertinya terlalu lama menghabiskan hidup dengan orang sekarat dan mati di rumah sakit membuat petugas -petugas kesehatan ini ingin menggali kuburnya sendiri. Roy berdehem sejenak, ia berusaha menahan tawa. Pria itu berdiri dari posisi duduknya. “Para wartawan dan seluruh masyarakat di Iranjia!” Tangan Roy terbentang, seakan ingin menarik seluruh atensi masyarakat di negeri ini untuk terfokus padanya. Kamera wartawan pun langsung menyorot anggota parlemen yang menjadi pusat perhatian masyarakat dalam dua minggu terakhir ini. Liliana dan Edgar saat ini saling melirik. Apa lagi yang ingin dilakukan oleh orang ini? “Dengarkan saya baik-baik!” panggil Roy sekali lagi. Ia menunjuk ke arah pasukan Hetalia dan jajaran polisi. “Lihatlah badut-badut yang lucu ini! Mereka dengan terang-terangan mendeklarasikan perang pada pemerintahan Iranjia dan datang secara tiba-tiba dalam konferensi pers parlemen tanpa diundang!” Kamera saat ini menyorot ke arah empat orang dari Hetalia yang tak lain dan bukan ialah Liliana, Edgar, Intanius, berserta Deva yang hanya menatap datar ke arah kamera yang terus menyoroti wajah keempatnya. Jajaran polisi yang berada di belakang empat orang penting Hetalia ini pun tampaknya juga bergeming. Mereka tetap berdiri tegap di posisinya masing-masing. Bagikan waktu yang terhenti, saat ini masyarakat menjeda aktivitas yang mereka lakukan. Acara konferensi pers yang diselenggarakan secara langsung oleh seluruh stasiun televisi di Iranjia ini langsung menjadi pusat perhatian utama bagi semua orang. Demo akbar yang direncanakan besok hari, tepatnya tanggal 30 Oktober, akan ditentukan dengan keputusan acara konferensi tersebut. Akan tetapi, yang terjadi saat ini tengah menjadi tanda tanya besar bagi seluruh warga. Mereka terkejut dengan kedatangan Hetalia yang tiba-tiba. Apa yang sebenarnya terjadi? Kebenaran apa yang ingin diungkap oleh Hetalia? “Nyonya Liliana Seran dan seluruh petinggi dari Hetalia yang sudah menyempatkan waktu untuk datang ke sini, aku ucapkan terima kasih.” Ucapan tiba-tiba dari ketua dewan parlemen yang sudah berusia lanjut itu langsung jadi pusat perhatian dari semua orang. Pria dengan jenggot berwarna putih itu tetap bergeming di kursinya. Ia bahkan menutup mata, menanggapi kedatangan pihak Hetalia ke tempat ini dengan tenang namun penuh akan syarat hinaan. “Apa yang ingin kalian tunjukkan? Kebenaran dan keadilan macam apa? Aku rasa urusan kita sudah selesai saat interogasi dua hari kemarin, Nyonya Liliana. Apa lagi yang ingin Anda ucapkan sebagai pembelaan?” tanya Rei dengan muak. Liliana pun menatap pria yang menjabat sebagai Ketua Komisi Pemberantas Korupsi itu dengan datar. Wanita anggun ini berbalik dan kini memandang ke seluruh awak media. “Aku rasa tindakanku selama beberapa hari terakhir ini menyulitkan kalian. Aku sangat sibuk sampai-sampai tidak bisa ditemui di mana pun. Bukannya aku tidak ingin dimintai informasi atau yang semacamnya, aku ingin kalian semua tak salah paham. Nyatanya, Hetalia tetap terbuka pada seluruh media untuk membagikan informasi,” jelas Direktur Hetalia tersebut pada seluruh awak jurnalis yang berada di sini. Bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Rey tadi, Liliana justru mengalihkan pembicaraan dengan menjelaskan alasan kenapa ia tak bisa dihubungi oleh siapa pun termasuk para jurnalis. Rey menatap ke arah wanita itu dengan tatapan bengis. Ia tak suka dengan sikap Hetalia sejak awal. Selain mengacaukan semua rencana yang telah disusun oleh sang kakak, Liliana beserta pasukannya bukanlah pecundang yang mudah dibasmi. Mereka seperti hama yang terkesan arogan dan kebal karena tak mudah tumbang. Rey menunjuk ke arah empat orang itu dengan emosi yang tersulut. “Aku sebagai ketua dari Komisi Pemberantas Korupsi memerintahkan kalian semua untuk pergi dari sini. Kalian bahkan tak diundang, apa pantas bagi seorang tersangka datang ke sini dengan lagak seperti korban yang menuntut keadilan? Rakyat Iranjia adalah korban sebenarnya karena sudah kalian bohongi mentah-mentah.” Roy Ayasa melirik ke arah adiknya. Ia bertatapan beberapa detik dengan Rey. Tangan anggota dewan parlemen itu pun langsung mengambil barang bukti berupa cek yang tergeletak di meja ini sejak tadi. Masih dengan posisi berdiri, Roy menunjukkan cek itu dengan jelas sekarang kepada awak jurnalis. Kamera dari wartawan pun sontak menyorot ke arah cek yang baru diperlihatkan itu. “Kalian lihat ini? Coba lihat dengan jelas!” Roy Ayasa berteriak dengan keras sembari terus menenteng secarik kertas itu. “Ada nama Mario Regardus, yang tak lain dan bukan ialah rektor dari Universitas Tenggara. Setelah penyelidikan dilakukan, terungkap fakta bahwa selama ini Hetalia telah menyewa laboratorium resmi dari Universitas Tenggara yang tempatnya masih dirahasiakan saat ini.” Ketua dewan parlemen yang hanya duduk tenang di kursinya langsung mengangguk setuju dengan pernyataan Roy. “Kini, apalagi yang kita harapkan dari Hetalia? Pihak Hetalia telah menipu masyarakat. Mereka berkata tidak melibatkan Sepkai Farmasi atau pun Universitas Tenggara di konferensi persnya yang kedua. Akan tetapi, nyatanya saat ini ditemukan fakta bahwa aliran uang korupsi itu diarahkan pada Universitas Tenggara.” Rey yang duduk di antara ketua dewan parlemen dan Roy pun langsung mendengus geli. Emosinya yang tadi membara langsung padam begitu melihat reaksi wartawan yang kini menatap kaget ke arah Liliana dan lainnya. Seringai tercipta di wajah pria yang merupakan saudara dari Roy Ayasa itu. Laki-laki dengan rambut cepak tersebut kini menatap ke arah wartawan. “Pemutusan hubungan apanya? Padahal program vaksin ini terus dibuat sampai sekarang meskipun saat konferensi pers kedua kemarin mereka menyatakan proyek ini akan dijeda.” Puluhan orang wartawan yang kini berada di kantor Dewan Parlemen langsung menatap ke arah empat orang berjas hitam Hetalia itu. Mereka semua saat ini menatap ke arah Liliana dan lainnya dengan pandangan penuh rasa tak percaya. Padahal, hampir 70% dari penduduk Iranjia telah menyatakan dukungan pada Hetalia setelah aksi demonstrasi di Taman Adiyasa kemarin. Tapi, apa-apaan ini? Kenapa Hetalia membual seperti itu? “Direktur Liliana, apakah itu ... benar?” Liliana terdiam. Ia mengalihkan pandangan dari mereka semua. Wartawan yang melihatnya pun seakan bisa menarik kesimpulan dari ekspresi wanita itu. Masyarakat Iranjia pun dibuat kaget atas pernyataan tadi. Jadi, selama ini Hetalia telah merahasiakan suatu hal lagi pada masyarakat? Tapi, kenapa? Bahkan tak tanggung-tanggung, Universitas Tenggara saat ini juga disangkut pautkan dengan skandal ini secara resmi. Padahal sudah jelas bahwa selama ini universitas itu ialah universitas ternama di seluruh pelosok negeri. “Direktur Liliana, mohon jelaskan pernyataan tadi. Apa lagi yang Hetalia sembunyikan dari masyarakat?” “Padahal kasus kemarin belum surut dari pemberitaan. Apakah kalian masih mau menyanggah hal tadi dengan mengungkapkan pembelaan?” “Apa maksud dari ini semua? Kami mohon agar kalian menjelaskan hal ini pada publik!” Pertanyaan demi pertanyaan terus dilayangkan oleh seluruh awak media yang berada di ruang konferensi pers tersebut. Pihak Hetalia langsung diserbu oleh bombardir pertanyaan. Mereka berempat yang berdiri tegap di ruangan ini langsung dituntut agar menjelaskan semua hal secara rinci pada publik saat ini juga. Seluruh jurnalis yang berada di sini seakan mewakili rakyat Iranjia yang ingin mengetahui segala kebenaran yang telah ditutup rapat oleh Rumah Sakit Hetalia dan sekutunya. “Izinkan saya mengungkapkan satu hal!” Liliana berteriak dengan lantang di antara serbuan wartawan yang menyorot ke arahnya. Saat ini, wanita itu mengepalkan tangannya dengan kuat. Ada puluhan awak jurnalis yang berada di sini. Mereka berdesakan dan saling berimpitan untuk mengorek informasi dari dirinya. Jiwanya sebagai seorang direktur sekaligus dokter tak bisa lagi untuk diam membisu. Kenapa mereka bertindak seperti ini? Padahal Ex-0 secara nyata masih menghantui negara ini. Liliana hanya tak ingin semua orang yang berada di sini terpapar oleh virus itu. “Kami akan menjelaskan semua hal pada kalian, tapi kumohon satu hal.” Wanita berambut panjang itu menatap prihatin ke arah mereka dibalik kacamata pelindung yang ia kenakan. “Tolong, jaga diri kalian. Ex-0 masih ada di sini, di negara ini, bahkan di tempat ini. Jangan berdesakan seperti ini.” Seorang wartawan wanita yang berada tepat di hadapan Lilian saat ini tak mampu untuk menahan air matanya. Ia merasa tak terima karena dibohongi. “Kami tak mau mendengar omong kosong soal virus itu sekarang. Kami semua, tidak, bahkan seluruh rakyat di Iranjia ingin mendengar kebenaran langsung dari kalian semua.” Liliana menarik nafas dalam-dalam. Ia kemudian menunjuk ke arah Rey, sang ketua dari Komisi Pemberantas Korupsi, dengan tatapan tajam. “Pria itu! Sang ketua dari Komisi Pemberantas Korupsi telah melakukan tuduhan palsu terhadap Hetalia!” “A-apa?” Rey tergagap. Ia memandang ke arah seluruh wartawan yang menatapnya dengan ekspresi bingung. “Omong kosong apa lagi sekarang, Nyonya Liliana?” Emosi Liliana memuncak. Ia berjalan mendekati pria itu. Tak segan-segan, wanita berambut panjang ini langsung menggebrak meja yang ditempati oleh tiga pejabat yang tengah melakukan konferensi pers beberapa saat lalu tersebut. “Aku sudah berkali-kali mengatakan dan menyerahkan segala bukti pembelaan yang kupunya pada komisimu saat masa interogasi dimana aku ditahan selama dua hari kemarin. Tapi, kenapa? Kenapa kau tak mengindahkan pembelaanku dan bertindak sesuka hatimu dengan mengambil keputusan seperti ini?" tuntut Liliana dengan sorot mata tak terima. Dokter Edgar yang sedari tadi diam langsung bergerak maju. Ia menyerahkan segala salinan yang telah dijadikan barang bukti pembelaan diri ketika Liliana diinterogasi kemarin. Lembar dokumentasi yang diperlihatkan oleh wakil direktur dari Hetalia itu merupakan bentuk salinan. Berkas yang asli telah disita oleh Komisi Pemberantasan Korupsi kemarin. “Ini adalah bukti nyata bahwa uang anggaran dari pemerintah pusat tak digunakan secara sembarangan oleh kami. Aku yakin di antara puluhan orang di sini pasti ada yang mengerti soal akuntansi dan segala hal yang terkait dengan keuangan. Kalau tak percaya, kalian bisa periksa sendiri laporan ini!” ujar dokter senior yang terkenal tegas itu dengan satu gertakan. Wartawan yang semula berkerumun menghadang para petinggi Hetalia langsung beralih menyoroti dokumen yang diperlihatkan oleh dr. Edgar. Dalam beberapa menit, dokter senior itu menjelaskan semua hal secara rinci pada awak media. Ia menuturkan bahwa bukti yang ada di tangannya ini ditolak mentah-mentah oleh lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi. Baik sang ketua dewan parlemen, Roy Ayasa, maupun Rey saat ini hanya bisa saling melirik. Mereka terdiam. Ketiganya tak ingin gegabah dan terbawa suasana dengan atmosfer panas ruangan ini yang dipenuhi oleh banyak luapan emosi. Di depan tiga orang yang saling melirik itu, Liliana tak henti-hentinya menatap mereka dengan tatapan bengis yang sebelumnya tak pernah ditunjukkan oleh wanita anggun yang satu ini. “Para jurnalis yang berada di ruangan ini harap tenang. Kalian sudah tahu bukan jika korupsi adalah hal yang paling tabu di negara kita? Hetalia saat ini hanya membantah hasil penyidikan dari Komisi—“ “Oh ya? Apakah pertanyaanmu itu bisa dibuktikan, Tuan Rey yang terhormat?” Intanius Stefani atau yang lebih dikenal dengan sapaan Bu Intan, hanya bisa memperhatikan setiap kejadian yang terjadi di sini dalam diam. Ia menatap Rey dengan tajam dari posisinya berdiri saat ini. Pria itu pun langsung mengernyitkan dahinya begitu merasakan aura tekanan dari wanita yang satu ini. “Apa lagi maksudmu? Beraninya kau menatapku dengan pandangan seperti itu!” tantang Rey dengan geram. Intan tak mengindahkan hinaan yang diucapkan oleh Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi itu. Ia berjalan maju mendekat ke arah Liliana yang telah berdiri di depan meja konferensi pers. Kedua wanita yang mengenakan jas mantel berwarna hitam itu memblokir ketiga orang penting tadi dari jangkauan kamera. Semua orang yang berada di sini langsung menyoroti setiap aksi yang dilakukan oleh pihak Hetalia sekarang. “Wahai seluruh wartawan dan masyarakat di Iranjia! Ada satu hal yang ingin aku katakan pada kalian semua! Laporan yang ditunjukkan oleh dr. Edgar tadi terbukti valid bukan?” Beberapa wartawan yang mengerti soal perhitungan uang dan akuntansi langsung mengangguk setuju dengan apa yang ditanyakan oleh Intan tadi. Wanita berkulit tan itu pun tersenyum di balik masker yang ia kenakan. “Apakah kalian tahu kenapa Komisi Pemberantas Korupsi dan Dewan Parlemen masih berusaha menuduh Hetalia melakukan korupsi? Padahal sudah ada bukti nyata bahwa uang 800 juta itu adalah aset asli milik Hetalia dan bukan merupakan uang anggaran dari pemerintah.” “Alasannya begitu sederhana. Dewan Parlemen tak ingin Hetalia mengembangkan vaksin karena mereka terbukti telah melakukan kesepakatan dengan negara asing yang akan mengirim vaksin buatan mereka ke dalam negeri!” sambung Liliana yang langsung membuat semua orang terkejut. Roy Ayasa mendesis. Giginya bergemeletuk saat ini. Rey hanya bisa memperhatikan kakaknya yang menahan emosi itu dalam diam. Apalagi sekarang? Pihak Rumah Sakit Hetalia benar-benar sudah gila. Apakah mereka tidak tahu dengan siapa mereka semua berhadapan? “Tom Hustoff, apakah kau bisa ke sini sekarang?” Nama yang diucapkan oleh Intan dengan lantang tadi langsung membuat degup jantung Roy Ayasa seakan berhenti saat ini juga. Matanya membulat lebar. Semua perasaannya bercampur aduk saat ini. Amarah dan rasa tak percayanya bercampur menjadi satu. Apa ia tak salah dengar? Tom Hustoff? Bagaimana mungkin nama itu disebutkan oleh pihak Hetalia? Mungkinkah dia menjalin hubungan dengan pasukan berbaju hitam ini? Dari balik puluhan wartawan yang memenuhi pintu masuk ruangan ini, seorang pria dengan rambut keriting berdiri menatap hampa ke arah sekitar. Mata gelapnya memandang penuh dengki ke arah seseorang. Di balik kacamata bulat yang dikenakan oleh Tom, Roy Ayasa merasakan bahwa pria itu menatapnya dengan ambisi dan dendam yang begitu membara. Para wartawan pun sontak menoleh ke arah belakang. Mereka langsung terkejut ketika pria berambut ikal dan berkacamata bulat itu berjalan dengan pelan memasuki ruangan. Bagaikan isyarat, wartawan yang lain pun langsung menepi dan memberikan jalan bagi Tom Hustoff untuk mendekati para petinggi Hetalia. Kini pria itu sudah berdiri di dekat dr. Deva yang sedari tadi hanya diam dan belum berkata apa pun. “Apakah Anda sebagai pihak rumah sakit merasa tidak bersalah dengan kasus penemuan mayat yang tinggal tulang di tepi hutan?!” Benar, semua orang yang menyaksikan siaran konferensi pers ini tak mungkin salah mengenali pria tersebut. “Bukankah itu semua terjadi karena pasien tak mampu membayar biaya rumah sakit lalu ia diusir?! Saya dengar petinggi Hetalia telah melakukan korupsi atas dana yang dianggarkan pemerintah!” Rentetan kilas balik langsung datang dalam ingatan seluruh masyarakat Iranjia ketika kamera saat ini menyorot sosok pria tersebut. Tak salah lagi, orang berambut keriting ini adalah orang itu. Reporter berkacamata bulat dengan badan kurus itu tatapannya semakin tajam, “Berita mengenai mayat yang baru ditemukan beberapa minggu lalu dalam keadaan membusuk itu adalah buktinya! Tak lama sebelum ia tewas, ia adalah pasien yang dirawat di sini!” Orang ini adalah reporter yang telah hilang bagai ditelan bumi setelah menuduh Hetalia terlibat dalam kasus skandal pengabaian pasien dan tindak pidana korupsi. Ia adalah Tom Hustoff yang telah menghilang dalam beberapa minggu terakhir. “KALIAN INI SEBENARNYA ADALAH IBLIS YANG SOK MENJADI PAHLAWAN! APAKAH KALIAN YAKIN KALIAN LEBIH BAIK DARI PEMERINTAH?!” Orang yang pernah mengatai Rumah Sakit Hetalia sebagai iblis itu kini telah berdiri tegap di pihak Hetalia. Sekarang ia berdiri di tempat ini untuk membela apa yang menurutnya benar dan mengungkapkan segala hal pada seluruh masyarakat Iranjia. Tom Hustoff tahu bahwa dunia ini adalah kebusukan. Setiap inci dari tubuh manusia memiliki sisi kebusukan dirinya masing-masing. Akan tetapi, di antara bau kebusukan yang menguar itu pasti akan timbul bau yang paling kuat. Meskipun dirinya tahu bahwa dengan cara ini tidak bisa menghilangkan seluruh bau busuk dari dunia, namun Tom yakin bahwa apa yang ia lakukan sekarang akan membawa aroma baru bagi seluruh masyarakat Iranjia. Ia benci dengan dunia ini. Sebuah dunia yang telah membuatnya sengsara dan tidak mendapatkan satu inci pun rasa dari kebahagiaan. Meskipun begitu, ia tak tega membiarkan orang lain yang hidup lebih sengsara di negara ini menderita apabila dirinya tak terus terang tentang kebusukan anggota dewan parlemen. Apa pun yang terjadi saat ini, Tom ingin mengungkapkan semuanya. Di balik kacamata bulat yang ia kenakan, Tom Hustoff menatap dengan bengis ke arah Roy Ayasa. Pria itu merupakan dalang di balik segala kekacauan dan bentrok yang menyebabkan kehidupan masyarakat Iranjia menjadi kacau dalam satu bulan terakhir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN